
Setelah selesai mandi, Sian keluar dari kamar mandi dan hal yang pertama kali ia lihat adalah suaminya Bara sedang tertidur lelap di tempat tidur dengan baju terlipat ke atas sehingga memperlihatkan perut kotak-kotaknya.
Sekilas Sian tersenyum melihat pemandangan indah di depan matanya itu. Setelah mengeringkan rambutnya, Sian langsung naik ke atas ranjang di mana suaminya itu tertidur lelap dan kemudian dia berbaring di samping suaminya itu dengan memeluk erat perut berkotak-kotak itu.
Jangan sia-siakan pemandangan indah ini, hahaha.
Sian tertawa kecil setelah memeluk erat perut suaminya itu. Dia juga meletakan kepalanya di atas dada bidang milik Suaminya yang sedang tertidur.
Ah...nyamannya.
Sian mendongkak sebentar menatap wajah suaminya itu, tetapi walaupun yang bisa dia lihat hanyalah sebuah dagu runcing milik suaminya Bara. Setelah itu dia kembali meletakan kepalanya di atas dada bidang yang sejak dari tadi sudah menjadi sandaran kepalanya.
“Selamat malam mas, semoga mimpi indah.” Ucap Sian pelan dan kemudian dia juga memejamkan kedua matanya untuk bergabung dengan suaminya yang terlebih dahulu memejamkan matanya.
Setelah penghuni Villa besar ini tertidur lelap, seakan Villa tersebut seperti tidak ada penghuninya. Hanya suara angin dan suara ombak yang terdengar dari jendala kamar yang sengaja di bukakan sedikit. Benar sekali, posisi Villa yang di tempati Bara dan Sian saat ini langsung menghadap pantai dan memiliki kolam renang pribadi serta pemandangan Gunung Agung dan persawahan di sekitarnya. Nama Villa-nya adalah Villa Samudra Luxury Beachfront.
Setelah Sian tertidur nyenyak dengan posisi kepala dia atas dada dan memeluk erat perut suaminya. Bara pun terbangun dari tidurnya. Samar-samar dia melihat ada sebuah kepala dengan rambut panjang yang terurai di atas dadanya, Beban berat yang menempahnya membuat Bara tidak bisa bergerak.
Sejak kapan dia tidur seperti ini?
Perlahan Bara melepaskan kedua tangan Sian yang memeluk erat perutnya. Lalu dia juga memindahkan kepala istrinya itu di atas bantal.
“Tidurlah seperti ini bentar saja, mas akan kembali lagi nanti.” Bisik Bara di telinga Sian yang terlelap.
__ADS_1
Kemudian Bara turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Bara membersihkan dirinya ketika terbangun dari tidurnya. Semenjak mereka tiba di Bali, Bara belum sempat membersihkan dirinya sama sekali.
Setelah tiga puluh menit, Bara pun keluar dari kamar mandi dan langsung panik saat melihat ke tempat tidur Sian tidak ada lagi di sana. Tanpa sadar Bara langsung melangkah keluar dari kamar untuk mencari sosok istrinya itu. Dari semua sudut Villa sudah di carinya, tetapi Bara tidak juga menemukan keberadaan istrinya itu. Sekilas Bara melihat pintu Villa yang menuju kolam renang dan lautan terbuka. Tanpa berpikir dua kali, Bara keluar melewati pintu tersebut, di sana Bara menemukan istrinya sedang duduk di atas pasir sembari menatap ke arah lautan.
Bara menghelakan nafas leganya saat menemukan istrinya yang sedang duduk sendirian di pinggiran pantai. Bara menginjak tumpukan pasir tanpa menggunakan alas kaki untuk menghampiri istrinya itu.
“Sayang sedang apa di sini sendirian?” tanya Bara yang bergabung duduk di samping istrinya.
Sian menoleh ke sampingnya untuk melihat suaminya Bara, dan kemudian dia kembali menatap ke arah lautan di depannya dengan berkata. “Mas sudah selesai mandinya?”
“Em, sayang sendiri sedang apa di sini sendirian?” tanya Bara kembali.
“Saat aku terbangun dari tidur, aku pergi ke dapur untuk minum. Namun, saat aku ingin kembali ke kamar aku tidak sengaja melihat ke sini. Tanpa berpikir panjang aku pergi keluar dan akhirnya aku berakhir duduk di sini menikmati pemandangan indah lautan di bawah langit yang gelap.” Ucap Sian tersenyum sembari menatap ke arah lautan.
“Terima kasih mas, tapi handuk ini terlalu kecil untuk menutupiku.” Ucap Sian sembari memeluk kedua lututnya sendiri, karena merasa kedinginan.
“Kalau begitu bagaimana dengan ini?” tanya Bara sembari memeluk Sian dari belakang. Bara duduk di belakang Sian sembari menutupi tubuh kecil Sian dengan menggunakan tubuhnya.
Seketika Sian merasakan hangat saat Bara memeluknya dari belakang. “Mas,” Sian berbalik dan langsung memeluk suaminya itu.
“Sayang, kenapa tiba-tiba memeluk mas?” tanya Bara yang merasa aneh tiba-tiba Sian memeluknya.
“Em...” Sian semakin mengeratkan pelukannya dan tidak menggubris pertanyaan suaminya itu. Hingga Bara terdorong ke belakang dan tubuh Sian bertumpu di atas tubuh Bara.
__ADS_1
“Sayang, mas tidak bisa bernafas sekarang.” Ucap Bara dengan wajah memerah karena tidak bisa bernafas.
Sian langsung melepaskan pelukannya, tetapi dia tetap masih berada di atas tubuh Bara. Sekilas Sian tersenyum dengan mata tertutup dan kemudian dia membuka matanya Cup! Bara mencium bibir Sian saat matanya terbuka. Sian terkejutnya bukan main, saat Bara menciumnya.
Setelah melihat reaksi Sian yang membeku Bara langsung menekan tengkuk istrinya dan melahap kembali bibir manis yang sebelumnya sudah pernah dia cicipi itu. Kali ini Bara tidak hanya mengecupnya, tetapi dia menjelajahi di setiap sudut bibir manis itu.
Terpaan angin laut tidak membuat Bara menghentikan ciumannya. Dia malah semakin mendalami dan semakin membuat Sian tidak bisa bergerak sama sekali. Sebelumnya tubuh Bara berada di bawah, kini posisi tubuhnya sudah berada di atas Sian.
“Aw...mas,” Sian melepaskan bibirnya dari bibir Bara. Saat terbaring di tumpukan pasir, ada banyak batu kecil yang menyakiti punggungnya.
“Kenapa sayang?” tanya Bara menghentikan aktivitasnya.
“Punggung ku sakit mas, sepertinya ada banyak batu di pasir ini.” Jawab Sian sembari menahan sakit di punggungnya.
“Benarkah? Tapi sebelumnya mas tidak merasakan apa.” Ucap Bara yang memang tidak merasakan sakit apa pun di punggungnya seperti yang di rasakan oleh istrinya itu barusan. Sekilas Bara melihat di sekitarnya, memang ada banyak batu-batu kecil yang bercampur dengan tumpukan pasir di pesisir pantai ini.
Melihat istrinya kesakitan, Bara langsung menarik Sian duduk di atas pangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Saat ini posisi Bara berada sedikit lebih rendah di bandingkan dengan posisi Sian. Mata keduanya saling menatap satu sama lain dengan sangat dalam. Perlahan Sian mendekatkan wajahnya dengan wajah Bara, tatapan lembut dari mata Sian saat ini mampu menghipnotis Bara saat menatap balik mata coklat milik Sian.
“Mas, aku mencintai mu.” Ucap Sian pelan sembari meletakan kedua tangannya di kedua sisi wajah suaminya itu.
Bara hanya diam saja saat Sian mengatakan cinta padanya. Namun, Bara terus menatap mata Sian tanpa berkedip sedikit pun.
“Mas,” panggil Sian.
__ADS_1
Sedangkan Bara masih pada posisinya dan terus menatap dalam mata Sian tanpa berkedip sedikit pun. Kemudian dengan cepat Bara kembali mencium Sian dengan kedua tangannya menjerat pinggang Sian di dalam kekangannya.