
Semenjak matahari terbit, Sian di buat bingung seharian ini. Setiap ada prajurit yang berlewatan atau berpapasan dengannya, mereka selalu tersenyum dan baik sekali dengannya. Selama berada di Barak militer, hampir semua prajurit tidak menyukainya sama sekali. Namun, kali ini semua prajurit tersebut bersikap baik dan ramah sekali padanya.
“Dr. Sian ini buat mu, saya memasangnya sendiri tolong di makan ya, nanti keburu dingin makannya.”
“Terima kasih.” Ucap Sian tersenyum canggung sembari menerima bekal tersebut.
Ada salah satu prajurit datang memberikan bekal makanan kepada Sian. Setelah memberikan bekal makanan tersebut, kemudian prajurit itu pergi dengan sebuah senyuman di wajahnya.
Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka sangat ramah dan baik sekali padaku sejak dari tadi?
Sian selalu tersenyum tipis kepada setiap prajurit yang melihat ke arahnya.
Astaga, rahangku sangat pegal sekali. hari ini aku tidak henti-hentinya tersenyum tidak jelas kepada semua prajurit di sini. Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Ting! Pesan masuk ke ponsel Sian.
Bara❤:
Sayang temui aku di gudang obat sekarang. Ada yang ingin aku berbicara kan padamu sekarang, penting.
Sian:
Baiklah, tunggu sebentar, aku akan pergi ke sana sekarang.
Sian langsung beranjak pergi meninggalkan meja kerjanya untuk menemui suaminya Bara di gudang obat yang jaraknya sangat dekat di kamp medis.
Kiri kana Sian menatap, memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya masuk ke dalam gudang obat. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya, kemudian Sian masuk dengan mengedap-ngedap. Bara langsung datang memeluk Sian dengan erat dari belakang.
“Sayang kenapa lama banget datangnya?”
Bara membenamkan wajahnya di leher jenjang istrinya itu. Tercium wangi Blossom dari tubuh Sian. Bara sangat menyukai bau harum yang berasa dari tubuh istrinya itu, sehingga dia semakin membenamkan wajahnya di leher istrinya itu.
“Mas.” Panggil Sian kepada Bara yang betah memeluknya dari belakang.
“Em...” guma Bara yang enggan mengangkat kepalanya dari leher istrinya.
“Katanya mas ingin membicarakan hal yang penting? Dan sekarang, mas malah menempel seperti ini padaku.” Ucap Sian sembari mengelus kepala Bara yang bertempuh di pundaknya itu.
Terdengar suara Bara mendesa pelan. Dia enggan untuk melepaskan pelukannya pada istrinya itu. Namun, dia harus melepaskan pelukannya untuk memberitahukan sesuatu pada istrinya itu.
“Sayang, mulai hari ini mas akan di bebas tugaskan.”
“Bebas tugas?”
__ADS_1
“Iya, hari ini mas akan pergi meninggalkan barak militer untuk pulang ke rumah.”
“Hari ini?”
“Em, hari ini sebentar lagi mas akan pergi.” Ucap Bara.
“Owh...kalau begitu mas hati-hati dalam perjalanannya.” Respons Sian biasa saja.
Bara kecewa dengan respons yang di tunjukan Sian istrinya itu. Berbanding terbalik dengan dirinya yang tidak ingin berpisah jauh dengan istrinya itu.
“Itu saja?” tanya Bara dengan nada kecewanya.
“Em...itu saja.” Jawab Sian yang hendak pergi bertugas kembali.
Tidak romantis sekali, tidak ada sebuah ciuman perpisahan gitu.
Sesaat Sian kembali menoleh kepada Bara untuk mengatakan sesuatu pada suaminya itu. “Ah ya, aku melupakan sesuatu.” Ucap Sian.
Seketika wajah Bara kembali cerah saat mendengar Sian melupakan sesuatu.
Akhirnya dia mengingat ciuman perpisahannya. Kemarilah sayang aku sudah siap untuk di cium.
Tanpa sadar Bara mengerucutkan bibir seksinya menunggu istrinya itu untuk menciumnya. Seakan dia membayangkan jika istrinya Sian akan menciumnya detik itu juga.
Apa? Dia hanya ingin menitipkan pesan untuk Raihan. Terus di mana ciuman perpisahannya. Ini tidak bisa di biarkan.
Bara langsung bergerak dan menarik Sian yang hendak keluar dari gudang. Bara menutup pintu gudang dengan menggunakan kaki panjangnya.
“Apakah kamu tidak melupakan sesuatu sayang?” tanya Bara sedikit genit.
“Tidak ada,” jawab Sian yang tidak peka sama sekali dengan ucapan Bara.
Astaga, kenapa dia begitu tidak peka sih. Sudahlah, jangan menunggunya lagi.
Tanpa mengulur waktu lagi, Bara langsung menjerat Sian dalam pelukannya. Kemudian bibir tebal Sian di lahap oleh Bara tanpa melepaskannya. Mata Sian terbelalak kaget, dia terkejut dengan Bara yang sangat bernafsu sekali saat ini.
Bug! Bug! Sian memukul pelan dada Bara. Saat ini Sian hanya ingin bernafas, dan menjauhkan suaminya itu darinya sekarang juga.
“Em...” suara Sian tertahan.
Beberapa detik kemudian Bara melepaskan ciumannya. Memberi Sian kesempatan untuk bernafas.
“Mas sudah gila, aku hampir saja kehabisan nafas gara-gara mas Bara!” kesal Sian.
__ADS_1
“Kemarilah, mas masih belum selesai.” Ucap Bara yang hendak ingin mencium Sian kembali.
“Maaf mas Bara, aku harus kembali bekerja sekarang.” Tolak Sian.
“Lima menit saja, beri mas waktu lima menit untuk menyelesaikannya.”
Tanpa mendengarkan jawaban dari istrinya Bara kembali mendaratkan bibirnya untuk beberapa saat di bibir Sian. Kemudian dia mengakhirnya dengan kecupan yang sangat dalam.
“Mas akan menunggu kepulangan mu.” Ucap Bara setelah melepaskan ciumannya.
Sian terteguh dan tidak mengatakan apa pun kepada suaminya itu. Hingga sampai dia akan kembali bertugas, Sian tetap tidak mengatakan apa pun pada suaminya itu. Namun, wajahnya terlihat jelas jika saat ini Sian sedang tersipu malu.
“Eh...tunggu sebentar.” Bara menghentikan Sian untuk pergi. Perlahan Bara mengangkat tangannya untuk membersihkan lipstik istrinya yang berlepotan di sekitar bibir.
“Jangan pergi dengan keadaan lipstik seperti ini,” ucap Bara sembari menghapus jejak bibirnya itu di bibir Sian.
“Sudah bersih sekarang, sayang boleh pergi sekarang.” Sambung Bara dengan tersenyum.
Sian menelan salivanya setelah suaminya Bara membersihkan bibirnya. Tak sedikit pun Sian membuka mulutnya untuk berkata sepata kata pun kepada Bara saat ini, tetapi jantungnya bisa memberitahu Bara jika saat ini dirinya sangat gugup sekali.
“Aku akan kembali bertugas sekarang, mas Bara hati-hati dalam perjalanan pulangnya.” Ucap Sian canggung.
Ketika Sian hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Bara membisikan sesuatu di telinganya.
“Terima kasih atas ciuman perpisahannya.”
Jantung Sian berdegup lebih cepat dari yang sebelumnya. Kali ini, seluruh tubuhnya terasa tersetrum listrik yang membangunkan hasrat dari dalam dirinya.
“Mas pergi dulu sayang, dua minggu lagi mas tunggu ke pulangan mu.” Bisik Bara kembali di telinga Sian istrinya.
Sian membeku di tempatnya, kedua kakinya tidak bisa melangkah lagi saat nafas hangat Bara menembus telinganya.
Sian tenangkan dirimu, jangan sampai kamu lepas kendali saat ini.
Sian menggenggam erat kedua tangannya hingga pucuk kukunya memutih.
“Sampai bertemu dua minggu lagi sayang, Muah....” Bisik Bara sembari mengecup pipi Sian sekilas.
Kemudian Bara melangkah pergi meninggal Sian sendirian di dalam gudang. Bara tersenyum puas setelah berhasil membangkitkan gairah istrinya itu dan pergi begitu saja. Sementara itu, Sian berusaha menenangkan dirinya setelah perbuatan Suaminya itu padanya.
.
Bersambung...
__ADS_1