Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 65


__ADS_3

Melihat istrinya sudah di masuk ke dalam mobil hitam tersebut dengan cepat Bara berlari ke mobilnya untuk mengejar mobil tersebut. Sebelum menyalakan mobilnya, Bara terlebih dahulu mengaktifkan GPS yang sudah dia pasang di ponsel Sian. Setelah selesai Bara langsung menjalankan mobilnya mengikuti GPS yang telah aktif.


Tidak butuh waktu lama bagi Bara untuk menemukan mobil hitam yang membawa istrinya Sian. Dalam hitungan menit dia sudah berada di belakang mobil hitam tersebut. Bara terlihat sangat tenang sekali mengejar mobil hitam tersebut, dia tidak memperlihatkan wajah paniknya sama sekali. Mode petarungnya telah aktif.


Bara menambah kecepatan mobilnya untuk menghentikan mobil hitam tersebut. Namun, sepertinya keberadaan Bara sudah di ketahui. Saat Bara hendak menyalip, mobil hitam tersebut memotongnya. Berulang kali Bara ingin menyalip selalu di hentikan oleh mobil tersebut.


“Sial!” ucap Bara kesal memukul stir mobilnya.


Tidak beberapa lama kemudian ada sebuah ponsel yang di lemparkan keluar dari mobil tersebut, dan ya ponsel itu adalah ponsel Sian. Ternyata orang yang menculik Sian saat ini sudah mengetahui jika terpasang GPS di ponsel tersebut. Tidak ingin kehilangan jejak, Bara menambah kecepatan mobilnya untuk menghentikan mobil yang membawa istrinya itu.


Bara menunggu kesempatan untuk menyalip. Namun, pada saat dia hendak menambah kecepatan mobilnya untuk menyalip, tiba-tiba mobil hitam yang membawa Sian itu kehilangan kendali. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di dalam mobil hitam tersebut.


“Ini kesempatan ku.”


Bara menambah kecepatan mobilnya hingga berhasil menghentikan mobil hitam tersebut. Kemudian dengan cepat Bara turun dari mobilnya. Duarr! salah satu dari penculik tersebut menghentikan Bara dengan menembakkan pistol ke arah Bara. Tidak tepat sasaran, penculik tersebut ingin menembakkan pistolnya kembali pada Bara. Namun, kali ini dengan cepat Bara merampas pistol tersebut dengan kecepatan tangan yang tak terlihat. Dalam hitungan detik pistol tersebut sudah berpindah tangan. Tanpa ragu-ragu Bara menembakkan pistol tersebut ke arah kaki penculik tersebut.


Duarr! Duarr! Dalam hitungan detik Bara melumpuhkan satu penculik. Tinggal dua penculik lagi yang harus Bara tangani sekarang.


Melihat rekannya yang tidak bisa bergerak lagi, satu penculik tersebut keluar untuk menghabisi Bara. Namun, saat penculik itu keluar dari mobil dengan cepat Bara menghantam kepalanya dengan menggunakan sikut, lalu Bara juga melipatkan tangan penculik tersebut ke belakang hingga lututnya terjatuh ke aspal, kemudian dia memutar kepala penculik tersebut dengan kedua tangannya hingga tewas.


Tinggal satu lagi.


Setelah kedua rekannya di lumpuhkan, satu penculik yang tersisa menyandera Sian yang hampir kehilangan kesadaran.


“Jangan coba-coba mendekat! Jika tidak ingin wanita ini saya bunuh.” Ancam penculik tersebut dengan menggunakan bahasa jepang.


Bara bisa melihat sebuah pistol sudah siap menembus kepala istrinya Sian.

__ADS_1


Tanpa berbicara Bara melepaskan pistol di tangannya untuk menenangkan penculik tersebut. Bara tidak ingin melihat Sian terluka karena kecerobohannya.


“Menjauh dari mobil sekarang!” titah penculik tersebut dengan menggunakan Bahasa jepang.


Seperti yang di katakan penculik tersebut, Bara melangkah mundur menjauhi mobil hitam tersebut. Sedangkan penculik yang tersisa berusaha keluar dari mobil untuk menyelamatkan dirinya dari Bara. Tidak keluar sendirian, penculik itu berusaha menyeret Sian yang sudah sangat lemas keluar dari mobil tersebut.


“Jangan mendekat, akan saya tembak kepala wanita ini!” ancam penculik itu kembali dengan menggunakan bahasa jepang.


Sian yang tidak bisa mengerakkan kakinya lagi, hanya bisa mengeret kedua kakinya membiarkan penculik tersebut menyeretnya.


Sementara itu Bara sangat tenang sekali, saat melihat Sian di seret keluar dari mobil menjauhi dirinya. Sian yang hanya pasrah, dia meneteskan air matanya saat melihat suaminya Bara.


“Mas, maafkan aku.” Ucap Sian tanpa bersuara.


Bara yang bisa membaca gerakan bibir Sian saat itu, hatinya sangat terluka. Namun, dia tidak bisa menolong istrinya saat itu juga. Jika tidak ingin nyawa istrinya dalam bahaya.


Beberapa detik Sian di seret menjauhinya, Bara menyadari jika penculik tersebut sedang lengah. Tanpa bersuara sedikit pun, Bara melangkahkan kedua kakinya selebar mungkin dan secepat mungkin untuk merebut Sian dari tangan penculik tersebut. Namun, Sialnya saat Bara hampir berhasil, penculik tersebut menoleh ke arah Bara yang sudah tepat berada di belakangnya.


Dengan cepat penculik tersebut menarik tubuh Sian dengan kuat hingga terlepas dari tangannya. Sian yang sudah tidak bertenaga lagi, tubuhnya terlempar ke pinggiran jurang. Namun, beruntungnya ada sebuah batu yang sangat besar menghadang jurang tersebut. Memang Sian tidak terjatuh di jurang tersebut, tetapi kepalanya mendarat dengan sangat keras di batu besar tersebut hingga mengeluarkan darah.


Seketika Bara kehilangan kendali, kedua tangannya terkepal sangat kuat, dan wajahnya terasa sangat panas sekali saat melihat istrinya Sian tidak sadarkan diri di atas batu dengan kepala yang mengeluarkan banyak darah.


“Tidak akan aku biarkan kau hidup bajingan!” ucap Bara dalam bahasa jepang.


Tanpa memberi kesempatan kepada penculik tersebut untuk menembak, dengan sangat cepat Bara menendang pistol yang ada di tangan penculik itu hingga terlempar jauh. Setelah itu Bara langsung mencengkeram leher penculik itu, lalu mengangkatnya ke atas dengan menggunakan satu tangan. Bara yang sepenuhnya kehilangan kendali mencekik kuat leher penculik itu sampai tidak bisa bernafas sedikit pun dan akhirnya tewas.


Setelah berhasil melumpuhkan ketiga penculik tersebut, Bara langsung menghubungi timnya untuk membersihkan semua tempat kejadian. Dan kemudian dia membawa Sian ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Sudah hampir satu jam Bara menunggu, pada akhirnya dokter keluar juga dari ruangan yang sejak dari tadi Bara tatapi.


“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Bara langsung ketika dokter itu keluar.


“Istri Anda baik-baik saja, hanya saja istri Anda mengalami gegar otak ringan karena benturan di kepalanya yang cukup kuat sehingga membuatnya tidak sadarkan diri beberapa hari.” Jelas dokter tersebut.


“Apa dokter yakin istri saya baik-baik saja?” tanya Bara kembali meyakinkan.


“Iya saya yakin, tapi ada satu hal yang harus saya beritahukan pada Anda.” Ucap Dokter tersebut mengantung.


“Apa itu dokter?”


Seketika wajah Bara berubah sangat panik sekali.


“Kemungkinan besar saat istri Anda terbangun, dia akan mengalami gejala seperti mual, pusing dan yang paling penting adalah istri Anda akan mengalami gangguan ingatan sementara.” Jelas Dokter tersebut.


“Maksud dokter ada kemungkinan istri saya akan mengalami hilang ingatan?” tanya Bara panik.


“Bukan seperti itu, hilang ingatan bukan satu-satunya gejala dari gangguan ingatan. Saya juga belum tahu pasti, gangguan ingatan seperti apa yang akan di alami oleh istri Anda.” Jelas Dokter itu kepada Bara.


“Kita tunggu saja sampai pasien bangun. Berdoa saja, gejala yang di alami istri Anda hanyalah gejala ringan seperti pusing, mual dan muntah-muntah.” Sambung Dokter tersebut.


Dokter itu pun pergi meninggalkan Bara sendirian. Bara yang tidak bisa berkata atau pun bertanya lagi, dia hanya bisa menundukkan kepalanya menyesal setelah apa yang terjadi pada istrinya itu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2