
Kemudian Bara mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam Villa. Saat berada di dalam Villa Bara langsung menurunkan istrinya dan mengunci pintu terlebih dahulu. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar dan melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda.
Sian berbaring di atas ranjang dan Bara berada di atasnya. Manik mata coklat Sian tidak berhenti menatap manik mata hitam milik Bara.
“Sayang, aku mencintaimu.” Ucap Bara. Kini giliran dirinya yang mengatakan cinta kepada Sian.
Setelah itu Bara melepaskan bajunya dan melemparkannya di sembarangan tempat. Lalu dia melahap bibir tebal milik Sian yang sejak dari tadi menggoda Bara.
Perlahan-lahan bibir Bara turun ke leher Sian. Menciumnya dan memberi tanda merah semuanya di lakukan Bara di leher jejang itu. Kemudian dia juga melepaskan ikatan tali pita baju Sian, lalu membantu Sian melepaskannya.
“Mas tunggu sebentar,” ucap Sian menghentikan.
“Ada apa sayang?” tanya Bara dengan nafas tidak teratur.
“Mas matikan dulu lampunya.” Ucap Sian malu-malu.
“Untuk apa di matikan sayang?”
“Mas tidak lihat jika kamar ini memiliki jendela kaca besar yang tembus pandang dari luar.” Ucap Sian sembari menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Sayang, tidak ada orang yang akan melihat kita.”
“Tidak, sebelum mas Bara menutup jendelanya dengan tirai dan mematikan lampu, aku tidak mau melakukannya.” Ucap Sian mengancam.
“Ok baiklah, mas akan menutup jendelanya dan mematikan lampunya sekarang.” Ucap Bara mengalah dan langsung menutup jendela dan mematikan lampu kamar mereka.
__ADS_1
Setelah itu Bara kembali naik ke atas tempat tidur di mana Sian berada. Lalu mereka melanjutkan kegiatan mereka sebelumnya tanpa menundanya lagi. Mereka melangsungkan malam yang panjang penuh dengan kelelahan.
***
Keesokan paginya. Bara terlebih dahulu terbangun dari tidurnya, kemudian dia turun dari tempat tidur masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai, Bara pun keluar dari kamar mandi dengan memakai kemeja bermotif daun-daun ala pantai, berpadu dengan celana Jeans. Rencananya hari ini, Bara dan istrinya Sian ingin pergi jalan-jalan mengelilingi Bali. Karena tidak ingin menyia-nyiakan waktunya, Bara bersiap-siap terlebih dahulu sebelum istrinya itu terbangun. Atau lebih tepatnya, Bara tidak ingin membangunkan istrinya itu dari tidurnya. Dia tahu jika Sian bekerja keras semalaman demi dirinya.
“Kini saatnya membangunkan sayangku.” Ucap Bara pelan sembari menghampiri Sian yang masih betah tidur di atas kasur.
Bara duduk di tepian ranjang samping Sian tertidur.
“Sayang bangun, hari sudah hampir siang. Katanya mau pergi jalan-jalan.” Ucap Bara membangunkan istrinya.
Namun, Sian tidak bergerak sedikit pun dari tidurnya. Malah dia mengigau tidak jelas di dalam tidurnya, serta seluruh tubuhnya bergetar mengigil kedinginan.
“Sayang, tunggu sebentar, mas ambilkan obat dan kompres penurun panas dulu.” Ucap Bara yang langsung pergi untuk mengambil obat dan kompresan.
Beberapa menit kemudian, Bara kembali dengan membawa obat dan kompresan penurun panas. Sebelum itu, Bara memberi Sian makan terlebih dahulu dan kemudian dia memberikan obat serta mengompres kening istrinya dengan handuk hangat. Bara juga mengompres tubuh Sian menggunakan handuk panas agar suhu panas tubuhnya cepat menurun.
Hampir satu jam Bara tetap setia menunggu istrinya itu. Suhu panas tubuh Sian pun kini sudah mulai menurun dari sebelumnya. Kini Sian mulai sedikit berkeringat dan tidak mengigil kedinginan lagi. Setiap lima menit sekali Bara selalu menggelapi keringat yang keluar dari tubuh istrinya itu. Sekali-kali Bara menatap kening Sian untuk memastikan panasnya sudah turun, dan Bara pun bisa bernafas lega.
“Akhirnya panasnya sudah mulai turun.” Ucap Bara sembari menyelimuti bagian tubuh Sian yang tidak tertutup dengan selimut.
Setelah itu dia pergi keluar meninggalkan Sian yang terlelap, Bara pergi keluar untuk membeli bahan makanan dan juga makanan yang telah masak untuknya sendiri. Tak lupa dia juga membeli makanan yang mudah di cerna untuk istrinya yang sedang sakit di rumah. Setelah selesai membeli bahan makanan, kemudian Bara kembali ke Villa secepat mungkin. Dia tidak ingin meninggalkan istrinya itu lama-lama di Villa sendirian.
Sesampai di Villa, Bara langsung pergi ke kamar untuk melihat keadaan istrinya Sian. Saat masuk ke dalam kamar Sian sudah tidak ada lagi di atas tempat tidurnya. Bara mulai panik saat tempat tidurnya kosong, tetapi di saat waktu yang sama Sian keluar dari kamar mandi dengan keadaan lemah dan postur tubuhnya yang tidak seimbang.
__ADS_1
“Sayang, kamu kenapa memaksakan dirimu untuk pergi ke kamar mandi sih? Kamu kan sedang sakit saat ini, tidak bisakah tunggu mas saja jika ingin pergi ke kamar mandinya.” Ucap Bara sedikit kesal kepada Sian.
“Mas, mana mungkin aku menunggu mu, sedangkan aku sudah tidak tahan lagi.” Ucap sian dengan sangat lemah sekali. Wajah pucat pasinya membuat Bara tidak tega untuk memarahinya.
“Sini, biar mas gendong sampai ke tempat tidur sekarang.” Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya itu, Bara langsung mengendong istrinya itu sampai kembali berbaring di atas tempat tidurnya.
“Terima kasih mas,” ucap Sian memaksakan dirinya tersenyum kepada Bara saat ini.
“Sudah kamu tetap di sini saja, jangan ke mana-mana istirahat saja sekarang. Mas pergi ke dapur dulu, mas lapar mau makan sebentar. Jika ada apa-apa kamu panggil saja mas di luar.”
“Em, baiklah mas.” Anggukan Sian mengerti.
Setelah memastikan keadaan istrinya itu, kemudian Bara pergi ke dapur untuk memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas dan setelah itu dia mengisi perutnya dengan makanan yang sempat dia beli tadi. Bara juga menghangatkan makanan yang sempat dia belikan untuk istrinya Sian. Setelah menghabiskan makanannya Bara langsung kembali ke kamar dengan membawakan makanan yang dia hangat terlebih dahulu.
Di sisi lain, Sian sudah kembali tertidur saat Bara membawa makanan untuknya. Tak ingin mengganggu istirahat istrinya itu Bara hanya meletakan makanan yang dia bawa di atas nakas dan kemudian dia pergi keluar dengan membawa leptopnya.
Bara berencana untuk mengerjakan beberapa berkas bisnisnya di jepang sembari menunggu istrinya sembuh dari sakitnya.
Hari semakin mulai gelap, Bara masih betah mengerjakan dan menyelesaikan sisa berkas yang masih belum terselesaikan. Bara berencana untuk menyelesaikan semua pekerjaannya selagi memiliki waktu luang. Setelah hari ini, akan sangat sulit sekali bagi Bara untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.
Sementara itu Sian masih tertidur nyenyak di posisinya. Berbeda halnya dengan Bara saat ini yang bergulat dengan leptopnya. Saking sibuknya Bara, dia melupakan jika istrinya itu sedang sakit saat ini.
.
Bersambung...
__ADS_1