Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 66


__ADS_3

Sian terbangun setelah tidak sadarkan diri selama dua hari. Saat dia membuka matanya, samar-samar dia melihat kepala yang sedikit menyilaukan matanya.


“Dr. Sian,”


Sian bisa mendengarkan suara yang memanggil namanya itu. Namun, dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang yang memanggilnya itu. Dari suaranya saja, Sian tahu jika orang itu adalah seorang pria.


Setelah penglihatannya jernih sepenuhnya, Sian melihat pria dengan kepala botaknya yang sangat dia kenali itu.


“Rival, sedang apa kamu di sini?” tanya Sian saat melihat Rival.


“Dr. Sian sudah bangun?” tanya Rival tersenyum dengan memperlihatkan kepala botaknya.


Sian yang baru saja terbangun langsung tertawa melihat kepala botak menyilaukan itu.


“Dr. Sian baik-baik saja?” tanya Rival panik saat melihat Sian tertawa tidak jelas.


Sebelumnya, Rival di beritahu Kaptennya untuk mengamati tingkah laku Sian saat terbangun. Ketika melihat Sian tertawa, Rival langsung panik dan mengira jika Sian mengalami gejala gegar otak yang di beritahukan Bara padanya.


“Dr. Sian, tunggu sebentar aku akan memanggilkan Dokter.” Ucap Rival panik.


“Tidak perlu,” ucap Sian menghentikan langkah Rival.


“Dr. Sian, aku harus memanggil Dokter sekarang juga. Aku takut Dr. Sian kenapa-kenapa.” Ujar Rival yang masih panik.


“Rival, tenangkan dirimu sekarang. Kamu tidak perlu memanggilkan Dokter, aku baik-baik saja.” Suara Sian terdengar sangat lantang dan tegas.


Seketika Rival tenang, saat mendengar nada suara Sian yang seperti biasanya saat dia dengar di Barak militer.


“Dr. Sian yakin baik-baik saja saat ini?” tanya Rival memastikan jika Sian baik-baik saja.


“Iya aku baik-baik saja, kenapa kamu terlihat panik sekali barusan?” tanya Sian penasaran kenapa tiba-tiba Rival panik sekali barusan.


“Habisnya Dr. Sian tertawa tidak jelas saat baru sadar. Aku kira Dr. Sian mengalami gejala gegar otak.” Jawab Rival polos yang tidak tahu apa-apa itu.


“Hahaha, kenapa kamu begitu bodoh sekali Rival? Gejala gegar otak saja kamu tidak tahu. Hahaha...” tawa Sian terbahak-bahak. Beberapa detik kemudian Sian berhenti tertawa dan menyambung perkataannya kembali.


“Biar aku beritahu, gejala gegar otak ringan itu seperti pusing, kebingungan, mual dan muntah-muntah. Satu lagi gejala gegar otak ringan adalah gangguan ingatan. Bukannya tertawa tidak jelas yang barusan kamu katakan. Lagian penyebab aku tertawa adalah kamu.” Jelas Sian kepada Rival.


“Karena aku?” tanya Rival kebingungan.

__ADS_1


“Ya kamu, atau lebih tepatnya kepala botak menyilaukan itu. Hahaha...” Ucap Sian dengan tertawa kembali.


Sebaliknya Rival memasang wajah kesalnya saat mendengar perkataan Sian barusan kepadanya.


“Dr. Sian jangan ketawa lagi, nanti Dr. Sian di bilang gila karena tertawa seperti itu.” Ucap Rival.


Setelah beberapa menit, Sian berhenti tertawa. Semenjak dia terbangun, dia tidak melihat sosok suaminya Bara sama sekali sejak dari tadi. Hanya wajah dan kepal botak Rival yang selalu dia lihat sejak dari tadi.


“Rival di mana Kapten Devil mu itu?” tanya Sian penasaran pada Rival.


“Kapten sedang pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan. Jika semua urusannya sudah selesai, Kapten akan kembali ke rumah sakit ini lagi.” Jawab Rival.


“Owh...terus kenapa bisa kamu ada di sini sekarang?” tanya Sian kembali kepada Rival.


“Aku di sini sedang menjalankan misi pertamaku sebagai pasukan khusus.” Jawab Rival.


“Misi apaan? Jika kamu sedang bertugas sekarang kenapa kamu bisa ada di sini bersama dengan ku sekarang?”


“Dr. Sian, misi pertamaku adalah menjaga dokter Sian di rumah sakit ini j.” Jawab Rival dengan tersenyum.


“Apa maksud dari perkataan mu itu?” tanya Sian yang kebingungan.


Sian tidak lagi bertanya, dia mengerti semua yang di katakan Rival padanya. Dia juga sedikit trauma sendirian setelah penculikan itu. Jujur saja selama tidak sadarkan diri, Sian terus-terusan bermimpi buruk. Dengan adanya Rival di sini sedikit membuatnya lebih tenang dan terhibur jika Bara sedang tidak ada seperti ini.


Setelah satu jam berbicara banyak hal dengan Rival, Bara pun datang. Saat mendengar kabar jika Sian sudah sadar, dia langsung pergi ke rumah sakit walaupun dia berada sangat jauh sekali di rumah sakit tersebut. Demi ingin melihat istrinya itu, Bara rela menempuh sejauh apa pun jaraknya yang penting dia bisa melihat istrinya itu.


“Sayang apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bara ketika dia datang.


“Em...aku baik-baik saja mas.” angguk Sian pelan.


Mendengar jawaban dari Sian membuat Bara langsung memeluknya. Rival yang tengah berada di sana langsung pergi keluar dari sana tanpa di minta.


“Sayang aku sangat khawatir sekali kepadamu.” Ucap Bara sambil memeluk erat istrinya itu.


Sian hanya bisa tersenyum saat suaminya itu memeluknya erat. Beberapa menit Bara memeluknya erat, tiba-tiba Sian merasa pusing dan mual.


“Mas kepalaku sangat pusing sekali, aku butuh udara sekarang.” Ucap Sian secara tidak langsung meminta Bara untuk melepaskan pelukannya.


Dengan cepat Bara melepaskan pelukannya dari Sian.

__ADS_1


“Sayang apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bara yang khawatir.


“Mas, sepertinya aku mau mutah sekarang.”


Secepat kilat Bara mengendong tubuh Sian menuju kamar mandi di bangsal Sian di rawat. Tanpa basa basi lagi Sian langsung memuntahkan semua isi perutnya. Sedangkan Bara menggosok pelan punggung istrinya itu selama muntah. Setelah merasa lebih baik, Bara kembali mengendong Sian ke tempat tidur. Perlahan Bara membaring Sian di atas ranjang.


“Bagaimana, apakah kamu sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Bara dengan lembut.


“Iya mas.” Jawab Sian menganggukkan kepalanya pelan.


“Sayang tunggu sebentar di sini, mas mau belikan makanan untuk mengisi perut mu.” Ucap Bara pada Sian.


“Em...” Jawab Sian yang hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, kamu tunggu mas sebentar.” Ucap Bara sambil mengecup kening polos Sian.


Setelah itu Bara hendak beranjak pergi dari bangsal Sian di rawat. Namun, saat Bara tengah berjalan keluar tiba-tiba ponsel Sian berbunyi.


Ting!


Pesan masuk ke ponsel Sian. Tanpa ragu-ragu Sian mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas dan kemudian dia membaca pesan tersebut.


No tidak di kenal:


Sayang, apa kabar? Hari ini aku akan memberimu sesuatu yang bisa membuatmu mengingat ku kembali.


Ting!


Sian kembali mendapat pesan dari nomor yang sama, dan kali ini pesan yang Sian dapat adalah sebuah Foto yang memperlihatkan dirinya sedang berpegangan tangan dengan seseorang pria. Sekilas Sian merasa pernah melihat pria ini sebelumnya.


Sepertinya aku pernah melihat pria ini, tapi di mana?


Seketika Sian merasa kepalanya terasa sangat sakit sekali, saking sakitnya ada potongan ingatan yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya saat ini.


“Aaahh...” Teriak Sain kesakitan dengan kedua tangan mencengkeram kuat di kepalanya.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2