
Hari ke 2 bertugas di Barak Militer.
Berbeda dengan hari kemarin, hari ini tidak banyak yang di lakukan Sian dan timnya. Bisa di bilang mereka menganggur setelah kesibukan hari sebelumnya. Sudah hampir setengah hari berjalan, tidak ada satu pun prajurit datang ke kamp medis hari ini.
“Kenapa tiba-tiba sepi sekali hari ini?” ujar Dilan, Koas.
“Mungkin mereka takut datang ke mari karena Dokter Sian.” Sahut Ayudia, dokter anestesi.
Lit! tatapan mata tajam Sian menatap ke arah dokter Ayudia. Seakan mata itu tidak terima dengan ucapan yang di lontarkan Ayudia kepadanya.
“Memangnya apa yang saya lakukan, sehingga membuat semua prajurit tersebut merasa takut pada saya?” tanya Sian yang seakan tidak mengingat apa yang terjadi kemarin.
“Apakah Dokter Sian lupa jika kemarin hampir sebagian prajurit merasa tertekan dan tidak bisa berkutik karena perkataan dokter pada mereka.” timpal Elina, Koas.
“Kenapa saya tidak bisa mengingat semua yang kamu katakan barusan Elina?”
Ayudia, Elina dan Dilan mendesah pelan secara bersamaan. Mereka bertiga hampir mati ketakutan kemarin akibat Sian menyerang semua prajurit yang hendak berbicara padanya.
“Bagaimana bisa dokter Sian melupakan kejadian kemarin? Kami semua hampir tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun akibat kata-kata tajam dokter Sian menyerang sebagian prajurit pasukan khusus.” Dilan masih merasa merinding menceritakan kejadian kemarin.
“Kenapa kalian semua harus takut? Prajurit-prajurit tersebut tidak akan memakan kalian semua.” Dengan santainya Sian mengucapkan kata-katanya itu.
Dilan, Ayudia dan Elina langsung menatap ke arah Sian secara bersamaan saat mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Sian tersebut kepada mereka.
“Dokter Sian benar-benar tidak menyadari apa yang kami rasakan kemarin?” tanya Dilan.
“Memang apa yang kalian rasakan kemarin?” Sian terlihat benar-benar tidak tahu apa pun
“Apakah Dokter Sian tahu, jika kemarin saat dokter menjelek-jelekkan Kapten mereka, semua prajurit di sana mendengarnya. Mereka semua terlihat sangat marah sekali setiap kali dokter Sian merendahkan kapten mereka.” Ucap Dilan merinding.
“Terus kenapa harus takut? Kalian semua tidak salah, dan mereka saja yang melebih-lebihkan kapten mereka itu.” Ucap Sian sedikit besar.
Di waktu yang sama saat Sian berkata seperti itu ternyata ada beberapa prajurit berada di depan pintu. Semua mata tertuju kepada prajurit tersebut, termasuk Sian.
“Dokter Sian, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Ayudia dengan pelan karena merasa ketakutan saat melihat para prajurit tersebut.
Perlahan beberapa prajurit tersebut melangkah masuk mendekati Sian. Terlihat tatapan mereka yang tidak menyukai Sian. Berbeda halnya dengan Sian yang hanya bersikap santai-santai saja.
__ADS_1
“Kalian ada keperluan apa datang ke mari?” tanya Sian dengan Santai kepada prajurit tersebut.
“Kami datang kemari ingin menyampaikan pesan dari letnan Clovis,” ucap salah satu dari prajurit tersebut.
“Pesan apa?” tanya Sian dengan santai.
“Letnan Clovis bilang jika hari ini tim tenaga medis kembali saja ke kamp kalian masing-masing, karena hari ini semua prajurit pasukan khusus akan menjalankan latihan di luar Barak militer. Letnan Clovis juga bilang, jika dia ingin ada tenaga medis pria ikut dengan kami untuk latihan di luar barak militer, takutnya nanti ada prajurit yang cedera selama latihan berlangsung.” Jelas prajurit tersebut kepada Sian.
“Baiklah saya mengerti, Dilan, Fahar dan Dafa kalian siap-siap ikut mereka dan sisanya kembali ke kamp.” Titah Sian.
“Baik dokter,” jawab anggota tim medis secara bersamaan.
Dilan, Dafa dan Fahar pun pergi mengikuti para prajurit tersebut. Sedangkan Sian dan anggota tim lainnya juga pergi meninggalkan kamp tempat mereka bertugas. Di dalam perjalanan kembali ke kamp tempat tinggal tim medis, ponsel Sian berbunyi. Nama Bara dengan emoji Love tampil di layar ponsel Sian saat ini.
“Halo mas,” ujar Sian pelan. Sian memisahkan diri dari anggota timnya itu untuk berbicara dengan Bara di telepon.
“Halo sayang, kamu lagi apa sekarang?” tanya Bara di dalam telepon.
Sebelum menjawab pertanyaan Bara, Sian memperhatikan di sekitarnya untuk memastikan tidak ada orang lagi di sekitarnya. Setelah memastikan tidak ada satu pun orang di sekitarnya, kemudian Sian dengan leluasa menjawab pertanyaan Bara di dalam telepon.
Sejenak tidak ada jawaban, seakan Bara menghilang. Entah apa yang di lakukan oleh pria itu sehingga senyap beberapa detik. Kemudian suaranya kembali terdengar.
“Maaf sayang, tadi ada urusan sebentar.” Suara Bara terdengar terengah-engah seperti menahan sakit.
“Mas Bara baik-baik saja? Kenapa suara mas Bara terdengar aneh seperti itu?” Sian sangat khawatir mendengarkan suara suaminya yang mengkhawatirkan.
Sejenak Sian mendengar Bara menetralkan nafas dan suaranya sesaat. Kemudian menjawabnya.
“Mas baik-baik saja, saat ini mas lagi melakukan perenggangan badan, makanya suara mas terdengar aneh.” Ucap Bara di dalam telepon.
“Benarkah, aku kira mas Bara kenapa-kenapa tadi, syukurlah jika mas baik-baik saja.” Sian menghelakan nafas leganya setelah memastikan suaminya itu baik-baik saja.
“Mas baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatirkan mas.” Bara kembali meyakinkan istrinya itu. “Bagaimana dengan keadaan mu sekarang berada di Barak militer? Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Bara mengganti topik pembicaraan.
Sian mendesah pelan, seakan dia tidak tahu harus mengatakan apa tentang keadaannya di Barak militer pada Bara saat ini.
“Entahlah mas, aku juga tidak tahu.” Terdengar suara Sian yang mengeluh.
__ADS_1
“Kenapa sayang berkata seperti itu?” tanya Bara dalam telepon.
“Karena_”
Tut! Tut! Tut! Tiba-tiba sambungan telepon Bara terputus begitu saja. Beberapa detik terakhir sebelum telepon Bara terputus Sian mendengar suara ledakan senjata api, dan kemudian telepon terputus begitu saja.
Apa yang barusan terjadi? Kenapa aku bisa mendengar suara ledakan senjata tadi? Apa terjadi sesuatu pada mas Bara?
Merasa tidak tenang, Sian berusaha untuk menghubungi nomor Bara kembali, tetapi tidak bisa tersambung. Nomor Bara tiba-tiba tidak aktif lagi setelah terputus beberapa saat lalu.
Sian mulai panik, kedua tangannya mulai bergetar hebat karena mengkhawatirkan Suaminya itu. Saat hampir menangis, ponsel Sian berbunyi dan yang menghubunginya adalah suaminya Bara. Dengan cepat Sian mengangkat telepon tersebut.
“Halo mas,” ucap Sian dengan suara bergetar.
“Halo sayang, maaf teleponnya terputus karena ponsel mas kehabisan baterai.” Ucap Bara di dalam telepon.
Sian menghelakan nafas leganya setelah mendengarkan ucapan Bara barusan. Dia hampir saja menangis karena khawatir pada suaminya itu.
“Mas baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu kan pada mas Bara sekarang?” tanya Sian meyakinkan jika suaminya itu baik-baik saja.
“Mas baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa sama mas. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Bara balik.
Syukurlah mas Bara baik-baik saja.
“Tidak, aku hanya memastikan mas Bara baik-baik saja, karena barusan tiba-tiba telepon mas Bara terputus.” Lirih Sian pelan.
“Kamu tidak perlu khawatir, tidak terjadi apa-apa sama mas.” Ucap Bara. “Sayang, mas tutup dulu teleponnya sekarang, nanti mas hubungi lagi kalau tidak ada kerajaan.” Sambung Bara di dalam telepon.
“Em...baiklah, mas jaga diri baik-baik jangan sampai terluka.”
“Baiklah, mas akan jaga diri baik-baik. Bye sayang, Muah...” Bara mengakhiri teleponnya dengan sebuah kecupan jarak jauh. Sedangkan Sian hanya tersenyum mendapat sebuah ciuman jarak jauh dari suaminya itu.
.
.
👍👍👍❤❤❤ jangan lupa ya.
__ADS_1