
Tiga minggu kemudian.
Perbatasan Arab Saudi dan Irak atau di kenal dengan perbatasan Arar.
Terlihat tim Alpha tengah sedang bertugas di perbatasan Arar di malam yang gelap di padang pasir yang terbentang luas. Malam ini adalah malam terakhir Tim Alpha bertugas di perbatasan Arar. Setelah menyelesaikan tugas terakhir di perbatasan Arar Kini Tim Alpha yang di pimpin oleh Bara tengah bersiap untuk pulang ke negaranya setelah selesai menyelesaikan tugas mereka selama tiga bulan lamanya.
“Apakah kalian semua sudah siap?” seru Bara kepada anggota tim-Nya.
“Ya Kapten.” Jawab serempak Tim Alpha.
“Baiklah jika semuanya sudah siap langsung saja ke mobil sekarang, karena sebentar lagi pesawat yang akan menjemput kita akan tiba dalam tiga puluh menit lagi.”
“Siap Kapten.” Jawab Tim Alpha serempak.
Dengan tersenyum lebar, semua anggota tim Alpha dan Bara terlihat sangat bersemangat karena sebentar lagi akan kembali ke negaranya dan bertemu dengan keluarga yang sangat mereka rindukan selama tiga bulan bertugas. Namun, saat Bara dan tim-Nya hendak memasuki mobil Tony berlari ke arah Bara.
“Tunggu Sebentar kapten.” Teriak Tony. Terlihat wajah Tony yang serius sekali saat menatap Bara.
“Ada apa Tony?” tanya Bara.
“Maaf Kapten, sepertinya kita tidak bisa kembali sekarang.”
Dari perkataan barusan Bara sudah mengerti maksud ucapan Tony tersebut. Di dalam hati Bara sedikit kecewa tidak bisa pulang sekarang, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun saat ini untuk kembali ke negaranya karena memang sudah tugasnya untuk mematuhi dan menjalankan perintah atasan dan negaranya sendiri sebagai seorang Abdi Negara.
“Baik saya mengerti.” Jawab Bara dengan nada suara rendah.
“Satu lagi, Jenderal ingin berbicara dengan kapten sekarang juga.” Sambung Tony.
“Baiklah saya mengerti, Tony tolong kamu beritahu anggota tim Alpha tentang barusan. Saya akan pergi ke pusat komunikasi untuk berbicara dengan Jenderal sekarang.”
“Siap Kapten.” Sahut Tony sambil memberi hormat kepada Bara.
Setelah berbicara dengan atasannya, Kini Bara dan anggota tim-Nya di perintahkan mengambil ahli sebuah misi di Negara Irak yang tidak bisa di selesaikan oleh anggota tim lainnya. Karena keadaan darurat Bara dan Anggota tim-Nya langsung di perintahkan untuk menyelamatkan dua orang warga Negara-Nya yang di sekap di penjarah bawah tanah. Tanpa di beritahu siapa yang akan mereka selamatkan, Bara hanya tahu dia harus menyelamatkan dua orang wanita yang berstatus sebagai duta dan dokter.
__ADS_1
***
Irak
Penjara bawah tanah ilegal.
Seperti yang di duga keadaan penjarah bawah tanah di jaga dengan sangat ketat, tidak ada seseorang pun yang bisa masuk ke sana tanpa akses yang valid. Walaupun terlihat sangat ketat, ada banyak cela untuk bisa masuk ke dalam penjara bawah tanah tersebut. Cukup dengan menggunakan kekuatan uang siapa pun bisa masuk ke sana. Namun, tidak semua orang mampu dan bisa mengeluarkan uang untuk masuk ke sana. Seperti yang di perhatikan Sian sejak dua minggu lamanya, dia dan Melisa di sekap di penjara bawah tanah ini.
“Sian, kamu sedang apa berdiri sana?” tanya Melisa yang sejak dari tadi memperhatikannya.
“Tidak sedang apa-apa, saya hanya memperhatikan keadaan di luar sana.”
Sian pun beranjak duduk di samping Melisa. Keduanya terlihat dekat dan terbuka satu sama lain. Semenjak mengenal Melisa tiga minggu lalu Sian merasa seperti mengenal Malik, kepribadian Melisa dan Malik sangat mirip sekali tidak ada bedanya bagi Sian.
“Boleh saya bertanya padamu?” seru Melisa.
“Tanyakan saja,”
“Apa hubungan mu dengan kakak saya Malik? Apakah kalian berdua pacaran?” tanya Melisa.
“Terus kenapa kamu mau terlibat dalam misi penyelamatan ini jika bukan karena kalian berdua memiliki hubungan?” tanya Melisa kembali.
“Kamu terlalu berpikir jauh, kami tidak memiliki hubungan seperti yang kamu katakan barusan. Kami berdua hanya teman lama tidak lebih dan lagi pula saya sudah menikah.”
“Maaf, saya tidak tahu jika kamu sudah menikah, saya pikir kamu dan Malik memiliki hubungan spesial.”
“Tidak apa-apa saya mengerti.”
Sian terlihat tersenyum pada Melisa. Saat Melisa melihat Sian tersenyum padanya, dia kembali membuka suaranya.
“Saya tidak akan mengira jika hubungan kamu dan Malik berakhir seperti ini.”
“Apa maksud dari perkataan mu?” tanya Sian aneh kepada Melisa.
__ADS_1
“Tidak ada maksud apa-apa, hanya saja yang saya tahu jika dulu Malik sangat menyukai mu sehingga dia pernah ingin menolak pergi ke jepang hanya karena dirimu.” Ucap Melisa dengan tatapan sedikit kecewa.
“Tidak perlu kecewa seperti itu, bukankah dia tetap pergi juga pada akhirnya.”
“Kamu memang benar, hanya saja saya merasa kasihan kepada Malik.” Sahut Melisa dengan tersenyum, begitu juga dengan Sian.
Setelah beberapa menit mereka berbicara, tiba-tiba ada dua orang penjaga membuka kunci sel di mana Sian dan Melisa di tahan.
“Apakah mereka akan memaksa mu lagi untuk membedah seseorang?” seru Melisa saat melihat kedua penjaga yang sedang berdiri menunggu Sian.
“Aku rasa begitu.” jawab Sian singkat.
“Apakah kamu akan melakukannya lagi kali ini?”
“Entahlah, jika tidak mereka akan mengancam membunuh mu atau memukuli ku seperti biasanya jika menolaknya.”
Melisa pun sadar dengan luka dan memar-memar di sekujur tubuh Sian. Dia menatap Sian dengan penuh penyesalan saat melihat darah yang membeku di bagian kepala dan wajah Sian, karena dirinya Sian menderita seperti ini.
“Maafkan saya Sian, karena saya kamu harus mengalami hal yang mengerikan seperti ini.” ucap Melisa menundukkan kepalanya.
“Tidak apa-apa, kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, bukan hanya saya yang terluka kamu juga terluka sama seperti yang saya alami. Jika tidak melakukan apa yang mereka inginkan, kita berdua tidak akan pernah bisa bertahan sampai saat ini.” kata sian sembari menepuk pundak Melisa.
“Cepatlah sudah waktunya untuk melakukan tugas mu, jika tidak bos akan menyiksa mu lagi.” ucap salah satu penjaga tersebut dalam bahasa asing yang tidak di mengerti oleh Sian. Walaupun tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh penjaga tersebut, tapi Sian mengerti maksud dari perkataannya itu.
“Sudah jangan seperti ini lagi, saya pergi bersama mereka dulu nanti saya kembali.” Sambung Sian.
“Baiklah, kamu hati-hati ya.” Sahut Melisa.
“Em…kamu juga harus berhati-hati, jangan biarkan mereka menyentuh mu lagi.” Ucap Sian menganggukkan kepalanya dan kemudian dia pergi keluar bersama kedua penjaga tersebut ke tempat di mana dia akan membedah tubuh orang asing secara ilegal.
“Baiklah.”
Saat ini Melisa hanya bisa menatap kepergian Sian, dia termenung mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu saat pertama kali Sian datang untuk menyelamatkannya. Sebagai gantinya Sian harus menyelamatkan seseorang yang tidak di kenal, tetapi orang tersebut sangat berpengaruh di penjarah bawah tanah ini.
__ADS_1