
Sudah lima jam Sian tidak sadarkan diri. Tidak sedetik pun Bara pergi meninggalkan istrinya itu, dia selalu berada di sisinya.
“Sayang maafkan mas, karena kelalaian mas kamu menjadi seperti ini.”
Bara semakin menggenggam erat tangan istrinya itu. Kemudian dia mengecup tangan dingin itu dengan penuh perasaan menyesal setelah apa yang terjadi selama ini.
Bara terus menghelakan nafas panjangnya saat melihat wajah pucat tanpa serat darah milik Sian. Hatinya sangat hancur dan terluka saat melihat wajah itu, di dalam benaknya di penuh dengan pikiran yang membuat Bara frustasi. Dia terus berpikir bagaimana kehidupan yang di jalani istrinya itu selama berpisah darinya. Memikirkannya saja membuat hati Bara terasa runtuh. Tak hanya itu saja, Bara semakin merasa bersalah saat melihat Sian terus bermimpi buruk selama dia tidak sadarkan diri. Bara yang terus berada di sampingnya itu, semakin tidak ingin melepaskan tangan istrinya itu.
“Tidak, jangan menendangnya...” ucap Sian dalam tidurnya. “Saya mohon jangan pukul saya...” sambung Sian mengigau.
Setelah beberapa detik mengingau, Sian pun terbangun dari tidurnya. Perlahan dia membuka matanya dan wajah yang pertama kali dia lihat adalah wajah suaminya Bara. Dia termenung dan terus menatap wajah pria itu tanpa berkedip sedikit pun, kemudian perlahan air mata yang membendung kini mengalir keluar membasahi pipi lembutnya. Bara pun langsung menghapus jejak air mata itu sangat lembut sembari dengan ujung jarinya dan sembari berkata.
“Tidak apa-apa mas ada di sini bersama mu, kamu sudah aman sekarang.”
Bara langsung memeluk erat istrinya untuk menenangkannya. Namun, bukan tenang Sian semakin menangis dengan kencang seperti orang yang sangat hancur sekali. Sedangkan Bara tidak mengerti mengapa istrinya malah semakin hilang kendali dan menangis, tetapi Bara tetap memeluknya tanpa melepaskannya.
“Sayang, mas mohon tenang lah.”
“Aaahggrr....”
Sian tambah semakin menangis sehancur-hancurnya saat mendengar perkataan Bara barusan. Tidak cukup sebatas itu saja, Sian mendorong tubuh Bara menjauh darinya dan kemudian dia memukul dirinya sendiri seakan dirinya lah yang bersalah.
“Sayang ada apa denganmu? Jangan seperti ini, katakan pada mas jangan menyakiti dirimu sendiri.”
Bara berusaha menghentikan Sian memukuli dirinya sendiri. Dia mencoba menenangkan istrinya itu walaupun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bara tidak ingin Sian menyakiti dirinya sendiri hingga dia menahan tubuh Sian dengan mendekapnya.
“Mas lepaskan aku, biarkan saja aku menerima semua pukulan ini.”
“Tidak, mas tidak akan membiarkan mu menyakiti dirimu mu sendiri seperti ini, kamu tidak pantas menerimanya.”
Getaran hati Sian semakin melonjak mendengar apa yang di katakan Bara. Sian tidak bisa menerima perkataan suaminya itu.
“Cukup mas, berhenti berkata seperti itu!”
Tiba-tiba Sian membentak Bara yang sedang memeluknya itu. Seketika Bara melepaskan pelukannya dan beranjak berdiri sembari menatap bingung ke arah Sian.
__ADS_1
“Aaarrrgghh...” jerit Sian.
“Ada apa dengan mu? Tolong katakan ada apa? Mas tidak mengerti jika kamu tidak berbicara seperti ini, tolong beritahu mas ada apa sebenarnya?!”
Seketika Bara kesal dan emosional karena frustasi dengan sikap Sian yang tidak bisa dia mengerti sama sekali. Sebaliknya tangis Sian semakin menjadi-jadi setelah Bara berbicara keras kepadanya. Bara semakin bingung dan marah melihat istrinya malah semakin menangis.
“Aaaahh...” jerit Sian kembali.
“Cukup Sian! Berhenti menangis seperti ini, ada apa dengan mu sekarang?”
Bara semakin kesal dan kesal karenanya. Entah kenapa istrinya seperti itu, dia merasa ada yang tidak beres kepada istrinya itu. Bara mendekat dan berjongkok sembari menggenggam salah satu tangan Sian dan berkata.
“Please...beritahu mas, apa yang sebenarnya terjadi pada mu?”
Bara memohon kepada Sian untuk memberitahunya. Dia tidak bisa melihat wanita yang dia cintai menangis seperti ini.
“Tolong beritahu mas, ada apa?”
Sian masih menangis, tapi tangisnya sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Sejujurnya Sian tidak bisa mengatakannya, tetapi saat melihat Bara sudah putus asa dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti itu, pada akhirnya Sian mengatakan apa yang sebenarnya yang dia simpan di dalam dirinya itu.
Bara menatap tidak mengerti, dia bingung apa yang di bicarakan Dian padanya. Anak siapa yang di maksudkan istrinya itu, Bara tidak mengerti sama sekali.
“Anak siapa?”
Sian terlihat ragu-ragu untuk menjelaskannya, tetapi di tetap mengatakannya.
“Anak Kita, dia baru berumur empat minggu, dan aku kehilangannya.”
Bara membeku seketika, dia kehilangan kata-kata.
“Semuanya adalah kesalahan ku, jika aku tidak kabur hari itu, mungkin anak kita sudah lahir dan dokter Siska tidak akan mungkin mati.”
Dokter Siska adalah dokter yang membantu Sian keluar dari penjarah bawah dan pada akhirnya mati tertembak saat membatu Sian Kabur. Setelah kematian dokter Siska dan mengalami keguguran, Sian memendam semua penderitaan dan penyesalannya di dalam hati. Dan setelah sekian lama, ini baru pertama kalinya Sian mengeluarkan semuanya dari dalam hatinya. Penderitaan yang membuat Sian terluka sehingga mengalami depresi ringan.
Sementara itu Bara diam seribu bahasa. Dia tidak menyaka jika dia sempat menjadi seorang ayah walaupun itu hanya sesaat. Namun, semua itu berhasil menjadi pukulan keras bagi kehidupan pernikahan Bara dan Sian. Keduanya sama-sama sangat menderita karena hal tersebut.
__ADS_1
“Aku adalah ibu yang tidak berguna, untuk melindunginya saja aku tidak bisa.”
Sian kembali menangis, dia tidak bisa menahan air matanya itu setelah sekian lama menahannya. Bara pun langsung memeluk Sian kembali dengan sangat erat sembari berkata.
“Jangan salahkan dirimu, semuanya adalah takdir mungkin tuhan belum bisa memberikan kita keturunan, bisa saja dia akan mempercayakan kita mendapatkan keturunan lagi entah kapan pun waktunya kita harus sabar menunggu.”
Sejujurnya Bara juga sangat hancur saat mengetahui jika mereka telah kehilangan anak mereka. Namun, tidak di perlihatkan oleh Bara karena dia tidak ingin membuat istrinya Sian semakin hancur dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga anak mereka selama berada di dalam kandungannya.
“Sudah jangan menangis lagi, jangan salahkan dirimu seperti ini.”
Sian menganggukkan kepalannya pelan dan kemudian dia berkata. “Mas, aku ingin pulang ke rumah sekarang.”
“Baiklah sebentar lagi mas akan membawa mu pulang, beri waktu tiga puluh menit bagi mas untuk mempersiapkannya.”
Bara mengelus lembut rambut Sian kemudian dia mengecup pelan kelapa istrinya itu lalu dia beranjak pergi untuk mempersiapkan segalah hal untuk kepulangan mereka ke negaranya dalam waktu singkat. Hal yang paling ingin Bara lakukan saat ini adalah membawa Sian pulang, untuk hal yang lainnya dia tidak ingin dulu memikirkannya. Hal yang sangat penting saat ini adalah istrinya, walaupun dia sangat hancur karena kehilangan sosok anak yang tak sempat dia ketahui itu. Namun, dia tetap bersyukur karena di pertemukan kembali dengan istrinya.
__ADS_1