
Sian menatap Bara dengan tersenyum geli. Saat ini suaminya sedang sangat kebingungan setengah mati karena sandiwaranya.
“Mas, kenapa diam saja?”
Bara terlihat semakin frustasi. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada Sian saat ini.
“Entahlah sayang, aku tidak tahu harus berkata apa lagi saat ini. Tidak ada yang bisa aku jelaskan padamu lagi karena aku juga tidak tahu harus bagaimana lagi. Anak ini terus menempel padaku dan menyebut diriku adalah papanya sejak dari tadi. Walaupun aku menjelaskannya, kamu pasti tidak akan percaya.” Bara terlihat pasrah dengan keadaannya.
Maafkan aku mas, karena telah menipu mu, hahaha.
“Raihan ini es kopi mu,” ucap mbak resepsionis yang baru saja datang dan memberikan secangkir es kopi pesan Raihan.
Raihan berjalan mendekati resepsionis tersebut untuk mengambil es kopinya.
“Terima kasih es kopinya tante.” Ucap Raihan.
Kemudian dia pergi menghampiri Sian dan Bara kembali. Setelah berada di dekat Sian dan Bara, Raihan menyedot es kopinya dan setelah es kopi tersebut tertelan, Raihan langsung meludahkannya keluar dari mulutnya.
“Wek...es kopi ini tidak enak, pahit sekali, Raihan tidak suka. Buat papa saja.” Ucap Raihan sembari mengulurkan es kopi tersebut pada Bara.
Bara mendesah pelan, dia tidak percaya jika anak ini berbicara dengan sangat nyaman sekali kepadanya. Seakan dia bersikap jika Bara adalah memang papanya.
“Anak kecil kenapa pesan minuman seperti ini? Ini kan minuman untuk orang dewasa, sedangkan kamu anak kecil.” Ucap Bara mengambil es kopi tersebut dari tangan Raihan.
Sian tersenyum. Dia tidak akan mengira jika suaminya Bara dengan mudahnya bisa beradaptasi pada Raihan.
“Raihan bukan anak kecil,” ucap Raihan sedikit kesal karena di bilang anak kecil oleh Bara.
“Tinggi mu saja hanya sebatas lutut, dan kamu bilang bukan anak kecil.” Jawab Bara.
“Raihan bukan anak kecil,” Raihan kembali mengucapkan kata-katanya.
“Ya ya ya, terserah kamu mau bilang apa, tapi yang pasti bagiku kamu adalah hanya anak kecil.”
Raihan terlihat mengeram, dia marah karena Bara terus-terusan mengatakannya anak kecil. Saking kesalnya, Raihan langsung menggigit tangan Bara.
“Aaahh...” jerit Bara kesakitan.
“Rasakan itu!” ucap Raihan kesal.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menggigit tanganku?”
Bara melototi Raihan. Melihat mata Bara yang melototinya dengan cepat Raihan berlari ke arah Sian dengan berteriak.
“Mama...Raihan takut.”
Bara terkejut saat Raihan memanggil Sian dengan sebutan mama.
__ADS_1
“Mama?”
Sian tersenyum saat melihat wajah Bara yang semakin kebingungan dengan situasi saat ini.
“Sayang, kenapa anak ini juga memanggil mu dengan sebutan mama? Apakah kamu melahirkannya selama aku berada di jepang?” Bara terlihat sangat bodoh sekali saat ini.
“Hahaha...apa aku tidak salah dengar? Mas bilang aku melahirkan Raihan selama mas berada di jepang?”
“Em...” angguk Bara pelan.
“Mas gila ya, mana mungkin aku melahirkan anak yang sudah sebesar ini.”
“Terus kenapa anak ini memanggil ku dengan sebutan papa dan kamu di panggil dengan sebutan mama?” Tanya Bara yang sangat kebingungan.
“Mama, ternyata papa Bara sangat bodoh ya. Masa dia tidak bisa membedakan anak yang baru lahir sama anak yang sudah berusia 5 tahun seperti ku.” Ucap Raihan yang bersembunyi di belakang Sian.
“Us...tidak boleh bilang seperti itu pada papa mu Raihan, tidak sopan.” Ucap Sian.
“Apa yang kalian berdua bicarakan? Aku tidak mengerti sama sekali.” Ucap Bara yang semakin kebingungan.
“Mas kita duduk sebentar, biar aku jelaskan semuanya.” Ucap Sian mengajak Bara duduk.
Setelah menenangkan Bara kemudian Sian baru menceritakan semuanya pada Bara tanpa terlewatkan. Setelah mendengar semua penjelasan dari Sian Bara menatap ke arah Raihan dan Sian secara bergantian. Dia tidak percaya jika dia memiliki anak saat ini.
“Apakah barusan kalian sedang menipuku?” tanya Bara.
“Maaf mas, mas tidak marah kan?”
Bara menatap Sian beberapa detik, dan kemudian dia menggelitiki tubuh Sian.
“Aaahh...mas jangan,” teriak Sian yang merasa geli.
“Rasakan ini, siapa suruh menipu suami mu ini.” Ucap Bara yang terus menggelitiki Sian.
“Jangan ganggu mama, papa lepaskan mama sekarang juga.” Ucap Raihan yang ikut membantu Sian.
Dua lawan satu, dan yang memimpin petarungan ini adalah Bara. Saat ini Raihan dan Sian tidak berdaya melawan Bara yang bertubuh besar di bandingkan dengan Sian dan Raihan yang bertubuh kecil.
Saat pertarungan masih berlanjut Sian tidak sengaja menepuk bahu Bara.
“Aw...” rintih Bara kesakitan.
Sian menyadari jika bahu Bara mengeluarkan darah.
“Mas tidak apa-apa?” tanya Sian yang cemas melihat Bara terluka.
“Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil.” Ucap Bara.
__ADS_1
Sian tidak percaya dengan ucapan Bara saat ini. Dia sangat yakin jika luka tersebut cukup besar dan dalam. Dari melihat garis darahnya saja, Sian bisa tahu jika luka tersebut cukup parah.
“Ikut aku sekarang,” ajak Sian.
“Mau pergi ke mana?”
“Sudah jangan banyak tanya, mas ikuti saja aku sekarang. Raihan juga ikut mama dan papa sekarang.” Ajak Sian.
Sian menarik tangan Bara satu dan tangan Raihan satu. Saat ini posisinya berada di tengah-tengah di antara Bara dan Raihan. Mereka berjalan memasuki lift menuju ke ruangan Sian. Di sana Sian meminta Bara melepas kemeja putihnya yang terkena darah dari luka punggungnya. Tanpa membantah Bara melepaskan kemejanya di hadapan Raihan, sedangkan Sian pergi keluar sebentar.
“Mama, papa sudah melepaskan pakaiannya sekarang teriak Raihan memanggil Sian yang berada di luar untuk mengambil perlengkapan untuk mengobati luka Bara.
Semua perawat yang berada di sana langsung terbelalak mendengar ucap Raihan tersebut. Perawat yang berada di sana langsung mendekati ruangan Sian saat ini untuk melihat Bara yang sedang tidak memakai baju.
Astaga gawat, bisa-bisa perawat di sini akan berdatangan melihat Bara seperti itu.
Dengan cepat Sian berlari memasuki ruangannya. Dengan paksa dia mengusir semua perawat yang berada di depan pintu ruangannya. Kemudian Sian menutup pintu tersebut dan menguncinya supaya tidak ada yang bisa masuk ke dalam ruangannya.
“Hampir saja,” ucap Sian yang kehabisan nafas.
Sedangkan Bara dan Raihan tersenyum melihat Sian.
“Kalian berdua sedang lihat apa?”
“Tidak, kami tidak melihat apa-apa.” Ucap Bara dan Raihan secara bersamaan.
Setelah bisa bernafas dengan tenang, Sian mendekati Bara dan Raihan yang sedang duduk di sofa.
“Mas biar aku coba lihat luka di punggung sekarang,”
Sian bisa melihat luka tersebut cukup besar dan dalam.
Bagaimana bisa dia terluka seperti ini? Apakah dia tidak merasa kesakitan sedikit pun?
“Mas aku akan menjahit luka mas sekarang, jika merasa sakit mas bilang.”
“Em...baiklah.” angguk Bara.
“Untuk Raihan, kamu jangan lihat ke arah sini. Kamu lihat ke arah lain saja, mama tidak ingin Raihan melihat mama sedang menjahit luka papa.”
“Baiklah, Raihan mengerti.” Ucap Raihan menuruti perkataan Sian.
Sian mulai menjahit luka di punggung Bara tanpa menggunakan obat bius. Menurut Sian, Bara bisa menahan rasa sakit saat dia menjahit luka tersebut karena Sian menyadari jika Bara bisa menahannya.
.
Bersambung...
__ADS_1