
Barak Militer.
Sudah tiga hari Bara belum sadarkan diri. Tak sedetik pun perhatian Sian teralihkan dari suaminya itu. Namun, dia tidak pernah terlihat duduk di samping Bara saat ada prajurit yang datang untuk melihat Bara yang tak sadarkan diri itu. Setiap kali dia duduk di samping suaminya itu, dia selalu di minta untuk menjauh dari Bara karena mereka tidak menyukai keberadaan Sian di samping kapten mereka itu. Seperti saat ini, Sian duduk di samping Bara dan langsung di minta menjauh saat para prajurit tersebut datang menjenguk kapten mereka.
“Kenapa Dr. Sian duduk di samping kapten Devil sekarang?” ucap salah satu prajurit tersebut dengan menatap tidak suka pada Sian.
Tony yang juga berada di sana langsung menengahi.
“Apa yang kalian katakan pada Dr. Sian? Bisa lebih sopan sedikit pada Dr. Sian.” Titah Tony kepada prajuritnya itu.
Seketika prajurit tersebut terdiam saat Tony memarahi mereka.
“Dari pada kalian semua bikin rusuh di sini, lebih baik kalian pergi saja dari sini sekarang juga. Jangan ada yang masuk ke sini lagi, ini perintah! Kalian mengerti?” Titah Tony kepada semua prajurit tersebut.
Tanpa bisa menolak, semua prajurit tersebut langsung pergi keluar dari kamar Bara di rawat.
“Maaf Dr. Sian, mereka semua tidak tahu jika Dr. Sian adalah istri Kapten. Mohon pengertiannya.” Ucap Tony pada Sian.
“Tidak apa-apa, saya mengerti. Tidak perlu sampai meminta maaf seperti itu.”
“Baiklah kalau begitu, saya akan meninggalkan Dr. Sian sendirian di sini untuk bersama Kapten. Saya pergi dulu, nikmati waktu Dr. Sian bersama Kapten.”
Tony langsung pergi keluar dari ruangan tersebut. Hanya menyisakan Bara dan Sian di dalam sana. Tony sengaja memberikan waktu bagi Sian untuk bersama dengan suaminya Bara.
Setelah Tony pergi keluar, Sian kembali duduk di samping Bara dengan menggenggam erat tangan suaminya itu. Tatapan sendu melihat Bara yang sudah tiga hari tidak juga sadarkan diri setelah operasi selesai.
“Mas, aku mohon bangunlah, jangan membuatku terus mengkhawatirkan mu seperti ini.” Sian menggenggam erat satu tangan Bara dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Dr. Sian waktu istrinya sudah selesai, sudah waktunya kembali bertugas.” Ucap Ayudia yang baru saja datang.
“Baiklah, saya mengerti.” Sian terlihat sedih karena harus kembali bertugas setelah jam istirahat selesai.
Karena terlalu khawatir akan suaminya itu, setiap waktu Sian akan selalu datang mengecek keadaan Bara. Dia tidak pernah lelah untuk memastikan jika suaminya baik-baik saja, walaupun di sela-sela saat dia bertugas.
Masih bersikap profesional, Sian pergi keluar untuk bertugas kembali. Dia tidak ingin mengabaikan tugasnya, walaupun merasa sangat khawatir dengan suaminya itu. Kemudian Sian pergi keluar dari ruangan Bara di rawat, dia kembali bertugas seperti biasanya.
Waktu terus berjalan, hingga sudah tak terasa hari menjelang malam. Saat jam bertugasnya selesai, Sian kembali ke kampnya untuk membersihkan dirinya dan mengati pakaiannya. Kemudian dia berencana akan pergi menemui Bara. Saat malam seperti ini, tidak ada lagi orang yang akan datang membesuk Bara. Hanya akan dirinya seorang datang menemui suaminya itu.
Sesampai Sian di sana, Sian sangat terkejut saat melihat Bara tidak ada lagi di sana. Dengan cepat dia melangkah kakinya mendekati tempat tidur yang sudah kosong tersebut.
“Ke mana perginya dia? Apakah dia sudah sadar?”
Tidak mau berdiam diri, Sian langsung membalik badannya untuk keluar dari sana untuk mencari suaminya Bara. Saat dia hendak keluar ada tangan yang kokoh menjerat perut Sian dari belakang, hingga tubuhnya terangkat masuk kembali ke dalam ruangan tersebut.
“Aaahh....,” teriak Sian mengamuk dalam jeratan tersebut.
“Mas Bara?”
Bara langsung menurunkan Sian dari jeratan-nya. Tanpa mengulur waktu lagi Sian langsung memeluk suaminya detik itu juga. Bara sangat terkejut saat istrinya itu langsung memeluknya dengan sangat erat. Tidak lama Sian memeluknya, tiba-tiba terdengar suara tangis Sian pecah.
“Sayang, ada apa denganmu?” tanya Bara bingung, kenapa tiba-tiba istrinya itu menangis.
Sian tidak menjawabnya dan malah semakin menangis dengan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
“Eng...hik...hik...hik,” tangis Sian sembari semakin mengeratkan pelukannya pada Bara.
__ADS_1
Tanpa bertanya lagi, Bara mengangkat tangan kokohnya itu untuk membalas pelukan istrinya itu. Bara menepuk-nepuk punggung istrinya itu untuk menenangkannya, dan di sertai dengan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya itu.
“Udah dong, jangan menangis lagi nanti di dengarkan oleh orang lain, bagaimana?” Ucap Bara menenangkan Istrinya itu.
“Biarkan saja, masa bodoh.” Sian terus menangis dan membenamkan wajahnya di dada Bara. Tidak peduli kepada siapa pun, Sian akan tetap menangis dengan memeluk suaminya itu sampai puas.
Bara hanya tertawa kecil, dia tidak mengira jika istrinya Sian memiliki sisi manja dalam dirinya yang keras kepala itu.
“Sampai kapan kamu akan terus menangis seperti ini?” Bara terus memeluk Sian sembari menepuk-nepuk punggung istrinya itu.
“Sampai aku merasa puas dan lega.” Terdengar Suara Sian yang serak karena terlalu lama menangis.
Sejujurnya selama ini Sian menyembunyikan ketakutannya akan kehilangan suaminya Bara. Makanya saat Bara sadar dia menangis sepuasnya untuk melepaskan semua rasa takut dan kekhawatirannya. Dengan memeluk erat suaminya itu, Sian bisa bernafas lega dan terasa hidup kembali setelah apa yang terjadi padanya.
“Angkat kepalamu, tatap mas sekarang.” Ucap Bara sembari menarik ujung dagu Sian dengan ujung jarinya.
“Mas tidak tahan melihatmu menangis seperti ini, jadi mas mohon berhentilah menangis. Jangan biarkan air mata berharga ini terjatuh lagi.” Sambung Bara sembari menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya itu. Dengan sangat lembut sekali Bara menghapus sisa air mata istrinya itu dengan menggunakan ibu jarinya.
“Aku mohon berhentilah menangis, mas tidak bisa melihat mu terus-terusan menangis seperti ini.” Bara terus meminta Sian untuk berhenti menangis saat itu juga.
“Mas tidak tahu saja saat aku melihat mas terluka dan tidak sadarkan diri beberapa hari sangat membuatku takut. Aku kira mas akan meninggalkan aku sendirian.” Sian kembali meneteskan air matanya, dan Bara kembali menghapus air mata itu dari wajah cantiknya itu.
“Mas tidak akan meninggalkan mu sendirian, buktinya mas baik-baik saja dan mas masih bisa berdiri di hadapan mu sekarang.” Ucap Bara sembari menunjukkan jika dirinya baik-baik saja saat ini.
“Itu karena mas beruntung saja, apa mas tahu selama aku mengoperasi mas, ada banyak hal yang terjadi yang tidak mas ketahui. Aku hampir kehilangan harapan saat operasinya tidak berjalan lancar seperti yang aku harapkan.” Sian meninggikan suaranya, karena dia sangat kesal sekali dengan ucapan Bara yang mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Yang Sian tahu adalah jika suaminya itu hampir kehilangan nyawanya.
“Ush...maafkan mas, mas tidak tahu apa yang kamu rasakan. Jadi tolong maafkan mas ya.” Ucap Bara yang kembali memeluk istrinya itu dengan erat.
__ADS_1
Sungguh Bara tidak tahu jika istrinya Sian sekhawatir itu pada dirinya.
.