
Satu minggu berlalu.
Kini Sian yang menjaga Raihan. Liora dan Vivian tidak bisa menjaga Raihan karena mereka sedang liburan di luar negeri. Apa boleh buat Raihan harus ikut Sian ke mana pun dan di mana pun Sian pergi. Termasuk rumah sakit.
Saat ada operasi, Sian selalu menitipkan Raihan dengan parah perawat atau tidak di resepsionis. Namun, Raihan lebih menyukai di titipkan di resepsionis karena dia bisa berbicara dan bersenang-senang di sana tanpa mengganggu perawat yang sedang bekerja.
“Raihan mau minum apa? Biar tante pesankan.”
Raihan terlihat sedang memikirkan mau memesan minuman apa? Dengan gaya santai yang terkesan Cool, Raihan terlihat seperti pria dewasa pada usianya saat ini.
“Tante, Raihan mau es kopi aja.”
“Raihan serius ingin es kopi? Ngak mau ganti dengan minuman yang manis saja, seperti es Cream gitu?” tanya mbak resepsionis.
“Es Cream untuk anak kecil, Raihan ngak suka.”
Mbak-mbak resepsionis tertawa mendengar perkataan Raihan saat ini. Mereka merasa geli karena jika saat Raihan sedang menganggap dirinya sebagai orang dewasa, sedangkan di mata mereka Raihan hanya anak kecil yang mengemaskan.
“Hahaha, baiklah tante belikan Raihan es kopi.” Ucap mbak resepsionis yang pergi untuk membeli minuman mereka.
Raihan memperhatikan mbak tersebut pergi keluar, di saat yang sama ada seorang pria dewasa yang berjalan masuk dari pintu yang sama. Sosok pria yang di lihat Raihan saat ini sangat tidak asing. Karena merasa tidak percaya, dengan cepat Raihan menyalahkan ponselnya untuk melihat foto Bara. Setelah memastikan memang benar pria tersebut adalah papa Bara-Nya, Raihan langsung melompat dari kursinya berlari ke arah Bara yang hendak menghampiri resepsionis.
“Raihan mau pergi ke mana?” ujar mbak resepsionis.
“Papa...” teriak Raihan sembari berlari ke arah Bara.
Bara menyadari jika Raihan berlari ke arahnya saat ini. Namun, tidak di pedulikannya. Dia terus berjalan melewati Raihan yang hendak memeluknya.
“Papa...” ucap Raihan yang sedikit kecewa, tetapi tidak membuat Raihan menyerah begitu saja.
“Permisi, saya ingin bertemu dokter Sian sekaran_”
kata-kata Bara terhentikan karena Raihan memeluk kakinya dengan berkata.
“Papa ini Raihan,”
Bara terlihat bingung tiba-tiba ada anak kecil yang datang memeluknya dan menyebutnya dengan sebutan papa.
Perlahan Bara berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.
“Anak kecil apakah kamu tersesat?” tanya Bara pada Raihan.
Raihan menggelengkan kepalanya pelan. Dia terus menatap Bara tanpa berbicara sedikit pun. Sedangkan Bara menatap Raihan bingung karena tidak tahu harus melakukan apa? Raihan kembali memeluk Bara dengan erat.
__ADS_1
“Papa ini Raihan, apakah papa tidak mengenaliku?” tanya Raihan yang belum tahu jika Bara tidak tahu sama sekali tentang dirinya.
Bara bingung, dia tidak tahu kenapa tiba-tiba ada anak kecil yang mengira jika dirinya adalah papanya.
“Permisi, bisakah Anda mencarikan ibu dan ayah dari anak ini?” ucap Bara pada mbak resepsionis.
Sekilas mbak resepsionis tersebut tersenyum geli. Sebelumnya dia sudah menelepon Sian saat Bara sedang berbicara dengan Raihan. Saat resepsionis tersebut menghubungi Sian, ternyata Sian meminta resepsionis tersebut untuk tidak memberitahukan jika Raihan adalah anak angkat mereka. Tanpa bertanya resepsionis tersebut tahu apa yang di inginkan Sian.
“Maaf tuan, sudah sejak dari tadi kami mencari orang tuan dari anak ini, tetapi tidak ketemu juga. Namun, saat tuan datang anak ini bilang Anda adalah papanya. Jadi saya rasa anak ini memang anak Anda.”
“Maafkan saya, tetapi anak ini bukan anak saya.” Ucap Bara.
“Maafkan saya tuan, saya tidak bisa mempercayai perkataan Anda saat ini. Jika memang anak ini bukan anak Anda, kami minta kerja samanya agar tetap bersama anak ini selama kami menemukan orang tuanya yang sesungguhnya, saya takut Anda memang benar anak ini adalah anak Anda.”
Bara mendesah pelan. Dia tidak mengira jika akan mendapat masalah di saat seperti ini.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana jika Sian tahu dan salah paham kepadaku. Sial!
Bara terlihat sangat frustasi. Dia mengacak-mengacak rambutnya dengan kasar.
“Baiklah kalau begitu, tolong kamu jangan beritahu dokter Sian jika saya menunggunya di sini.” Pinta Bara.
“Maafkan saya tuan, sebentar lagi dokter Sian akan turun menemui Anda.”
“Apa!”
“Papa kenapa?” tanya Raihan.
Bara menatap ke arah Raihan yang tingginya hanya setinggi lututnya itu.
“Sudah kamu diam saja di sana,” Bara terlihat semakin frustasi saat melihat Raihan yang terus memeluk salah satu kakinya itu.
Kemudian Bara mengajak Raihan duduk di lobi. Raihan terus menempeli Bara, tak sedetik pun Raihan melepaskan tangannya dari tangan Bara.
“Anak kecil, siapa nama mu?” tanya Bara kepada Raihan yang duduk di sampingnya itu.
“Raihan, Raihan Sabian.”
“Katakan pada paman, siapa nama ayah dan ibu mu? Biar paman bantu carikan.”
“Papa Bara adalah ayahku sekarang. Tidak perlu di cari lagi.” Jawab Bara dengan tersenyum.
Astaga...kenapa bisa anak ini mengira diriku adalah papanya? Eh tunggu sebentar, dia tahu namaku dari mana?
__ADS_1
“Raihan paman mau tanya, kamu tahu nama paman dari mana?”
“Raihan tahu dari mama,”
Mama? Siapa wanita yang dia maksud dengan mama?
“Raihan boleh paman tahu siapa nama mama Raihan?” tanya Bara penasaran.
“Mama S_”
“Bara!” panggil Sian menghentikan Perkataan Raihan.
Bara dan Raihan langsung menatap ke arah Sian secara bersamaan. Sedangkan Sian berjalan mendekati Bara dan Raihan yang sedang duduk. Setelah berada di depan Bara dan Raihan, Sian memberi kode kepada Raihan supaya tidak memberitahu Bara semuanya. Raihan menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Sian, seakan dia mengerti dari keinginan mamanya Sian.
“Bara kapan kamu pulang?” tanya Sian.
“Kenapa tiba-tiba kamu kembali panggil aku dengan sebutan Bara? Kenapa tidak dengan sebutan mas?”
Bara protes, dia tidak suka jika Sian memanggilnya dengan sebutan Bara.
“Maaf mas, aku lupa.”
“Tidak apa-apa, lain kali kamu tidak boleh lupa lagi.”
Sian menganggukkan kepalanya.
“Mas, anak ini siapa?” tanya Sian yang mulai berpura-pura.
Bara melihat ke arah Raihan dengan tatapan frustasi.
“Entahlah aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja saat aku datang anak ini memelukku dan memanggilku dengan sebutan papa.” Ucap Bara dengan jujur.
Hahaha, lihatlah ekspresi wajahnya itu.
“Papa? Bagaimana bisa anak ini memanggil mu papa? Apa mungkin anak ini memang anak mas.” Seakan Sian menatap curiga kepada Bara.
“Sayang apa yang kamu katakan? Mana mungkin anak ini adalah anak ku.” Ucap Bara.
“Mungkin saja kan, mas mempunyai anak dari wanita lain. Kita tidak tahu kalau mas sedang berbohong saat ini.”
“Sayang percaya dengan aku, anak ini bukan anak ku. Aku berani sumpah demi nyawaku sendiri, jika anak ini benar-benar bukan anakku.”
“Kenapa papa bilang Raihan bukan anak papa? Papa Bara adalah papa Raihan.” Timpal Raihan.
__ADS_1
Bara langsung menoleh ke arah Raihan. Dia menatap Raihan dengan frustasi, mana saat ini Sian tidak percaya dengannya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?