
Jakarta
“Mas kapan akan kembali?”
Sian terlihat tidak rela berpisah dari suaminya itu. Begitu juga dengan Raihan yang tidak ingin melepaskan papanya. Keduanya sama-sama tidak ingin menjauh dari Bara, mereka memeluk Bara dengan sangat erat. Sain memeluk pinggan dan sedangkan Raihan memeluk kaki jenjang Bara.
“Kapan kalian akan melepaskan aku, Raihan dengar papa harus pergi sekarang. Apa Raihan ingat perjanjian kita dulu? Seingat papa, Raihan pernah berjanji akan selalu menjaga dan menghibur mama saat papa pergi bertugas. Apakah Raihan lupa dengan janji kita?”
Raihan terdengar mendesah pelan, dia sangat ingat janjinya itu. Perlahan tangan kecil Raihan melepaskan kaki Bara. Namun, Sian menghentikannya dengan berkata.
“Raihan jangan lepaskan papamu.”
“Sayang apa yang kamu katakan? Mas harus pergi sekarang, jangan mempersulit mas seperti ini. Raihan papa mohon padamu, tolong lepaskan papa sekarang.”
Bara terus memohon dan memohon kepada istri dan anak laki-lakinya itu. Namun, semua sia-sia saja karena keduanya kompak tidak ingin melepaskannya pergi.
“Sayang mas janji akan kembali, jadi mas mohon untuk kali ini biarkan mas pergi em…”
“Kalau begitu kapan mas akan kembali?”
“Tiga bulan.”
“Kalau begitu aku tidak akan mengizinkan mas pergi.”
“Kenapa tidak sayang?”
Bara terlihat sangat putus asa menghadapi Sian yang tidak ingin melepaskannya. Pada akhirnya Bara memutuskan melepaskan dirinya dengan menggunakan kekuatannya. Dia mengangkat Sian dan Raihan sekaligus dan membawa mereka masuk ke dalam kamar, di sana Bara berusaha ingin mengunci keduanya supaya bisa pergi. Namun, dengan cepat Sian berteriak dan berkata.
“Mas Bara….jika kamu berani mengunci aku dan Raihan di kamar ini, aku jamin mas tidak akan pernah bisa melihat kami lagi.” Ancam Sian. Bara langsung berhenti mengunci punti kamar tersebut dan langsung membuka kembali pintu kamar itu.
Sian pun langsung keluar dan memeluk erat Bara kembali dengan berkata. “Mas jangan pergi, aku tidak ingin mas pergi.”
“Sayang, mas janji akan kembali, mas mohon izinkan mas pergi sekarang.”
Dengan lembut Bara mencoba membujuk Sian. Kini hanya Sian yang masih tetap menahannya, sedangkan Raihan sudah menyerah dan merelakan Bara untuk pergi.
“Sayang mas harus apa supaya kamu mau melepaskan mas pergi?”
“Tidak ada, mas hanya perlu tetap di sini bersama dengan ku dan Raihan. Tanpa harus melakukan apa pun, cukup mas berada di sini bersama dengan kami.”
“Tapi mas tidak bisa, mas harus pergi sekarang. Tony sudah lama menunggu mas di luar sana, mas janji akan kembali secepat mungkin.”
Hampir lima menit Sian membungkam mulutnya, dan pada akhirnya dia menyerah dan melepaskan pelukannya dari Bara dengan berkata. “Baiklah sekarang mas Bara boleh pergi, tapi mas harus janji akan cepat kembali dengan selamat tanpa luka sedikit pun.”
“Baiklah mas janji akan cepat kembali dengan selamat dan tanpa luka sedikit pun di tubuh mas.”
Sekilas Bara menarik Sian dan Raihan ke dalam pelukannya yang sangat singkat itu. Setelah Sian dan Raihan mengantar Bara ke depan pintu untuk pergi bertugas.
__ADS_1
Mengapa tiba-tiba aku tidak rela membiarkan mas Bara pergi bertugas? Selama ini aku biasa saja dan tidak bersikap seperti ini. Kenapa hatiku merasa mas bara akan pergi untuk selamanya.
Sian menatap sedih punggung suaminya yang semakin pergi menjauhinya. Entah mengapa hatinya tidak tenang membiarkan suaminya pergi bertugas. Tangan kecil Raihan menyusup di sela jari-jari Sian.
“Mama jangan sedih, di sini masih ada Raihan yang menggantikan papa menemani mama.” Suara imut Raihan berhasil mengalihkan pandangan Sian menatapnya.
Sian langsung berjongkok dan memeluk tubuh kecil Raihan.
“Terima kasih sayang.”
***
Dua bulan kemudian.
Sudah dua bulan Bara pergi bertugas tanpa memberi kabar sedikit pun kepada Sian. Dan selama dua bulan ini pun Sian selalu menitipkan Raihan kepada keluarganya. Bulan lalu Sian menitipkan Raihan di kediaman mertuanya, dan kini Sian menitipkan Raihan di kediaman keluarganya sendiri.
“Ma, maaf telah kerepotan karena harus menjaga Raihan.” Ucap Sian yang terlihat sangat kelelahan.
“Apa yang kamu katakan? Mama tidak merasa kerepotan sama sekali, mama malah senang selalu bersama Raihan setiap hari. Mama jadi ada teman dan tidak kesepian lagi di rumah sendirian.” Ucap Vian dengan menatap ke arah cucunya Raihan.
“Raihan jangan nakal selama bersama nenek, Raihan harus menurut dan dengarkan apa kata nenek ya. Mama pergi kerja dulu.”
“Baiklah Raihan mengerti.” Raihan mengangguk.
“Ma aku berangkat kerja dulu, nanti malam aku akan menjemput Raihan.”
“Raihan mama pergi kerja dulu ya, bye sayang.”
“Bye ma...” sahut Raihan sembari melambaikan tangan kecilnya ke arah Sian.
***
Rumah Sakit
Sian berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju ke ruangannya. Saat menunggu di depan pintu lift entah mengapa Sian merasa tidak sehat, kepalanya akhir-akhir ini sering berat dan sakit, dan tubuhnya terasa lemas.
“Dr. Sian apakah Anda baik-baik saja?” Tanya perawat yang berdiri di sampingnya.
“Ia saya baik-baik saja.” Jawab Sian yang berusaha untuk kuat.
Setiba di ruangannya Sian langsung duduk dengan menyandarkan punggungnya di sofa. Perlahan dia memijat kepalanya yang terasa sakit.
Tok tok tok
“Dokter boleh saya masuk?”
“Masuklah,”
__ADS_1
Perawat tersebut pun masuk dan langsung menghadap Sian.
“Katakan ada apa?” tanya Sian langsung.
“Maaf dokter, ada orang yang ingin bertemu dengan Anda.” Ucapnya dengan sopan.
“Siapa?”
Terlihat perawat tersebut bingung untuk menjawab pertanyaan dari Sian tersebut. Karena tidak ingin menunggu terlalu lama, Sian meminta perawat tersebut untuk mempersilakan orang tersebut langsung ke ruangannya saja.
“Kamu suruh saja orang tersebut ke ruangan saya sekarang.”
“Baik dokter.”
Perawat tersebut langsung keluar untuk menemui orang tersebut, dan membawahnya langsung ke ruangan Sian. Dalam beberapa menit orang tersebut pun sudah berada di depan pintu ruangan Sian.
Tok tok tok
“Masuk” teriak Sian.
Perawat tersebut masuk beberapa langkah ke dalam Ruangan Sian sembari berkata. “Dokter, mereka sudah berada di depan.”
Sian menetap ke arah pintu di mana perawat tersebut berdiri.
“Suruh mereka masuk sekarang,” tinta Sian.
“Baik dokter.” Perawat tersebut mengangguk mengerti dan mempersilakan masuk orang yang ingin bertemu dengan Dokternya.
Saat orang tersebut masuk, Sian sedikit terkejut karena orang tersebut sangat tidak asing. Dengan memakai seragam hijau, lengkap dengan baret bintang tiga di bahunya. Yang lebih membuat Sian terkejut adalah orang yang berpakai rapi berdiri di samping orang yang berseragam hijau tersebut.
Tanpa sadar Sian langsung beranjak berdiri dari duduknya sembari menatap tidak percaya ke arah orang yang baru saja masuk dan berdiri di depannya itu.
Bersambung....
Maaf kepada semua pembaca setia Ikatan Pernikahan karena Author baru Bisa Up sekarang dinkarenakan kesibukan pekerjaan yang tidak bisa di tunda.🙏 🙏🙏
__ADS_1