
“Sian, ingat pesan papa, jangan sampai keluar dari hotel ini sebelum papa kembali.” Ucap Damian khawatir dengan putrinya itu. Dia tidak bisa tenang meninggalkan Sian sendirian di hotel.
“Pa, usiaku sudah 21 tahun, kenapa papa masih menganggap aku seperti anak kecil?”
Sian bersikap biasa saja, dia pun merasa aneh melihat tingkah papanya yang panik seperti ini.
“Sian maafkan papa, papa menyesal mengajak mu ke jepang.” Kedua tangan Damian bergetar hebat, entah apa yang membuat Damian menjadi ketakutan seperti ini.
“Apa yang papa katakan? Aku tidak mengerti sama sekali?”
Sian terlihat sangat bingung sekali melihat papanya berjalan bolak balik di depannya dengan kedua tangan yang terus bergetar.
“Sian kamu pulang saja ke Indonesia sekarang,” tiba-tiba Damian memutuskan untuk mengirimkan Sian kembali ke Indonesia detik itu juga. Namun, berbeda halnya dengan Sian yang tidak ingin pulang ke Indonesia karena dia baru sehari berada di jepang. Sedangkan rencananya untuk berjalan-jalan dengan papanya Damian belum sempat mereka lakukan.
“Pa aku tidak mau pulang ke Indonesia sekarang, aku masih ingin berada di sini bersama papa.” Sian menolak pulang.
“Sayang papa mohon, kembali lah ke Indonesia sekarang, Em...” Damian sangat memohon pada putrinya itu untuk mengikuti permintaannya.
“Memangnya apa penyebab papa berubah pikiran seperti ini? Kenapa tiba-tiba papa ingin aku pulang?”
Sian meminta penjelasan dari Damian. Kenapa tiba-tiba bersikap tidak jelas seperti saat ini.
“Sayang jika kamu tidak pulang sekarang, papa takut mereka akan mengambilmu dari papa secara paksa, dan papa tidak ingin itu terjadi.”
Damian duduk di samping Sian dengan memegang kedua tangan Sian dengan sangat erat. Damian memohon agar putrinya itu mau untuk pulang sekarang.
“Mereka itu siapa Pa? Kenapa mereka ingin mengambil Sian dari papa secara paksa?” sama seperti sebelumnya, Sian masih bingung dan tidak mengerti dengan arah pembicaraan papanya itu.
“Mereka adalah sekelompok mafia yang terkenal sangat berbahaya di jepang ini, papa takut jika apa yang papa pikirkan akan benar-benar terjadi.” Suara Damian mulai bergetar, terlihat jelas wajahnya pucat karena ketakutan.
“Papa tenang dulu, jelaskan padaku kenapa sekelompok mafia tersebut ingin mengambil ku? Apa salah aku pada mereka?” Sian semakin bingung, dan tidak mengerti sama sekali dengan situasi saat ini.
__ADS_1
“Sayang dengarkan papa sekarang, apakah kamu masih ingin dengan pria yang bertemu dengan kita di restoran tadi?” Tanya Damian serius.
“Ia aku ingat, pria itu masih mudah bertubuh besar dan sedikit tampan itu kan?”
Damian menganggukkan kepalanya serta menatap Sian dengan serius.
“Pria itu adalah pemimpin dari kelompok mafia tersebut, namanya Bernardus, dia terkenal dengan pria bejat yang suka merampas wanita secara paksa untuk melayaninya. Jika menolak akibatnya kematian. Papa tidak ingin semua itu terjadi padamu sayang.”
Damian menelan salivanya sesaat, dia menatap sedih ke arah putrinya itu.
“Apa maksud papa berkata seperti itu? Kenapa pria itu ingin mengambilku dan membunuhku?” Sian terlihat sangat ketakutan mendengar perkataan Damian.
“Karena dia memilih mu sayang, papa sangat menyesal sekali mengajakmu pergi ke sini. Jika saja papa tidak mengajak mu, Bernardus pasti tidak akan pernah melihat mu dan dia tidak mungkin menginginkan mu. Ini semua salah papa, kenapa harus kamu yang dia pilih? Kenapa!”
Damian sangat putus asa sekali. Dia tidak ingin memberikan putrinya Sian kepada pria seperti Bernardus.
“Sayang kamu harus pulang sekarang, papa sudah memesankan tiket pulang ke Indonesia, dan papa juga sudah meminta pengawal untuk menjagamu sampai ke Indonesia dengan aman.”
“Tuan Damian, kau mau pergi ke mana bersama putri mu yang cantik ini?”
Bernardus menatap Sian dengan tatapan mesum. Wajahnya terlihat sangat menakutkan sekali saat melihat Sian.
“Papa,” Sian bersembunyi di belakang Damian.
Damian tidak bisa melakukan apa pun saat ini, semua Bodyguard-Nya sudah di kalahkan oleh pasukan Bernardus. Tidak ada pilihan lain selain memohon.
“Bernardus, saya mohon, berikan waktu beberapa hari untuk saya bersamanya. Saya janji akan mempersiapkan semuanya untuk menyerahkannya padamu.” Ucap Damian berbohong.
“Apa yang barusan papa katakan pada pria ini?” bisik Sian yang masih bersembunyi di belakan Damian.
“Us...kamu diam saja, serahkan semuanya pada papa.” Ucap Damian pelan, hanya Sian yang mendengarkan ucapan tersebut. Tanpa membantah Sian diam dan mempercayakan semuanya pada papanya Damian.
__ADS_1
“Kau pikir saya bodoh, saya tidak akan tertipu dengan ucapan mu itu, saya ingin putri mu sekarang juga.” Ucap Bernardus dengan nada suara yang mengerikan.
Damian menelan salivanya, dia tahu jika Bernardus tidak mudah percaya dengan perkataannya begitu saja.
“Kalian cepat bawa wanita ini sekarang juga.” Titah Bernardus kepada anak buahnya. Tanpa menunggu lama, anak buah Bernardus tersebut langsung mengambil Sian secara paksa dari Damian.
“Papa...tolong aku...” teriak Sian mengamuk. Sedangkan Damian tidak bisa berkutik sedikit pun karena posisinya sekarang sudah di tahan oleh anak buah Bernardus.
“Sian....” teriak Damian yang sedang di pukuli.
“Tidak, lepaskan aku, lepaskan aku....” amuk Sian menolak di bawah oleh anak buah Bernardus tersebut.
“Tidak, papa....” teriak Sian terbangun dari tidurnya.
Sian bermimpi buruk. Ini pertama kalinya Sian bermimpi buruk seperti itu. Selama ini dia tidak pernah bermimpi buruk setelah kematian sang ayah 3 tahun yang lalu.
“Sayang apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bara yang ikut terbangun karena suara teriakan Sian.
Sian tidak menjawab, dia terus berusaha untuk bernafas dengan benar. Tubuhnya basah karena keringat yang berlebihan. Rasa takut yang di rasakan Sian di dalam mimpinya itu, terbawa ke alam sadar Sian saat ini. Kedua tangan Sian bergetar hebat, yang di sertai keringat di dalam gegamannya.
“Sayang kamu baik-baik saja? Kemarilah.” Bara langsung memeluk tubuh Sian untuk menenangkannya. Bara menepuk-nepuk pelan punggung Sian untuk memberi sebuah kenyamanan agar Sian bisa tenang.
“Mas aku bermimpi aneh,” ucap Sian pelan. Sian tidak menceritakan detail mimpinya itu pada Bara. Dia hanya mengatakan apa yang baru saja yang dia alami. Namun, tidak menceritakan mimpinya itu.
“Kamu bermimpi apa?” tanya Bara dengan tenang.
“Tidak mas, itu hanya sebuah mimpi, mas tidak perlu khawatir.” Sian menolak menceritakannya. Karena menurutnya mimpi itu hanya sebuah kembang tidur untuk membangunkannya dari tidur.
“Baiklah kalau begitu, kamu mandi sekarang, badan mu semuanya basah.” Bara bisa merasakan jika tubuh Sian lembab penuh dengan keringat.
“Em...baiklah.” Sian beranjak turun dari ranjang dan pergi keluar menuju kamarnya untuk mandi.
__ADS_1
Sedangkan Bara kembali berbaring di samping Raihan untuk melanjutkan tidurnya.