Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 54


__ADS_3

Matahari pun mulai terbenam. Sian yang sejak dari tadi berpura-pura tidur dan sekarang dia benar-benar tertidur di dalam pelukan Bara.


Rasa hangat yang berasal dari tubuh Bara membuat Sian sangat nyaman berada di dalam pelukan sang suami.


“Em,” Sian menggeliat dalam tidurnya dan semakin membenamkan wajahnya di dada suaminya itu.


Bara membuka matanya. Rukk! Rukk! Bunyi perut Bara yang lapar. Tengah malam seperti ini tidak mungkin dia membangunkan bibi untuk membuatkannya makanan. Saat ini Bara hanya bisa menahan laparnya sampai besok pagi, tetapi lima menit kemudian perutnya semakin bunyi mintak di isi sekarang juga. Gerak sana gerak sini, Bara gelisah karena rasa laparnya.


Sian yang sedang tertidur pun terbangun karena guncangan dari gerakan yang di lakukan Bara karena gelisah.


“Mas Bara kenapa?” tanya Sian dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Bara mendekatkan bibirnya di telinga Sian. “Mas lapar,” bisik Bara.


Rukk! Rukk! Bunyi perut Bara memberitahu Sian jika pemilik perut ini memang benar-benar lapar.


Sian tersenyum mendengarkan bunyi perut suaminya Bara. Kemudian dia bangkit dari tidurnya.


“Ayo ke dapur sekarang, biar aku buatkan mas nasi goreng.” Ucap Sian yang turun dari tempat tidur.


Wajah Bara terlihat menyalah saat Sian berkata ingin membuatkan Nya nasi goreng.


“Sayang serius ingin membuatkan mas nasi goreng malam-malam begini?”


“Kenapa, mas tidak mau aku buatkan nasi goreng?”


“Tidak, mas sangat mau di buatkan nasi goreng oleh istriku ini.” Jawab Bara yang langsung beranjak berdiri.


“Ayo, tunggu apa lagi? Kita ke dapur sekarang.” Sambung Bara merangkul tangan istrinya itu.


Bara tidak henti-hentinya tersenyum melihat istrinya Sian sedang memasakannya nasi goreng. Dia duduk di kursi makan menunggu nasi gorengnya masak.


“Sayang, apakah nasi gorengnya sudah matang?” tanya Bara yang sudah tidak sabar lagi untuk mencicipi nasi goreng buatan istrinya itu.


“Tunggu sebentar lagi,” jawab Sian yang sedang mengaduk-gaduk nasi goreng buatannya di dalam kuali.


“Kira-kira masih berapa menit lagi mas harus menunggu? Mas sudah sangat lapar sekali.” Bara mengelus perutnya yang bunyi sejak dari tadi.


“Tunggu sebentar,” sian mematikan kompornya dan kemudian dia mengangkat nasi gorengnya ke dalam piring.


“Nasi gorengnya sudah siap.” Ucap Sian sembari meletakan piring yang berisi nasi goreng di hadapan Bara.


Bara langsung menghirup bau sedap nasi goreng yang ada di depannya itu. Tanpa menunggu lama Bara langsung menyuap nasi goreng buatan Sian ke dalam mulutnya. Mata Bara langsung membulat sempurna ketika merasakan nasi goreng buatan istrinya itu.

__ADS_1


Rasanya sangat enak sekali.


Tanpa bersuara Bara terus menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya tanpa henti. Saking enaknya, Bara menghabiskan semua nasi goreng di dalam piringnya itu tanpa sisa.


“Masih ada lagi nasi gorengnya?” tanya Bara yang kekurangan.


“Mas mau tambah nasi goreng lagi?”


“Em...” angguk Bara cepat.


Sian tersenyum, dia langsung mengambil piring suaminya itu untuk mengisinya lagi dengan nasi goreng yang ada di dalam kuali.


“Nah nasi gorengnya,” Sian meletakan kembali piring Bara yang sudah di isi dengan nasi goreng.


“Terima kasih sayang.” Ucap Bara tersenyum dan kemudian dia menyuap kembali nasi goreng ke dalam mulutnya dengan lahap.


Setelah menghabiskan semua nasi gorengnya, Bara menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang dia duduki sekarang dengan mengelus perut buncitnya.


“Bagaimana, apakah mas Bara sudah kenyang?” tanya Sian yang sejak dari tadi duduk di depan Bara sembari memperhatikan suaminya itu menghabisi sekuali nasi goreng buatannya.


“Em, terima kasih sayang atas nasi gorengnya.” Bara tersenyum manis kepada Sian.


“Jika mas sudah kenyang, gantian mas Bara mengendongku ke kamar sekarang. Aku sudah sangat mengantuk sekali sekarang, ayo cepat mas gendong aku sekarang juga.” Pinta Sian manja kepada suaminya itu.


Astaga, perutku sedang penuh begini di suruh mengendongnya.


“Mas ayo buruan,” ucap Sian sembari menggoyangkan kedua tangannya ke arah Bara.


“Baiklah, tunggu sebentar.” Ucap Bara memaksakan dirinya untuk berdiri. Kemudian dia mendekati Sian dan mengendongnya ala bridal style.


Bara melangkah sangat lambat sekali saat mengendong Sian ke kamar. Bukan hanya beban tubuh Sian yang di tahan Bara saat ini, melainkan beban perut besarnya yang penuh dengan nasi goreng itu yang membuat Bara sangat lemas sekali saat ini.


“Ayo mas, kenapa lambat sekali jalannya.” Ucap Sian sembari mengguncang-guncang bahu suaminya itu.


“Sayang hentikan, jangan mengguncang mas seperti itu.” Kata Bara menarik nafas panjangnya.


“Mas Bara kenapa? Apakah mas baik-bak saja?” tanya Sian sembari menatap wajah Bara lekat-lekat.


“Mas baik-baik saja, hanya saja saat ini mas sangat kekenyangan.” Jawab Bara sembari membenarkan tubuh Sian yang hendak merosot dari tangannya.


“Muah...” Sekilas Sian mengecup pipi Bara.


“Bagaimana, apakah mas Bara kembali bersemangat?” tanya Sian setelah mencium pipi suaminya itu.

__ADS_1


“Tidak, masih kurang.” Bara menggelengkan kepalanya.


“Masih belum?”


“Em...” angguk Bara pelan.


“Emuah, muah, muah...” Siam kembali mengecup pipi Bara berulang kali dalam waktu singkat.


“Bagaimana sekaran?” tanya Sian kembali kepada Bara.


“No no no, masih belum.” Bara menggeleng tidak puas.


“Masih belum juga?” seru Sian heran.


“Jika ingin mas kembali bersemangat, sayang harusnya cium di bibir bukannya di pipi.” Ucap Bara spontan.


Sian memutar bola matanya, mendengar permintaan suaminya yang ingin di cium di bibir bukanya di pipi. Bara yang tidak sebaran langsung memajukan bibirnya menunggu Sian untuk menciumnya.


“Mas Bara sedang apa?” tanya Sian bingung melihat Bara yang sudah siap untuk di cium.


“Menunggu untuk di cium olehmu.” Jawab Bara spontan.


“Ayo buruan cium mas sekarang juga, jika tidak mas tidak akan melangkah nih.” Ancam Bara.


Sian mulai memajukan bibirnya untuk mencium bibir seksi Bara. Namun, Sian malah berhenti untuk mencium suaminya itu saat mata Bara yang masih terbuka melihatnya yang hendak mencium bibirnya.


“Mas tutup matanya,” pinta Sian yang malu saat Bara melihatnya.


“Kenapa mas harus menutup mata?”


“Jika mas Bara membuka mata seperti itu, aku tidak akan mencium mas.”


“Oke baiklah, mas tutup mata sekarang juga.” Bara langsung memejamkan kedua matanya saat itu juga.


“Mas sudah menutup kedua mata mas sekarang, ayo buruan cium mas sekarang.” Lanjut Bara meminta di cium oleh Sian.


“Emuah, muah, muah...” Sian mendaratkan bibirnya di bibir Bara berulang kali dengan cepat.


Bara langsung membuka matanya terkejut. Dia tidak menyangka jika dirinya benar-benar kembali bersemangat setelah di cium oleh istrinya itu.


“Kenapa Mas diam Saja? Kan sudah di beri tiga ciuman.” Ucap Sian menahan senyumannya.


Tanpa bersuara Bara membusungkan dadanya dan menguatkan kedua tangannya untuk mengendong Sian sampai ke kamarnya.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2