
“Mas Bara kenapa?” tanya Sian bingung saat melihat Bara yang tiba-tiba bersikap seakan takut kehilangan dirinya.
Bagaimana pun Sian mencoba untuk bertanya pada suaminya itu, tetap saja Bara tidak menjawab pertanyaan darinya. Tangan kokok suaminya itu terus melingkar kuat di pinggang kecilnya itu.
“Mas katakan padaku sekarang, apa telah terjadi sesuatu?” tanya Sian kembali sembari berusaha menarik kedua tangan kokoh suaminya yang melingkar di pinggangnya.
“Tidak jangan lakukan itu,” Dengan cepat Bara menolak untuk melepaskan kedua tangannya dari pinggang istrinya itu.
“Baiklah kalu begitu, katakan padaku sekarang, apa yang sebenarnya terjadi pada mas Bara saat ini?” tanya Sian kembali tanpa menyerah sedikit pun.
Bara mendesah pelan, kali ini dia menyerah dan mulai membuka suaranya.
“Sebenarnya hari ini mas berhasil menyelesaikan misi yang sudah tiga tahun lamanya tidak bisa terselesaikan.” Ucap Bara dengan nada lesu.
“Terus kenapa mas terlihat sangat lesu sekali? Seharusnya mas Bara terlihat senang, bukannya tidak bersemangat seperti ini?” Sian terlihat menatap penampilan lesu suaminya itu dari bawah hingga atas.
“Sebenarnya mas tidak tahu harus mengatakannya atau tidak kepada mu. Namun, mas tidak bisa menyimpan lebih lama lagi dari mu.”
“Kalau begitu mas katakan saja padaku sekarang.” Sahut Sian dengan cepat.
Bara terlihat ragu-ragu. Dia tidak tahu harus menceritakannya atau tidak, siapa yang dia tangkap hari ini.
“Mas Bara kenapa malah diam saja? Katanya mau cerita.” Kata Sian yang berhasil membuat Bara mendongkak menatapnya.
“Hari ini mas telah menyelesaikan misi terpanjang selama mas menjadi abdi negara,” sejenak Bara menjeda ceritanya.
“Terus...?” ucap Sian yang menunggu kelanjutan dari cerita Bara.
“Terus, misi tersebut adalah menangkap seseorang, bisa di bilang membawa pulang seseorang yang sangat penting bagi orang yang berperan penting di negara kita.” Bara kembali menjeda ceritanya, dia masih terlihat ragu-ragu untuk menceritakannya pada Sian.
“Terus mas, lanjuti ceritanya?” Sian kembali meminta Bara untuk melanjutkan ceritanya.
“Terus, orang tersebut adalah seseorang yang sangat kamu kenal.” Sambung Bara.
Terlihat wajah Sian yang bingung dengan perkataan suaminya itu. Dia tidak mengerti dengan maksud perkataan Bara tersebut.
“Maksud mas apa?” tanya Sian yang bingung.
__ADS_1
“Orang yang mas tangkap tersebut adalah pria di masa lalumu, dia adalah manta kekasihmu di masa lalu.” Ucap Bara tanpa berpikir panjang lagi. Dia langsung mengatakannya tanpa menutupinya lagi.
Seketika Sian mengerti dengan maksud dari perkataan suaminya itu. Sian sangat tahu dan sangat paham sekali dengan arah cerita Bara.
“Mas menceritakan semua ini padamu bukan untuk membuatmu sedih, tetapi mas ingin kamu tahu jika mas melakukan semua ini karena misi yang di berikan atasan mas, bukan karena dia adalah kekasih di masa lalu mu. Mas tidak ingin suatu saat nanti kamu salah paham karena masalah ini.” Ucap Bara yang sangat serius sekali.
Sejenak Sian membungkam mulutnya. Dia tidak berkata apa pun saat mendengar cerita dari suaminya itu. Saat Bara melihatnya pun ada perasaan yang membuat hatinya terluka karena istrinya itu terlihat sedih dan seakan masih menyimpan perasaan pada pria tersebut.
“Sayang, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bara.
Respons yang di berikan Sian pun tetap sama. Seakan dia tenggelam dalam kesedihannya. Rasa kecewa pun melanda diri Bara saat ini, entah mengapa bungkamnya Sian membuatnya menderita.
“Mas tahu jika saat ini kamu sedang sedih, maafkan mas karena sudah membuat mu sedih seperti ini.” Ucap Bara dengan nada lemah dan kecewa.
Karena kecewa Bara langsung beranjak turun dari ranjang. Dia hendak pergi meninggalkan Sian sendirian di dalam kamar tersebut. Satu langkah kaki Bara menjauhi Sian.
“Mas jangan pergi,” dengan cepat Sian menghentikan Bara dengan memeluknya dari belakang.
“Mas, aku mohon jangan pergi.” Ucap Sian kembali sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Bara.
“Apakah kamu yakin tidak ingin Mas pergi?”
“Em...” angguk Sian pelan sambil mendongkak ke atas menatap wajah Bara yang lebih tinggi darinya.
Bara tersenyum, saat istrinya tidak ingin dia pergi.
“Baiklah, mas tidak akan pergi dan akan tetap di sini bersama mu.”
Bara membalas pelukan istrinya itu yang di iringi sebuah kecupan di puncak kepalanya.
“Mas maafkan aku, selama ini aku selalu membuat mas Bara khawatir, dan maaf jika selama ini tidak pernah berkata jujur pada mas.”
“Tidak apa-apa mas mengerti, memang tidak mudah untuk mengatakannya. Namun, ada yang sangat ingin mas tanyakan padamu.”
“Katakan, mas mau bertanya apa?”
Sian mendongkak mengangkat kepalanya menatap Bara.
__ADS_1
“Apakah kamu masih mencintainya?” tanpa ragu Bara menanyakannya.
Perlahan Sian menarik dirinya dari pelukan suaminya Bara. Terlihat jelas wajah Sian berubah sedih, seakan ada sebuah perasaan yang sangat dalam yang tidak bisa dia lupakan begitu saja.
Sebaliknya Bara merasa sangat takut saat melihat reaksi istrinya itu setelah dia melontarkan pertanyaannya itu. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya karena menanyakan hal yang sudah jelas dia mengetahui jawabannya.
“Jika kamu tidak mau menjawabnya, mas tidak akan memaksa, mas akan menunggu sampai kamu siap untuk menjawabnya.”
Terlihat jelas jika saat ini Bara sangat takut mendengar jawaban dari istrinya itu. Dia takut akan kecewa saat mendengarkan jawaban dari istrinya Sian.
“Mas, tatap mataku sekarang.” Pinta Sian kepada Bara.
Bara menolak untuk menatap mata itu. Dia tetap menunduk menatap kedua kakinya.
“Mas, tatap aku sekarang.”
“Tidak, mas tidak ingin menatap matamu sekarang.” Tolak Bara.
“Kenapa mas? Kenapa mas Bara tidak ingin menatap mataku sekarang?”
“Mas takut akan kecewa saat menatap matamu, mas tidak ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan mas barusan melalu matamu.” Jawab Bara dengan suara bergetar.
“Bagaimana mas bisa tahu jawabannya jika tidak menatap mataku sekarang? Walaupun begitu,
Mendengar perkataan Bara barusan membuat Sian sangat kesal. Sian berusaha meminta suaminya Bara menatap matanya sekarang juga. Namun, Bara menolak dengan mengangkat kepalanya ke atas.
“Mas, tatap mataku sekarang!”
Dengan emosi Sian meraih wajah Bara menatap ke wajahnya. Mata mereka bertemu, saat Bara melihat mata istrinya itu ada sebuah perasaan penyesalan yang keluar di dalam dirinya. Air mata kekecewaan Sian terhadap Bara, membuat Bara sendiri menyesal karena meragukan perasaan Sian padanya.
“Apakah mas Bara tahu, hatiku sangat sakit sekali saat mas meragukan perasaanku terhadap mas. Aku berusaha mati-matian agar tidak membuat mas Bara terluka dengan hadirnya kembali Kenzo dalam kehidupanku. Namun, sekarang mas malah meragukan perasaanku pada mas. Itu sungguh menyakiti hatiku.” Sian meneteskan air mata kekecewaannya terhadap suaminya Bara.
Entah mengapa saat melihat dan mendengar perkataan Sian, membuat Bara semakin menyesal dan terluka melihat air mata yang keluar dari pelupuk mata istrinya itu.
__ADS_1