
Tiga minggu yang lalu. Saat pertama kalinya Sian menginjakkan kakinya di penjara bawah tanah.
Baru saja Sian tiba dan menginjak kakinya di tempat sangat gelap itu, dia langsung di bawah ke sebuah ruangan yang sangat mengerikan. Saat memasuki ruangan tersebut, Sian menyadari jika di penjara bawah tanah ini bukan hanya sebuah penjara biasa. Namun, juga tempat pembedahan organ tubuh ilegal.
Beberapa langkah memasuki ruangan rahasia tersebut Sian langsung dikejutkan dengan pembedahan yang di lakukan di sana. Ada beberapa dokter yang sedang melakukan pembedahan terhadap orang yang masih sehat. Bisa di bilang pengambilan organ tubuh secara paksa.
Selama dalam perjalanan Sian menahan dirinya agar tidak merasa ketakutan berada di tempat seperti ini. Dia menggenggam kedua tangannya yang bergetar hebat karena ketakutan. Walaupun sudah berminggu-minggu berada di penjara bawah tanah ini, tetap saja kedua tangan Sian bergetar hebat. Sian masih merasa ketakutan saat memasuki ruangan pembedahan ilegal ini, walaupun sudah berkali-kali memasukinya.
Setiba di ruangan pembedahan, tiba-tiba kedua penjaga yang mengawal Sian mendorongnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Di sana Sian di kunci dengan puluhan layar monitor CCTV yang menyala, dia bisa melihat di setiap sudut penjarah bawah tanah di puluhan layar monitor tersebut.
Beberapa menit kemudian, ada seseorang pria yang datang masuk ke dalam ruangan tersebut. Kedatangan seseorang tersebut membuat Sian sangat syok sekali sehingga seluruh tubuhnya bergetar hebat saat melihat orang tersebut.
“Apakah kau masih mengingat saya?”
Pria itu tersenyum mengerikan saat menatap Sian. Tanpa sadar Sian langsung melangkah mundur menjauhi pria itu.
“Bernardus kau masih hidup.” ucap Sian dengan bibir bergetar.
“Ternyata kau masih mengingat saya,” ucap Bernardus seraya melangkah maju.
Dengan kaki yang bergetar Sian berusaha melangkah mundur pada saat Bernardus mendekatinya.
“Kau tidak perlu merasa takut seperti itu. Saya tidak akan menyakiti kau seperti dulu, saya di sini hanya memastikan kau aman darinya.”
Bernardus menunjuk ke salah satu layar monitor di sampingnya, dan Sian pun langsung menatap ke arah layar yang Bernardus tunjuk.
“Mas Bara” ucap Sian.
“Benar sekali, saya hanya perlu mematikan kau tidak bertemu dengannya saat ini.”
Sian langsung menoleh ke arah Bernardus. Dia tidak mengerti maksud dari perkataan pria tersebut.
“Apa yang sedang kau rencanakan Bernardus?”
“Tidak ada, hanya saja saya di perintah untuk menjauhkan kau darinya.”
Bernardus terlihat sangat santai dan tidak peduli dengan Sian.
“Ah iya, saya lupa memberitahukan alasannya kenapa saya harus menjauhkan kau darinya.” Sambung Bernardus yang sedikit mempermainkan Sian.
“Alasan apa?”
__ADS_1
“Pertanyaan yang bagus, hahaha...” Bernardus semakin mempermainkan Sian.
“Cepat katakan! Apa alasannya?!” bentak Sian.
“Kalem sayang, jangan marah seperti itu.” Sahut Bernardus.
“Katakan sekarang?”
“Kau terlalu berharga untuk di berikan kepada mereka. Kemampuan yang kau miliki sangat di butuhkan di sini untuk di jadikan alat penghasil uang.” Ucap Bernardus.
Sian sudah mengiranya. Namun, dia tidak tahu kenapa Bara juga berada di penjara ini.
“Terus kenapa dia bisa berada di sini?” tanya Sian sembari menunjuk ke arah Bara yang ada di layar monitor.
“Saya tidak perlu menjelaskannya, kau saksikan saja sendiri.” Sahut Bernardus.
Sian pun langsung melihat ke arah layar monitor, yang di sertai penyadap suara sehingga Sian bisa mendengarkan semua yang dikatakan di dalam monitor tersebut.
Di sisi lain, Bara dan Tony berjalan memasuki penjara bawah tanah tersebut. Mereka berdua di kawal menuju tempat tahanan di mana Melisa berada.
“Kalian berdua tunggu di sini.” Perintah salah satu penjaga yang mengawal Bara dan Tony.
Penjaga tersebut mulai mengeluarkan kunci dari saku celananya untuk membuka sel tahanan di mana Melisa di tahan.
Perlahan Melisa pun keluar dari sel tahanan tersebut, dan dengan kasarnya penjaga tersebut mendorong Melisa dengan berkata. “Silakan kalian bawah dia.” Dalam bahasa Kurdi, yang tidak di mengerti oleh Melisa.
Saat melihat hanya ada satu orang, Bara langsung bertanya pada penjaga tersebut.
“Tunggu sebentar, di mana yang satunya lagi?” tanya Bara yang juga menggunakan bahasa Kurdi.
“Saya hanya di perintahkan, memberikan dia pada kalian.” Sahut penjaga tersebut.
“Tidak bisa, kami harus membawa keduanya.” Ucap Bara.
“Bawa dia, atau tidak sama sekali.”
Bara terlihat menggenggam kedua tangannya. Situasi saat ini, tidak berjalan sesuai rencana mereka.
“Kapten kita tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya, dari pada tidak sama sekali. Lagian misi utama kita adalah membawa Melisa keluar dari penjarah ini, tidak mudah mengeluarkan keduanya dari sini.” Bisik Tony.
Tanpa berpikir panjang Bara langsung menyetujui apa yang di katakan Tony padanya. Perkataan Tony sepenuhnya sangat benar, lebih baik menerimanya dari pada tidak sama sekali.
__ADS_1
“Baiklah, kita pergi sekarang.” Ucap Bara menyetujuinya dengan berbahasa Kurdi.
Tanpa membuka suara Tony langsung membawa Melisa berjalan menuju pintu keluar yang diikuti oleh Bara dari belakang. Melisa yang tidak mengerti dengan situasi saat ini merasa kebingungan. Dia tidak tahu mau di bawah ke mana oleh kedua pria yang berpakai serba hitam ini.
Saat berada tepat di pintu keluar penjara bawah tanah tersebut Tony berkata pada Melisa. “Ayo cepat, kita harus keluar dari sini.”
“Kalian orang Indonesia?” tanya Melisa terkejut.
“Iya, kami adalah orang yang di utus oleh ayah mu untuk mengeluarkan mu dari sini.” Sahut Tony.
Mendengar ucapan Tony barusan, tanpa ragu Melisa menghentikan langkah kakinya tepat di pintu keluar tersebut dengan berkata. “Kita tidak bisa pergi begitu saja dari sini tanpa membawa dokter yang bersama saya.”
“Kita tidak bisa membawanya juga,” Sahut Tony.
“Kenapa tidak bisa?”
“Karena keselamatan mu yang paling utama dalam misi kami.” Timpal Bara.
“Tapi, kita harus mengeluarkannya juga dari sana.” Ucap Melisa yang hendak masuk kembali.
“Kamu tidak bisa kembali lagi ke sana,” ucap Bara menghentikan Melisa. “Kita pergi dari sini sekarang juga. Jika tidak, kita semua tidak bisa keluar dari sini dengan selamat.” Sambung Bara.
Bara dan Tony langsung menarik Melisa untuk pergi meninggalkan penjara bawah tanah tersebut. Tanpa bisa menolak Melisa terpaksa mengikuti Bara dan Tony menuju pintu gerbang keluar. Di sana sudah ada mobil yang siap membawa mereka pergi dari penjara tersebut. Melisa terus menatap ke belakangnya, dia menatap pintu penjara bawah tanah tersebut yang hampir tertutup. Dia sangat sedih karena tidak bisa membawa Sian keluar dari sana.
“Ayo masuk ke dalam mobil sekarang.” pinta Bara kepada Melisa.
Melisa terlihat ragu-ragu untuk masuk ke dalam mobil tersebut. Dia kembali menatap ke belakangnya sesaat kemudian dia melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam mobil.
“Tunggu,” ucap Melisa menghentikan langkah kakinya saat hendak memasuk mobil.
“Ada apa?” tanya Tony.
“Saya rasa ini tidak benar meninggalkannya begitu saja di sana.” Ucap Melisa.
“Kita tidak ada pilihan lain, selain meninggalkannya di sana.” Ucap Bara yang hendak memasuki mobil di depannya itu.
“Tapi saya tidak bisa meninggalkan dokter Sian sendirian di dalam Sana!” Teriak Melisa yang putus asa.
Mendengar nama Sian yang keluar dari bibir Melisa, jantung Bara berdegup kencang.
__ADS_1
Bersambung...