
Hari ke 15 berada di Barak Militer.
Sian menatap ponselnya dengan intens. Sudah hampir dua minggu dia menunggu telepon dari Suaminya Bara yang tak kunjung datang. Semenjak malam itu, Bara tidak pernah lagi menghubungi Sian. Bahkan nomor ponsel Bara pun tidak pernah aktif saat Sian hendak menghubunginya.
Hari sudah menjelang malam, Sian tak pernah lelah menatap ponselnya itu. Dia tetap setiap menunggu telepon dari suaminya Bara. Hadap sana hadap sini Sian berbaring di atas ranjang single yang dia tempati saat ini. Bergerak di atas ranjang kecil membuat Sian hampir terjatuh ke lantai.
“Astaga, hampir saja aku mematahkan lenganku.” Sian beranjak duduk dari tidurnya.
Sadar akan di sekitarnya saat ini, Sian mengatup rapat-rapat mulutnya saat melihat anggota timnya sudah terlelap tertidur. Hanya dirinya saja yang belum tertidur malam ini. Seperti biasanya, Sian selalu paling akhir yang akan tertidur, dan yang paling awal terbangun.
Sekilas Sian melihat jam di ponselnya. Waktu pun baru menujukan pukul 9 malam. Waktu pun terasa begitu lambat sekali, sedangkan Sian sudah terlihat seperti kehilangan semangat hidupnya. Sian merasa, semua yang menyangkut tentang waktu seperti berjalan dengan sangat lambat sekali.
Merasa tidak tahan lagi, Sian beranjak keluar dari kamp-Nya untuk mencari udara segar di bawah langit yang gelap. Tak lupa membawa mantel bersamanya, Sian selalu menjaga kesehatan tubuhnya di mana pun dia berada termasuk berjalan mencari udara segar pada malam ini.
Saat berjalan mencari udara segar di sekitar kamp, Sian melihat beberapa prajurit sedang berjaga malam. Karena melihat Sian yang berkeliaran sendirian di luar, membuat seorang prajurit menghampirinya.
“Maaf dokter, Anda sedang apa di luar malam-malam begini?” tanya prajurit tersebut.
“Tidak ada, saya hanya mencari udara segara karena tidak bisa tertidur.”
Sian terlihat menyunggingkan senyuman pada prajurit tersebut. Tidak biasanya Sian tersenyum seperti ini kepada seseorang prajurit. Semenjak kejadian hari itu, Sian sedikit mengubah sikapnya dan mulai sedikit ramah kepada semua prajurit di sini. Walaupun sebagian besar para prajurit di sini masih belum bisa menerima kehadiran Sian di barak militer ini.
“Jika dokter tidak keberatan boleh saya menemani dokter mencari udara segar? “ ucap prajurit tersebut dengan ramah.
Tanpa menjawab Sian menatap serius ke arah prajurit tersebut, dia melihat prajurit itu dari ujung kaki hingga ke atas kepala. Sian merasa prajurit yang ada di depannya ini sedikit berbeda dari prajurit lainnya, di lihat-lihat lagi sepertinya prajurit satu ini masih sangat mudah sekali.
“Nama mu siapa?” tanya Sian dengan serius dan tegas.
Prajurit tersebut langsung memberi hormat kepada Sian dan setelah itu dia menyebutkan namanya dengan lantang.
__ADS_1
“Nama saya Rival, dan saya masih junior di sini.”
“Sudah berapa lama kamu bergabung di pasukan khusus di sini?” tanya Sian kembali.
“Terhitung hari ini, sudah 6 bulan saya bergabung menjadi tentara pasukan khusus.” Jawab Rival dengan lantang.
“Oh....prajurit baru ya, pantesan saja terlihat sedikit_”
Sian tidak melangsungkan kata-katanya dia malah tersenyum melihat prajurit bernama Rival ini. Sian tidak tahu kenapa tiba-tiba dia tersenyum saat melihat postur tubuh prajurit Rival yang terbilang masih sangat kerempeng di bandingkan dengan prajurit lainnya. Serta kepala bontaknya yang mengkilat seperti habis di semir.
“Baiklah, kamu boleh menemani saya mencari udara segar.” Ucap Sian mengizinkan Rival menemaninya.
Rival tersenyum kepada Sian, dan kemudian mereka mulai berjalan dengan perlahan mengitari di sekitar kamp medis. Entah mengapa saat ini Sian merasa nyaman berbicara kepada Rival, baru kali ini Sian tersenyum lepas selama berada di barak militer ini.
Sedangkan Rival menatap sian dengan kedua mata yang tersenyum dan kemudian dia berkata. “Ternyata dokter tidak seperti yang di bilang oleh senior-senior di sini,”
“Memang mereka bilang apa tentang saya?” tanya Sian sembari menatap ke arah Rival.
Sian terbelalak mendengar ucapan Rival tersebut. Dia tidak akan mengira jika Imega-Nya seperti itu di mata semua prajurit di sini. Sian mendesah pelan, dia pasrah akan keadaannya. Memang seperti itu yang dia tunjukan selama berada di barak militer.
“Terus menurut Rival, saya orang yang bagaimana setelah berbicara sebentar dengan saya?” tanya Sian meminta pendapat Rival tentang dirinya.
“Menurut pendapat saya, dokter orangnya asyik, ramah, mudah tersenyum, dan yang paling penting dokter cantik dan baik hati.” Jawab Rival yang diiringi dengan senyuman.
Sekilas Sian tersenyum, setelah mendengar pendapat Rival tentang dirinya.
“Rival saya akan selalu mengingat perkataan mu barusan, jika terjadi sesuatu dan kamu memerlukan bantuan suatu saat nanti, kamu boleh datang pada saya. Saya janji akan membantu mu sebisa mungkin.” Ucap Sian dengan sangat ramah sekali.
Setelah puas mencari udara segara, akhirnya Sian kembali ke kampnya. Sedangkan Rival kembali bertugas berjaga-jaga di sekitar area kamp medis.
__ADS_1
Sesampai di kamp, Letnan Clovis dan anggota tim medis lainnya sudah menunggu Sian di halaman depan kamp.
“Apa yang sedang terjadi di sini?” tanya Sian kepada Letnan Clovis.
“Saya tidak bisa menjelaskannya sekarang, saya butuh bantuan tim medis sekarang juga.” Ucap Letnan Clovis yang tegang.
“Batuan?”
“Kita tidak mempunyai waktu lagi sekarang, cepat dokter Sian siap-siap sekarang, sebentar lagi kita akan berangkat.” Pinta Letnan Clovis pada Sian.
“Baiklah.” Tanpa bertanya lagi, Sian langsung pergi bersiap-siap dan memperintahkan semua anggota timnya untuk mempersiapkan segala peralatan dan obat-obatan. Di dalam situasi seperti ini, Sian sudah sering mengalaminya. Tidak jauh-jauh pasti ada prajurit dari pasukan khusus yang sedang terluka saat menjalan tugas mereka.
Setelah semuanya sudah Siap. Tanpa mengulur waktu lagi, Letnan Clovis langsung mengajak Sian dan timnya pergi menaiki sebuah truk militer tipe REO M35 menuju ke suatu tempat.
Setiba di sana, sudah ada banyak pasukan khusus menunggu. Bahkan ada sebuah tenda khusus tim medis. Saat Sian dan timnya masuk ke dalam tenda tersebut, ternyata tenda itu tempat mereka akan melakukan operasi. Alat-alat yang tersedia di sana pun sangat lengkap dan canggih seperti alat milik rumah sakit tempat Sian bekerja.
Setelah mempersiapkan segalanya, Sian dan timnya ikut menunggu di luar bersama dengan Letnan Clovis dan pasukan khusus lainnya. Beberapa saat menunggu, akhirnya ada dua helikopter datang dari arah timur dan hendak mendarat di depan lapangan Sian dan yang lainnya menunggu.
Setelah helikopter yang pertama mendarat ada 3 prajurit pasukan khusus yang terluka terkena tembak di kaki semua. Helikopter kedua pun mendarat yang membawa 4 prajurit, 2 tidak terluka dan 2 lagi terluka di tangannya karena tembakan. Tanpa mengulur waktu lagi, Sian dan timnya langsung mengambil tindakan pertolongan pertama pada prajurit-prajurit yang terluka. Sian dan timnya bergerak cepat untuk mengamankan prajurit yang terluka, tetapi Letnan Clovis meminta Sian untuk menyerahkan semua prajurit yang terluka tersebut kepada juniornya, dan meminta Sian tetap berdiri di sampingnya menunggu helikopter ketiga mendarat.
“Kenapa Anda meminta saya menunggu di sini?” Tanya Sian bingung kepada Letnan Clovis.
“Masih ada satu helikopter lagi yang akan datang, dan yang berada di sana adalah orang yang sangat penting untuk di selamatkan terlebih dahulu.” Jawab Letnan Clovis.
Sian hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Orang yang terakhir ini adalah orang yang sangat penting dari pasukan yang terluka ini.
Saat helikopter terakhir mendarat, Sian pun mendekati helikopter tersebut untuk menunggu prajurit yang terluka di keluarkan dari sana. Saat tim pasukan khusus mengeluarkan prajurit tersebut, Sian terbelalak kaget dan syok melihat prajurit yang terluka tidak sadarkan diri itu adalah sosok yang sangat dia kenal. Sosok tersebut adalah suaminya sendiri, Bara Hardynata.
.
__ADS_1
Bersambung...
.