Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 42


__ADS_3

Setelah menembak Makoto, tubuh Bara langsung tumbang. Tanpa terasa tubuh Bara hendak terjatuh ke tanah detik itu juga. Tony yang melihatnya langsung menangkap tubuh Bara.


“Kapten.” Ucap Tony sembari memangku kepala Bara.


Beberapa menit Bara terbaring, bantuan dari tentara jepang datang. Dengan cepat mereka mengamankan semua anggota pasukan yang terluka masuk ke dalam mobil, termasuk kedua wanita yang di selamatkan oleh pasukan Bara.


Di dalam perjalanan Bara masih sadar dan bisa menahan rasa sakit peluruh yang menembus belakangnya itu. Setiba di bandara Udara International Tokyo, Tony langsung memberi kabar kepada Clovis untuk mengirimkan beberapa bantuan. Tony juga memberitahu Clovis jika Bara dan beberapa anggota pasukan lainnya sedang terluka, dan saat ini mereka berada di dalam pesawat tempur milik jepang untuk kembali ke Indonesia.


Selama berada di dalam pesawat, Bara masih bisa sadar walaupun seluruh tubuhnya terasa mati rasa karena banyak kehilangan darah. Perlahan Bara mengerakkan tangannya yang berlumuran darah mengambil sebuah kertas dari dalam seragam tentaranya. Sekilas dia tersenyum melihat kertas tersebut. Kenapa tidak, karena kertas tersebut adalah sebuah foto yang mana foto tersebut adalah Foto istrinya Sian.


Terukir jelas senyuman yang menyakitkan dari wajah pucat Bara saat ini. Wajah cantik di dalam foto tersebut mampu membuat Bara mengerakkan kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Walaupun saat ini Bara tidak memiliki tenaga sedikit pun untuk tersenyum. Mata yang saat ini berserat merah karena menahan rasa sakit yang luar biasa, kini membendung air mata saat menatap foto istrinya yang sedang tersenyum manis itu.


Dia sangat cantik sekali, andai aku bisa melihat wajahnya satu kali lagi secara langsung.


Bara kembali tersenyum. Kali ini, saat dia tersenyum tiba-tiba dia terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah hidup dari mulutnya. Percikan darah tersebut langsung mengenai foto istrinya itu, perlahan tangan Bara mengelap foto istrinya itu dengan tangan yang bergetar.


“Astaga aku mengotori wajah cantik istriku.” Ucap Bara dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Semakin Bara membersihkan darah yang menempel di foto itu, semakin Bara mengotori semua bagian wajah istrinya Sian dengan darah yang menempel di tangannya. Tidak menyerah begitu saja, Bara terus membersihkannya. Namun, foto tersebut menjadi rusak dan tidak bisa terlihat lagi wajah tersenyum Sian di dalam foto tersebut.


Hingga akhirnya Bara menyerah dan langsung meletakan foto istrinya itu di dadanya dengan menangis. Seakan dia memeluk erat istrinya itu, walaupun saat ini hanya foto yang dia peluk. Hati Bara terasa sangat hancur sekali saat ini, dia merasa tidak akan bisa bertemu dengan istrinya itu lagi.


Tidak berhenti di situ saja, Bara terus meneteskan air matanya dalam diam. Seluruh tubuhnya mengeras karena menahan tangis dan rasa sakit secara bersamaan. Tony yang melihat akan hal tersebut langsung menghampirinya dan menggenggam erat salah satu tangan Bara.


“Bertahanlah, aku yakin kamu pasti bisa bertemu dengannya lagi. Aku janji akan memastikan semua itu akan terjadi.” Ucap Tony dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Bara hanya bisa tersenyum peri mendengarkan ucapan Tony tersebut. Bara sangat mengenali Tony, apa pun yang akan dia katakan selalu terdengar meyakinkan. Walaupun sebagian besar apa yang dia katakan adalah kebalikannya.


Tanpa merasa malu lagi di hadapan Tony saat ini, Bara semakin meneteskan air matanya karena perasaannya saat ini sungguh sangat tidak enak. Dia merasa jika ajalnya akan datang menjeputnya saat ini juga.


“Tony, jika terjadi sesuatu padaku, tolong kau sampaikan pesanku pa-danya.” ucap Bara yang sedang merasa kesakitan.


Tony terus mengagam tangan Bara dengan tetap setia menunggu Bara melanjutkan ucapannya itu.


“Tolong, kau bilang padanya, ji-ka aku sangat men-cintainya.”


Mata Bara langsung tertutup detik itu juga, setelah menyelesaikan kata-katanya pada Tony. Bara kehilangan kesadarannya setelah bertahan beberapa jam di dalam pesawat.


“Bara, aku mohon bertahanlah.” Ucap Tony yang semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Tanpa sadar Tony menitikkan air matanya begitu saja. Saat ini Tony merasa sangat menyesal karena telah bertindak gegabah dalam menjalankan misinya. Karena dirinya, Bara harus mengalami semua ini.


Sementara itu Bara terbaling tak berdaya dengan posisi memeluk Foto istrinya Sian di dadanya. Tony mengambil Foto tersebut dari atas dada Bara, dan menyimpan untuk sementara waktu. Setidaknya sampai mereka sampai.


***


Saat pesawat mereka mendarat di pangkalan TNI angkatan udara. Dengan cepat Bara dan anggota lainnya di pindahkan ke helikopter menuju Barak militer saat itu juga. Dalam waktu 20 menit helikopter mendarat di lapangan luas yang sudah di persiapan oleh Clovis serta pasukan khusus lainnya.


Helikopter terakhir pun mendarat. Saat Tony membawa Bara keluar dari helikopter tersebut, langsung di sambut oleh Sian sendiri.


Seketika Sian syok melihat Bara yang keluar dari helikopter tersebut dengan keadaan yang mengenaskan. Darah di mana-mana, wajah pucat yang penuh dengan darah itu membuat konsentrasi Sian terpecah begitu saja.

__ADS_1


“Dokter Sian, apa yang sedang Anda lakukan sekarang? Ayo cepat lakukan sesuatu untuk menolongnya.” Ucap Clovis pada Sian.


Saat ini Sian tidak bisa mengutamakan perasaan pribadinya, dia harus bergerak cepat untuk menyelamatkan suaminya itu. Dengan bersikap profesional, Sian langsung memfokuskan dirinya kembali sebagai dokter yang bertanggung jawab.


“Bawah dia masuk ke ruangan operasi sekarang.” Titah Sian.


Dengan cepat Tony, Clovis dan yang lainnya membawa Bara masuk ke dalam tenda ruangan operasi yang tersedia. Sebelum mengambil tindakan, Sian terlebih dahulu meminta penjelasan tentang keadaan Bara pada Tony. Sebaliknya Tony menjelaskan semua keadaan Bara saat terluka, termasuk tekanan darah Bara saat ini.


“Baiklah saya mengerti.” Ucap Sian yang profesional. Dia bahkan tidak menangis sedikit pun saat melihat suaminya dalam keadaan ambang kematian.


Kemudian Sian masuk ke dalam tenda untuk menyelamatkan suaminya itu. Namun, saat dia hendak masuk, Tony menghentikannya.


“Tolong selamatkan dia, dia harus tetap hidup apa pun yang terjadi.” Ucap Tony dengan mata yang berkaca-kaca.


Sejenak Sian menatap mata Tony, dia melihat ada rasa takut, kecewa dan rasa bersalah di dalam mata itu.


“Tidak perlu kau minta pun, aku akan menyelamatkannya dengan seluruh kemampuan yang aku miliki. Walaupun harus merengut nyawaku sendiri.” Ucap Sian dengan tatapan mata yang penuh dengan keyakinan.


Tanpa mengulur waktu lagi, Sian langsung masuk ke dalam tenda. Sian dan Timnya langsung memulai operasi mengeluarkan peluruh yang menebus punggung hingga perut Bara. Sebelum memulai operasinya, Sian terlebih dahulu menutup matanya. Dia berdoa di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, untuk kelancaran operasi suaminya Bara.


“Baiklah, kita mulai sekarang operasinya. Pisau bedah.” Pinta Sian pada perawat. Sian pun memulai operasi suaminya itu.


.


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2