Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 64


__ADS_3

“Sayang kenapa kamu pergi ke tempat seperti ini?” tanya Bara saat melihat Mirror Lounge and Bar di depanya.


“Jangan panggil aku sayang mas!” ucap Sian kesal.


“Maaf mas lupa, kenapa kamu pergi ke tempat ini?” tanya Bara kembali.


“Tentu saja untuk bersenang-senang.” Jawab Sian sambil turun dari mobil.


“Sian tunggu sebentar, mas masih belum selesai berbicara.” Ucap Bara menyusul istrinya itu keluar dari mobil dan mengikutinya masuk ke dalam Club tersebut.


Saat mereka masuk ke Club tersebut, Sian langsung duduk dan memesan makanan. Sedangkan Bara duduk di meja terpisah sambil memperhatikan istrinya itu. Beberapa detik kemudian ada seorang pria muda yang datang menghampiri Sian di mejanya. Sian terlihat tersenyum kepada pria tersebut, terlihat mereka saling kenal dan sepertinya mereka berdua membuat janji bertemu di Club ini.


“Siapa pria itu?” seru Bara sendirian sambil memperhatikan Sian dengan pria itu.


Sekilas mereka berbicara dan bahkan keduanya saling menatap satu sama lain. Mereka juga terlihat sangat akrab sekali saat Bara melihatnya, rasa cemburu pun mulai berkobar-kobar dalam diri Bara saat ini. Namun, masih bisa dia tahan. Dia takut jika apa yang dia pikirkan adalah sebuah kesalahpahaman, maka itu Bara menahan dirinya agar tidak kehilangan kendali lagi dan tidak membuat Sian semakin marah dengannya.


Setelah satu jam Sian berbicara dengan pria asing tersebut, kemudian pria itu pergi meninggalkan Sian. Sebelum pergi, pria itu memeluk erat istrinya Sian. Tidak hanya memeluk saja, pria itu juga cipika cipiki dulu sebelum pergi.


Mata hitam Bara membesar, wajahnya memanas dan rahangnya mengeras karena sangat marah melihat istrinya di peluk dan cium oleh pria lain. Dengan kedua tangan terkepal kuat Bara langsung menghampiri Sian dan pria tersebut dengan amarah berkobar-kobar.


“Apa yang kau lakukan kepada istriku, berani sekali kau menyentuhnya!” marah Bara sambil mencengkeram kerah baju pria tersebut.


“Mas, apa yang kamu lakukan sekarang? Lepaskan dia sekarang juga.” Ucap Sian panik melihat Bara yang hendak memukul pria tersebut.


Tanpa menggubris perkataan istrinya Sian, Bara langsung menonjok wajah pria tersebut dengan kuat. Bukk! Satu pukulan mendarat di wajah pria itu, sehingga tersungkur di lantai. Tidak puas, Bara kembali mencengkeram kerah baju pria tersebut dan ingin menonjoknya kembali.


Namun, sebelum itu Sian langsung menghentikan Bara dengan membelakangi pria yang ingin Bara pukul itu. Saat ini wajah Sian tepat berada di depan tinju Bara.

__ADS_1


“Udah, cukup mas!” ucap Sian sangat marah kepada Bara.


Bara pun langsung melepaskan cengkeramnya dari kerah pria tersebut. Dengan cepat Sian menolong pria yang berada di belakangnya itu.


“Adit, apakah kamu tidak baik-baik saja?” tanya Sian yang khawatir sekaligus merasa sangat bersalah.


“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja Dr. Sian.” Jawab Adit sembari menyentuh sudut bibirnya yang berdarah.


“Adit tolong maafkan aku telah membuatmu seperti ini.” Ucap Sian kembali dengan menyesal.


“Dr. Sian, aku sungguh tidak apa-apa. Jadi Dr. Sian tidak perlu khawatir.” Jawab Adit tetap sama.


“Tapi kan kamu baru saja sembuh, aku takut kamu kenapa-kenapa.” Ucap Sian yang khawatir.


“Jika memang aku kenapa-kenapa, kan ada Dr. Sian di sini. Selama ada Dr. Sian aku yakin akan baik-baik saja. Usia ku baru 20 tahun dokter, aku masih sangat muda sekali untuk bisa menahan pukulan barusan.” Adit tersenyum lembut kepada Sian. Dia tahu jika pria yang sedang memukulnya itu sedang cemburu padanya. Sesama pria dia tahu bagaimana rasanya cemburu melihat wanita yang sangat di cintai berpelukan dengan pria lain.


Sebelumnya Adit sudah di beri tahu Sian jika Bara adalah suaminya. Sejak dari tadi Adit memperhatikan Bara, tetapi Bara tidak menyadarinya. Namun, Adit tidak menyangka jika Bara akan memukulnya seperti ini.


“Adit, kamu yakin baik-baik saja?” tanya Sian memastikan kembali.


“Iya Dr. Sian, aku baik-baik saja. Ini hanya luka sedikit, ya walaupun terasa sangat menyakitkan saat di tonjok di muka umum.” Kata Adit sedikit bercanda.


Bara yang melihat dan mendengarkan perkataan Adit tersebut hanya bisa diam saja tidak berkutik sama sekali. Saat mengetahui Adit adalah pasien istrinya, Bara menjadi malu dan merasa sangat bersalah sekali kepada Adit.


“Mas, minta maaf sekarang kepada Adit.” Titah Sian kepada suaminya itu.


“Adit maaf, aku tidak tahu jika kamu adalah pasien istriku.” Ucap Bara tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, aku mengerti.” Ucap Adit dengan tersenyum.


“Adit, maaf sekali lagi atas kejadian barusan. Atas namanya aku meminta maaf sekali lagi.” Ucap Sian sangat menyesal. Sudah berapa kali Sian meminta maaf kepada Adit karena kesahan suaminya itu.


“Iya Dr. Sian, aku rasa minta maafnya sudah cukup. Aku sudah tidak apa-apa.” Jawab Adit yang ke sekian kalinya.


“Kalau begitu, aku pergi sekarang. Ada hal yang harus aku lakukan. Aku pergi dulu Dr. Sian, sampai ketemu lagi di rumah sakit.” Ucap Adit dan kemudian dia pergi meninggalkan Club.


Sementara itu, Sian menatap Bara dengan sangat tajam setelah kejadian barusan.


“Kali ini mas Bara sangat keterlaluan!” marah Sian. Saking kesalnya, Sian tidak ingin menatap suaminya itu saat ini.


“Sayang maafkan mas, sungguh mas tidak tahu jika dia adalah pasien kamu.” Ucap Bara sangat menyesal.


“Jangan panggil aku sayang! Aku benci mas, mas Bara sangat keterlaluan kepada Adit!” bentak Sian. Tanpa berpikir panjang Sian berlari keluar Club saat itu juga.


Bara yang ingin langsung mengejarnya. Namun, dia tidak bisa karena pelayan menghentikannya untuk menagih uang makanan yang mereka pesan. Setelah mengeluarkan uang dari dompetnya, Bara langsung mengejar Sian.


Saat dia mengejar dan keluar dari Club, Hari sudah gelap. Namun, dia masih bisa melihat istrinya itu berdiri di samping jalanan sedang menunggunya. Sekilas Bara tersenyum karena Sian tidak pergi meninggalkannya, tetapi dia tetap menunggunya.


“Dia manis sekali.” Ucap Bara sambil melihat ke arah Istrinya itu.


“Cepat sedikit jalannya!” teriak Sian yang masih sangat kesal kepada suaminya itu.


Bara tersenyum mendengar suara Sian yang marah kepadanya itu. Karena tidak ingin membuat istrinya semakin kesal kepadanya, Bara langsung berlari mendekati istrinya itu di pinggir jalan. Namun, saat dia berlari menghampiri Sian, tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti di belakang istrinya itu. Seketika Bara berlari sekencang-kencangnya untuk menghampiri istrinya itu saat melihat tiga orang pria memakai penutup kepala keluar dari mobil tersebut untuk menculik istrinya.


“Tidak, Sian...di belakang mu...” teriak Bara sambil berlari sekencang-kencangnya untuk menolong istrinya itu. Namun, dengan sangat cepat ketiga pria memakai penutup kepala itu sudah lebih dulu membius istrinya hingga pingsan dan membawahnya pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2