Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 61


__ADS_3

Saat sampai di alamat rumah orang tua angkat gadis kecil tersebut, Sian dan Bara sedikit terkejut melihat sebuah Villa mewah di depan mereka. Saat memasuki halaman Villa tersebut, Bara langsung memarkirkan mobilnya dan setelah itu dia keluar dari mobilnya bersama Sian dan gadis kecil tersebut. Saat mereka keluar, papa angkat gadis kecil tersebut sudah menunggunya di luar Villa.


“Terima kasih sudah menolong dan mengantarkan anak saya.” Ucap pria yang terlihat masih sangat muda sekali, bisa di bilang umurnya sama dengan Bara.


“Sama-sama,” jawab Bara dengan tersenyum kaku.


“Oh ya, perkenalkan nama saya Nicholas Saputra.” Ucapnya dengan mengulurkan tangannya kepada Bara.


“Saya Bara dan ini istri saya Sian, senang berkenalan dengan Anda.” Ucap Bara sembari menyambut uluran tangan Nicholas.


“Senang juga berkenalan dengan kalian berdua, apakah kalian ingin masuk ke dalam untuk minum secangkir kopi panas sebagai ucapan terima kasih saya.” Tawar Nicholas kepada Bara dan Sian.


“Tidak perlu repot-repot, terima kasih atas tawarannya. Namun, saya dan istri saya tidak bisa lama-lama di sini karena kami harus pulang sekarang, kami permisi pulang dulu.” Ucap Bara menolak.


“Baiklah jika itu yang kalian inginkan, saya tidak bisa memaksa. Kalau begitu kalian hati-hati di jalan, sampai jumpa.” Ucap Nicholas.


Bara dan Sian pun pergi meninggalkan Villa tersebut dan kembali ke Villa mereka yang jaraknya sangat jauh. Butuh waktu satu jam untuk sampai di Villa mereka sendiri.


“Sayang, jika kamu mengantuk, tidur saja. Nanti mas banguni jika sudah sampai di Villa.” Ucap Bara sembari menyetir mobil.


“Mas yakin tidak mau aku temani menyetir mobilnya?”


“Iya mas sangat yakin, kamu tidur saja mas tidak apa-apa.” Jawab Bara yang tetap masih fokus menyetir


“Baiklah kalau begitu, aku tidur dulu ya mas. Kalau sudah sampai jangan lupa banguni aku ya.” Ucap Sian menatap ke arah Bara yang sedang menyetir.


“Em...baiklah, kamu tidur saja sekarang.” Pinta Bara pada Sian.


Sian pun langsung menyandarkan punggungnya di sandaran belakangnya, dan kemudian dia memejamkan matanya untuk tidur.


***


Ting!


Ting!


Suara pesan berturut dua kali masuk di ponsel Sian yang berhasil membangunkannya. Dengan mata yang masih terpejam, Sian mengerakkan tangannya untuk mencari ponselnya di atas nakas. Setelah ponsel sudah berada di tangannya, Sian berusaha membuka matanya untuk membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu.


No tidak dikenal:

__ADS_1


Apa kabar sayang? Kenapa kau memblokir nomorku sebelumnya?


No tidak dikenal:


Aku dengar kau sudah menikah ya? Tapi tidak apa-apa, jika kau sudah mengingat saya lagi, saya yakin seratus persen kau akan kembali kepadaku.


Pagi-pagi Sian mendapat pesan dari nomor tidak dikenal lagi. Sepertinya ini orang yang sama yang sering mengirim pesan kepada Sian beberapa waktu lalu. Melihat dua pesan tersebut langsung benar-benar membangunkan Sian dari tidurnya.


orang ini tahu dari mana kalau aku sudah menikah? Siapa dia sebenarnya, kenapa dia tahu tentang pernikahan ku?


Terlihat wajah Sian yang bingung dan merasa takut setelah membaca pesan tersebut. Bara yang berbaring di sampingnya itu juga ikut terbangun saat Sian sedang menatap ponselnya itu.


“Sayang, kamu sedang apa pagi-pagi begini menatap ponselmu seperti itu? Apa terjadi sesuatu?” tanya Bara dengan suara serak khas bangun tidur.


“Ti-dak ada apa-apa mas, aku hanya melihat jam saja di ponselku.” Jawab Sian berbohong.


“Mas rasa ini masih sangat pagi sekali deh, lebih baik kita tidur lagi saja. Kan semalam kita berdua sampai di Villa saja sangat larut malam. Lebih baik kamu letakan kembali ponsel itu dan tidur lah lagi.” Titah Bara pada Sian.


“Baik mas.” Jawab Sian menurut. Dia langsung meletakan ponselnya kembali ke atas nakas dan kembali tidur lagi dengan memeluk suaminya itu.


Namun, sebelum memejamkan matanya Sian berkata kepada Suaminya itu.


“Mas, ada yang ingin aku katakan padamu.” Ucap Sian ragu-ragu.


“Mas, sebenarnya...” ucap Sian mengantung.


“Sebenarnya apa sayang?” tanya Bara yang masih memejamkan matanya.


“Sebenarnya, beberapa bulan terakhir ini aku sering mendapatkan pesan aneh dari seseorang yang tidak aku kenal mas.” Ucap Sian jujur pada Suaminya itu.


Mendengarkan ucapan istrinya itu Bara langsung membuka matanya dan menatap wajah istrinya itu dengan penasaran.


“Pesan aneh bagaimana sayang?” tanya Bara sembari beranjak duduk dari tidurnya.


Sian mengambil ponselnya kembali di atas nakas dan memperlihatkan dua pesan yang baru saja dia terima.


Setelah Bara membacanya, dia menatap ke arah Sian.


“Pesan yang lainnya mana?” tanyanya dengan sangat serius.

__ADS_1


“Itu dia permasalahannya mas, waktu berada di barak militer aku sudah menghapus semua pesan tersebut karena merasa sangat takut sekali.” Jawab Sian dengan jujur.


“Terus apakah kamu bisa mengingat semua pesan itu? Atau ada sesuatu yang bisa mas tahu?” tanya Bara yang semakin serius.


“Aku tidak yakin bisa mengingat semua pesan tersebut, tapi yang pasti dari pesan-pesan itu sepertinya orang itu sangat mengenaliku mas.” Ucap Sian sembari berpikir keras mengingat semua isi pesan yang dia terima.


“Tidak ada lagi selain itu sayang?” tanya Bara memastikan.


“Maaf mas, aku tidak bisa mengingatnya lagi.” Ucap Sian menyesal.


“Sudah, tidak apa-apa jika kamu tidak bisa mengingatnya lagi.” Ucap Bara sembari memegang tangan istrinya itu sebentar.


“Lain kali, jika kamu mendapat pesan seperti ini lagi, kamu harus cepat-cepat memberitahu mas, oke.” Sambung Bara.


“Oke baiklah.” Angguk Sian mengerti.


“Bagus, kemarilah biarkan mas memelukmu.” Pinta Bara pada Sian.


Sian langsung tersenyum dan memeluk erat suaminya itu. Begitu juga dengan Bara memeluk erat istrinya itu dengan erat.


Mungkinkah yang mengirim pesan seperti itu kepada Sian adalah seseorang yang selama ini membaut papa Damian takuti dan memintaku untuk melindungi Sian.


Bara mulai terlihat sedikit khawatir. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan istrinya itu. Dia tidak ingin hal yang terjadi tiga tahun yang lalu terulang lagi.


“Mas, apa yang sedang mas Bara pikirkan sekarang?” tanya Sian yang menyadarkan Bara dari lamunannya.


“Tidak apa-apa, hanya saja tiba-tiba mas merasa sangat lapar sekali. Buatkan mas nasi goreng dong.” Pinta Bara kepada Sian.


“Sekarang?”


“Em, sekarang.” Angguk Bara dengan wajah memohonnya.


Sian menghelakan nafas lelahnya, saat ini dia masih sangat malas sekali untuk turun dari tempat tidur. Sian ingin kembali tidur lagi sebenarnya, tetapi melihat Suaminya Bara sudah memohon kepadanya, membuat Sian tidak bisa menolaknya.


“Baiklah, aku buatkan mas basi gorengnya sekarang.” Ucap Sian yang sangat terpaksa.


“Terima kasih sayang...” ucap Bara dengan tersenyum lebar kepada Sian.


Dengan memaksakan dirinya, Sian beranjak turun dari tempat tidur dan langsung menuju dapur untuk membuatkan suaminya itu nasi goreng.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2