Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 80


__ADS_3

Kehadiran Malik bersama seorang jenderal yang tak lain merupakan atasan Bara, membuat Sian sedikit bingung dan terkejut karena kehadiran mereka. Awalnya memang terasa canggung, tetapi seiring waktu Sian bisa menyesuaikan dirinya untuk menghadapinya. Mereka pun kini tengah duduk dan saling menatap serius satu sama lain.


“Boleh saya tahu maksud kedatangan kalian ke kemari menemui saya?” tanya Sian serius.


Begitu juga dengan kedua pria yang duduk di hadapan Sian saat ini. keduanya terlihat sangat serius sekali terutama pria paru baya yang mengenakan seragam hijau dengan baret bintang tiga di bahunya itu. Selain terlihat menakutkan, pria berpangkat jenderal itu juga menatap Sian dengan intens.


“Saya akan langsung ke inti dari kedatangan kami kemarin.” Suara jenderal tersebut terdengar sangat berat dan berwibawa. Sian yang mendengarnya pun langsung menanggapinya dengan sangat serius.


“Saya datang kemari bersama Malik untuk meminta bantuan dari Dr. Sian.” sambung jenderal tersebut.


“Meminta bantuan saya?”


“Benar, Malik yang rekomendasikan mu karena kemampuan luar biasa yang kamu miliki, saya sangat membutuhkan kemampuan itu untuk menjalankan sebuah misi.”


“Kemampuan saya dan sebuah misi?” Sian terlihat bingung dengan perkataan jenderal tersebut.


“Biar saya saja yang menjelaskan-Nya kepada Dr. Sian.” Ucap Malik.


Jenderal tersebut terlihat menganggukkan kepalanya. Dia mengizinkan Malik untuk menjelaskan-Nya kepada Sian dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.


“Begini Sian, maksud kedatangan kami kemari meminta mu untuk menyelamatkan seseorang yang sangat penting.”


“Kenapa harus saya? Kenapa tidak dokter lain atau tidak kamu saja yang menyelamatkannya?” secara tidak langsung Sian menolak.


“Jika saya bisa tidak mungkin kami datang kemari untuk meminta bantuan mu.” Sahut Malik yang tidak mau kalah.


“Kenapa tidak bisa, bukanya kamu sangat mampu.” Sian juga terlihat tidak mau kalah dari Malik.


“Sian, misi ini tidak semudah yang kamu katakan. Jika mereka mengizinkan Dokter Pria maka sudah dari sejak awal saya melakukannya. Namun, kenyataannya tidak bisa, mereka meminta seorang dokter wanita.” Jelas Malik.

__ADS_1


Fakta yang di katakan Malik mampu membuat Sian kehilangan kata-kata. kali ini Sian tidak bisa membantah apa yang di katakan Malik padanya.


“Sian untuk pertama kalinya saya meminta bantuan mu, hanya kamu yang bisa menjalankan misi ini.” ucap Malik kembali.


Untuk beberapa saat Sian tidak berkata apa pun, dia tidak bisa menolak atau pun langsung menerima tawaran tersebut begitu saja. Ada begitu banyak hal yang harus di pertimbangkan oleh Sian dalam mengambil keputusan yang tepat.


“Sebelum saya membuat keputusan, saya ingin tahu siapa yang akan saya selamatkan itu, dan apa untungnya bagi saya dan Negara?” Tanya Sian terang-terangan.


Kedua pria yang duduk di hadapan Sian tersebut sedikit ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Sian.


“Saya tahu ini tidak mudah untuk mengatakannya. Namun, jika kalian tidak ingin mengatakannya maka saya akan menolaknya.” Ucap Sian mengancam. “Saya tidak ingin menempatkan Diri saya dalam misi yang berbahaya.” Ucap Sian kembali.


Sian sangat tahu jika seorang abdi Negara tidak bisa membocorkan informasi tentang misi mereka, apa pun kondisi-Nya seorang abdi Negara tidak boleh membocorkan apa pun tentang informasi Negara mereka walaupun mereka harus mati demi melindungi informasi tersebut. Namun, kali ini kondisi-Nya berbeda, dia harus mengetahui semua tentang informasi misi tersebut. Bukan tanpa alasan kenapa Sian ingin tahu semua informasi misi yang akan melibatkan dirinya di dalamnya.


“Jika saya memberitahukan semua informasi tentang misi ini apakah kamu mau menerima tawaran kami? Sama seperti dirimu, kami juga harus menempatkan informasi ini seaman mungkin jangan sampai bocor ke publik.” Kata jenderal tersebut pada Sian.


 


Tanpa basa basi pria tegas berseragam hijau tersebut mulai menjelaskan misi tersebut kepada Sian. Dari awal sampai akhir Sian mendengarkannya dengan serius tanpa ada yang ter-lewatkan. Setelah mendengarkan penjelasan dari Jenderal tersebut Sian mengajukan pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan sejak dari tadi.


“Orang yang sangat penting yang akan menjadi jaminan nantinya adalah anak saya, dia adalah adik dari Malik, namanya Melisa. Selama ini, Melisa selalu bepergian menjadi duta relawan di berbagai Negara. Ini pertama kalinya kami kehilangan kontak dengannya saat menjadi relawan di Irak. Saat kami mendapat kabar tentang keberadaannya, ternyata Melisa menjadi tahanan ilegal bawah tanah. Syarat untuk membebaskannya, kami harus memenuhi permintaan dari mereka yang menjadikan Melisa tahanan bawah tanah tersebut.”


“Mereka itu siapa?” Seru Sian.


“Mereka adalah tentara gelap yang di latih secara ilegal tanpa sepengetahuan pemerintahan Irak. Merak di latih secara rahasia untuk melindungi orang-orang peting di dunia mafia dan di bayar untuk menjaga kelangsungan jual beli senjata ilegal. Yang paling penting adalah mereka di latih khusus untuk membunuh dan di bunuh secara kejam.”


Sian mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendengarkan apa yang di katakan oleh pria paruh baya tersebut, mana mungkin dia terlibat dalam misi yang sangat berbahaya itu. Namun, Sian juga tidak bisa mengabaikan Melisa begitu saja. Setelah mendengarkan penjelasan dari jenderal tersebut mengingatkannya kepada mendiang sang ayah Damian. Melihat ekspresi ke putus asaan kedua pria yang ada di depannya itu membuat Sian tidak tega menolaknya.


“Boleh saya bertanya satu hal?” Tanya Sian yang sangat serius.

__ADS_1


“Tentu saja kamu boleh bertanya, katakan apa yang ingin kamu tanyakan?” sahut jenderal tersebut.


Sekilas sian menatap ke samping jenderal tersebut, dia menatap ke arah Malik yang duduk di sana. Setelah beberapa menit Sian kembali menatap pria paru baya yang duduk di depannya itu, kemudian dia mengajukan pertanyaannya.


“Apakah misi ini, Bara mengetahuinya?”


“Tentu saja tidak, saat ini Dia dan tim-Nya sedang menjalankan tugas yang sangat penting di luar sana.” Jawab singkat jenderal tersebut.


Sian menganggukkan kepalanya mengerti, sementara itu Malik menatapnya dengan tatap yang tak bisa di artikan. Tatapan Malik lebih mengarah kekecewaan dan penyesalan saat mendengarkan pertanyaan yang di lontarkan Sian pada jenderal tersebut.


“Boleh saya bertanya satu hal lagi?”


“Tentu, tanyakan saja.”


“Berapa persen tingkat keberhasilan dari misi ini?”


Untuk terakhir kalinya Sian memastikan keamanan dalam misi jika dia melibatkan ingin dirinya di dalamnya. Sebaliknya sian mendapatkan jawaban yang tidak menguntungkan dirinya.


“Kami tidak bisa menganggap misi ini akan berhasil, tetapi saya akan berkata jujur pada mu, kemungkinan besar misi ini akan gagal dan kemungkinan besar juga akan membahayakan nyawamu dan Anak saya Melisa. Namun, saya berjanji akan melindungi mu dan Melisa dalam keadaan apa pun. saya akan bertanggung jawab atas keselamatan kalian berdua.”


Mata yang penuh harapan dan ke putus asaan itu mengingatkan Sian kembali kepada mendiang sang ayah Damian. Saat terakhir kalinya Sian mengingat tatapan itu saat Damian meninggal di depan matanya. Rasa sakit kehilangan saat itu, Sian tidak ingin orang lain juga merasakan apa yang dia rasakan.


“Baiklah saya setuju bergabung dalam misi ini, tentu saja dengan syarat kalian harus melindungi saya sepenuhnya dalam misi ini.”


“Tentu saja, tanpa kamu minta pun saya akan melindungi mu dan Melisa sampai misinya selesai.”


Keduanya pun langsung berjabat tangan menandakan jika kedua belah pihak sepakat.


 

__ADS_1


__ADS_2