
“Mas...nasi gorengnya sudah siap.” Teriak Sian di dapur.
“Tunggu sebentar sayang.” Sahut Bara di dalam kamar. Dia baru saja selesai mandi.
“Buruan mas, nanti keburu nasi gorengnya dingin.” Ucap Sian kembali dengan suara keras.
“Iya, bentar lagi mas akan keluar.” Sahut Bara sembari berjalan keluar dari kamar.
Namun, saat dia hendak keluar ponselnya berdering. Saat melihat nama Tony yang muncul di layar ponselnya itu dengan cepat Bara mengangkatnya.
“Halo Tony ada apa?” tanya Bara ketika telepon tersambung.
“Baiklah saya mengerti, nanti kita bahas lagi.” Ucap Bara kemudian menutup teleponnya begitu saja.
Setelah selesai berbicara di telepon, Bara langsung pergi ke dapur dan langsung menyantap nasi goreng yang sudah tersedia di meja makan. Begitu juga dengan Sian yang sudah sejak dari tadi sudah duduk di sana.
“Mas, berbicara dengan siapa di telepon barusan?” tanya Sian sedikit penasaran.
“Tony.” Jawab Bara Singkat sembari menyuap nasi goreng ke mulutnya.
“Apa yang mas Bara dan Tony bicarakan?”
“Maaf sayang, mas tidak bisa memberitahukannya, karena ini bersifat rahasia.” Jawab Bara yang tidak bisa berkata jujur.
“Owh...ya udah mas lanjutkan makan nasi gorengnya.” Ucap Sian biasa saja.
Setelah mereka selesai menghabiskan nasi goreng, Sian pergi mandi dan Bara duduk di sofa ruangan tengah dengan menghadap layar laptop untuk bekerja. Karena di bebas tugaskan, jadi Bara mempunyai banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan bisnisnya di jepang yang sudah sangat menumpuk.
Sian yang sudah selesai mandi, dia menghampiri Bara yang tengah sibuk dengan berkas-berkas penting yang sudah sangat penuh di atas mejanya itu. Entah sejak kapan semua berkas tersebut ada di Villa mereka. Namun, yang pasti dari sejak kemarin banyak sekali paket dari jepang berdatangan di Villa yang mereka tempati sekarang.
“Mas,” panggil Sian sembari duduk di samping Bara.
Sejenak Bara berhenti bekerja dan menoleh ke sampingnya menatap Sian.
“Ada apa sayang?” tanya Bara lembut.
“Apa mas sangat sibuk sekarang?” tanya Sian sambil menatap ke arah tumpukan berkas di atas meja.
“Em...ada banyak berkas yang harus mas tanda tangani dan di tinjau ulang.” Jawabnya dengan ekspresi yang seakan tidak sanggup mengerjakan semua pekerjaannya itu.
__ADS_1
“Mau di bantu ngak?”
“Memang sayang mengerti bisnis?” tanya Bara yang sedikit kurang yakin dengan kemampuan bisnis istrinya itu.
Sian memutar matanya saat mendengar pertanyaan suaminya itu. Tentu saja Sian merasa di remehkan oleh perkataan Bara barusan.
“Mas jangan meremehkan kemampuan bisnisku. Apa mas Bara tahu jika tidak menjadi seorang dokter, aku sudah pasti memiliki perusahaan sendiri sekarang.” Kata Sian.
“Jadi jangan pernah mas meragukan kemampuan ku di dunia bisnis, jika aku mau mas Bara tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan ku.” Sambung Sian yang tidak terima dan malah meremehkan Bara balik.
“Oh benarkah? Jika memang yang sayang katakan itu adalah kebenaran, bagaimana kalau mas tantang kemampuan bisnis kamu sekarang.” Tantang Bara.
“Oke, siapa takut.” Ucap Sian yang tak ingin kalah.
“Jika aku menang dalam tantangan ini, mas harus menjadi budak aku selama kita berbulan madu di Bali ini. Apa pun yang aku minta dan yang aku suruh, mas Bara harus memenuhinya dan menurutinya tanpa menolak. Jika mas Bara yang memenangkan tantangan ini, maka aku akan yang melakukan semua itu untuk mas Bara. Oke?” sambung Sian yang memanfaatkan keadaan.
Mendengar apa yang di ucapkan Sian sangat membuat Bara tergiur dan sangat bersemangat sekali untuk menerima tantangan itu.
“Baiklah, kita Mulai dengan mengerjakan tumpukan berkas ini. Kita bagi dua semua tumpukan berkas ini, dan jika di salah satu dari kita yang cepat menyelesaikannya berarti dia pemenangnya. Tentu saja pekerjaan tersebut harus tepat dan benar, bagaimana?” kata Bara yang sangat percaya diri sekali. Sian hanya menganggukkan kepalanya menyetujuinya.
Setelah mereka membagi tumpukan berkas tersebut menjadi dua bagian. Kemudian mereka memulai menyelesaikannya, siapa yang duluan selesai dan apa yang di kerjakan benar semua, maka dialah pemenangnya.
“Mas, aku sudah selesai.” Ucap Sian dengan tersenyum.
Seketika Bara menatap ke Sian, dia tidak percaya jika apa yang di kerjakan istrinya itu benar dan tepat. Karena tidak percaya Bara langsung memeriksa semua yang di kerjakan oleh istrinya itu satu persatu dengan sangat teliti. Tidak terduga sama sekali, semua yang di kerja Sian semuanya benar dan sangat teliti sekali. Bahkan Sian mengerjakan semuanya dua kali cepat dari Bara.
Saking tidak percayanya Bara terdiam seperti patung saat melihat semua yang di kerjakan istrinya itu benar dan tepat dalam waktu yang begitu cepat.
“Bagaimana?” tanya Sian dengan memperlihatkan wajah sombongnya ke pada Bara.
“Sayang, Bagai-mana bisa kamu melakukan semua ini?” tanya Bara yang masih tidak percaya.
“Mas tidak perlu tahu bagaimana aku bisa melakukannya, tapi yang pasti mulai dari sekarang berhenti menganggap aku remeh dan siap-siap mas Bara akan menjadi budak ku.” Ucap Sian sembari beranjak pergi meninggalkan suaminya itu.
Sian tersenyum ke menangan setelah membuat suaminya Bara sangat syok. Udara kemenangan membuat suasana hati Sian sangat tenteram dan damai. Apa yang di inginkannya sebentar lagi akan terwujud.
“Hahaha...mulai besok aku akan punya budak baru. Hahaha...” ucap Sian dengan suara keras. Dia sengaja melakukan itu supaya Bara mendengarnya.
Di sisi lain Bara masih syok dengan apa yang terjadi barusan. Menjadi seorang budak tidaklah mudah, apalagi menjadi budak istrinya sendiri. Seketika Bara merasa kehidupannya berakhir saat itu juga.
__ADS_1
Matilah aku, bagaimana bisa aku kalah dalam taruhan ini.
Bara menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang dia duduki sekarang, dengan menatap langit-langit Bara hampir menangis saat menerima kekalahannya.
Di waktu yang sama, ponsel Bara berdering. Mama Vian yang menghubunginya, dengan cepat Bara mengangkatnya.
“Halo ma, ada apa?” tanya Bara langsung ketika telepon tersambungkan.
“Tidak ada apa-apa, mama hanya ingin bertanya perkembangan bulan madu kalian sudah sampai di mana?” ucap Vian di dalam telepon.
“Owh...kirain ada apa mama telepon.” Ucap Bara yang terdengar frustasi karena masih syok kejadian tadi.
“Ada apa Bara? Kenapa kamu terdengar seperti memiliki banyak masalah, apakah kamu dan Sian sedang bertengkar?” tanya Vian yang curiga.
“Tidak ma, Bara dan Sian tidak sedang bertengkar. Kami baik-baik saja malah.” Jawab Bara tidak membenarkan apa yang di katakan oleh mama mertuanya itu.
“Terus kenapa kamu terdengar seperti itu barusan?” tanya Vian kembali pada Bara.
“Sebenarnya, barusan aku kalah taruhan dengan Sian ma.” Lirih Bara pelan.
“Owh pantesan, sudah sepatutnya kamu merasa sedih sekarang.” Kata Vian yang seakan dia tahu apa yang di rasakan oleh menantunya itu sekarang.
“Jika sudah terjadi apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Yang bisa mama katakan saat ini hanya sebuah nasehat buat kamu Bara. Jangan pernah sekali-kali kamu menatang atau bahkan taruhan seperti barusan, mama pastikan semua usaha mu untuk mengalahkan Sian akan sia-sia saja.” Kata Vian memberi nasehat kepada menantunya itu.
“Memangnya kenapa ma?” tanya Bara penasaran.
“Karena istrimu Sian adalah Ratu dari segala tantangan dan taruhan. Istrimu itu terkenal sekali dengan kegeniusannya di semua bidang. Dia bahkan memiliki IQ 160 di usia 10 tahun, dan sekarang mungkin IQ nya sudah mencapai 165. Jadi mama peringatkan sekali lagi, jangan pernah berani menantang dan taruhan dengannya jika tidak ingin di permalukan.” Jelas Vian panjang lebar di dalam telepon.
Sedangkan di sisi lain Bara terlihat membeku dengan mulut yang terbuka. Saat ini Bara sangat syok sekali mendengar apa yang di katakan mama mertuanya itu.
“Kenapa mama tidak memberitahu Bara soal itu?” Ucap Bara yang syok berat. Sesungguhnya Bara benar-benar tidak tahu tentang istrinya yang sangat genius sekali. Yang dia tahu hanyalah istrinya itu pintar dan bisa menjadi dokter karena pintar dan rajin. Namun, ternyata sosok istrinya itu adalah sosok dokter yang sangat genius.
“Kamu kan ngak bertanya sama mama. Udah dulu ya, mama tutup dulu teleponnya sekarang. Bye Bara sayang.” Ucap Vian yang kemudian langsung menutup teleponnya begitu saja.
Sementara itu, Bara terlihat kehilangan semangat hidupnya. Kenapa tidak, karena dari sejak awal Sian sudah merencanakan semua ini untuk mengelabuinya.
.
.
__ADS_1