
“Sembunyikanlah dirimu sayang, Saya beri waktu dua menit untuk mu bersembunyi, dan jika kau berhasil bersembunyi dari saya selama lima menit, akan saya lepaskan dirimu.” Ucap seorang pria yang menakutkan kepada Sian.
Sian yang di beri kesempatan langsung bersembunyi di tempat yang paling gelap dan sempit.
“Tiga dua satu, waktunya sudah habis untuk bersembunyi. Kini giliran saya untuk mencari keberadaan mu sayang.”
Pria menakutkan itu mulai membuka matanya dan melangkahkan kakinya maju dengan memegang sebuah tongkat besi berbentuk silinder di tangannya, sembari mencari sosok Sian yang bersembunyi.
“Sayang, kau di mana?” suara pria menakutkan itu terdengar sangat membuat Sian merinding.
“Sayang...” panggilnya kembali.
Sian menutup rapat mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa takutnya pada pria tersebut.
Tuk! Tuk! Tuk! Pria itu mengetukan tongkat besi silinder di tangannya itu di setiap beda di sampingnya.
“Sayang...kau bersembunyi di mana?”
Sian tetap bersembunyi di tempatnya dengan menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Bugh!! Pria tersebut memukul sesuatu dengan menggunakan tongkat besi di tangannya itu untuk menakuti Sian yang sedang bersembunyi.
“Sayang, apakah kau dengar suara barusan? Jika saya menemukan dirimu, maka nasibmu akan sama seperti benda yang saya pukul itu, hahaha.”
Mendengar ucapan pria tersebut semakin membuat Sian bergetar dan ketakutan setengah mati. Tidak ingin mendengarkan suara pria tersebut, Sian menutup kedua telinganya dengan menggunakan kedua tangannya.
Tidak hanya itu saja, pria itu mengeret tongkat besi di tangannya di lantai hingga mengeluarkan suara nyaring yang menakutkan di telinga Sian saat ini. Semakin dekat suara tersebut, semakin Sian membeku dan meringkuk di tempat persembunyiannya dengan kedua mata tertutup dan nafas yang tertahan di dada.
“Waktunya masih tersisa satu menit lagi sayang, jika kau bisa bertahan selama satu menit bersembunyi dari saya, kau boleh pergi meninggalkan tempat ini.” Ucap pria tersebut sembari terus melangkahkan kedua kakinya mendekati Persembunyian Sian.
Suara gesekan tongkat besi di lantai terus terdengar di telinga Sian saat ini. Suara itu semakin mengintimidasi Sian, rasa takutnya semakin memuncak mendengar suara gesakan tongkat besi itu yang semakin mendekatinya. Semakin dekat dan semakin dekat saja suara tersebut. Namun, tiba-tiba suara tersebut menghilang begitu saja. Karena merasa penasaran Sian membuka matanya, dan tada...pria itu sudah berdiri di depannya dengan memegang tongkat besi di tangannya.
“Sayang aku menemukan mu, dan kau gagal dalam misi ini. Jika gagal akan mendapatkan hukumannya sekarang juga.” Ucap pria itu sembari ingin menggayungkan tongkat besi tersebut ke arah sian yang sedang meringkuk di lantai.
Bugh! Satu pukulan keras mendarat di tubuh Sian.
__ADS_1
“Aw...” jerit Sian kesakitan.
“Hahahaha...” pria ini sangat menikmati sekali saat Sian menjerit kesakitan.
Bugh! Pukulan kedua mendarat tepat di perut Sian.
“Hahaha, bagaimana rasanya? Apakah cukup untuk membuat mu menuruti apa yang aku perintahkan.”
Sekilas Sian menatap ke arah wajah menakutkan pria yang memukulinya itu. Rasa takut dan jijik bercampur aduh terlihat di wajah Sian saat ini.
Pria ini semakin marah Saat melihat tatapan dan ekspresi wajah Sian. Dia sangat tidak menyukai tatapan mata Sian saat menatapnya barusan.
Tanpa memberi ampun pria ini langsung mengangkat tongkat besi di tangannya itu memukul Sian kembali dengan keras.
“Tidak, tidak, tidak...” ucap Sian yang terus menutupi kedua telinganya.
Bara yang ada di sana langsung berjongkok dan memeluk erat istrinya itu dalam dekapannya.
“Sayang, apa yang terjadi padamu?”
“Jangan pukuli saya,” ucap sian yang tidak sadar, dia masih tenggelam dalam ingatannya yang mengerikan itu.
“Sayang, apa yang kamu katakan? Siapa orang yang memukulimu?” tanya Bara yang bingung.
“Saya mohon, jangan pukuli saya lagi.” Ucap Sian kembali yang masih belum tersadarkan.
Di waktu yang sama Raihan masuk ke dalam perpustakaan mini tersebut, dan hendak menghampiri Bara dan sian yang berada di balik rak buku yang paling akhir.
“Mama...” panggil Raihan.
“Raihan jangan mendekat,” ujar Bara dengan cepat kepada Raihan.
Seketika Raihan menghentikan langkah kakinya.
“Raihan keluar dari sini sekarang juga.” Titah Bara pada Raihan.
__ADS_1
Tanpa menolak, Raihan langsung melangkah keluar dari perpustakaan mini tersebut, dan menunggu di luar.
Di sisi lain Sian masih gemetar ketakutan di dalam pelukan suaminya Bara. Untuk beberapa saat Sian masih belum sadar sepenuhnya.
Bara yang sangat khawatir dengan keadaan Sian, dia terus menenangkan istrinya itu di dalam pelukannya. Hingga pada akhirnya Sian tidak sadarkan diri di dalam dekapannya.
Apakah mungkin Sian mengingat kejadian 4 tahun yang lalu?
Bara terlihat sangat khawatir sekali saat ini. Setelah istrinya itu tidak sadarkan diri, dia langsung mengendong tubuh istrinya itu kembali ke kamar. Sementara itu Raihan mengikuti dari belakang tanpa bersuara sedikit pun.
Perlahan Bara membaringkan tubuh istrinya itu di atas tempat tidur. Lalu dia menyelimuti seluruh tubuh Sian dengan selimut tebal.
“Papa, apa yang terjadi kepada mama?” tanya Raihan yang juga berada di sana.
“Tidak terjadi apa-apa, mama hanya kelelahan saja.” Jawab Bara berbohong kepada Raihan.
“Oh...berarti mama sedang tertidur sekarang.” Ucap Raihan polos.
“Ia, mama sedang tidur sekarang. Raihan ikut papa keluar, biarkan mama beristirahat sekarang.”
Bara mengajak Raihan keluar dari kamar Sian. Dia membiarkan istrinya itu tertidur sendirian di dalam kamarnya. Setelah Bara dan Raihan keluar dari kamar tersebut, Sian membuka matanya.
Apa yang sebenarnya yang sudah terjadi? Kenapa bisa aku memiliki ingatan yang mengerikan seperti itu?
Saat ini Sian sangat bingung sekali, dan juga rasa penasarannya membuat dirinya ingin terus mengali ingatan yang baru saja muncul di ingatannya itu.
Tak lama Sian membuka matanya, Bara kembali masuk untuk melihat keadaan Istrinya itu. Saat melihat Bara kembali masuk ke dalam kamarnya, Sian langsung memejamkan matanya kembali. Dia berpura-pura tertidur.
Bara duduk di tepian ranjang di samping Sian berbaring. Tangan besar Bara perlahan menyisikan rambut Sian yang terlihat menutupi bagian wajahnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu barusan sayang?” ucap Bara pelan.
“Baru kali ini aku melihatmu seperti ini, tolong katakan padaku jika kamu baik-baik saja.” Ucap Bara kembali kepada Sian yang tertidur. Atau lebih tepatnya berpura-pura tidur. Sian mendengarkan semua yang di ucapkan oleh Bara saat ini. Dia bisa merasakan jika suaminya ini sangat khawatir sekali pada dirinya.
Karena tidak mau membuat suaminya merasa lebih khawatir pada dirinya, saat di perpustakaan mini barusan Sian berpura-pura pingsan, saat sudah tersadarkan. Dia tidak ingin Bara bertanya banyak hal kepadanya saat itu, sedangkan dirinya tidak ingin menceritakan semua apa yang telah muncul di ingatannya barusan.
__ADS_1
Untuk sementara waktu, aku tidak ingin menceritakan apa yang baru saja muncul di ingatanku saat ini. Jika semuanya sudah jelas, aku janji akan menceritakan semuanya padamu mas.