Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 37


__ADS_3

Hari ke 3 berada di Barak Militer.


Saat sedang bertugas Sian menahan kantuk yang tak tertahankan. Akibat bergadang semalaman karena terus ke pikiran suaminya Bara. Setelah telepon terputus tadi malam, dia tidak bisa tertidur sedikit pun hingga pagi. Kini akibatnya mata panda terpampang jelas di wajah Sian saat ini.


Aku mengantuk sekali, bisakah aku tidur sebentar?


Sian melipatkan kedua tangannya dia atas meja dan menyembunyikan wajahnya di sana. Beberapa detik kemudian Sian tertidur dengan posisi wajah yang di sembunyikan di antara kedua tangannya itu.


Tidak lama Sian memejamkan kedua matanya, ada seorang prajurit menghampirinya.


“Permisi dokter Sian,” ujar prajurit tersebut.


Mendengar suara tersebut, Sian langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah asal suara tersebut.


“Ada apa?” tanya Sian dengan kedua mata yang berat, dia berusaha terus membuka matanya agar tidak tertidur.


“Letnan Clovis ingin bertemu dengan Anda sekarang.”


Kenapa tiba-tiba letnan Clovis ingin bertemu denganku?


“Baiklah, nanti saya akan menemuinya setelah selesai bertugas.” Ucap Sian.


“Maafkan saya, tapi Letnan ingin bertemu Anda saat ini juga, letnan meminta saya menjemput Anda.” Ucap prajurit tersebut.


Sian mendesah pelan. “Baiklah, saya ikut kamu sekarang.” Sian mengalah dan memutuskan untuk mengikuti prajurit tersebut menemui Letnan Clovis.


Sesampai di ruangan Letnan Clovis, Sian melihat ada 4 prajurit di sana yang sedang berdiri di samping meja kerja Letnan Clovis. Sian yang baru saja tiba langsung berdiri tepat di depan Letnan Clovis duduk.


“Ada perlu apa Letnan ingin bertemu saya?” tanya Sian langsung.


Perlahan Letnan Clovis membuka laci meja kerjanya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


“Apakah benda ini milik mu dokter Sian?” tanya Letnan Clovis sembari menunjukkan beberapa kamera yang tidak asing bagi Sian.


Jangan bilang itu kamera yang aku pasang kemarin? Tidak mungkin secepat itu mereka mengetahunya.

__ADS_1


“Anda mendapatkan kamera tersebut dari mana?” tanya Sian yang ingin memastikan jika kamera tersebut memang miliknya.


“Saya mendapatkan ini terpasang di berbagai tempat termasuk kamp kalian. Dari bukti yang saya dapat, jika benda ini adalah milik mu dokter Sian.”


Sudah mengaku saja, jika memang benar kamera itu milikmu Sian.


“Benar, kamera-kamera ini aku yang memasangnya.” Ucap Sian mengakuinya.


“Sebelumnya saya sudah pernah bilang ke atasanmu jika di larang membawa benda-benda seperti ini di barak militer. Apakah mereka tidak memberitahu mu?” tanya Letnan Clovis.


“Maafkan saya Letnan, saya tidak bermaksud untuk membuat kalian merasa tidak nyaman dengan memasang kamera ini. Namun, saya memiliki alasan kenapa saya melakukannya.”


Letnan Clovis menatap serius Sian, dia mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mendekati Sian.


“Alasan? Kalau begitu katakan pada saya apa alasannya?”


“Kemarin saat saya dan tim saya kembali ke kamp, semua barang-barang pribadi saya di acak-acak oleh seseorang. Makanya Saya memasang kamera ini untuk mencari tahu pelakunya.” Ucap Sian menjelaskan.


Mendengar penjelasan dari Sian, Letnan Clovis beranjak berdiri dan mulai berjalan mengitari mejanya itu.


“Tapi, tetap saja kamu di larang untuk memasang benda-benda seperti ini di sini. Bagaimana jika ada orang yang berniat jahat memanfaatkan kamera ini untuk mencari informasi di barak militer ini? Jika memang kamu ingin menangkap pelaku dari masalah tersebut, seharusnya kamu bilang dulu kepada saya, dan kenapa kamu harus melakukan hal yang di larang di sini?” ucap Clovis dengan tegas. Aurah Letnan Clovis saat ini terlihat sangat menakutkan.


“Keamanan? Maksud dari perkataan dokter Sian barusan adalah mengatakan, jika pelaku dari pengacak barang-barang milik dokter Sian itu berasa dari salah satu prajurit di sini?!” Letnan Clovis terlihat semakin serius menanggapi perkataan Sian saat ini.


“Saya tidak mengatakan hal seperti itu, tapi jika Letnan yang mengatakannya, bisa jadi pelakunya salah satu dari kalian.” Ucap Sian tanpa berpikir panjang.


Apa yang di ucap Sian saat ini berhasil memancing kemarahan 4 prajurit yang sedang berdiri di sampingnya itu.


“Jangan sembarangan bicara! Tidak mungkin pelakunya salah satu dari kami.” Ucap salah satu prajurit tersebut dengan marah. Prajurit tersebut hendak mendorong Sian saat itu juga.


“Tenangkan dirimu!” bentak Letnan Clovis. “Jika sikap kalian bersikap seperti itu, cukup menunjukkan jika kalianlah pelakunya.” Sambung Letnan Clovis dengan tegas.


“Tapi dokter ini sudah keterlaluan!”


Prajurit tersebut hendak mendekati Sian dengan kedua tangan terkepal Kuat. Sedangkan Sian bersikap biasa saja, tanpa rasa takut sedikit pun dalam dirinya itu.

__ADS_1


“Cukup!” bentak Letnan Clovis kembali pada prajurit tersebut.


“Sepertinya ada yang takut ketahuan,” ucap Sian menyela perkataan Letnan Clovis.


Mendengar ucapan Sian tersebut, semakin membuat prajurit tersebut kehilangan kendali. Nafasnya menggebu-gebu melihat Sian saat ini.


“Dokter Sian cukup, jangan memancing kemarahan prajurit di sini.” Ujar Letnan Clovis.


“Saya mengatakan hal yang sebenarnya, jika bukan dia pelakunya kenapa dia harus semarah itu.” Ucap Sian langsung mengenai sasaran.


Prajurit tersebut langsung terdiam saat mendengar ucapan Sian. Letnan Clovis pun langsung mengerti maksud dari perkataan Sian saat ini. Tanpa basa-basi lagi Letnan Clovis menginterogasi prajuritnya itu di depan Sian.


“Katakan padaku, apa benar kamu yang melakukannya?” suara Letnan Clovis masih terdengar biasa saja. Bisa di artikan masih tanang.


Prajurit yang mendapat pertanyaan dari Letnan Clovis tidak menjawab, dia hanya diam saja saat ini. Lit! Seketika tatapan mata Letnan Clovis berubah menakutkan. Menyadari tatapan menakutkan dari Letnan Clovis, prajurit tersebut langsung angkat bicara.


“Dokter ini yang memulainya duluan!”


Sian langsung menatap ke arah prajurit tersebut dengan tidak percaya. Dia tidak salah dengarkan, jika prajurit itu menyalahkan dirinya.


“Apa maksud dari perkataan mu itu?” ucap Sian mengepal kedua tangannya dengan kuat.


“Dokter ini, yang memulainya duluan. Dia selalu merendahkan kapten Devil terus menerus, oleh karena itu kami memberinya pelajaran dengan menghancurkan barang-barangnya.” Ucap prajurit itu mengakui perbuatannya.


Kapten Devil lagi dan lagi. Kenapa semua prajurit pasukan khusus di sini begitu memujanya?


Hening sesaat di ruangan tersebut, tidak ada yang berbicara lagi setelah pengakuan dari prajurit tersebut. Letnan Clovis pun menatap Sian dengan rasa malu karena ulah dari prajuritnya itu. Bisa di bilang tatapan Letnan tersebut, meminta Sian untuk tidak memperpanjang masalah tersebut dan menyerahkannya kepada dirinya.


Mengerti dari arti tatapan mata Letnan Clovis tersebut, Sian mendesah pelan dan memutar bola matanya malas.


“Baiklah, saya serahkan masalah ini kepada mu.” Ucap Sian malas dan pergi begitu saja meninggal ruangan Letnan Clovis saat itu juga.


Sementara itu Letnan Clovis menatap Sian yang pergi meninggalkan ruangannya dengan berkata dalam hatinya.


Ternyata dokter ini cukup berani dan sangat cerdas. Dari pembawaannya yang tenang mengingatkan aku pada seseorang.

__ADS_1


.


.


__ADS_2