Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 35


__ADS_3

Masih di hari yang sama.


Setelah Bara menutup teleponnya, Sian melanjutkan perjalanannya kembali ke kamp. Sian bisa merasakan jika kedua kakinya masih terasa lemas karena kejadian barusan. Dia hampir saja jantungan karena khawatir kepada suaminya itu, tetapi beruntungnya apa yang di pikirkannya tidak benar-benar terjadi pada suaminya itu.


Jelas-jelas aku mendengar suara tembakan senjata api di dalam telepon tadi. Mungkin aku salah dengar, bisa jadi itu suara lain atau apalah, yang penting mas Bara baik-baik saja.


Sian melanjutkan kembali langkah kakinya, setelah berhenti sejenak. Setelah beberapa menit, akhirnya Sian sampai juga di kamp-Nya.


“Dokter Sian dari mana saja? Kami mencari dokter sejak dari tadi.” Ujar Elina, Koas.


“Tadi saya ada urusan sebentar, memangnya ada apa?”


Sian melihat semua wajah anggota timnya panik. Entah apa yang terjadi, tapi yang pasti ada sesuatu yang sudah terjadi, dan sebentar lagi Sian akan mengetahuinya apa penyebab semua anggota timnya panik.


“Kemarilah Dokter, dokter Sian lihat saja sendiri.” Ajak Elina menuntun Sian masuk ke dalam kamp tempat tinggal mereka.


Saat masuk Sian melihat semua barang-barangnya berantakan , dan yang anehnya hanya barang-barang Sian yang di acak-akak. Sedangkan barang-barang milik anggotanya tidak di sentuh sama sekali.


“Kenapa semua barang-barang saya berantakan seperti ini?” tanya Sian kepada anggota timnya.


“Kami juga tidak tahu dokter, saat kami sampai semua barang-barang dokter Sian sudah seperti itu.” Ucap Ayudia.


Sian mendengus kesal, kedua tangannya terkepal kuat saking dia marahnya. Entah siapa yang melakukannya, tapi yang pasti Sian tidak akan meloloskan orang tersebut. Prinsip Sian, tidak ada satu pun orang yang bisa mengganggu dirinya, apalagi mengacak-ngacak barang-barang pribadinya seperti ini.


Siapa yang berani sekali menyentuh barang-barangku seperti ini? awas saja, jika aku menemukan orang-orang yang melakukan semua ini padaku, tidak akan pernah aku lepaskan!


“Dokter Sian, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Ayudia yang memperhatikan wajah Sian yang memerah karena marah.


“Kalian tidak perlu khawatir saya tidak apa-apa,” Sian bersikap dengan tenang. Jika dirinya kehilangan kendali, maka orang yang melakukan semua ini padanya akan merasa senang, karena memang itu yang di inginkan orang tersebut.


“Baiklah kalau begitu, biar kami bantu dokter Sian merapikan semua ini.” Ucap Elina.


“Tidak perlu, kalian istirahat saja sekarang, biar saya sendiri yang merapikannya.” Sian menolak bantuan dari Elina.


Karena Sian menolak bantuan yang mereka tawarkan, Ayudia dan Elina pergi ke tempat tidur mereka masing-masing. Sedangkan Sian mendesah pelan melihat semua barang-barangnya acak-acakan seperti ini.


Siapa pun kalian yang melakukan semua ini tidak akan aku lepaskan begitu saja. Aku tahu siapa kalian, tetapi hanya menunggu waktu saja untuk memastikannya.

__ADS_1


Setelah selesai merapikan barang-barangnya, Sian menarik nafasnya dan kemudian dia hembuskan kembali. Seketika energi di dalam tubuh Sian kembali terkumpul.


“Ayudia Elina, apakah kalian berdua tahu kapan semua pasukan Khusus kembali?”


“Katanya mereka akan kembali malam ini.” jawab Elina.


“Kamu yakin mereka akan kembali mala mini?” tanya Sian memastikan.


“Yakin dokter, Dilan yang memberitahukannya kepada saya.” Ucap Elina.


“Baiklah kalau begitu, kalian ikut saya sekarang.”


“Mau pergi ke mana kita dokter?” tanya Ayudia.


“Kalian berdua ikut saja, sebentar lagi kalian berdua akan tahu.”


Sian membawa kedua juniornya itu mengikutinya pergi memasang kamera tersembunyi di depan kamp tempat mereka tinggal dan di beberapa tempat. Sebelum pasukan khusus kembali dari latihan, ini kesempatan Sian untuk memasang beberapa kamera tersembunyi untuk menangkap pelaku yang mengacak-ngacak barang-barangnya.


“Dokter Sian dapat dari mana semua kamera ini?” tanya Elina.


“Saya sengaja membawa kamera-kamera ini dari rumah, karena sebelumnya sudah pernah terjadi hal yang sama saat saya bertugas di tempat lain.”


Ternyata di tempat lain sikap dokter Sian juga sama. Saya kira sikap terang-terangan dan berani yang dokter Sian tunjukan saat bertugas kemarin, juga dia tunjukan di tempat lain. Kira-kira seperti itulah yang di katakana Ayudia dan Elina di dalam hatinya.


Setelah pemasangan kamera tersembunyi selesai, sian dan juniornya itu kembali ke kamp mereka. Ting! Baru saja Sian bisa bernafas lega, tiba-tiba ada pesan masuk ke ponselnya.


No tidak di kenal:


Sayang apakah kau sudah mengingat diriku?


Sian mendesah pelan saat membaca pesan tersebut.


Lagi-lagi pesan dari orang tidak jelas ini. Apa sih mau orang gila ini?


Dalam sekejap mood Sian kembali buruk. Tidak ada hal yang baik terjadi padanya hari ini. Semua yang terjadi membuat Sian merasa sangat buruk dan kesal setiap menitnya.


Selang beberapa menit kemudian ponsel Sian berdering, dan yang menghubunginya adalah Raihan. Tanpa menunggu lama-lama, Sian langsung mengangkatnya.

__ADS_1


“Halo mama, ini Raihan.” Ujar Raihan di dalam telepon.


“Halo Raihan sayang, Raihan apa kabarnya?”


“Raihan baik ma,” jawab Raihan. “Kapan mama pulang? Raihan rindu mama.” Sambung Raihan dengan suara mungilnya.


Sian tersenyum mendengar suara lucu dari Raihan. Mendengarkan suara Raihan saat ini membuat Sian merasa tenang.


“Mama juga rindu Raihan, tapi mama masih belum bisa pulang sayang, karena tugas mama belum selesai di sini.”


“Terus kapan tugas mama selesainya?” tanya Raihan kembali.


“Masih lama sayang, nanti kalau mama pulang, orang pertama yang mama temui adalah Raihan.” Ucap Sian menghibur Raihan.


“Mama janji, tidak bohong kan?” suara Raihan terdengar sangat mengemaskan.


“Mama janji sayang, nanti kalau mama pulang kita pergi jalan-jalan sama papa mau?”


“Ya Raihan sangat mau, Raihan tunggu kabar dari mama.” Ucap Raihan yang terdengar sangat senang sekali.


“Baiklah sayang, mama tutup dulu teleponnya, nanti mama telepon Raihan lagi jika tidak sibuk. Bye Raihan, mama sayang Raihan.”


“Bye mama, Raihan juga sayang mama.” Raihan langsung menutup teleponnya.


Setelah mendengar suara Raihan, mood Sian kembali normal. Dari sekian banyak kejadian hari ini, hanya suara Raihan yang bisa membuat Sian senang. Tak peduli apa pun lagi, jika mendengar suara orang yang kita sayangi, pasti semua masalah akan terlupakan. Begitulah yang di rasakan Sian saat ini. Namun, tetap saja Sian masih merasa ada yang kurang saat ini. Kenapa tidak, selain Raihan yang sangat di rindukan oleh Sian saat ini ada orang lain yang lebih di rindukan oleh Sian. Dia adalah suaminya Bara.


Mengingat Bara, Sian menyalakan layar ponselnya kembali dan mengetikan sesuatu di sana.


Sian:


Mas jangan lupa makan, jaga kesehatan dan jaga diri mas baik-baik di sana. Satu lagi, aku sangat merindukan mas Bara. Love Sian.


Tanpa ragu-ragu Sian langsung mengirimkan pesan tersebut kepada Suaminya Bara. Sekilas Sian tersenyum sendiri setelah mengirimkan pesannya itu kepada Bara.


.


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2