Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 83


__ADS_3

Jantung Bara berdetak tak karuan mendengar nama Sian yang keluar dari bibir Melisa.


“Bisakah kamu ulangi perkataan mu barusan?”


Bara menurunkan kakinya dari mobil dia langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga ke arah pintu gerbang yang hampir tertutup. Bara pun berhasil memasuki gerbang tersebut. Duarr!!! di waktu yang sama dia langsung tertembak di pundaknya.


“Kapten!!!” teriak Tony yang hendak berlari, tetapi di tahan oleh anggota tim lainnya.


Dari kejauhan terlihat Bara berusaha bangkit dan berlari ke arah pintu masuk penjara bawah tanah yang ada di depannya itu. Duarr!!  Dia kembali tertembak di kakinya hingga membuat tubuhnya langsung ambruk menyentuh tanah. Walaupun tertembak dua kali, dia tetap saja melangkah maju dengan merangkak menyeret kakinya yang terluka. Dia hampir mengapai pintunya, tetapi keburu beberapa penjaga datang menarik tubuh Bara hingga di lempar keluar dari gerbang.


“Kapten” Tony langsung menghampiri Bara yang tergeletak di depan gerbang.


“Kalian bawah dia pergi dari sini sekarang juga!” Ucap penjaga tersebut dalam bahasa Kurdi.


Tony melihat mata Bara yang terus menatap ke arah pintu penjara tersebut dengan mata merah yang penuh dengan penyesalan. Tony bisa merasakan apa yang di rasakan Kaptennya saat ini. Saat Tony hendak mengangkat tubuh Kaptennya itu, Bara langsung menolaknya, dia tidak ingin pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa membawa Sian bersamanya. Tony yang tidak ada pilihan lain selain membawah pergi Kaptennya itu dari penjara ini saat itu juga.


“Kapten maafkan saya.” Ucap Tony sembari membopong tubuh Bara masuk ke dalam mobil dan pergi dari penjara bawah tanah tersebut.


Di sisi lain ada Sian yang menangis melihat semua kejadian barusan dari monitor yang terus dia perhatikan dari sejak tadi dengan nafas tertahan kedua tangannya bergetar hebat dan seluruh tubuhnya berkeringat dingin menyaksikan suaminya Bara tertembak dengan kedua mata kepalanya sendiri.


“Mas Bara.” Air mata Sian langsung lolos dari matanya.


Bernardus tersenyum saat melihat Sian menangis. Pria itu tidak percaya jika wanita yang dulu hanya peduli dengan satu pria kini menangisi pria lain.

__ADS_1


“Ada apa dengan mu? Dia bukan Kenzo, kenapa kau begitu sedih saat melihat pria itu terluka?”


Sian terus menangis dengan menekan dadanya yang sesak. Suara tangis yang tertahan membuat Bernardus kesal, dia tidak suka melihat Sian menangisi pria lain. Tak bisa di ungkiri jika Bernardus masih sangat penasaran dengan Sian sama seperti dulu.


“Stop menangisi pria itu!” bentak Bernardus.


Sian tidak bergeming, dia terus menangis. Semakin kesal Bernardus menarik Sian keluar dari ruangan monitor tersebut menuju ke sel di mana Sian selalu di sekap.


“Buka pintu selnya sekarang!” perintah Bernardus pada salah satu penjaga di sana.


Dengan kuat Bernardus mendorong Sian ke dalam sel. Tubuh Sian langsung terlempar. Bugh! Sian membentur tembok di dalam sel dan kemudian Sian langsung tak sadarkan diri karena benturan kuat di kepalanya. Melihat Sian yang tak sadarkan diri, Bernardus langsung membawa Sian ke ruangan medis saat itu juga. Sekejam apa pun Bernardus dia juga tetap manusia yang memiliki hati, apalagi jika terjadi sesuatu pada Sian dia akan mendapatkan masalah jika ketahuan dari pemilik penjarah bawah tanah ini.


Setelah satu jam berada di ruangan medis, akhirnya Sian terbangun. Kepalanya terasa sangat berat dan sakit ketika dia hendak beranjak duduk.


“Saya tidak apa-apa.”


“Tentu kamu akan mengatakan itu, tapi saya berkata seperti itu untuk janin yang ada di dalam perut mu sekarang, janin mu terlalu lema saat ini oleh karena itu saya meminta kamu untuk beristirahat untuk beberapa saat.”


“Apa yang barusan yang kamu katakan?” Tanya Sian yang terlihat sangat terkejut.


“Saat ini kamu sedang mengandung, dan usia janin di dalam perut mu sudah mengajak enam minggu.”


Deg! Detak jantung Sian berdebar. Seluruh tubuhnya terasa seperti tersetrum dengan perkataan dokter yang ada di depannya itu. Serpihan kebahagiaan yang sudah hancur kini secara perlahan kembali utuh di wajah Sian saat ini, dia tersenyum sembari menyentuh lembut perut ratanya. Entah mengapa janin yang ada di perutnya saat ini, membuat Sian kembali bersemangat setelah terjadinya hal yang sangat mengerikan beberapa lalu.

__ADS_1


“Sebaiknya saya sarankan kau jangan memperlihatkan wajah seperti itu,” ucap dokter tersebut.


“Kenapa?”


“Karena jika mereka tahu kau sedang mengandung saat ini, tidak ada toleransi bagi kamu untuk mempertahankan janin itu. Jadi saya minta kamu harus merahasiakannya.”


“Bagaimana saya bisa merahasiakannya, jika semakin hari janin ini akan terus berkembang dan membesar. Apa yang harus saya lakukan?”


Karena sangat berputus asa Sian turun dari tempat tidur dan langsung berlutut di depan dokter tersebut. Dia memohon meminta bantuan dari dokter itu supaya mau membantunya mencari jalan keluar untuk terus mempertahankan janinnya sampai dia berhasil keluar dari penjarah bawah tanah ini. Tidak butuh waktu lama dokter terebut langsung setuju untuk membatu Sian.


“Tapi kamu harus ingat, saya hanya bisa membantumu menyembunyikan kehamilanmu selama saya bisa. Selebihnya kamu berusaha sendiri.”


“Terima kasih banyak, saya janji tidak akan melupakan bantuan darimu.”


Akhirnya Sian terlihat sedikit lebih lega dari sebelumnya. Bantuan dari dokter tersebut membuatnya merasa ada harapan untuknya untuk mempertahankan janin yang ada di dalam perutnya itu.


“Saya pergi dulu, besok saya akan kembali lagi untuk menemuimu untuk memberi beberapa obat memperkuat janin, dan saya harap sebisa mungkin kamu tidak ketahuan oleh mereka. Saya takut setelah saya pergi mereka akan mengetahuinya.”


“Dokter tenang saja, saya bisa tangani masalah itu.”


“Baiklah kalau begitu saya pergi dulu, masih ada banyak hal yang harus saya lakukan di luar sana.”


Melihat dokter tersebut pergi bebas keluar masuk penjara bawah tanah ini membuat Sian iri. Jika saja dia bisa seperti itu, keluar masuk penjara sialan ini dengan bebasnya, akan sedikit lebih baik dan sedikit ada harapan baginya untuk keluar dari penjara sialan ini. Dan lebih membuat Sian sedih adalah dia harus kembali ke sel walaupun dia masih belum pulih sama sekali. Tak ada kata-kata lagi yang bisa Sian ucapkan, dia hanya bisa pasrah dan memaksakan dirinya untuk berjalan kembali ke sel yang di tempatinya bersama Melisa dulu dan kini hanya dirinya sendiri yang menempati sel tersebut.

__ADS_1


Sian duduk di lantai yang dingin tanpa adanya alas yang bisa melindunginya dari rasa dingin yang langsung menyusup ke pori kulitnya. Serpihan ingatannya kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya meneteskan air mata, hatinya terasa sangat peri sekali saat mengingat suami Bara tertembak. Entah bagaimana keadaannya saat ini, membuat perasaan Sian menjadi gelisah dan hanya bisa terus berdoa untuk keselamatan suaminya itu.


__ADS_2