
Sudah tiga jam lebih Bara menunggu Sian di dalam mobil. Hari pun sudah gelap dan waktu pun menujukan pukul delapan malam lewat empat puluh menit, Tidak ada tanda-tanda Sian kembali ke mobil. Merasa khawatir Bara pun memutuskan untuk menghubungi istrinya itu, tetapi tidak di angkat. Jika terjadi sesuatu Sian pasti menekan tombol darurat yang sudah dia pasang di ponselnya sebelumnya. Namun, tidak ada tanda-tanda sedikit pun jika Sian akan menekan tombol tersebut.
“Ke mana perginya dia, kenapa Tidak kembali juga sampai sekarang? Apakah terjadi sesuatu padanya?” guma Bara sendiri di dalam mobil.
Bara merasa tidak tenang terus-terusan menunggu di mobil. Dia khawatir kenapa istrinya tidak juga kembali? Padahal hari semakin malam saja.
“Lebih baik aku cari dia sekarang, dari pada menunggu tidak jelas di sini.” Guma Bara sendirian sembari keluar dari dalam mobilnya.
Dia berjalan ke arah toko di mana sebelumnya dia meninggal Sian tadi sore. Saat tiba di sana ternyata toko tersebut sudah tutup, begitu juga dengan toko-toko lainnya yang berada di sepanjang jalan.
“Semua toko di sini sudah tutup, dia pergi berbelanja di mana sebenarnya?” seru Bara sembari melihat jam di tangannya. Tanpa terasa sudah jam sembilan lewat lima menit.
“Pantas saja semua toko di sini tutup, sudah jam sembilan lewat.” Ucap Bara kembali.
Tidak ingin berdiam diri di tempatnya, Bara langsung berjalan menelusuri setiap toko di sekitarnya. Paling-paling satu dua toko yang masih buka. Bara pun menghampiri beberapa toko yang masih buka untuk menanyakan istrinya itu.
Setelah bertanya, Bara tidak mendapatkan hasil apa pun dari beberapa toko tersebut. Tidak menyerah begitu saja, Bara terus berjalan mencari toko-toko yang masih buka. Kira saja Sian berada di sana, pikir Bara. Hingga semua toko di sekitarnya sudah Bara datangi, tetapi tidak ada satu pun toko yang masih buka. Yang Bara dapati jalanan yang gelap dan sepi di depannya itu.
Tidak mungkin Sian datang ke sini.
Bara pun berbalik arah, saat dia berbalik dia menginjak sesuatu. Dia menginjak sebuah ponsel. Dari tampilan ponsel tersebut sepertinya Bara mengenalinya.
Ponsel ini seperti milik Sian.
Tanpa Ragu-ragu Bara langsung menyalakannya dan tidak salah lagi ponsel tersebut memang milik istrinya. Seketika Bara berbalik arah kembali dan berlari dengan cepat menelusuri jalan yang gelap dan sepi tersebut tanpa ragu-ragu.
“Ah...” terdengar suara teriakan dari arah gang sempit dan gelap.
Mendengar suara terikan tersebut Bara langsung berlari ke arah suara teriakan. Saat sudah berada di gang tersebut, Bara melihat ada tiga orang pria yang mengepung Sian dan seorang gadis kecil.
“Jangan coba-coba kalian mendekat! Jika kalian berani mengambil gadis kecil ini, saya pastikan kalian semua masuk ke dalam penjara!” ucap Sian mengancam ketiga pria tersebut.
__ADS_1
“Laporkan saja jika kau bisa, tapi sebelum itu kami pastikan kau dan gadis kecil ini mengambang di lautan sana.” Ancam balik dari salah satu ketiga pria tersebut.
Seketika Sian merinding mendengarkan ancaman dari pria-pria tersebut. Ketiga pria itu semakin mendekati Sian untuk merebut gadis kecil yang sedang di lindunginya.
“Saya peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba untuk mengambil gadis ini dari saya!” bentak Sian mengancam.
“Hahaha, kau pikir kami takut dengan ancaman mu barusan.” Ucap mereka.
“Sudah jangan buang-buang waktu lagi, ayo cepat ambil anak itu dan bereskan wanita ini secepatnya.” Timpal salah satu dari mereka.
Saat salah satu dari pria tersebut mulai hendak merebut gadis kecil itu dari tangan Sian, dengan cepat Bara menahan tangan pria itu dengan berkata.
“Lepaskan tangan mu darinya!” ucap Bara dengan tatapan menakutkan.
“Hahaha siapa lagi pria ini? Pertama wanita bodoh ini yang datang dan sekarang pria gila yang datang untuk mengantarkan nyawanya seperti wanita bodoh itu. Hahahaha...” ketiga pria tersebut tertawa meremehkan Bara.
“Tunggu apa lagi, kita habisi saja mereka semua.” Ucap salah satu dari mereka.
Sebelum sempat ketiga Pria itu bergerak, tanpa terlihat Bara langsung menghantam wajah salah satu dari mereka dengan jurus tinju hingga terpental dan jatuh pingsan satu kali pukul. Tidak tanggung-tanggung Bara juga menerjang perut pria yang kedua hingga terpental jauh. Namun, di saat yang sama pria satunya lagi ingin menonjok Bara, tetapi dengan cepat Bara berkelak dan menonjok balik wajah pria tersebut dengan sangat kuat hingga ikut terpental dan pingsan.
Karena terbiasa selalu melumpuhkan semua targetnya saat menjalankan misi, Bara berjalan mendekati pria yang masih sadar itu untuk membuatnya sama seperti teman-temannya yang sudah lebih dulu tidak sadarkan diri itu.
“Ampun tuan, jangan pukul saya lagi.” Ucap pria tersebut memohon dengan menunduk di depan Bara.
“Kemarilah,” pinta Bara pada pria tersebut untuk mendekat.
“Saya tuan?” tanya pria itu ketakutan.
“Iya kamu,” ucap Bara sembari menganggukkan kepalanya.
Pria itu pun mendekat, tetapi tak berani menatap wajah Bara. Dia terus menunduk.
__ADS_1
“Angkat kepalamu sekarang.” Titah Bara pada Pria tersebut.
Karena merasa ketakutan pria itu perlahan mengangkat kepalanya untuk menatap Bara. Namun saat dia mengangkat kepalanya, tanpa memberi aba-aba Bara langsung menghantamkan kepalanya ke wajah pria tersebut hingga pingsan dan mengeluarkan darah dari hidungnya.
Setelah itu Bara berbalik melihat istrinya Sian bersama dengan gadis kecil yang mereka selamatkan itu.
“Sayang apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bara sembari memeriksa tubuh istrinya itu untuk memastikan jika istrinya tidak terluka sama sekali.
“Aku baik-baik saja mas, bagaimana bisa mas Bara tahu jika aku berada di tempat ini?” tanya Sian penasaran.
“Kamu tidak perlu tahu, yang penting kamu selamat dan baik-bain saja sekarang.” Jawab Bara yang langsung memeluk istrinya itu.
“Tante paman, terima kasih telah menolong saya.” Ucap gadis kecil tersebut kepada Sian dan Bara yang sedang berpelukan.
Bara pun melepaskan pelukannya, dan langsung berjongkok di depan gadis kecil tersebut dengan berkata.
“Gadis kecil kamu tinggal di mana? Biar paman dan tante antar kamu pulang ke rumah sekarang.” Ucap Bara kepada gadis kecil tersebut.
“Saya tidak ingat alamat rumah saya paman, tetapi saya punya nomor telepon papa angkat saya paman.” Ucap gadis kecil itu pada Bara.
“Papa angkat?” tanya Sian yang juga ikut berjongkok di depan gadis kecil itu.
“Iya tante, papa angkat.” Ucap gadis kecil itu mengulangi kata-katanya.
“Baiklah, boleh paman meminta nomor telepon papa angkat mu itu?” pinta Bara pada gadis kecil itu.
“Ini paman nomornya.” Gadis kecil itu mengeluarkan sebuah kertas kuning dari saku celananya.
“Baiklah, paman hubungi papa kamu dulu ya.” Ucap Bara yang langsung beranjak berdiri dan sedikit menjauh dari Sian dan gadis kecil itu.
Saat ini Bara sedang sibuk berbicara di telepon. Untuk beberapa saat berbicara di dalam telepon kemudian Bara mematikan ponselnya dan langsung mengajak Sian untuk mengantar gadis kecil tersebut ke rumahnya.
__ADS_1
.
.