Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 69


__ADS_3

Masih Flashback.


Ketika Sian terbangun, dia sudah berada di negaranya, Indonesia. Saat terbangun, Sian di diagnosa mengalami Amnesia Lakunar. Yang mana Sian mengalami Hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak, yang mana ingatan tersebut bersangkutan dengan peristiwa pertemuannya dengan Kenzo satu tahun lalu dan peristiwa yang baru saja terjadi merengut nyawa papanya Damian. Semua kenangan yang bersangkutan dengan Kenzo hilang dan lenyap dari ingatan Sian.


“Sian, apakah kamu ingat hari ini hari apa?” tanya dokter yang menangani Keadaan Sian saat ini.


Tanpa ragu-ragu Sian menjawab. “Hari ini adalah hari terakhir penentuan kompetisi.”


“Apakah kamu ingat peristiwa apa saja yang terjadi padamu akhir-akhir ini?” tanya Dokter itu kembali kepada Sian.


“Peristiwa? Maaf dokter, tidak ada peristiwa apa pun yang terjadi pada saya. Yang saya ingat akhir-akhir ini hanyalah kesibukan mempersiapkan diri untuk penentuan kompetisiku.” Jawab Sian yang tidak ingat apa pun yang terjadi padanya tiga hari yang lalu di jepang.


Yang Sian ingat saat ini adalah di mana dia sedang berkompetisi dengan Malik untuk memperebutkan posisi sebagai dokter yang akan di kirim ke jepang. Tanggal dan waktu saat ini memang menujukan waktu penentuan pemenang dati kompetisi tersebut.


Setelah selesai berkonsultasi dengan Dokter, Sian bersiap-siap untuk pergi melakukan tes penentuan kompetisi yang dia ikuti. Namun, di saat dia hendak pergi Vian menghentikannya dan memberitahukan kepada Sian jika papanya Damian meninggal dunia.


Seketika Sian membeku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya mengalir begitu saja saat mendengar perkataan mamanya itu. Dengan sangat terpaksa Sian harus mundur dari kompetisi tersebut, dan pada akhirnya Malik yang di kirim ke jepang.


***


Malik:


Sian maafkan aku karena tidak bisa hadir di pemakaman paman Damian. Aku juga ingin memberitahukan jika hari ini aku akan berangkat ke jepang, mungkin ini adalah pesan terakhirku yang aku kirimkan kepadamu. Sekali lagi maafkan aku, bye Malik.


Sekilas Sian hanya melihat dan mengabaikan pesan dari Malik itu. Setelah pemakaman papanya Damian, Sian berubah sangat murung dan menutup dirinya dari siapa pun termasuk mamanya Vivian.

__ADS_1


“Sian, mama mohon jangan mengurung diri seperti ini. Mama tidak mau Sian terus-terus menutup diri seperti ini.” Ucap Vian yang berada di luar pintu kamar anaknya itu.


“Maaf ma, beri waktu untuk ku sendirian dulu.” Sahut Sian uang berada di dalam kamarnya.


“Sian sayang, sudah satu minggu kamu terus-terusan mengurung diri seperti ini di kamar. Kini waktunya untuk kamu membuka dirimu lagi. Kamu tidak sendirian, masih ada mama bersama mu, walaupun papa sudah tidak ada.” Ucap Vian di sisi luar pintu kamar Sian.


Benar sekali, sudah satu minggu Sian mengurung dirinya di dalam kamar. Vian sendiri sudah hampir menyerah untuk membujuk Sian keluar dari kamarnya itu.


Sian yang berada di dalam kamarnya itu hanya bisa termenung di atas tempat tidur. Entah mengapa dia merasa di hatinya terasa sangat kosong sekali. Seperti ada sesuatu yang terlupakan, tapi Sian tidak tahu apa itu.


“Maaf ma, tolong tinggalkan aku sendirian dulu.” Ucap Sian yang menolak untuk keluar.


Saat ini Vian hanya bisa pasrah dengan keadaan anaknya itu. Dia yang mengetahui segalanya tentang kejadian yang menimpa anak dan suaminya itu hanya bisa diam dan pasrah. Kehilangan suami membuat Vian sangat terpukul sama seperti anaknya Sian. Namun, Vian harus tetap kuat untuk melindungi Sian dari anggota mafia mana pun termasuk Kenzo.


Demi keselamatan Sian, Vian mengubur dan merahasiakan semua yang telah terjadi sebenarnya kepada Sian. Dia bahkan mengganti nama belakang keluarganya menjadi Queensha, tidak lagi menggunakan nama belakang Carolus untuk menghindari dari siapa pun yang ingin mencari tahu tentang keluarganya. Berkat bantuan dari keluarga Hardynata, Vian dan Sian bisa menjalani hidup normal dengan tenang.


Potongan ingatan yang terlupakan oleh Sian, kini mulai kembali. Sian yang tengah mencengkeram kuat kepalanya, kini meneteskan air matanya. Dia sangat syok saat mengingat ingatan yang sudah lama terhapus di memorinya kini mulai teringat kembali.


“Ini tidak mungkin, apa yang baru saja muncul di kepalaku hanyalah ilusi. Ini tidak mungkin.” Sian tidak percaya dengan apa yang baru saja muncul di dalam ingatannya itu.


Untuk menyadarkan dirinya, Sian pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan menggunakan air. Dengan tergesa-gesa, Sian terus menimba air ke wajahnya. Dia berharap jika dirinya tersadarkan dari ilusi yang dia maksudkan, tetapi nyatanya apa yang baru saja muncul dalam ingatannya itu bukanlah ilusi. Namun, nyata dan benar-benar terjadi. Bahkan rasa sakit saat mengingat kenangan tersebut, sangat begitu nyata dan benar-benar terasa sangat sakit sekali.


“Ini tidak mungkin, papa tidak mungkin meninggal karena diriku.” Ucap Sian pada dirinya sendiri. Dia menolak kenyataan jika papanya Damian meninggal karena dirinya.


Hampir lima menit Sian berada di dalam kamar mandi. Dan Bara pun kembali dari membeli makanan untuk istrinya itu.

__ADS_1


“Sayang, kamu di mana?” seru Bara dengan lantang.


Sian yang tengah berada di dalam kamar mandi langsung menghapus air matanya dan kembali membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dengan bersikap baik-baik saja. Sian berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi padanya barusan dari suaminya Bara.


“Mas sudah kembali,” seru Sian yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Sayang, kenapa dengan wajahmu?” tanya Bara saat melihat wajah istrinya itu sembab dan basah.


“Tadi saat mas pergi aku kembali merasa pusing dan muntah-muntah, sehingga bagian wajahku kotor karena terkena muntahan. Makanya aku mencuci wajahku.” Ucap Sian berbohong.


Mendengar ucapan Sian barusan, membuat Bara berjalan mendekatinya. Perlahan dan lembut, tangan Bara mulai menyentuh bagian kepala Sian untuk memijatnya.


“Bagaimana sekarang? Apakah masih terasa pusing?” tanya Bara sambil memijat lembut kepala istrinya itu.


Melihat Bara yang sangat perhatian sekali kepadanya, sian langsung memeluk erat suaminya itu. Perlahan air matanya menetes, Sian tidak bisa menahan air matanya lagi saat ini. Satu-satunya cara agar Bara tidak tahu, Sian langsung memeluk suaminya itu dan menyembunyikan wajahnya di sana.


“Sayang kenapa?” tanya Bara yang sedikit terkejut saat Sian memeluknya dengan erat.


Perlahan Sian menarik nafasnya, dia berusaha menetralkan pernafasan dan suaranya agar tidak terdengar seperti sedang menangis.


“Tidak ada apa-apa mas, aku hanya ingin memeluk mas Bara saja. Memangnya aku tidak boleh memeluk suamiku sendiri?” Sian terus menyembunyikan wajahnya dari Bara.


“Tentu saja boleh, jika kamu mau mas bersedia di peluk sampai kapan pun.” Jawab Bara dengan tersenyum. Dia juga memeluk erat istrinya itu dalam pelukannya.


Bara tidak merasa curiga sama sekali dengan istrinya itu. Dia bahkan tidak menyadari jika saat ini istrinya sedang menangis di dalam pelukannya. Yang Bara tahu saat ini yaitu ada sesuatu yang di sembunyikan oleh istrinya itu. Dia hanya mengamati dan menahan dirinya agar tidak bertanya kepada istrinya itu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2