Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 33


__ADS_3

Barak militer.


Sebelum memulai tugas, Sian terlebih dahulu mengumpulkan semua timnya. Sebagai pemimpin, Sian harus memberi arahan terlebih dahulu kepada timnya itu. Apa saja yang harus mereka lakukan saat mulai bertugas nantinya, Sian menginginkan sistem kerja pada timnya harus sesuai standar kerja yang dia inginkan. Selesai memberikan arahan, lalu Sian menutupnya.


“Baiklah, saya harap kalian semua dapat bekerja seperti yang saya arahkan barusan. Sebelum kita mulai bertugas, saya ingin bilang semangat untuk kalian semua.” Ucap Sian dengan semangat 88.


“Semangat...” sahut anggota tim yang di pimpin oleh Sian yang tak kalah semangat.


“Baiklah, kalian boleh menepati posisi kalian masing-masing.” Ucap Sian kepada anggota timnya.


Dalam waktu satu menit semuanya sudah berada di tempat mereka masing-masing dan mulai bertugas. Setelah beberapa menit kamp medis di buka, para prajurit mulai berdatangan mengantri untuk memeriksakan kesehatan tubuh mereka.


Sian sangat terkejut sekali melihat antrean panjang yang di penuhi dengan semua prajurit pasukan khusus.


“Tunggu sebentar, kenapa kalian tiba-tiba mengantri seperti ini? “ tanya Sian kepada semua prajurit tersebut.


Perwakilan dari mereka langsung menjawab pertanyaan yang di lontarkan Sian.


“Hari ini kapten Devil memperintahkan semua pasukan khusus untuk melakukan tes kesehatan dan kebugaran tubuh. Makanya kami datang mengantri untuk melakukan tes kesehatan tersebut.”


Sian menelan salivanya sesaat, dan mendesah pelan melihat antrean panjang yang melihatnya saja sudah membuatnya lelah.


Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan.


“Dafa dan Fahar tolong kalian atur antrean semua pasukan ini, buat satu kelompok 5 orang, dan suruh setiap kelompok masuk secara bergantian, kalian mengerti?” titah Sian kepada 2 perawat pria tersebut.


“Buat Iva Nara dan Danita, kalian bantu kami para dokter melakukan pemeriksaan, kita mulai sekarang, suruh kelompok permata masuk.” Ucap Sian memperintahkan timnya.


“Baik dokter,” jawab mereka serentak.


Pemeriksaan terhadap semua prajurit pun di mulai. Kelompok pertama pun masuk untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Kelompok demi kelompok Sudah melakukan pemeriksaan, dan semua tenaga medis mulai kewalahan karena masih banyak prajurit yang belum melakukan pemeriksaan.


Sian maupun tenaga medis lainnya mendesah pelan karena mereka semua sudah merasa sangat kelelahan.

__ADS_1


Prajurit yang sedang duduk di depan Sian pun melihat ekspresi wajah yang di tunjukan Sian saat ini seakan wajah tersebut mengatakan aku lelah, kapan semua ini akan berakhir? Seperti itulah kira-kira yang di baca oleh prajurit tersebut pada wajah Sian saat ini.


“Maaf, boleh saya katakan sesuatu pada Anda dokter?” tanya prajurit tersebut kepada Sian.


Dengan malas Sian menjawab. “Em...katakan saja, apa yang ingin kau katakan.”


“Kapten Devil pernah bilang pada kami, walaupun lelah kita sebagai seorang prajurit harus tetap tersenyum, karena dengan tersenyum kita bisa menyelamatkan dunia.” Kata prajurit itu pada Sian.


Mendengar perkataan prajurit tersebut membuat Sian semakin memasang wajah malasnya.


“Sebagai dokter, boleh saya katakan sesuatu padamu?” ucap Sian pada prajurit itu.


“Boleh, katakan saja.” Prajurit tersebut tersenyum pada Sian.


“Jangan terlalu percaya dengan perkataan kapten Devil mu itu, karena kalau terlalu banyak tersenyum nanti kalian semua bisa di bilang prajurit gila. Kamu mau di bilang prajurit gila? Kalau saya sih ngak bakalan mau.” Ucap sian membuat prajurit tersebut terbungkam dengan perkataannya.


Kata-kata yang tidak masuk di akal, mana mungkin aku tetap tersenyum saat merasa kelelahan. Malah yang ada aku ingin tidur, dari pada tersenyum seperti orang gila.


“Kelompok selanjutnya,” ujar Sian setelah selesai melakukan pemeriksaan pada prajurit barusan.


“Tarik nafas, hembuskan.” Pinta Sian yang di ikuti oleh prajurit tersebut. Lalu di lanjutkan dengan pemeriksaan lainnya, setelah selesai, sejenak Sian menuliskan hasil dari pemeriksaannya. Sedang sibuk menulis prajurit ini juga ingin mengatakan sesuatu pada Sian.


“Dokter, boleh saya bertanya pada Anda?” ujar prajurit itu pada Sian.


Sekilas Sian menatap ke arah prajurit tersebut. “Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan?” terlihat respons yang di berikan Sian terkesan cuek.


“Apakah dokter sudah menikah?”


“Maaf pertanyaan pribadi Seperti ini, tidak akan saya jawab.” Ucap Sian dingin.


Melihat respons Sian yang tidak ramah sama sekali membuat prajurit itu ingin memberikan kata-kata bijak kepada Sian.


“Maaf dokter, boleh saya katakan sesuatu pada Anda?”

__ADS_1


Sian mendongkak menatap Prajurit tersebut. Tidak, jangan bilang dia juga ingin mengatakan sesuatu yang tidak masuk di akal lagi.


Sian mendesah pelan. “Katakan, apa yang ingin kau katakan.” Sian kembali memasang wajah malasnya.


“Kapten Devil selalu mengajari kami, jika ada orang yang bertanya kita harus menjawabnya, apa pun itu pertanyaannya.” Ucap prajurit tersebut menyindir Sian.


Sian kembali mendesah pelan mendengar perkataan prajurit ini.


“Kalau begitu katakan pada Kapten mu itu, saya orang yang pertama kali menolak pengajarannya itu. Tidak semua orang bisa menerima ajarannya itu, termasuk saya, mengerti?” ucap Sian dengan tegas.


Seketika prajurit itu berhenti berbicara. Walaupun memiliki tubuh yang kekar, prajurit tersebut merasa takut melihat Sian yang sedang kesal.


Waktu berlalu begitu cepat, tim medis pun selesai bertugas. Mereka kembali ke kamp masing-masing. Hari ini adalah hari cobaan untuk Sian, sejak mulai bertugas Sian selalu mendapatkan nasehat dari beberapa prajurit. Malah ada prajurit yang terang-terangan mengatakan tidak menyukainya.


Hari yang sangat melelahkan. Tidak hanya fisik yang lelah, tetapi mental juga ikut lelah menghadapi prajurit-prajurit gila akan kapten yang tidak jelas itu.


“Dokter Sian, kami mau pergi mandi, apakah dokter mau ikut bersama kami?” tanya dokter Ayudia.


“Tidak, kalian duluan saja mandinya, saya mau menghubungi seseorang dulu.” Tolak Sian.


“Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu dokter.” Ucap dokter Ayudia yang kemudian pergi meninggalkan kamp.


Setelah Ayudia pergi, Sian mengambil ponselnya untuk menghubungi Suaminya Bara. Telepon tersambung, tetapi Bara tidak mengangkatnya.


Kenapa mas Bara tidak menjawab telepon dariku? Aku coba hubungi lagi aja, mungkin saja mas Bara akan mengangkatnya.


Sian kembali menghubungi Bara. Namun, tetap saja Bara tidak mengangkatnya. Tidak menyerah begitu saja, kali ini Sian mencoba menghubungi Bara kembali, tetapi terdengar Tut! Tut! Tut! Suara tersebut menandakan jika nomor ponsel Bara tidak bisa di hubungi lagi. Sian sungguh merasa kecewa saat Bara tidak bisa di hubungi, dengan kesal Sian melempar ponselnya sembarangan di atas tempat tidurnya.


“Mas Bara ke mana sih! Kenapa teleponku tidak dia angkat?” gerutu Sian dengan kesal.


Karena tidak bisa menghubungi Bara, Sian memutuskan untuk menyusul Ayudia dan yang lainnya ke kamar mandi. Mungkin saja dengan mandi kepala panas Sian menjadi dingin dan tenang.


.

__ADS_1


Bersambung...


.


__ADS_2