
Puas menangis di dalam pelukan suaminya itu. Kini Sian berhenti menangis dan meninggalkan air matanya membasahi baju yang di pakai Bara saat ini. Sebelum menjauh dari Suaminya itu, Sian terlebih dahulu membersihkan hidungnya Dari ingus.
“Hemmbrr...” dengan kencang Sian menghembuskan ingusnya dengan menggunakan baju Bara.
Oh tidak, jangan lakukan itu di bajuku.
Bara mengerutkan wajahnya tak tega dengan bajunya yang di jadikan sebagai penampung ingus.
“Kenapa dengan wajah mas?” tanya Sian saat melihat Bara mengerutkan wajahnya.
“Tidak ada, mas hanya melakukan senam wajah sekarang.” Bara beralasan, padahal sesungguhnya berbeda. “Sayang minta cium dong,” sambung Bara meminta sebuah ciuman pada istrinya itu.
“Owh,” respons Sian singkat.
Itu saja, tidak ada yang lain gitu?
Bara mengerucutkan bibirnya kecewa dengan tanggapan yang di berikan Sian padanya. Cup! Sian mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir seksi Bara, dan kemudian dia membalik tubuhnya membelakangi Bara.
Seketika wajah Bara berubah, dia langsung tersenyum dan memutar badan Sian menghadapnya. Kedua tangannya mulai menyusup ke sisi pinggang kecil milik Sian, dan menariknya merapat ke pinggangnya.
“Cium lagi sayang.” Bisik Bara pelan di telinga Sian dengan kedua tangan kekarnya melingkari pinggang kecil itu.
“Umah...” Sian kembali mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir Bara.
“Kok singkat sekali ciumannya, masih kurang.” Kata Bara ketagihan.
Sian memutar bola matanya, saat Bara meminta ciuman lagi darinya. Sian merasa sedikit malu saat Bara menatapnya menunggu untuk di cium kembali olehnya.
“Baiklah, ini yang terakhir ya.” Kata Sian hendak mendaratkan bibirnya di bibir seksi Bara.
Namun, belum sempat Sian mendaratkan ciumannya, Bara terlebih dahulu menekan tengkuk Sian hingga bibir mereka mendarat sempurna. Bara mulai menggelayuti bibir sian dengan lembut dan dalam, tanpa melepaskannya.
“Em,” suara Sian yang tertahan.
Bara terus menjelajahi bibir Sian hingga beberapa menit. Kemudian bibirnya turun ke leher jenjang Sian. Bara menyesap leher Sian dari atas hingga bawah, sehingga meninggalkan tanda merah di sana.
“Mas, berhenti.” Ucap Sian lepas.
Bara tidak memperdulikan apa yang dikatakan Sian padanya. Dia terus melangsungkan aksinya membuat tanda di leher istrinya itu hingga banyak.
“Mas, aku mohon hentikan sekarang juga, ada seseorang yang datang.” Ucap Sian yang yakin mendengar suara langkah kaki seseorang mendekati mereka.
__ADS_1
Bara masih tidak mendengarkan apa yang di katakan istrinya itu padanya. Tiba-tiba. “Apa! Ada seseorang yang datang?” kaget barat yang baru menyadari apa yang di katakan istrinya itu padanya.
Secepat kilat Bara menjauhkan dirinya dari Sian dan langsung berbaring di atas ranjang. Begitu juga dengan Sian yang langsung merapikan pakaiannya yang kusut karena ulah suaminya itu.
Brakk!! Pintu terbuka. Saat pintu terbuka terlihat Tony yang melangkah masuk.
“Sialan! Ternyata kamu yang datang.” Kesal Bara saat melihat Tony.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Tony yang bingung.
“Mas, aku kembali ke kamp saja sekarang, mas Bara berbicara saja dengannya.” Ucap Sian yang pamit ingin pergi.
“Dr. Sian, sejak kapan ada di sini?” Tony terkejut melihat Sian berada di belakangnya saat ini.
“Dari tadi.” Jawab Bara kesal.
“Berarti saya datang di waktu yang tidak tepat ya?” seru Tony yang lambat menyadari situasi saat ini.
“Ahahaha tidak sama sekali, kalian bicara saja, saya mau pergi sekarang juga.” Ucap Sian canggung. Dengan cepat dia pergi meninggal ruangan tersebut kembali ke kampnya.
Setelah Sian pergi, Bara menatap tajam ke arah Tony.
“Ada perlu apa kau datang kemari?” tanya Bara ketus.
Bara mengepal kedua tangannya saat mendengar jawaban yang di lemparkan oleh Tony padanya. Dengan sangat kesal Bara beranjak turun dari ranjangnya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Tony sendirian di sana.
“Kapten mau pergi ke mana?” tanya Tony sembari mengikuti langkah Bara.
Sejenak Bara menghentikan langkah kakinya untuk menatap Tony sesaat. “Jangan ikuti aku.” Ucap Bara kesal pada Tony. Kemudian dia kembali melanjutkan langkah kakinya itu.
“Kapten kenapa? Kapten mau pergi ke mana malam-malam begini?” tanya Tony yang terus mengikuti Bara dari belakang.
“Pergi sana, jangan ikuti aku pokoknya.” Ucap Bara tanpa melihat wajah Tony.
“Katakan dulu padaku, kapten mau pergi ke mana sekarang?” tanya Tony yang tidak menyerah sedikit pun.
Seketika Bara menghentikan langkah kakinya dan menghadap ke arah Tony dengan tatapan membunuh. Seketika Tony menciut ketakutan saat melihat tatapan Bara padanya.
“Ahahaha...silakan jika kapten ingin pergi ke mana pun kapten inginkan, aku tidak akan mengikuti kapten lagi.” Setelah mengatakan perkataannya Tony langsung melarikan diri dari hadapan Bara saat itu juga. Dalam hitungan detik Tony sudah menghilang dari pandangan Bara.
Setelah Tony menghilang di hadapannya, Bara kembali melanjutkan langkahnya untuk menyusul Sian istrinya ke kamp.
__ADS_1
Aku harus cepat, nanti keburu Sian sudah sampai di kampnya.
Bara mempercepat langkah kakinya untuk menyusul istrinya Sian. Dari kejauhan Bara melihat Sian, dengan cepat dia berlari menghampiri istrinya.
“Sayang tunggu...” teriak Bara memanggil Istrinya Sian.
Sian pun menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badanya melihat ke arah Bara. Sebuah senyuman terukir di wajah Sian saat melihat Bara.
“Kenapa mas bisa ada di sini? Ke mana Tony?” tanya Sian.
“Jangan pedulikan dia.” Ucap bara dengan nafas terputus-putus.
“Memangnya kenapa dengan Tony?” Sian memasang wajah polosnya. Seakan dia tidak mengerti dengan ucapan Bara.
“Sudah, sayang jangan bahas dia lagi. Ikut mas sebentar dan setelah itu biar mas yang antar kamu balik ke kamp nantinya.” Ucap Bara yang langsung menarik tangan Sian mengikutinya.
“Mas Bara, mau ajak aku pergi ke mana?” tanya Sian yang terus mengikuti langkah kaki suaminya itu.
“Sudah kamu ikuti saja mas sekarang, nanti kamu juga akan tahu ke mana mas mengajak mu.” Bara terus memegang tangan istrinya tanpa melepaskan ya.
Kira-kira mas Bara ingin mengajak aku ke mana ya?
Tanpa bertanya lagi, Sian terus mengikuti langkah kaki suaminya itu dari belakang. Dia menatap punggung lebar dan kekar Bara tanpa berkedip sedikit pun selama dalam perjalanan menuju ke suatu tempat yang ingin Bara perlihatkan padanya.
“Mas Bara, apa masih jauh tempatnya?” tanya Sian yang mulai merasa lelah.
“Sebentar lagi kita akan sampai.” Tanpa menoleh ke belakang, Bara tidak menyadari jika saat ini istrinya itu sudah sangat kelelahan.
“Mas, bisa berhenti sebentar? Aku sangat lelah sekali.” Pinta Sian yang tidak sanggup lagi melangkahkan kakinya.
“Sebentar lagi kita akan samp_” Bara menghentikan kata-katanya saat melihat istrinya yang sudah sangat kelelahan. Sekilas Bara mendesah pelan.
Astaga, aku lupa jika Sian bukanlah seorang prajurit.
Kemudian Bara mendekati istrinya itu, lalu di berjongkok di depannya.
“Naiklah ke atas punggungku sekarang.” Pinta Bara pada Sian.
Tanpa menolak Sian langsung naik ke atas punggung Bara detik itu juga. Kemudian Bara melangkah kakinya untuk melanjutkan perjalanan mereka.
.
__ADS_1
Bersambung...