
Jakarta, Indonesia.
Setelah pesawat mendarat di Indonesia, Sian langsung menuju ke rumah sakit dengan menggunakan taksi. Selama berada di dalam taksi, Sian menyempatkan dirinya untuk menghubungi Bara. Namun, Bara tidak mengangkatnya. Kemudian Sian mencoba mengiriminya pesan.
Sian:
Mas, aku sudah mendarat di Indonesia. Jika mas membaca pesan ini, tolong hubungi aku.
Kemudian Sian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Lalu dia menyandarkan punggungnya dengan nyaman dan menutup matanya selama berada di dalam taksi. Sian mencoba untuk beristirahat sebelum melakukan operasi jika sudah sampai di rumah sakit. Walaupun hanya sebentar, Sian tetap mencoba mengistirahatkan mata dan tenaganya. Dari pada tidak sama sekali.
“Nona bangun, kita sudah sampai di rumah sakit.” Ujar sopir taksi membangunkan Sian.
Sian membuka matanya, dan langsung beranjak keluar dari taksi. Sedangkan sopir tersebut mengeluarkan koper Sian dari bagasi.
“Nona ini koper Anda,”
“Terima kasih paman,” ucap Sian sembari memberikan ongkos taksinya.
“Sama-sama nona, kalau begitu saya pergi dulu nona.”
“Baiklah paman, hati-hati di jalan.”
Kemudian Sian melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Saat kakinya menginjak memasuki lobi, sudah ada yang menunggu Sian di sana.
“Dokter, berikan kepada saya koper Anda.” Pinta perawat tersebut.
“Bagaimana dengan persiapan operasinya?” tanya Sian langsung kepada perawat tersebut.
“Semuanya sudah siap dokter, hanya tinggal menunggu dokter Sian saja untuk memulai operasinya.”
“Baiklah kalau begitu, tolong kamu antarkan koperku ke ruang ganti bersamaku. Setelah aku bersiap-siap, kita mulai operasinya.”
“Baik dokter,” jawab perawat tersebut dengan sigap.
Setelah berada di ruang ganti Sian langsung membuka lemari lokernya. Namun, saat sedang mengganti Bajunya Sian berkata kepada perawat yang sedang menunggunya itu.
“Saya baru ingat, tolong kamu bilang kepada wali pasien untuk datang menemuiku sekarang juga.” Pinta Sian kepada perawat tersebut.
“Keluarga pasien dokter?”
“Iya, keluarga yang bertanggung jawab atas pasien tersebut.”
“Anu dokter, sebenarnya sedikit ada masalah dengan keluarga pasien ini.” Ucap perawat tersebut dengan ragu-ragu.
“Masalah apa yang kamu maksudkan?” tanya Sian bingung.
__ADS_1
“Sebenarnya, pasien ini tidak memiliki keluarga lagi, selain anak laki-lakinya.”
“Ya bagus dong, pasien masih memiliki keluarga yang masih bisa saya temui.”
“Tapi dokter,”
“Sudah tidak ada tapi-tapian, kamu bawah saja anak pasien tersebut menemuiku sekarang juga.” Tegas Sian yang tidak tahu menahu.
“Baiklah dokter, saya akan membawa keluarga pasien menghadap dokter sekarang.”
“Oke, saya tunggu kalian di depan ruangan operasi sekarang.” Ucap Sian yang langsung pergi menuju ruang operasi.
“Siap dokter,”
Perawat tersebut berlari untuk menemui keluarga pasien. Setelah menemuinya perawat tersebut langsung membawahnya menemui Sian yang menunggu di depan ruangan operasi.
Sesampai di depan ruangan operasi, Sian terteguh diam saat melihat wali pasien tersebut.
“Apa aku tidak salah lihat?” tanya Sian kepada perawat itu.
“Tidak dokter, Anda tidak salah lihat. Keluarga satu-satunya yang di miliki pasien tersebut adalah anak laki-laki yang berusia 5 tahun.” Ucap perawat tersebut.
Sian terfokus melihat anak laki-laki tersebut yang hanya memiliki tinggi badan setinggi lutut.
Perlahan Sian berjongkok di depan anak laki-laki yang berusia 5 tahun tersebut.
Dengan polosnya anak itu menjawab. “Raihan, nama saya Raihan Sabian tante.”
“Baiklah Raihan, tante ingin berbicara penting pada Raihan sekarang tentang mama Raihan.”
“Em...” angguk Raihan pelan dan polos.
Astaga, aku tidak tega mengatakannya pada anak ini. Dia terlalu kecil untuk mengerti semua ini. Namun, tidak ada pilihan lain selain mengatakannya.
“Baiklah Raihan, tante adalah dokter yang akan mengoperasi mama Raihan sekarang, tetapi sebelum itu tante ingin memberitahu Raihan jika operasi ini sangat berbahaya untuk di lakukan.” Sian menghentikan perkataannya, karena terlihat ragu-ragu.
“Apakah mama Raihan akan meninggal?” tanya Raihan mengejutkan Sian.
“Tidak, bukan begitu.” ucap Sian gugup.
Aduh, bagaimana ini. Apa yang harus aku katakan pada anak ini? Tidak mungkin aku berkata jujur padanya.
Sian bingung untuk melanjutkan perkataannya atau tidak. Entah mengapa dia menjadi tidak tegas saat berhadapan dengan anak berusia 5 tahun ini.
“Begini saja, tante akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan mama Raihan, oke.”
__ADS_1
“Em...oke.” jawab Raihan polos.
“Baiklah, kamu bawah dia kembali ke penitipan anak sekarang. Tolong kamu jaga dia sampai operasinya selesai.” Titah Sian.
“Baik dokter saya mengerti.”
Kemudian Sian masuk ke dalam ruangan operasi. Sebelum benar-benar masuk ke ruangan operasi, Sian mensterilkan dirinya terlebih dahulu. Kemudian dia mengenakan jubah yang selalu dia kenakan saat mengoperasi.
Setelah semuanya Siap, Sian melangkah masuk ke ruangan medan perang yang sesungguhnya.
“Apakah semuanya sudah siap?”
“Sudah dokter,” jawab serentak Team yang berada di medan perang tersebut.
“Baiklah saya jelaskan terlebih dahulu, kita akan melakukan operasi pada pasien yang mengalami kecelakaan. Prosedur yang akan kita lakukan saat ini adalah pengangkatan pecahan tulang yang menembus jantung pasien ini, apakah kalian semua paham?”
Sian menjelaskan keadaan pasien pada Team-Nya. Sebelum melakukan operasi ini, Sian sudah terlebih dahulu mempelajari keadaan pasien tersebut. Sian sudah memperkirakan semuanya, apa yang akan terjadi dan apa yang harus dia lakukan saat operasi berlangsung.
“Paham Dokter,” jawab Team serentak.
“Baiklah kita mulai sekarang operasinya, pisau bedah.” Pinta Sian pada perawat yang bertanggung jawab atas alat minor set atau mayor set.
Dengan cepat perawat tersebut memberikan pisau bedah ke tangan Sian. Tanpa menunggu lama Sian melangsungkan pembedahan di tempat yang ingin di operasi.
Selama operasi berlangsung Sian tetap fokus. Selama ini, operasi berjalan baik-baik saja. Saat prosedur pengangkatan di mulai, operasi tersebut masih berjalan dengan baik. Setelah pengangkatan serpihan tulang kemudian Sian ingin menutup rapat lubang pada jantung tersebut dengan menjahitnya. Namun, pada saat bersamaan pasien tersebut mengalami serangan jantung tiba-tiba, seperti dugaannya.
“Dokter pasien mengalami serangan jantung.” Ucap dokter anestesi.
“Berapa tekanan darahnya?”
“110/68 mmHg.”
Tekanan darah pasien tersebut masih normal.
“Defibrilator” pinta Sian cepat.
Dengan cepat perawat tersebut memberikan alat pengejut jantung kepada Sian. Berulang kali Sian mencoba memberi kejutan pada jantung pasien tersebut, tetapi tetap saja tidak ada perubahan, dan malah tekanan darahnya semakin turun dan turun.
Aku mohon kembalilah, kamu harus selamat karena Raihan sedang menunggu mu. Please please please...
Sian berusaha semaksimal mungkin. Namun, hingga akhirnya pasien tersebut meninggal dunia di meja operasi. Sian sangat syok sekali saat ini, tetapi tidak dia perlihatkan.
Dengan sangat terpaksa Sian mengumumkan kematian pasien tersebut.
“Pada tanggal 16 Februari, pukul 3 pagi lewat 55 menit. Saya nyatakan pasien meninggal dunia karena serangan jantung selama operasi berlangsung.” Ucap Sian yang menahan kesedihannya.
__ADS_1
Setelah mengumumkan kematian pasiennya, Sian keluar dari ruangan operasi dengan sedih. Dia tidak tahun harus mengatakan apa Raihan.