Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 67


__ADS_3

Flashback on


Jepang, tiga tahun yang lalu.


Suara gesekan tongkat besi di lantai terus terdengar di telinga Sian saat ini. Suara itu semakin mengintimidasinya, rasa takutnya semakin memuncak mendengar suara gesakan tongkat besi itu yang semakin mendekatinya. Semakin dekat dan semakin dekat saja suara tersebut. Namun, tiba-tiba suara tersebut menghilang begitu saja. Karena merasa penasaran Sian membuka matanya, dan tada...pria itu sudah berdiri di depannya dengan memegang tongkat besi di tangannya.


“Sayang aku menemukan mu, dan kau gagal dalam misi ini. Jika gagal maka kau akan mendapatkan hukumannya sekarang juga.” Ucap pria itu sembari ingin menggayungkan tongkat besi tersebut ke arah sian yang sedang meringkuk di lantai.


Bugh! Satu pukulan keras mendarat di tubuh Sian.


“Aw...” jerit Sian kesakitan.


“Hahahaha...” pria ini sangat menikmati sekali saat Sian menjerit kesakitan.


Bugh! Pukulan kedua mendarat tepat di perut Sian.


“Hahaha, bagaimana rasanya? Apakah cukup untuk membuat mu menuruti apa yang aku perintahkan.”


Sekilas Sian menatap ke arah wajah menakutkan pria yang memukulinya itu. Rasa takut dan jijik bercampur aduh terlihat di wajah Sian saat ini.


Pria ini semakin marah Saat melihat tatapan dan ekspresi wajah Sian. Dia sangat tidak menyukai tatapan mata Sian saat menatapnya barusan.


Tanpa memberi ampun pria ini langsung mengangkat tongkat besi di tangannya itu untuk memukul Sian kembali dengan keras.


Bugh!


Bugh!


Bugh!

__ADS_1


Berkali-kali pria ini memukul Sian tanpa henti. Rasa sakit yang begitu menumpuk membuat Sian tak bisa bergerak lagi. Tidak puas, pria itu kembali mengayunkan tongkat besinya untuk memukul Sian. Namun, di saat yang sama ada seseorang yang menghentikannya.


“Hentikan! Jangan berani-raninya kau menyentuhnya lagi!”


“Hahaha...akhirnya kau datang juga Kenzo.”


“Jauhkan tangan mu darinya, jika tidak ingin mati di tanganku!” ancam Kenzo dengan wajah yang sangat menakutkan.


“Hahaha...Kenzo, apakah kau lupa jika saya adalah Bernardus.” Ucap Bernardus tak bergeming sama sekali dengan ancaman Kenzo.


“Saya adalah ketua mafia yang paling menakutkan di jepang ini.” lanjut Bernardus sombong.


“Hahaha....kau boleh menyombongkan dirimu di depan siapa pun, tetapi tidak di depan saya. Apa kau lupa jika kedudukan mu sangat jauh di bawah saya. Kau tidak ada apa-apanya di mataku!”


Dengan kuat Kenzo merebut tongkat besi di tangan Bernardus, yang di ikuti sebuah pukulan keras di wajahnya. Seketika sudut bibir Bernardus mengeluarkan darah, dengan santainya Bernardus menyekat darah di ujung bibirnya itu dan kemudian dia meludah di depan Kenzo dengan berkata.


Kenzo mengepal kuat kedua tangannya saat melihat kaki Bernardus berada di atas kepala Sian. Wajahnya memanas karena menahan amarahnya yang sudah memuncak.


“Kenapa seorang Kenzo tidak bisa melindungi wanitanya saat ini? Apakah kau tidak lihat jika wanita mu saat ini sedang sangat kesakitan. Ayo Kenzo tolong dia, jangan diam saja seperti itu, apakah kau tidak lihat dia sudah sangat menderita sekali. Hahaha...” tanpa merasa takut sama sekali dengan Kenzo. Bernardus malah menekankan kakinya di atas kepala Sian.


“Jauhkan kaki mu darinya sekarang juga!” bentak Kenzo yang hampir kehilangan kendalinya.


Bernardus tidak bergeming sama sekali, dia malah semakin memancing kemarahan Kenzo dengan menyakiti Sian.


“Saya sudah memperingati mu Bernardus, jangan salahkan saya jika semua yang kau miliki hancur berkeping-keping tanpa menyisihkan apa pun lagi.” Ucap Kenzo memperingatkan Bernardus.


“Hahaha...saya tidak takut sama sekali dengan ancaman mu itu! Jika memang kau berani melakukan itu, sudah sejak dari tadi kau akan melakukannya tanpa memberi tahukannya kepada saya.” Bernardus terlihat meremehkan dan mengabaikan peringatan dari Kenzo kepadanya.


“Baiklah jika itu yang kau inginkan.” Kenzo mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Gerakan semua anak buah untuk menghancurkan semua bisnis, wilayah, semua anggota mafia dan keluarganya Bernardus. Apa pun yang bersangkutan dengan Bernardus lenyapkan semuanya, jangan sampai terlewatkan satu pun.” ucap Kenzo memperintahkan anak buahnya untuk menghancurkan semua milik Bernardus.


Setelah mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, Bernardus mulai merasa takut. Terdengar jelas jika Kenzo memperintahkan anak buahnya untuk menghancurkan semua yang dia miliki. Tidak mau terpengaruh dengan ucapan Kenzo barusan, Bernardus masih bersikap tenang dan tidak ingin melepaskan Sian begitu saja.


Beberapa detik kemudian, ponsel Bernardus berbunyi. Anak buahnya meneleponnya. Sekilas Bernardus menatap ke arah Kenzo.


“Kenapa kau tidak mau mengangkat telepon mu? Kali saja ada kabar yang harus kau dengar dari anak buah mu itu.” Ucap Kenzo yang membuat Bernardus sedikit takut mengangkat teleponnya.


Merasa dirinya tidak takut sama sekali dengan ancaman Kenzo, Bernardus langsung mengangkat teleponnya dengan sombong.


“Halo, katakan ada apa?” seru Bernardus ketika teleponnya tersambung.


Dalam hitungan detik Bernardus bergeming, seketika Bernardus membanting ponselnya hingga hancur setelah mendengar perkataan anak buahnya barusan di telepon. Saking marahnya, Bernardus menekankan kakinya dengan sangat kuat di kepala Sian.


Tanpa mengeluarkan suaranya, Sian berusaha mengerakkan tangannya untuk meminta pertolongan Kenzo. Air mata yang membedung sejak dari tadi kini air mata itu mengalir keluar, rasa sakit yang bertumpu di kepalanya membuat Sian tidak bisa menahannya lagi. Satu-satunya cara adalah memohon pengampunan Kenzo agar mau menyelamatkannya dari siksaan Bernardus.


Melihat air mata kesakitan Sian yang mengalir, Kenzo tidak bisa menahan dirinya lagi. Dengan cepat Kenzo mengambil senjata di belakangnya dan menembakkannya ke arah Bernardus. Duar! Peluruh menembus pinggang Bernardus. Selang beberapa detik kemudian Duar! Kaki Kenzo tertembak. Seketika Kenzo dan Bernardus jatuh ke bawah secara bersamaan.


Sejujurnya, selama ini Kenzo menahan dirinya agar tidak menolong Sian sejak dari awal. Semenjak dia datang, ternyata di tempat tersebut sudah di kepung oleh anak buah Bernardus. Makanya Bernardus sangat berani menantang Kenzo. Sejak dari awal Kenzo hanya datang seorang diri untuk menyelamatkan Sian. Satu tarikan pelatuk maka satu peluru menembus tubuhnya juga.


Karena melihat wanitanya menderita, pada akhirnya Kenzo terpancing menarik pelatuk senjata apinya untuk menghabisi Bernardus saat itu juga. Namun, tidak semudah yang di bayangkan, jika menembak Bernardus maka dirinya juga akan tertembak detik itu juga, Seperti saat ini. Dia tertembak dan beruntungnya, anak buah Bernardus hanya menembak kakinya.


Beberapa detik Kenzo tertembak di kaki, anak buahnya datang mengepung tempat tersebut dan membunuh semua anak buah Bernardus dalam sekejap. Bernardus yang sudah berlumuran darah terbaring di samping Sian yang terluka babak belur.


Kenzo yang hanya terluka di kaki, dia langsung menyeret kakinya yang terluka untuk mendekati Sian.


“Sayang apakah kamu baik-baik saja?” tanya Kenzo sembari memangku kepala Sian.


“Kenzo, maaf-kan aku kare-na tidak mendengar-kan dan mematuhi per-kataanmu.” Ucap Sian terbata-bata dengan menatap Kenzo penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2