
Rumah Sakit, di ruangan kerja Sian.
Sian duduk di kursi kerjanya sembari melihat ponselnya. Dia membaca pesan semalam yang tidak sempat dia baca dari nomor yang tidak di kenal.
Semenjak mendapat pesan dari nomor tidak di kenal tersebut. Entah perasaan Sian saja atau tidak, Sian sampai bermimpi aneh semalam. Rasa takut di mimpinya itu masih bisa Sian rasakan saat ini. Di tambah lagi pesan-pesan yang dia terima akhir-akhir ini.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk,” Sian meletakkan ponselnya di atas meja saat seorang perawat mendatanginya.
“Permisi dokter, kepala rumah sakit meminta dokter Sian untuk menghadap di ruangannya sekarang.”
“Baiklah, terima kasih, kamu boleh kembali bekerja sekarang.”
“Baik dokter.”
Perawat tersebut pergi keluar. Sian pun langsung beranjak menuju ruangan kepala rumah sakit ini, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Sesampai di depan pintu ruangan kepala, Sian langsung mengetuk pintu.
“Paman, memanggil saya?”
“Masuklah Sian,”
Sian melangkah masuk dan berdiri di depan meja pamannya itu. Sementara itu pamannya sedang sibuk berbicara di telepon. Beberapa menit menunggu, akhirnya paman Sian menutup teleponnya.
“Sian duduklah,”
“Baik paman.” Sian duduk tepat di depan pamanya itu, atau lebih tepatnya kepala rumah sakit tempat Sia bekerja.
“Sian, ada yang ingin paman bicarakan padamu.”
Terlihat paman Sian mulai serius. Begitu juga Sian yang menanggapinya dengan serius pula.
“Ada apa paman, apa yang ingin paman bicarakan?”
“Begini Sian, paman ada rencana ingin mengirimu bertugas di barak militer pasukan khusus selama satu bulan.”
“Bertugas di barak?” Sian sedikit kaget.
“Ia, paman ingin kamu bertugas di sana untuk sementara waktu, sebelum paman menemukan dokter yang cocok untuk di tempatkan di sana.”
“Tapi paman, kenapa harus aku yang di tugas di sana?”
“Karena hanya kamu yang cocok di tugas di sana, karakter dan kemampuan mu sangat penting sekali bertugas di sana. Sian tolong bantu paman ya.”
Sian berpikir keras, ada banyak hal yang harus di pertimbangkan untuk menerima permintaan dari pamannya itu.
Bagaimana dengan Bara dan Raihan jika aku bertugas di barak? Apakah Bara setuju kalau aku bertugas di sana?
“Maaf paman beri aku waktu untuk memikirnya, karena aku harus membahas masalah ini dengan Bara terlebih dahulu.”
__ADS_1
“Baiklah, paman beri kamu waktu selama tiga hari, setelah tiga hari kamu harus memberikan keputusannya tepat di hari ketiga.”
“Baiklah paman aku mengerti, jika tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, aku pergi dulu.”
“Baiklah kamu boleh pergi sekarang, tapi ingat hari ke tiga paman ingin dengar keputusan yang paman inginkan.”
“Baiklah, akan aku pertimbangkan, permisi paman.”
Sian pergi keluar dari ruangan tersebut, dan kembali ke ruangannya. Tepat berada di dalam ruangannya, ponsel Sian berbunyi. Menandakan ada pesan masuk.
No tidak di kenal:
Sayang jangan membuat ku menunggu, aku tidak suka menunggu.
Apa maksud orang ini? Ini benar-benar sudah gila.
Tangan Sian mulai bergerak untuk membalas pesan tersebut.
Sian:
Kau siapa? Kenapa terus terusan kau menganggukku?
No tidak di kenal:
Akhirnya kau membalas pesan dariku.
Sian:
No tidak di kenal:
Sayang, kau sungguh sudah melupakan aku? Sudah 5 tahun aku menunggu mu, dan sekarang kau malah melupakanku.
Astaga! Kenapa aku malah membalas pesan ini?
Sian langsung berhenti membalas pesan tersebut. Entah kenapa pesan itu mengatakan jika orang yang mengirimnya itu sangat mengenali Sian.
Siapa orang ini sebenarnya? 5 tahun bukan waktu yang sebentar, kenapa dia mengatakan jika sudah menungguku selama 5 tahun?
Sian sangat penasaran sekali dengan orang tersebut, tetapi rasa penasarannya tidak terlalu besar di bandingkan dengan rasa ketakutannya pada orang tersebut. Sehingga dia lebih memilih mengabaikannya.
Kemudian Sian meletakan ponselnya kembali di atas meja, lalu dia pergi ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan jubah khusus di pakai saat operasi. Setelah itu Sian pergi menuju ruangan operasi, untuk melakukan pengangkatan tumor di saluran pernapasan pasien.
Setelah operasi pengatakan tumor selesai, Sian langsung membersihkan dirinya kemudian dia berencana untuk pulang. Sebelum turun ke lantai dasar, Sian menyalakan ponselnya untuk menghubungi Suaminya Bara. Namun, saat menyalakan ponselnya ada pesan masuk dari no yang sama.
No tidak di kenal:
Sayang kau mengabaikan aku lagi? Aku hanya ingin bilang, jika sikap mu ini bisa membuatku melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan.
Sian hanya mengabaikan pesan tersebut, dan dia malah menghubungi Bara. Telepon tersambung.
__ADS_1
“Halo sayang,” ujar Bara di dalam telepon tersebut.
“Halo mas, aku sudah selesai, mas sudah ada di mana?”
“Mas dan Raihan sudah di lobi menunggu mu.” Jawab Bara di dalam telepon.
“Baiklah mas, aku akan turun sekarang.” Ucap Sian yang langsung mematikan ponselnya. Lalu dia langsung turun ke lantai dasar menggunakan lift.
Setelah keluar dari lift Sian langsung menuju lobi di mana Bara dan Raihan berada.
“Mama...” teriak Raihan dari kejauhan. Sedangkan Bara hanya tersenyum melihat Sian yang hendak menghampirinya.
“Mas kita pergi cari makan malam dulu ya, aku sangat lapar sekali.” Ucap Sian ketika berada di depan Bara.
“Baiklah, kita pergi makan sekarang, nanti keburu larut malam.”
Tanpa menunggu lama, mereka pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari makan malam.
Di dalam perjalanan Sian terlelap tidur. Rencana makam malam pun di batalkan, tetapi Bara tetap mampir di sebuah restoran untuk membeli makanan untuk istrinya. Makanan tersebut Bara bungkus untuk di makan di rumah saja, karena dia tidak ingin membangunkan istrinya itu saat berada di restoran tersebut.
Sesampai di rumah, Bara melihat ke arah Sian dan Raihan yang sedang tertidur di kursi belakang. Dia tersenyum bahagia karena jarang sekali pemandangan seperti ini Bara melihatnya.
Perlahan Bara membuka pintu mobil di samping Sian.
“Sayang bangun, kita sudah sampai di rumah.” Bisik Bara pelan di telinga Sian.
“Emm...” Sian menggeliat dulu sebelum membuka matanya.
“Sayang ayo cepat bangun, kita sudah sampai di rumah.”
Sian membuka matanya kaget saat mendengar bisikan Bara di telinganya.
“Apa! Bagaimana dengan makan malamnya?”
Bara tersenyum. ”Sayang tenang saja, mas sudah beli makanannya, sekarang kita masuk dulu ke dalam rumah lalu kita makam bersama. Sebelum itu aku akan memindahkan Raihan terlebih dahulu ke dalam kamar, dan sayang tunggu aku di dapur.”
“Baik bos.” Ucap Sian yang sedikit bermain-main.
Setelah Bara memindahkan Raihan di dalam kamarnya, kemudian dia menyusul Sian di dapur. Mereka berdua makan malam bersama, tanpa adanya Raihan.
Di sisi lain, ponsel Sian yang berada di dalam tas berbunyi. Ada pesan yang masuk.
No tidak di kenal:
Sayang, kau benar-benar mengabaikan aku sekarang. Kau sungguh berani sekali padaku!
.
Bersambung...
__ADS_1