Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 43


__ADS_3

Setelah berjuang mati-matian menyelamatkan Bara, kini Sian berhasil menghentikan maut mengambil nyawa suaminya itu. Sian keluar dari tenda dan pergi menjauh dari sana. Dia bersembunyi di balik sebuah pohon besar dan duduk di sana.


Kedua tangan Sian langsung bergetar hebat setelah menyelamatkan Suaminya Bara dari kematian. Tanpa terasa Sian juga langsung menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Saat ini dadanya terasa sangat sesak sekali, saat mengingat kejadian barusan. Dia tidak akan mengira akan melihat suaminya berbaring di atas meja operasinya, dan yang lebih membuat Sian sesak adalah dia sangat syok saat melihat Bara terluka, dan dia bahkan tidak bisa menangis sekencang-kencangnya saat itu juga untuk mengeluarkan semua kesedihannya.


“Ternyata Dr. Sian di sini, sejak tadi saya mencarimu.”


Tony datang menghampiri Sian yang bersembunyi di balik pohon. Melihat kedatangan Tony, Sian langsung menghapus air matanya dan menatap ke arah Tony.


“Ada perlu apa kamu mencari saya?” tanya Sian yang seakan tidak terjadi apa-apa.


Tanpa menjawab Tony mengeluarkan Foto dari saku seragam tentaranya. Foto tersebut dia ambil dari Bara saat mereka berada di dalam pesawat. Dia memberikan foto tersebut kepada Sian yang duduk di tanah.


“Ini apa?” Sian mendongkak menatap ke arah Tony yang sedang mengulurkan sebuah foto padanya.


“Ini milik kapten,”


“Kapten?”


Terlihat wajah Sian bingung, dia tidak mengerti sama sekali dengan maksud Tony memberikan sebuah benda milik orang lain kepadanya.


“Ini milik kapten Bara,” ucap Tony menjelaskan.


Manik mata Sian menyala mendengar Tony menyebutkan nama suaminya Bara. Perlahan tangannya langsung mengambil foto yang di ulurkan Tony kepadanya. Saat foto tersebut sudah berada di tangannya, Kemudian dia melihat foto tersebut. Yang Sian lihat saat ini sebuah darah kering menutupi semua bagian gambarnya. Namun, Sian tahu jika di dalam foto tersebut adalah dirinya. Di dalam foto tersebut Sian dapat melihat jika dirinya sedang memakai jubah putih yang sering dia kenakan saat berada di rumah sakit. Entah kapan Bara mengambil foto tersebut, tapi yang pasti Sian merasa sangat terharu saat melihat fotonya itu, walaupun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas di foto tersebut.


“Kapten bilang, Dr. Sian sangat cantik sekali di dalam foto itu.” Ucap Tony yang menyadari jika Sian sangat penasaran sekali bagaimana wajahnya di dalam foto tersebut.


Sian hanya tersenyum mendengarkan ucapan dari Tony. Dia terus menatap fotonya itu dengan tatapan sendu, hatinya terasa sakit melihat keadaan fotonya yang seperti itu.


“Benarkah dia berkata seperti itu?” tiba-tiba Sian bertanya pada Tony.

__ADS_1


Tony tersenyum saat Sian bertanya padanya.


“Em, saya mendengarkannya sendiri saat kapten bilang Dr. Sian sangat Cantik di dalam foto itu saat dia sedang menangis.” Ucap Tony sembari duduk di samping Sian tanpa merasa canggung.


“Hahaha...” Tawa Sian pecah. Dia tidak akan mengira jika Tony akan mengatakan Bara menangis saat melihat fotonya itu.


“Akhirnya Dr. Sian tertawa juga, sejak dari tadi saya perhatikan Dr. Sian tidak pernah tersenyum atau tertawa sedikit pun.” Ucap Tony pelan. Terlihat jelas jika saat ini Tony sedang bersedih.


Sian menatap Tony. Dia tahu jika Tony juga sama dengannya, sama-sama khawatir dengan Bara.


“Kamu tidak perlu sedih lagi, Bara sudah keluar dari masa-masa kritisnya, hanya tinggal menunggu waktu kapan dia akan sadarnya.” Ucap Sian memberi sebuah dorongan pada Tony.


Tony menatap ke arah Sian sebentar, dan kemudian dia berkata. “Sebenarnya, saya yang membuat kapten menjadi seperti ini, demi menyelamatkan saya, kapten rela menggunakan tubuhnya untuk melindungi saya.” Lirih Tony dengan mata yang berkaca-kaca.


Sian mendesah pelan saat melihat Tony menyalakan dirinya sendiri. Sian sangat yakin, jika apa yang dilakukan Suaminya itu adalah kemauannya sendiri, dan bukan sebuah kesalah yang di lakukan Tony.


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya Sian pada Tony.


“Karena memang saya yang melakukan kesalahan dalam menjalankan misi, dan Kapten yang terkena imbasnya.” Jawab Tony dengan memperlihatkan tatapan mata rasa bersalahnya.


Aku tidak mengira, jika akan menghibur orang lain di saat seperti ini.


“Saya kenal Bara, walaupun tidak seperti dirimu yang sudah sangat jauh mengenalnya. Namun, Saya bisa memahaminya. Saya sangat yakin, jika Bara tidak pernah menyalahkan mu atas semau yang terjadi pada dirinya saat ini, termasuk kesalah yang kamu lakukan dalam menjalankan misi.”


Tony kembali menatap ke arah Sian. Kali ini tatapannya sedikit berbeda dari sebelumnya. Tatapannya kali ini, terlihat seperti sebuah harapan yang baru saja menghampirinya.


“Benarkah yang Dr. Sian katakan itu?” tanya Tony dengan penuh harapan.


“Em, jadi kamu tidak perlu menyalakan dirimu atas semua yang terjadi. Bara melakukan semua itu demi tanggung jawabnya sebagai kapten kalian, dia harus mengutamakan keselamatan anggotanya terlebih dahulu, baru dirinya. Jika anggotanya tidak selamat, apa gunanya dia selamat sendirian.” Ucap Sian kembali.

__ADS_1


Ucapan Sian kali ini sangat membuat Tony terharu dan sadar akan apa yang di lakukan Bara. Dia mengerti kenapa Bara selalu bersikap tenang saat menjalankan setiap misinya. Mengingat kembali, Tony baru ingat jika Bara memintanya untuk menyampaikan pesannya kepada istrinya itu.


“Dr. Sian, ada satu lagi yang ingin saya sampaikan kepadamu.”


“Apa itu?”


“Selama kapten masih sadar di dalam pesawat, kapten meminta saya untuk menyampaikan pesannya kepada Anda,” sejenak Tony menjeda ucapannya.


“Kapten ingin Dr. Sian tahu jika kapten sangat mencintai dokter.” sambung Tony menyampaikan pesan dari Bara.


Tanpa terasa Sian menitikkan air matanya begitu saja saat mendengar pesan Bara yang di sampaikan Tony kepadanya. Hatinya terasa sangat ringan sekali saat mendengarkan pesan Bara tersebut. Dia sedikit merasa lega karena di saat-saat kesulitan yang di hadapi suaminya, ternyata ada sosok dirinya yang di ingat oleh suaminya itu.


“Terima kasih telah menyampaikan pesannya kepadaku, sungguh terima kasih banyak.” Ucap Sian sembari menangis pelan.


“Sama-sama.” Ucap Tony menatap ke arah lain. Dia tidak ingin melihat istri kaptennya itu sedang menangis saat ini.


Hingga beberapa menit kemudian, Sian berhenti menangis. Dia sudah mulai mengumpulkan energinya untuk merawat suaminya itu sampai sadar. Sedangkan Tony tetap masih berada di dekat Sian sampai tangisnya berhenti.


“Ngomong-ngomong, nama kamu siapa?” tanya Sian kepada Tony.


Dengan tersenyum, Tony langsung menjawab. “Perkenalkan, saya Letnan Tony, panggil saja saya Tony.” Ucap Tony sembari mengulurkan tangannya kepada Sian.


“Senang berkenalan dengan mu Letnan Tony.” Ucap Sian sembari menyambut uluran tangan Tony.


“Senang berkenalan dengan mu juga Dr. Sian.”


Keduanya saling bersalaman dan tersenyum satu sama lain setelah saling menghibur satu sama lain juga.


Saya tidak akan mengira, jika istri kapten Bara juga sangat cerdas sama seperti dirinya. Tidak heran kapten Bara sangat mencintainya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2