Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 52


__ADS_3

Seulas senyuman terlukis jelas di wajah Sian saat melihat suami dan anaknya kompak tertidur dengan memeluknya. Yang satu sangat kecil dan satunya lagi sangat besar. Namun, keduanya terlihat sangat imut di mata Sian saat ini.


Merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang, Sian bergerak melepaskan dirinya dari dua orang yang sedang menjeratnya itu. Perlahan Sian mulai bergerak agar tidak membangunkan suami dan anaknya itu. Namun, tidak seperti harapannya, Raihan terbangun.


“Mama,” panggil Raihan dengan suara imutnya.


“Ush...pelankan suaramu sayang, nanti papa terbangun.” Bisik Sian pelan.


Sekilas Raihan menatap ke arah Bara yang sedang tertidur pulas di sampingnya.


“Sayang mendekatlah,” pinta Sian kepada Raihan.


Raihan pun mendekatkan wajahnya kepada Sian.


“Raihan mau bekerja sama dengan mama tidak?”


Dengan pelan Raihan menganggukkan kepalanya, kemudian dia menjawab. “Ya, Raihan mau.”


Sian tersenyum kepada Raihan. Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke telinga Raihan untuk membisikan sesuatu. “Raihan dengarkan mama sekarang,”


“Em...” angguk Raihan pelan.


“Tolong Raihan ambilkan spidol warna Raihan sekarang juga, kita akan membuat wajah papa Bara menjadi sangat cantik. Raihan maukan melihat wajah papa menjadi cantik?”


“Em...” angguk Raihan pelan.


“Baiklah kalau begitu, Raihan ambil spidolnya sekarang juga. Nanti keburu papa terbangun.” Titah Sian kepada Raihan.


“Baiklah, Raihan akan ambil spidolnya dulu.” Bisik Raihan sangat pelan sekali di telinga Sian.


Raihan pun pergi untuk mengambil spidol miliknya di dalam tas sekolahnya, dan kemudian dia kembali dengan membawa beberapa spidol warna di tangannya.


“Ayo kita mulai melukis,” Ajak Sian.


Raihan tersenyum memperlihatkan gigi putih ratanya itu. Kemudian dia mulai mencoret wajah Bara sesuka hatinya. Begitu juga dengan Sian yang tidak henti-hentinya tersenyum. Raihan yang selesai mencoret pun langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Sian sendirian bersama dengan Bara di kamar tersebut.


Sian yang belum selesai membuat kumis di wajah Bara, terus melanjutkan aksinya hingga tanpa sadar wajahnya sangat dekat sekali dengan wajah Bara. Lit! Bara membuka matanya saat Sian masih membuat kumis di wajahnya.

__ADS_1


Seketika seluruh tubuh Sian membeku. Kedua matanya berkedip beberapa kali menatap wajah Bara dari sangat dekat sekali.


“Kamu sedang apa sayang?” tanya Bara dengan suara serak khas bangun tidurnya.


“Eng....aku ngak lagi apa-apa.” Sian terlihat sangat gugup sekali.


“Terus apa yang ada di tangan mu itu?” tanya Bara yang tidak tahu apa pun.


“Ini hanya sebuah spidol milik Raihan yang tertinggal.” Jawab Sian yang entah apa yang dia katakan itu.


“Owh...” Bara hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak tahu saja jika wajahnya saat ini penuh dengan coretan spidol warna hasil karya seni Sian dan Raihan.


“Astaga, aku lupa jika ada sesuatu yang harus aku kerjakan sekarang juga.” Ucap Sian tiba-tiba. Sejujurnya Sian saat ini membuat alasan agar bisa kabur, sebelum Bara menyadari wajahnya yang penuh dengan coretan.


Dengan cepat Sian beranjak pergi meninggalkan Bara sendirian di dalam kamarnya. Kemudian dia berlari menuju perpustakaan mini yang ada di sebelah ruangan tamu.


“Astaga hampir saja ketahuan.” Ucap Sian pelan ketika sudah berada di perpustakaan mini.


Di sisi lain Bara beranjak turun dari tempat tidur, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya setelah bangun dari tidur. Saat menatap kaca, Bara terbelalak melihat wajahnya yang sudah acak-acakan penuh dengan coretan spidol warna.


Sekilas Bara mengingat spidol warna yang di pegang oleh istrinya Sian barusan.


Tanpa membersihkan wajahnya lagi, Bara langsung pergi keluar mencari sosok istrinya Sian. Saat keluar dari kamar, Bar bertemu dengan Raihan di depan pintu.


“Raihan, apakah kamu melihat mama mu?” tanya Bara pada Raihan.


“Tadi Raihan lihat mama pergi ke sana.” Ucap Raihan sembari menujukan tangannya ke arah ruangan tamu.


Bara yang melihat tangan Raihan pun langsung melihat ada banyak noda warna spidol yang sama persis dengan noda wajahnya.


Oh...ternyata Raihan juga terlibat membuat wajahku menjadi seperti ini.


Bara mulai bersikap seakan tidak tahu apa pun di hadapan Raihan. Dia tahu jika saat ini Raihan sedang berpura-pura tidak tahu apa pun. Padahal dia juga terlibat dalam mencoret wajahnya itu.


“Bisakah Raihan membatu papa mencari mama.” Pinta Bara kepada Raihan.


“Baiklah, Raihan akan bantu papa mencari mama sekarang.” Dengan polosnya Raihan menyetujui membatu Bara untuk mencari keberadaan Sian.

__ADS_1


Bara tersenyum, karena Raihan sudah tertipu dengan sandiwaranya.


“Baiklah kalau begitu, ayo kita cari mama sekarang.” Ucap Bara dengan tersenyum licik di belakang Raihan.


“Mama...” panggil Raihan dengan suara imutnya itu.


“Sayang...kamu di mana?” Bara juga memanggil Sian.


Sian yang mendengarkan suara suaminya dan anaknya itu langsung mengintip dari perpustakaan mini.


Raihan yang melihat mama Sian yang sedang mengintip, langsung gugup. Raihan takut jika papa Baranya mengetahui keberadaan mama Siannya.


“Papa, sepertinya mama berada di luar sana.” ucap Raihan mengalihkan perhatian Bara dari perpustakaan mini.


Dari gerak gerik Raihan Bara bisa tahu jika saat ini dia sedang menyembunyikan sesuatu dari Bara. Dalam waktu singkat Bara bisa tahu apa yang di sembunyikan Raihan padanya.


“Begini saja, Raihan cari mama di luar papa cari mama di dapur bagaimana?”


“Baiklah,” Raihan langsung berpura-pura pergi keluar.


Sementara itu Bara pergi menuju perpustakaan mini. Di sana Sian sudah bersembunyi dari Bara. Namun, dengan mudahnya Bara bisa menemukan persembunyian Sian saat masuk ke dalam perpustakaan mini tersebut.


“Sayang keluarlah, aku tahu jika kamu berada di sini.” ucap Bara sembari melangkahkan kakinya untuk melewati setiap Rak buku yang tersusun.


“Aku bisa melihatmu sayang, percuma saja kamu bersembunyi. Aku bahkan bisa melihat mu di dalam kegelapan, untuk mencari tahu keberadaan mu sangat mudah sekali.” Ucap Bara kembali dengan nada menakut-nakuti istrinya Sian.


Tuk! Tuk! Tuk! Bara memukul di setiap rak buku yang dia lewati.


Sian yang bersembunyi di balik rak yang paling akhir hanya bisa diam dan membeku di tempatnya. Saat mendengar suara Bara memukul rak buku tiba-tiba saja membuat Sian merasa sangat ketakutan. Entah mengapa, apa yang di lakukan Bara saat ini seperti sudah pernah Sian rasakan sebelumnya. Rasa takut di temukan, bersembunyi di tempat yang sangat gelap sama persis yang terjadi saat ini.


Hingga di rak buku terakhir, Bara menemukan persembunyian Sian.


“Akhirnya aku menemukan mu.” Ucap Bara dengan nada suara yang mengejutkan.


Namun, saat Bara mengejutkan istrinya itu, Bara mendapati Sian yang sudah sangat ketakutan sekali. Saking takutnya Sian saat ini, dia meringkuk dengan kedua tangan yang menutupi telinganya sembari mengucapkan sesuatu.


“Tidak, tidak, tidak...” ucap Sian berulang kali dengan menutupi kedua telinganya dengan tubuh yang gemetar hebat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2