
Sian berjalan keluar dari ruangan operasi dengan langkah tertatih. Perlahan air matanya menetes ke pipinya. Penyesalan dan rasa bersalah kembali melanda diri Sian. Sudah yang ke sekian kalinya Sian kehilangan nyawa seseorang saat melakukan operasi. Setiap kali pasien yang meninggal dalam operasi, selalu membuat Sian berduka.
Walaupun sudah terbiasa mengalami situasi yang seperti ini, Sian selalu bersedih dan tidak bisa membiasakan dirinya. Dia akan menangis sendirian di ruangan tertutup dan gelap tanpa di ketahui oleh siapa pun. Setelah puas menangis Sian akan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Walaupun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia sedang sangat berduka atas kehilangan nyawa yang sangat berharga sekali baginya sebagai seorang dokter.
Kematian tidak bisa Sian hentikan hanya dengan melakukan operasi. Seandainya operasi tersebut berhasil di lakukan Sian, tetapi jika tuhan berkehendak lain dalam waktu singkat semuanya akan terjadi. Sama seperti saat ini, Sian selalu mengingat jika dirinya bukanlah tuhan yang bisa mengatur hidup dan mati seseorang. Dengan beranggap seperti itu, Sian selalu mengingat akan takdir saat melaksanakan tugasnya sebagai dokter.
Pagi-pagi sekali setelah menenangkan dirinya, Sian memberanikan dirinya untuk berjalan ke tempat penitipan anak untuk melihat Raihan. Saat tiba di sana Sian melihat ada keributan besar dan Raihan menangis di tengah-tengah keributan tersebut.
Sian berlari menghampiri keributan tersebut.
“Apa yang terjadi di sini?” Tanya Sian pada seorang perawat yang sedang berdiri melihat keributan tersebut.
“Mereka adalah orang-orang yang menagih hutang kepada ibu dari anak yang sedang menangis itu dokter.”
Sian melihat ke arah Raihan yang sedang menangis karena di tarik-tarik oleh orang-orang tersebut.
“Yang berhutang kepada mereka adalah ibunya, tapi kenapa malah anaknya yang menjadi bahan amukan?”
Sian terlihat sangat marah sekali. Tanpa sadar Sian menggenggam erat kedua tangannya.
“Mereka tidak mengamukkan anak itu dokter, tetapi mereka ingin memperebutkan anak itu untuk di bawah pulang, sebagai penganti pelunas hutang.” Jawab perawat itu kembali.
“Apa yang bisa di lakukan anak berusia 5 tahun itu untuk melunasi hutang-hutang ibunya?”
“Katanya anak itu memiliki kecerdasan yang setara dengan orang dewasa di usianya yang sekarang, di tambah lagi tersebar rumor jika anak itu pernah ingin di rekrut oleh sebuah perusahaan besar dengan bayaran fantastis. Namun, ibunya menolak tawaran tersebut karena anaknya masih terlalu sangat kecil untuk menerima tawaran tersebut. Makanya orang-orang itu ingin memperebutkan hak adopsi atas anak itu.”
Sian semakin marah saat mendengar orang-orang tersebut ingin memanfaatkan hutang supaya bisa mengadopsi Raihan dengan alasan yang tidak bisa Sian terima.
Dengan marah Sian menengahi keributan tersebut.
“Berhenti!...” teriak Sian sekuat-kuatnya.
Seketika orang-orang tersebut berhenti memperebutkan Raihan, dan berali menatap ke arah Sian. Mereka terlihat tidak menyukai kehadiran Sian saat ini.
“Kamu siapa?” tanya salah satu penagih hutang.
__ADS_1
“Saya adalah dokter di sini,” jawab Sian yang masih bersikap tenang.
“Kalau begitu ada urusan apa Anda menghentikan kami?”
“Apakah kalian sadar telah membuat keributan di sini?” tanya Sian kepada orang-orang tersebut.
“Sudah jangan pedulikan dia, anak ini harus kami bawah sekarang.”
“Tidak bisa, kami yang berhak membawa anak ini.”
Orang-orang tersebut kembali memperebutkan Raihan dengan menarik-narik Raihan sesuka mereka. Sedangkan perawat yang di tugas Sian untuk menjaga Raihan sangat kewalahan menghadapi orang-orang tersebut.
“Berhenti!!!” teriak Sian kembali dengan sangat kencang.
Mendengar Sian kembali berteriak ke arah mereka, salah satu pria penagih hutang tersebut menghampiri Sian dengan sangat marah. Pria tersebut menarik kera seragam putih yang di pakai Sian saat ini.
“Dasar dokter tidak tahu diri!”
Pria tersebut hendak memukul Sian. Namun, di hentikan sian dengan perkataannya.
“Pukul saja jika Anda berani,”
“Saya tidak menantang Anda, tetapi saya memperingatkan jika Anda memukul saya sekarang, maka saya akan menuntut Anda atas tindakan kekerasan.” Ucap Sian yang membuat pria tersebut langsung melepaskan keranya.
“Dan saya juga akan menuntut kalian semua,” ucap Sian menatap ke arah orang-orang tersebut.
“Atas dasar apa kau ingin menutup kami semua? Sedangkan kami tidak melakukan apa-apa terhadap dirimu.” Ucap salah dari mereka.
“Betul sekali yang dia ucapkan.” Sahut salah satu dari mereka juga.
“Apakah kalian sadar, dengan membuat keributan di rumah sakit ini kalian bisa di tuntut atas mengganggu kenyamanan para pasien di sini, serta membuat kerugian besar terhadap rumah sakit ini.” Ucap Sian dengan menunjukkan kerusakan yang di sebabkan oleh mereka.
“Apakah kalian tahu, jika kalian semua bisa di tuntut untuk ganti rugi atas kerusakan ini. Dan satu lagi, saya juga bisa menuntut kalian atas penyiksaan terhadap anak di bawah umur. Apa kalian semua mau saya tuntut, ganti rugi dan di tahan dalam penjara?” tanya Sian dengan kemenangan telak.
Mendengar ucapan Sian tersebut membuat orang-orang tersebut tidak bisa berkutik lagi. Apa yang di ucapkan Sian benar-benar akan terjadi jika mereka terus membuat keributan di sini.
__ADS_1
“Terus, jika bukan anak ini yang membayar hutang ibunya siapa lagi?” tanya salah satu dari penagih hutang tetsebut.
Apa yang di ucapkan orang itu membuat Sian mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada sekelompok penagih tersebut.
“Kalian bisa kirim nomor rekening kalian serta surat keterangan berapa jumlah hutang ibu Raihan pada kalian di nomor ini. Nanti saya akan transfer uang kalian, dan sebelum itu kalian pergi dari sini sekarang juga.” Pinta Sian dengan tegas.
Setelah mendengarkan ucapan Sian, sekelompok orang tersebut mengambil kartu nama yang di berikan Sian, dan kemudian mereka pergi meninggalkan rumah sakit secepatnya.
Setelah keadaan sudah aman. Sian menghampiri Raihan dengan berjongkok.
“Apakah Raihan tidak apa-apa?” tanya Sian dengan lembut.
“Em...Raihan tidak apa-apa.” Ucapnya yang terlihat seperti orang dewasa.
“Kemarilah biar tante peluk Raihan sebentar.”
Tanpa menunggu lama Raihan langsung memeluk Sian. Tanpa menangis sedikit pun, Raihan memeluk erat Sian hingga beberapa menit lamanya, kemudian melepaskan pelukannya pada Sian.
“Tante, mama di mana?” tanya Raihan.
Sian bungkam. Entah kenapa dia tidak tega mengatakan jika ibunya telah pergi meninggalkan sendirian. Namun, Sian tidak ingin berbohong kepada Raihan saat ini. Demi kebaikan Raihan Sian mengatakan yang sebenarnya apa yang terjadi pada ibunya.
“Raihan dengarkan tante, tapi sebelum itu Raihan janji tidak akan menangis.” Ucap Sian sembari mengajak Raihan janji Pingki.
“Baiklah, Raihan janji tidak akan menangis.”
Kemudian Raihan membuat janji Pingki bersama Sian. Lalu Sian mengatakan yang sejujurnya tentang kematian ibunya.
“Raihan maafkan tante, tante tidak bisa menyelamatkan mama Raihan.” Ucap Sian yang langsung memeluk Raihan.
Seperti janjinya Raihan tidak menangis sedikit pun saat mendengar kematian ibunya. Tidak seperti anak berusia 5 tahun pada umumnya, Raihan terlihat seperti orang dewasa walaupun umurnya baru menginjak 5 tahun.
“Maafkan tante Raihan, sungguh maafkan tante.” Ucap Sian berulang kali pada Raihan.
Saat ini Raihan terlihat tenang sekali, dan bahkan dia tidak menangis sedikit pun. Dia malah yang menghibur Sian saat ini, bukannya Sian yang harus menghiburnya.
__ADS_1
.
Bersambung...