Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 71


__ADS_3

Karena takut jika suaminya Bara akan datang dan melihat Kenzo memeluknya seperti, Sian berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Kenzo. Namun, dia tidak berhasil melepaskan dirinya dan sebaliknya dia malah semakin terjerat.


“Kenzo lepaskan aku sekarang juga!” ucap Sian marah dan berusaha mendorong dada kekar Kenzo menjauh darinya.


“Tidak akan aku lepaskan, sebelum kau mau kembali kepadaku lagi.” Ucap Kenzo yang tak mau kalah. Dia malah semakin bertahan.


“Aku hitung satu sampai tiga, jika kau tidak melepaskan aku sekarang juga, aku pastikan bahwa ini pertama dan terakhir kalinya kau bisa bertemu denganku.” Ancam Sian yang terus-terusan berusaha melepaskan dirinya dari Kenzo.


“Satu, dua, ti......”


Dengan cepat Kenzo melepaskan pelukannya sebelum hitungan ketiga selesai di ucapkan. Setelah terbebaskan, Sian pun melangkah mundur menjauh dari Kenzo beberapa langkah.


“Sian sayang, satu minggu lagi aku akan kembali ke jepang. Jika memang kau ingin kembali bersamaku lagi, datanglah temui aku di Villa yang pernah kau datangi sebelumnya. Aku akan menunggu mu di sana.” Ucap Kenzo dan kemudian dia pergi setelah mengatakan perkataan terakhirnya.


Setelah Kenzo pergi, Sian kembali menangis dalam diam. Dia tidak mampu untuk menahan rasa sakit hatinya saat mengingat kenangannya bersama Kenzo di masa lalu. Saking perihnya rasa sakit itu hingga dada Sian terasa sangat sesak sekali.


Di sisi lain terlihat Bara sedang bersembunyi di balik dinding. Dia melihat semua yang terjadi, dia bahkan mendengarkan semua yang di bicarakan Sian dan Kenzo barusan. Bara pun terlihat sangat syok saat melihat Sian berpelukan dengan pria di masa lalu istrinya itu. Dia tidak menyangka jika Sian sudah mengingat pria itu kembali.


Tak ingin istrinya itu tahu jika dirinya mengetahui semua yang baru saja terjadi, Bara memutuskan tetap bersembunyi dan memperhatikan istrinya itu dari kejauhan. Walaupun hatinya terasa sakit, Bara tetap memantau istrinya itu dengan menahan dirinya. Tidak ingin terbawah emosi Bara mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang saat itu juga tanpa melepaskan pandangannya dari istrinya Sian.


“Seperti dugaan, pria itu adalah target kita. Perintahkan beberapa prajurit untuk memantau target di Villa-nya sekarang juga, kita harus bergerak cepat sebelum target meninggalkan negara ini.” Perintah Bara ketika telepon tersambung, kemudian dia langsung menutup teleponnya tersebut saat itu juga.


***


Villa, Pukul 8 malam.


Setelah pulang dari rumah sakit, Bara merasa jika istrinya Sian berubah. Istrinya itu lebih bersikap independen dan cenderung pendiam. Seperti saat ini, Sian mengurung dirinya di dalam kamar setelah membuatkan makam malam untuk suaminya itu.

__ADS_1


Bara yang khawatir dengan keadaan istrinya itu, dia memutuskan untuk menghampirinya di dalam kamar. Dengan langkah tertatih yang terkesan ragu-ragu untuk melangkah, Bara membuka pintu kamar dan melihat Sian sedang duduk di atas tempat tidur dengan termenung.


“Sayang, boleh kita berbicara sebentar?” seru Bara yang berdiri di ambang pintu kamar.


Sian pun menoleh ke arah pintu menatap suaminya itu.


“Mas ingin berbicara apa?” tanya Sian yang terkesan tidak bersemangat sama sekali.


“Kita berbicara di ruang tengah saja sekarang.” Ajak Bara.


“Baiklah,”


Sian pun beranjak turun dari tempat tidur dan melangkah keluar bersama suaminya Bara menuju ke ruangan tengah. Saat mereka sudah duduk di sofa dengan posisi saling berhadapan, dan Bara juga memegang tangan istrinya itu saat ingin berbicara.


“Baiklah, mas mau berbicara apa sekarang?” tanya Sian yang lemas.


Tanpa Bara sadari dia berkata dan bertanya banyak hal kepada istrinya itu dalam waktu singkat.


“Maaf mas, tidak ada yang terjadi kepadaku dan juga tidak ada yang aku pikirkan sekarang. Aku cuma merasa tidak enak badan saja.” Jawab Sian yang menolak untuk bercerita kepada Bara.


“Benarkah, Tidak terjadi apa pun padamu?” tanya Bara yang berusaha membuat Sian untuk berbicara.


Namun, usaha Bara itu tidak bisa membuat istrinya itu membuka dirinya untuk berkata jujur kepadanya.


“Maaf mas, aku mau istirahat sekarang.” Ucap Sian mengabaikan pertanyaan suaminya itu.


“Tunggu sebentar, mas masih belum selesai berbicaranya. Jangan main pergi saja.” Ucap Bara sembari menahan tangan Sian.

__ADS_1


Sian pun tidak jadi kembali ke kamar. Dia kembali duduk di hadapan suaminya itu tanpa menatapnya.


“Lihat mas sekarang,” pinta Bara dengan serius. Namun, di tolak Sian begitu saja.


“Baiklah jika kamu tidak ingin menatap atau pun berbicara pada mas, biarkan mas saja yang menatap dan berbicara padamu sekarang.” Ucap Bara yang tak peduli lagi. Dia akan tetap berbicara.


“Sian, mas tahu jika kamu menyembunyikan sesuatu dari mas saat ini. Namun, kamu tidak perlu mengatakannya jika kamu tidak ingin memberitahukannya. Biar mas saja yang mengatakan sesuatu pada mu sekarang.” Sesaat Bara menjeda perkataannya. Kemudian dia menyambungnya kembali.


“Tiga tahun yang lalu, papa Damian menemui keluarga Hardynata untuk meminta pertolongan. Atau lebih tepatnya, dia datang menemui mas secara pribadi.” Sambung Bara yang berhasil membuat Sian mendongkak menatapnya. Namun, Sian tidak mengatakan apa pun dia hanya menatap suaminya itu penasaran.


“Pada saat itu, papa kamu meminta mas untuk menikahimu, tetapi mas menolaknya karena mas harus pergi menjalankan misi. Pada saat itu mas tidak tahu kenapa alasan papamu ingin mas menikahi diri mu, dan sekarang mas mengerti perasaan papa Damian saat itu. Perasaan gelisah khawatir akan dirimu, kini mas juga merasakannya. Mas sangat-sangat takut jika kamu lebih memilih pria itu di bandingkan memilih mas.” Kata Bara yang kembali membuat Sian terkejut.


“Apa maksud perkataan mas Bara barusan?” tanya Sian yang masih tidak mengerti dengan maksud perkataan Bara.


Tanpa ragu-ragu Bara menjawab. “Mas tahu jika kamu sudah mengingat semua apa yang telah terjadi tiga tahun lalu, atau lebih tepatnya kamu sudah mengingat kekasih mu di masa lalu.”


Sian sangat terkejut dengan perkataan Bara barusan. Dia tidak akan mengira jika Bara sudah mengetahui apa yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


“Mas tahu dari mana tentang kejadian tiga tahun yang lalu, dan tentang masa laluku bersamanya?” Sian terlihat panik, saat mengetahui suaminya juga mengetahui tentang Kenzo.


“Karena mas adalah orang yang menggagalkan pria itu untuk membawa mu pergi tiga tahun yang lalu, walaupun mas terlambat untuk menyelamatkan papa Damian saat itu.” Jawab Bara dengan penuh penyesalan.


Sian tidak bisa berkata lagi, dia tahu betul jika memang ada seorang penembak jitu yang membunuh satu persatu anak buah Kenzo saat itu. Namun, dia tidak pernah melihat wajah orang tersebut. Dia tidak menyangka jika penembak jitu tersebut adalah suaminya Bara.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2