
Dua minggu kemudian. Setelah meninggalnya ibunya Raihan, Sian meminta seseorang untuk mengurus pemakaman ibunya Raihan dan mengurus Raihan untuk sementara waktu sampai dia menemukan keluarga untuk Raihan.
Sudah beberapa hari Sian masih belum menemukan keluarga yang pas untuk mengadopsi Raihan. Sian selalu menolak orang yang ingin mengadopsi Raihan karena orang-orang tersebut hanya ingin memanfaatkan Raihan. Entah mengapa semakin hari berlalu, Sian dan Raihan menjadi sangat dekat. Raihan yang kehilangan ibunya pun dengan cepat bisa tersenyum saat bersama dengan Sian.
Sedangkan di sisi lain Bara tidak bisa di hubungi. Sudah 2 minggu kepulangan Sian, tetapi Tidak ada kabar sedikit pun dari Bara. Sehingga membuat Sian merasa sangat khawatir sekali padanya.
“Dokter, ada Raihan yang datang ingin bertemu Anda.” Kata seorang perawat yang menghampiri Sian di ruangannya.
“Raihan?”
“Iya dokter, apa saya suruh Raihan langsung masuk saja ke sini?”
“Tidak perlu, biar saya saja yang menghampirinya. Di mana dia sekarang?”
“Dia sedang menunggu di lobi dokter.”
“Baiklah kalau begitu, tolong kamu urus berkas yang belum sempat saya rapikan ini. Saya mau pergi menemui Raihan dulu di lobi.”
“Baik dokter,”
Kemudian Sian turun ke lantai dasar menuju lobi untuk menemui Raihan di sana. Sesampai di lobi Sian langsung menghampiri Raihan yang sedang duduk berbicara dengan resepsionis.
“Raihan...” panggil Sian dari jauh.
Raihan menoleh ke arah Sian. Dengan tersenyum Raihan berlari ke arah Sian dengan menyebutkan “Mama Sian...” ucap Raihan yang berhasil membuat Sian terkejut.
Mama, Raihan menyebutku dengan sebutan mama.
“Mama sian, Raihan kangen sama mama Sian.” Ucap Raihan sembari memeluk lutut Sian. Kenapa Raihan memeluk lutut, karena tinggi Raihan hanya setinggi lutut Sian saat ini.
Perlahan Sian berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan tinggi badan Raihan.
“Raihan, tante mau tanya pada Raihan boleh?”
“Em...” angguk Raihan.
“Kenapa Raihan memanggil tante dengan sebutan mama?” tanya Sian.
“Karena sekarang tante adalah mama Raihan.” Jawab Raihan dengan tersenyum.
“Tapi, tante bukan mamanya Raihan. Nanti jika ada yang mengadopsi Raihan, baru Raihan bisa memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa.”
“Raihan tidak mau di adopsi oleh orang lain, Raihan maunya di adopsi oleh mama Sian dan papa Bara.” Ucap Raihan yang kembali membuat Sian terkejut.
“Raihan tahu dari mana nama suami tante?” tanya Sian lembut.
“Dari mereka,” ucap Raihan sembari menunjuk ke arah resepsionis.
Sian menatap ke arah resepsionis, dan di balas dengan senyuman oleh orang-orang resepsionis tersebut pada Sian.
__ADS_1
Sian menghembuskan nafas lelahnya.
“Apa saja yang mereka katakan kepada Raihan?” tanya Sian kembali.
“Tidak ada, mereka hanya bilang kalau papa Bara sangat tampan dan seksi.” Jawab Raihan polos.
Sian kembali menghembuskan nafas lelahnya. Entah mengapa Raihan terlihat sudah biasa menyebutkan kata papa terhadap Bara.
“Mama sian punya foto papa Bara tidak?” tanya Raihan
“Kenapa Raihan menanyakannya?” tanya Sian balik.
“Raihan hanya ingin melihatnya, kali saja nanti Raihan bisa bertemu dengan papa Bara.” Jawab Raihan yang ingin sekali melihat wajah dari Bara.
Raihan berbicara sudah seperti orang dewasa. Dan cara dia berbicara pun hampir mirip nada bicara Bara.
“Sebentar, tante Sian lihat dulu di dalam ponsel tante.”
Hampir satu menit mencari foto Bara di ponsel dan akhirnya ketemu juga.
“Dapat, Raihan kemarilah biar tante Sian tunjukan wajah dari suami tante.”
Raihan mulai mendekat dan dia langsung melihat wajah Bara di dalam ponsel Sian tersebut.
“Papa Bara seperti jagoan, tubuhnya sangat besar dan tampan seperti yang di katakan mereka.” Ucap Raihan sekilas menatap ke arah resepsionis.
Sedangkan Sian hanya tertawa mendengarkan ucapan dari Raihan. Sian tidak menyaka jika Raihan sangat menyukai Bara hanya dengan melihat fotonya saja.
“Ada apa paman?” tanya Sian penasaran.
“Maaf nona, saya ingin memberitahukan jika saya dan istri saya tidak bisa mengurus Raihan lagi sekarang.”
“Kenapa tidak bisa paman?” tanya Sian bingung.
“Karena, istri saya tidak bisa membagi waktunya untuk mengurus Raihan dan anak kami sendiri. Anak-anak dan Raihan sering berselisih dan membuat anak-anak tidak suka dengannya.”
Sian merenung sebentar, kemudian dia tersenyum kepada paman tersebut.
“Baiklah kalau begitu, jika memang paman sudah memutuskan untuk berhenti saya tidak bisa memaksa. Namun, saya harus mencari pengurus lain yang mungkin paman kenal yang bisa di percaya untuk mengurus Raihan?” tanya Sian.
“Maaf nona kalau pengurus yang bisa di percaya untuk mengurus Raihan akan sulit mencarinya, tetapi saya sudah menemukan orang yang ingin merawat Raihan untuk sementara waktu.” Ucap paman tersebut.
“Siapa paman?”
“Saya orangnya,” terdengar suara yang tidak asing bagi Sian.
Saat melihat orang tersebut Sian sangat mengenal sosok tersebut.
“Mama Liora?!” ucap Sian kaget.
__ADS_1
“Nenek...” panggil Raihan sembari memeluk Liora.
“Eh, Raihan.” Ucap Liora tersenyum. Kemudian Liora berjongkok untuk memeluk Raihan.
“Raihan apa kabar? Sudah 2 hari nenek tidak melihat Raihan.”
“Raihan baik nek,” ucap Raihan mengeratkan pelukannya pada Liora.
“Mama, kenapa bisa mengenal Raihan?” Sian terlihat sangat penasaran sekali.
Liora melepaskan pelukannya terhadap Raihan, kemudian dia berdiri kembali menghadap Sian.
“Sebenarnya, satu minggu yang lalu mama melihat Sian bersama Raihan bertemu dengan calon keluarga yang ingin mengadopsi Raihan di sebuah Cafe. Terus mama mendengar semua yang kalian bicarakan, mama juga mengikuti kalian pergi ke mana dan mama juga mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu mama mengenal Raihan dan pengurus Raihan.” Jelas Liora.
“Jadi mama Liora, sengaja ingin menjaga Raihan?”
“Iya, mama dan Vivian serius ingin menjaga Raihan demi membatu Sian.” Jawab Liora.
“Apa! Mama juga tahu soal Raihan?” tanya Sian terkejut.
“Sebenarnya saat berada di Cafe, mama bersama Vian di sana.” Ucap Liora.
Sudah, jika mama sudah mengetahuinya pasti dia akan ikut campur.
Sian mendesah pelan. Dia pasrah akan keadaan.
“Baiklah ma, Sian minta bantuannya untuk menjaga Raihan sementara waktu sampai Sian menemukan keluarga yang pas untuk Raihan.” Ucap Sian.
“Tidak perlu repot-repot, karena mama sudah menemukan keluarga yang pas untuk Raihan.” Ucap Liora.
“Mama serius?”
“Iya mama serius,”
“Terus siapa mereka?” tanya Sian penasaran.
“Mereka adalah...kamu dan Bara.” Ucap Liora mengejutkan Sian.
“Apa?!” Sian sangat terkejut. “Mama bilang apa barusan?” tanya Sian.
“Mama dan Vian sudah menyelesaikan urusan adopsinya Raihan dengan atas nama kalian berdua. Mulai dari sekarang kamu dan Bara adalah orang tua sahnya Raihan mulai dari sekarang.” Ucap Liora yang semakin membuat Sian terkejut dan kehilangan kata-kata.
Sian mendesah pelan di dalam hatinya berkata. Bagaimana bisa aku mengurus Raihan nantinya? Sedangkan diriku tidak memiliki waktu luang sedikit pun, apa lagi Bara yang pulang saja tidak tahu kapan?
“Bagaimana dengan Bara? Apakah dia sudah tahu kalau kalian menjadikannya sebagai orang tua dari Raihan?” tanya Sian dengan nada lemah.
“Bara belum tahu sama sekali, dan tugas mu adalah untuk memberitahunya saat Bara kembali nanti. Satu lagi kami akan sering mengaja Raihan untuk menemuimu di rumah sakit ini supaya kamu dan Raihan semakin dekat layaknya ibu dan anak, mengerti?”
“Mengerti,” jawab Sian pasrah.
__ADS_1
Entah apa yang di rencanakan Liora dan Vivian untuk Sian dan Bara.