Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 59


__ADS_3

Bara terbangun, saat matanya terbuka ia sadar jika ketiduran di sofa dengan memangku leptopnya. Setelah sadar sepenuhnya Bara mengingat istrinya yang sedang sakit. Namun, saat ia hendak beranjak tiba-tiba mencium bau lezat dari dapur.


Bara pun mengikuti bau lezat yang berasal dari dapur itu. Ia melihat istrinya Sian sedang sibuk memasang makanan yang pastinya lezat. Dari mencium baunya saja Bara sudah tahu jika masakan Sian sangat lezat.


“Sayang bagaimana keadaan kamu sekarang?” tanya Bara yang duduk di meja makan sembari menatap Sian sedang memasak.


Sian menoleh ke asal suara, di sana ia melihat Bara yang sedang duduk di meja makan sembari memperhatikannya.


“Udah mendingan mas, hari ini kita jadi jalan-jalannya kan?” tanya Sian yang sibuk memasak.


“Memangnya sayang sudah sembuh benaran? Mas takut nantinya kamu tambah sakit kalau pergi jalan-jalan.” Jawab Bara sembari menopang dagunya dengan menggunakan kedua tangannya.


“Udah mas...aku udah sembuh, panasnya sudah turun kok. Pokoknya hari ini kita harus pergi jalan-jalan, aku ingin beli oleh-oleh untuk Raihan dan perawat di rumah sakit sebagai ucapan terima kasih karena telah membatu ku selama cuti.” Ucap Sian sembari menghidangkan masakannya di depan Bara.


“Sayang yakin udah sembuh benaran?” tanya Bara sembari mencium bau lezat masakan Sian.


“Iya mas, aku udah sembuh benaran kok. Kalau tidak percaya mas Bara periksa sendiri deh.” Sian menarik tangan Bara untuk meletakan tangan besar itu di keningnya. Setelah itu Bara menurunkan tangannya dari kening Sian.


“Bagaimana, mas Bara sudah percayakan kalau aku sudah sembuh?” tanya Sian dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat.


“Hem, iya udah kita pergi jalan-jalan siang ini.” Ucap Bara yang langsung menyantap makanan yang terhidang di depannya itu.


“Kalau begitu mas Bara habiskan makanannya, aku tinggal pergi mandi dulu ya mas.” Ucap Sian pergi meninggalkan Bara sendirian di meja makan.


Sian pun pergi ke kamar mandi dengan membawa handuknya. Setelah itu dia mandi. Sementara itu Bara menyelesaikan sarapannya dan setelah itu Bara masuk ke kamar untuk melepas semua pakaiannya hanya menyisakan celana bokser hitam yang membalut bagian bawahnya. Kemudian dia mengambil handuknya dan pergi ke kolam untuk berenang.


Sian keluar dari kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk pergi dengan Bara. Setelah selesai, Sian baru menyadari jika dia tidak melihat suaminya semenjak dia keluar dari kamar mandi. Dia keluar dari kamar untuk mencari sosok suaminya itu, di saat bersamaan ada suara ponsel berdering. Dengan sangat cepat Sian kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponselnya dan ternyata ponsel yang berdering bukanlah ponsel miliknya melainkan milik suaminya Bara.


Tertulis jelas nama Tony yang muncul di layar ponsel suaminya itu. Tanpa berpikir panjang, Sian langsung mengangkat telepon Tony tersebut.

__ADS_1


“Halo,” ujar Sian ketika teleponnya tersambung.


“Dr. Sian, di mana Bara?” tanya Tony di dalam telepon.


“Tunggu sebentar Tony, biar saya carikan Bara dulu.” Kata Sian yang langsung mencari suaminya itu.


Tepat saat Sian ingin mencari, Bara memanggil istrinya itu dari dalam kolam renang.


“Sayang.” Teriak Bara dengan melambaikan tangannya ke arah Sian.


Sian menoleh ke arah suara Bara yang berada di kolam renang.


“Mas Bara, ada telepon dari Tony.” Ujar Sian sembari menghampiri suaminya itu di kolam renang.


“Tony?”


“Ya telepon dari Tony mas.” Ucap Sian kembali dengan memberikan ponsel tersebut kepada Bara.


“Halo Tony, ada apa?” Tanya Bara langsung saat menempelkan ponsel di telinganya.


“Apakah kamu yakin soal itu?” tanya Bara kembali kepada Tony di dalam telepon.


Sesaat Bara diam dan terus mendengarkan Tony yang berbicara di dalam telepon.


“Jika informasi tersebut memang benar, tolong kamu cari tahu dan setelah itu kamu kabari lagi aku jika sudah pasti.” Ucap Bara pada Tony di dalam telepon. Kemudian Bara menutup teleponnya saat itu juga.


“Apa yang kalian bicarakan mas? Sepertinya terdengar sangat serius sekali.” Tanya Sian saat Bara menutup teleponnya.


“Tidak ada, mas pergi ganti baju dulu. Kan sebentar lagi kita akan pergi jalan-jalan.” Ucap Bara yang seakan tidak ingin menjawab pertanyaan dari Sian.

__ADS_1


Bara pun pergi masuk ke dalam Villa dan langsung ke kamar untuk bersiap-siap. Begitu juga dengan Sian yang ikut masuk ke dalam Villa, tetapi ia berjalan ke dapur untuk mengisi perutnya dengan makan yang sempat dia masak tadi pagi.


“Sayang sudah selesai makannya?” tanya Bara menghampiri Sian di meja makan.


“Udah selesai mas.”


“Kita berangkat sekarang, nanti keburu sore untuk mencari oleh-olehnya.” Ajak Bara.


“Ya udah, kita berangkat sekarang mas. Tunggu sebentar mas, aku ambil tas dan ponselku dulu di dalam kamar.” Sian langsung berlari ke kamar untuk mengambil tas dan ponselnya, dan setelah itu mereka pergi meninggalkan Villa menuju pusat kota Bali.


***


“Mas, beli ini aja buat Raihan ya?” ujar Sian sembari menunjukkan sebuah mainan robot-robotan.


“Jangan, Raihan tidak suka dengan mainan seperti itu.” Ucap Bara yang hanya berdiri saja sejak dari tadi. Dia bahkan tidak membantu Sian memilihkan oleh-oleh untuk Raihan, dia hanya bisa berkomentar dan melarang Sian jika hadiah pilihan Sian tidak sesuai dengannya.


“Kalau yang ini mas, bagaimana?” tanya Sian kembali sembari menunjukkan sebuah remot game.


“Jangan belikan Raihan game seperti itu, nanti dia akan malas belajar dan terus bermain game. Jangan biasakan.” Ucap Bara dengan menujukan wajah malasnya.


Saat ini Bara sudah sangat bosan sekali menemani Sian mencari hadiah untuk Raihan. Sejak dari tadi Sian tidak henti-henti berbelanja hingga hari semakin gelap, dan kantong belanjaan di tangan Bara saat ini sudah sangat banyak sekali. Beruntung Bara memiliki tubuh yang kuat membawa semua belanjaan istrinya itu.


“Mas Bara kenapa Sih? Sejak dari tadi selalu komplain tentang hadiah yang ingin aku belikan untuk Raihan. Mending mas tunggu saja aku di mobil, nanti jika aku sudah mendapatkan hadiah untuk Raihan aku akan menyusul mas di mobil.” terlihat Sian mendengus kesal melihat suaminya itu. Sehingga dia menyuruh Bara untuk menunggunya di mobil.


Bara mendesah pelan, dia sudah sangat lelah sekali saat ini. Dengan senang hati dia kembali ke mobil dan menunggu Sian di dalam mobil saja. Sesungguhnya sudah sejak dari tadi dia menunggu Sian memintanya untuk menunggu di mobil.


“Baiklah kalau begitu, mas tunggu di mobil saja. Jika terjadi apa-apa cepat tekan tombol bantuan yang sudah mas pasang di ponselmu.” Ucap Bara mengingatkan.


“Baiklah aku mengerti, mas Bara kembali saja ke mobil sekarang. Aku mau pergi ke toko lain untuk mencari hadiah untuk Raihan.” Ucap Sian meminta Bara untuk pergi.

__ADS_1


Setelah Bara pergi, Sian pun melanjutkan kegiatannya yang sedang berbelanja oleh-oleh ke toko berikutnya.


__ADS_2