
Sudah dua hari berlalu, Bara tidak bisa tidur dengan nyenyak karena gelisah. Dua hari berturut-turut dia ke pikiran dengan permintaan Damian kepadanya.
Sejujurnya, semenjak Bara melihat foto Sian, dia merasa sangat terganggu. Dia tidak akan mengira jika akan menjadi gelisah seperti ini setelah melihat foto gadis itu.
Tak ingin berlarut-larut, akhirnya Bara beranjak turun dari tempat tidurnya sembari memasukkan foto Sian di saku celananya . Kemudian dia pergi menuju pintu keluar.
“Bara sayang, kamu mau pergi ke mana?” tanya Liora saat melihat Bara hendak pergi.
Bara pun menoleh sebentar ke arah mamanya itu dengan menjawab. “Bara pergi dulu ma, ada urusan sebentar.”
“Urusan apa?” tanya Liora kembali.
“Mama tidak perlu tahu, Bara pergi dulu ya.” Ucap Bara berpamitan.
Bara pun pergi menggunakan mobilnya menuju ke suatu tempat, dan tempat tersebut adalah rumah sakit di mana Sian bekerja.
Setiba di sana bara duduk di lobi sembari mengamati di sekitarnya. Seakan dia sedang menunggu kehadiran Sian di sana sembari menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Sepuluh menit Bara menunggu, Sian benar-benar muncul. Sian keluar dari ruangan IGD, dia keluar dengan tampilan yang berantakan. Terlihat jelas jas dokter yang di kenakan oleh Sian penuh dengan noda darah, wajahnya pun terlihat polos dengan rambut di kuncir tinggi.
Bara yang melihatnya langsung mengeluarkan foto yang dia simpan di dalam saku celananya itu untuk memastikan apa benar gadis yang dia lihat sekarang adalah Sian anak dari Damian Carolus dan Vivian Carolus.
Setelah itu, Bara kembali memasukkan foto tersebut ke dalam saku celananya. Tepat setelah memasukkan foto tersebut, Bara melihat Sian melepaskan kuncir rambutnya sembari menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan ke kiri untuk merapikan rambutnya itu.
Seketika Bara terpana dan tenggelam dalam kecantikan alami Sian saat itu. Dalam seketika jantung Bara berdegup kencang melihat kecantikan Sian tersebut.
Dag dig dug detak jantung Bara saat ini.
“Tidak mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya.” Ucap Bara pada dirinya sendiri sembari memandangi Sian yang semakin mendekatinya.
“Hey kamu yang di sana,” panggil Sian sembari menunjuk ke arah Bara.
Seketika Bara terkejut karena tiba-tiba gadis yang sedang dia amati sejak dari tadi secara ajaib memanggilnya.
__ADS_1
“Sa-saya?” tanya Bara terbata-bata sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya kamu, kemarilah.” Pinta Sian kepada Bara.
Dengan langkah tertatih Bara terlihat ragu-ragu untuk melangkah mendekati Sian. Bara pun berdiri di hadapan Sian.
“Maaf sebelumnya, apakah Anda melihat nenek tua duduk di sini?” tanya Sian kepada Bara.
“Maaf saya tidak melihatnya.” Jawab Bara dengan mengepal kuat kedua tangannya. Saat ini Bara sangat grogi sekali berada di hadapan Sian.
“Baiklah, terima kasih. Maaf sudah mengganggu Anda, kalau begitu saya permisi dulu.” Ucap Sian melangkah pergi menjauhi Bara.
Sedangkan Bara hanya terteguh diam sambil menatap Sian yang menjauhinya. Saat sedang menatap, ponsel Bara berdering dengan cepat Bara mengangkatnya karena telepon tersebut dari kapten jendral atau lebih tepatnya atasannya.
“Baik jendral, saya mengerti.” Ucap Bara tegas di dalam teleponnya. Kemudian dia menutup teleponnya dan pergi begitu saja meninggalkan rumah sakit tersebut.
Saat ini Bara terburu kembali ke rumahnya untuk mengambil barang-barangnya. Telepon barusan memberitahu Bara jika jadwal keberangkatannya untuk menjalan misi di Jepang di laksanakan lebih awal. Setelah berpamitan dengan keluarganya, Bara langsung menuju Barak militer dan langsung terbang ke negara jepang hari itu juga.
***
Saking paniknya, Damian tidak tahu harus meminta pertolongan dengan siapa lagi, dia malah berangkat ke jepang bersama beberapa Bodyguard-nya. Vivian yang tidak ikut pergi bersama Damian, dia langsung mendatangi sahabatnya Liora untuk meminta pertolongan. Dia sangat khawatir membiarkan suaminya itu pergi ke jepang tanpa persiapan apa pun.
Sedangkan Liora langsung menghubungi departemen kemiliteran untuk minta di sambungkan dengan Bara saat ini juga.
“Ma ada apa?” tanya Bara langsung ketika komunikasi mereka tersambung.
“Bara ini tante Vian,” ucap Vian panik.
“Tante Vian ada apa?” tanya Bara saat mendengar suara Vian yang bergetar karena panik.
“Bara, boleh tante minta tolong pada kamu sekarang?”
“Minta tolong apa tante?”
__ADS_1
“Kata Liora, kamu sedang berada di jepang saat ini.”
“Iya, saya sedang berada di jepang sekarang, memangnya kenapa?”
“Tante ingin minta tolong sama kamu untuk membatu suami tante Damian menyelamat Sian.”
“Memangnya Sian kenapa tante?”
“Sian di culik, dan yang menculiknya itu adalah seorang mafia yang berasal di jepang, dan saat ini Sian berada di jepang. Begitu juga dengan paman mu Damian.”
“Bagaimana ya tante, saat ini Bara tidak bisa untuk membantu karena Bara harus menjalankan tugas.” Terdengar suara Bara ragu-ragu.
“Bara tante mohon padamu, tolong bantu tante kali ini saja.” Mohon Vian pada Bara.
“Bara dengarkan mama sekarang, kau harus membatu paman mu Damian untuk menyelamat Sian sekarang, ini perintah dari mama!” ucap Liora mengambil ahli pembicaraannya.
Sejenak Bara hening, dia tidak menjawab perkataan mamanya itu lagi, sesaat Bara melihat anggota timnya yang sudah berada di posisi mereka masing-masing. Saat ini Bara tengah menjalankan misinya. Bara sangat bingung sekali saat ini, dia tidak bisa meninggalkan tugasnya begitu saja demi urusan pribadi keluarganya saat ini. Namun, jika dia tidak datang menolong Damian dan Sian, nyawa ke duannya akan dalam bahaya.
Tanpa berpikir panjang, Bara langsung mengiyakan permintaan Vian dan Liora dan kemudian dia menutup komunikasi mereka. Setelah menutup komunikasi dengan keluarganya itu, Bara langsung meminta Tony untuk memantau misi mereka saat ini sementara waktu dan sedangkan dirinya pergi meninggalkan posisinya untuk menyelamatkan Damian dan Sian.
Bara yang memanfaatkan kecanggihan teknologi pasukannya itu, dengan mudahnya dia melacak posisi Damian saat ini. Setelah mengetahui posisi Damian, Bara langsung pergi ke posisi tersebut dengan membawa Sniper McMillan TAC 50 bersamanya.
Setiba di lokasi kejadian, Bara langsung mengambil posisi yang tertinggi untuk membidik sasarannya, tetapi kedatangan Bara tersebut sudah terlambat karena Damian sudah tertembak. Namun, Bara tetap fokus dengan misi penyelamatannya. Satu persatu Bara menembak semua targetnya, walaupun ada beberapa yang berhasil melarikan diri. Setelah kondisi aman, Bara langsung membawa pergi Damian dan sian ke tempat yang aman dan meminta beberapa prajurit untuk mengurus dan mengirimkan Damian dan Sian kembali ke Indonesia setelah mendapat perawatan.
Sedangkan Bara sendiri kembali ke timnya untuk mengisi posisinya kembali. Namun, saat dia kembali ke posisinya, ternyata misi mereka telah gagal karena komando dan kapten dari tim tersebut pergi meninggalkan posisinya begitu saja.
Setelah hari itu, Bara harus memperpanjang misinya selama tiga tahun lamanya, dan setelah tiga tahun bertugas di jepang, pada akhirnya Bara kembali ke negaranya sendiri sementara waktu untuk menikahi Sian. Bara yang pada awalnya menolak pernikahan tersebut kini dia menikahi Sian juga pada akhirnya setelah tiga tahun lamanya.
Flashback of
.
.
__ADS_1
Bersambung...