
Hari ke dua sebelum Bara terluka dalam menjalankan misi di jepang.
Bara dan anggota tim pasukan khususnya mulai bergerak menjalankan misi untuk menemui targetnya dengan penyamaran sebagai seorang pengusaha kaya raya yang sukses. Bara dan Tony kali ini yang bertugas memantau pria dari anggota mafia tersebut secara langsung. Seperti biasanya Tony selalu yang mengemudi mobilnya, sedangkan Bara duduk dengan nyaman di kursi belakang layaknya bos dan bawahan di dunia bisnis sesungguhnya. Memang peran penyamaran mereka berdua adalah sebagai atasan dan bawahan.
Kini Bara dan Tony tengah berada di sebuah Mansion mewah. Mereka datang ke Mansion tersebut untuk bertemu dengan target. Semenjak masuk ke dalam Mansion tersebut, Bara mengaktifkan mode keamanan dan pertahanan diri yang tinggi untuk berjaga-jaga.
Setelah pembicaraan selesai, kemudian berlangsung ke tanda tangan dokumen perjanjian kerja sama. Kemudian pertemuan berakhir.
“Terima kasih Tuan Haru atas kerja samanya.” Makoto menyebutkan nama samaran Bara di jepang.
“Sama-sama.” Ucap Bara menggunakan bahasa jepang, serta tak lupa tersenyum kepada target.
Saat bersalaman Bara terlihat cemas, karena tidak ada kabar dari Tony. Bara khawatir jika Tony belum selesai menjalankan tugasnya memasang alat penyadap dan pelacak di Mansion miliki target.
“Maaf Tuan saya terlambat,” ucap Tony yang baru saja selesai memasangkan alat penyadap dan pelacak.
Sekilas Tony mengedipkan matanya memberi kode kepada Bara jika semua tugasnya sudah selesai. Bara bernafas lega setalah memastikan Tony menyelesaikan tugasnya.
“Oke baiklah kalau begitu, kami pergi sekarang.” Ucap Bara dalam bahasa jepang.
Tanpa mengulur waktu lagi, Bara dan Tony langsung keluar dari Mansion tersebut. Saat masuk ke dalam mobil, Bara dan Tony bisa bernafas lega.
Karena merasa aman Bara langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi istrinya Sian saat itu juga.
Telepon tersambung...
“Halo mas,” terdengar suara pelan Sian ketika telepon tersambung.
“Halo sayang, kamu lagi apa sekarang?” tanya Bara dengan perasaan lega karena bisa mendengarkan Suara istrinya itu.
“Aku lagi tidak melakukan apa-apa mas, mas Bara sendiri lagi apa sekarang?” tanya Sian balik di dalam telepon.
Saat Bara hendak menjawab pertanyaan Sian Ritt! Tiba-tiba Tony mengerem mobil tiba-tiba. Seketika Bara melihat ke luar mobil, apa yang sebenarnya yang terjadi. Ternyata salah satu anak buah Makoto menghadang mobil mereka.
Tidak mungkin mereka sudah mengetahui siapa kami yang sebenarnya.
Bara menahan nafasnya sembari hendak meraih senjata yang dia sembunyikan di jok mobil. Namun, tidak terlalu lama anak buah Makoto tersebut menyingkir dari depan mobil mereka. Seketika Bara bernafas lega, dengan suara nafas yang terengah-engah.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian Bara mengingat jika dirinya sedang berbicara dengan istrinya di dalam telepon. Dengan cepat Bara kembali menempelkan ponsel di telinganya
“Maaf sayang, tadi ada urusan sebentar.” Ucap Bara dengan bernafas terengah-engah.
“Mas Bara baik-baik saja? Kenapa suara mas Bara terdengar aneh seperti itu?” Sian sangat khawatir mendengarkan suara suaminya yang mengkhawatirkan.
Sejenak Bara menetralkan nafas dan suaranya sesaat. Kemudian dia menjawab pertanyaan istrinya itu.
“Mas baik-baik saja, saat ini mas lagi melakukan perenggangan badan, makanya suara mas terdengar aneh.” Ucap Bara berbohong.
“Benarkah, aku kira mas Bara kenapa-kenapa tadi, syukurlah jika mas baik-baik saja.” Terdengar Sian menghelakan nafas leganya di dalam telepon.
“Mas baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatirkan mas.” Bara meyakinkan istrinya itu supaya percaya dengan perkataannya saat ini.
“Bagaimana dengan keadaan mu sekarang berada di Barak militer? Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bara untuk mengalihkan pembicaraan.
Terdengar suara Sian mendesah pelan, seakan dia tidak tahu harus mengatakan apa tentang keadaannya di Barak militer pada Bara.
“Entahlah mas, aku juga tidak tahu.” Terdengar suara Sian yang mengeluh.
“Kenapa sayang berkata seperti itu?” tanya Bara menyadari jika saat ini mood istrinya sedang buruk.
Saat Sian ingin menjawab pertanyaan Bara di telepon tiba-tiba duarr!! ada yang membidik ban mobil Bara dan Tony hingga meledak.
Seketika Bara dan Tony langsung menunduk melindungi diri, dan ponsel Bara terjatuh dari tangannya hingga ponsel tersebut mati.
“Hahaha...” tawa Makoto dengan lantang. Ternyata Makoto lah yang menembak ban mobil Bara dan Tony hingga meledak.
Tanpa memberi sela bagi Bara dan Tony untuk bernafas. Duarr!! Makoto kembali membidik kaca mobil di samping Bara duduk. Pecahan kaca mobil tersebut langsung menusuk lengan Bara.
Tanpa bersuara Bara memegang lengannya yang tertusuk pecahan kaca. Sedangkan Makoto berjalan mendekati mobil Bara dan Tony dengan membawa senapan di pundaknya. Makoto melihat ke dalam mobil untuk memastikan Bara dan Tony masih berada di sana.
Dengan tersenyum Makoto berkata pada Bara dengan menggunakan bahasa jepang. “Tuan Haru, ini adalah peringatan untuk kamu. Jangan pernah Anda berkhianat di dalam bisnis kita, jika tidak saya akan membunuh mu, mengerti!”
Bara menatap tajam ke arah Makoto. Saat ini Bara menahan emosinya, jika Bara kehilangan kendali maka misinya akan ketahuan.
Bara tenangkan dirimu sekarang, dia hanya menakuti dirimu supaya tidak menghianatinya dalam bisnis ini.
__ADS_1
Bara menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan gejolak jiwa petarungnya yang mulai aktif.
“Baiklah saya mengerti.” Ucap Bara dengan bahasa jepang. Bara berhasil menahan dirinya.
“Hahaha bagus, kalian boleh pergi sekarang.” Ujar Makoto kepada Bara dan Tony.
Tony langsung menyalahkan mobilnya dan pergi meninggalkan Mansion Makoto tersebut. Beruntung mobil yang di gunakan Bara dan Tony saat ini adalah mobil khusus, walaupun ban mobilnya meledak masih bisa di jalankan.
Setelah meninggalkan Mansion tersebut, Bara langsung mengambil ponselnya yang terjatuh dan menghidupkan kembali ponsel tersebut untuk menghubungi Istrinya kembali.
Telepon tersambung...
“Halo mas,” terdengar suara Sian yang bergetar.
“Halo sayang, maaf teleponnya terputus karena ponsel mas kehabisan baterai.” Ucap Bara berbohong lagi.
Bara kembali mendengar Sian menghelakan nafas leganya setelah mendengarkan ucapannya barusan.
“Mas baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu kan pada mas Bara sekarang?” tanya Sian yang khawatir.
“Mas baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa sama mas. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Bara berusaha mengalihkan pembicaraan mereka sembari menahan sakit di lengannya.
“Tidak, aku hanya memastikan mas Bara baik-baik saja, karena barusan tiba-tiba telepon mas Bara terputus.” Lirih Sian pelan di dalam telepon.
“Kamu tidak perlu khawatir, tidak terjadi apa-apa sama mas.” Ucap Bara dengan menahan sakit.
“Sayang, mas tutup dulu teleponnya sekarang, nanti mas hubungi lagi kalau tidak ada kerajaan.” Sambung Bara yang terus menahan sakit di lengannya.
“Em...baiklah, mas jaga diri baik-baik jangan sampai terluka.”
“Baiklah, mas akan jaga diri baik-baik. Bye sayang, Muah...” Bara mengakhiri teleponnya dengan sebuah kecupan jarak jauh.
Setelah menutup teleponnya, Bara langsung meminta Tony untuk menyetop mobilnya. Meminta Tony untuk mengambilkan kotak P3K di bagasi belakang. Kemudian Bara meminta Tony membantunya untuk mengobati luka di lengannya itu. Tanpa menggunakan obat bius lagi, Tony langsung menjahit luka Bara. Karena sudah terbiasa, Bara tidak bersuara sedikit pun saat Tony menjahit luka di lengannya itu. Setelah selesai, mereka berdua kembali ke markas saat itu juga.
.
Bersambung...
__ADS_1
.