
Sian terkekeh mendapati suaminya yang frustasi setelah kalah taruhan darinya. Sebelumnya Sian tidak ingin melakukan taruhan dengan suaminya itu, dia hanya benar-benar ingin membantu suaminya itu dalam menyelesaikan semua pekerjaannya. Namun, karena Bara menganggapnya remeh sehingga membuat dirinya ingin memberi pelajaran kepada suaminya itu agar tidak meremehkannya lagi.
“Udah mas, jangan terlalu di pikirkan, mending mas Bara lanjutkan saja pekerjaannya sekarang.” Ucap Sian menggoda.
Bara langsung menoleh ke arah asal suara. Dia mendapati Sian yang tengah berdiri di ambang pintu kamar dengan gaya sombongnya.
“Ini tidak adil, pokoknya taruhan ini tidak berlaku.” Ucap Bara sambil menatap Sian yang berdiri di depan pintu kamar.
“Tidak bisa gitu dong mas,” bantah Sian sambil melangkah mendekati Bara yang sedang duduk di sofa.
“Tentu saja taruhan ini tidak berlaku,” ucap Bara yang tidak mau kalah.
“Kenapa tidak berlaku?” tanya Sian yang tidak terima.
“Karena sejak dari awal kamu sudah menipu mas.” Jawab Bara yang merasa jika dirinya di tipu oleh istrinya itu.
“Menipu bagaimana? Mas Bara sendiri yang menantang dan mengajak taruhan, dan kenapa tiba-tiba mas bilang aku menipu.” Sanggah Sian tidak terima.
“Karena sejak dari awal taruhan ini sudah kamu atur kan untuk menipu mas?” ucap Bara yang juga tidak mau kalah.
Sedangkan Sian terdiam saat mendengarkan ucapan suaminya itu. Apa yang di katakan Bara barusan adalah kebenaran. Sesungguhnya, memang dari awal Sian telah merencanakannya dan memancing Bara masuk ke dalam perangkapnya untuk menerima taruhan tersebut. Padahal dia sudah tahu jika Bara tidak akan pernah menang dalam taruhan ini.
“Kenapa diam?! Benar apa yang mas katakan barusan, memang sejak dari awal mas sudah di tipu kan?!” Ucap Bara yang sedikit kehilangan kendali. Bara tidak sadar jika saat ini dia terbawa suasana.
“Apa mas marah sekarang? Mas tidak terima dengan kekalahan mas sekarang?” tanya Sian yang juga mulai terbawa suasana. Wajah Sian terlihat kecewa dan matanya memanas ingin mengeluarkan air mata.
Bara menyadari jika dirinya kelewatan batas saat ini.
Astaga, kenapa aku bersikap kelewatan batas seperti ini? Aku selalu tidak bisa mengontrol diriku sendiri.
Melihat mata Sian yang memerah. Dia mulai sadar jika menyakiti perasaan istrinya itu.
__ADS_1
“Sayang maafkan mas, sungguh mas tidak bermaksud untuk marah kepadamu.” Ucap Bara sambil memegang tangan Sian dengan kedua tangannya.
Tanpa menggubris ucapan Bara, Sian langsung menarik tangannya dari genggaman suaminya itu. Setelah itu Sian mengambil beberapa berkas dan melemparkannya ke arah Bara dengan berkata.
“Lebih baik mas selesaikan saja pekerjaannya, jangan pedulikan penipu ini.” Kata Sian yang mengambek. Kemudian Sian kembali ke kamar meninggalkan Bara sendirian di ruangan tengah.
“Sayang maafkan mas_”
“Cukup mas! Aku tidak ingin mendengarkan suara mas sekarang.” Potong Sian. Kemudian dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.
“Bara apa yang kamu lakukan barusan? Kenapa kamu bersikap seperti itu pada Sian? Jika kalah ya kalah saja, ini semua salah kamu sendiri. Kamu harus bisa kendalikan emosimu.” Gerutu Bara sendiri yang masih berada di ruang tengah.
Setelah beberapa jam pertengkarannya dengan suaminya Bara, Sian keluar dari kamar dengan penampilan rapi dan cantik. Sepertinya dia ingin pergi keluar Villa. Saat Bara melihatnya dengan penampilan sepeti itu, dia langsung menghentikannya.
“Sayang mau pergi ke mana?” tanya Bara. Dia berdiri tegak di hadapan Sian saat ini.
“Jangan panggil sayang, mas tidak boleh panggil aku sayang.” Jawab Sian ketus dengan wajah tertekuk.
“Kenapa mas tidak boleh panggil kamu sayang?” tanya Bara yang tidak peka kepada istrinya itu.
Sian sangat kesal sekali saat ini. Bisa-bisanya suaminya Bara tidak menyadari jika saat ini Sian sedang sangat marah sekali kepadanya.
“Bodoh amat,” ucap Sian mengabaikan perkataan Bara. Dia berjalan melewati suaminya begitu saja.
“Kamu mau pergi ke mana? Apakah kamu tidak dengar jika mas sedang betanya?” ucap Bara menghentikan Sian dengan menahan tangannya.
Sian pun menoleh ke sampingnya menatap Bara. “Mas tidak lihat jika aku sedang marah saat ini?” tanya Sian dengan memperlihatkan wajah marahnya kepada suaminya itu.
Seketika Bara melepaskan tangannya dari Sian. Dia baru menyadari jika istrinya itu sedang marah kepadanya.
Astaga aku lupa jika Sian sedang marah kepadaku.
__ADS_1
“Sayang maafkan mas ya, mas mohon.” Bara memohon kepada Sian.
“Beri aku waktu mas, aku butuh menenangkan diriku saat ini. Aku ingin pergi keluar dan setalah itu baru kita bicarakan lagi masalah ini.” Ucap Sian yang memutuskan tidak langsung memaafkan Bara.
“Memangnya kamu ingin pergi ke mana sendirian seperti ini? Mas temani ya perginya, mas takut terjadi apa-apa saat mas tidak ada.” Ucap Bara khawatir. Dia tidak bisa membiarkan Sian pergi keluar sendirian, apa lagi hari sudah mulai gelap.
Sian terlihat sedang berpikir. Dia menatap Bara serius, terlihat jika saat ini Bara memang benar-benar khawatir kepadanya jika membiarkan dirinya pergi sendiri.
“Baiklah, mas boleh ikut, tapi ingat mas tidak boleh melarang dan berjalan dekat-dekat aku jika jangan ikut.” Ucap Sian mengizinkan.
“Baiklah mas janji tidak akan melarang dan berjalan dekat-dekat kamu.” Ucap Bara menyetujui semua yang di katakan Sian.
“Baiklah kalau begitu, mas cepat ganti bajunya sekarang. Aku tunggu mas di mobil.” Ucap Sian yang langsung pergi ke mobil.
Beberapa menit kemudian Bara dan Sian pun pergi meninggalkan Villa.
“Sayang, kita mau pergi ke mana sekarang?” tanya Bara sambil menyetir mobilnya.
“Jangan panggil aku sayang, mas harus ingat jangan pernah memanggilku dengan sebutan sayang di hadapan semua orang. Jika tidak mas pulang saja ke Villa, tidak usah temani aku pergi jika tidak ingin mematuhi.” Ancam Sian.
“Baiklah, mas janji tidak akan memanggil kamu dengan sebutan sayang.” Jawab Bara mengerti.
“Bagus.” Ucap Sian sambil menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran kursi mobil.
Saat ini posisi duduk mereka seperti seorang sopir dan nyonya. Sian duduk di kursi belakang selayaknya nyonya, sedangkan Bara duduk di depan menyetir mobil layaknya sopir.
“Jadi, kita mau pergi ke mana nyonya?” tanya Bara dengan sopan selayaknya sopir bertanya kepada bosnya.
“Sudah kamu tidak perlu banyak tanya, kamu fokus saja menyetirnya. Aku sudah memasukkan alamatnya di GPS mobil sekarang, kamu ikuti saja GPS tersebut.” Titah Sian kepada Bara.
“Baik nyonya saya mengerti.” Jawab Bara mengerti.
__ADS_1
Setibanya di tempat tujuan, Bara sangat terkejut sekali saat mengetahui tempat yang di datangi istrinya itu adalah Mirror Lounge and Bar. Mirror Lounge and Bar ini adalah salah Club malam yang terkenal di Bali, selain tempat makan, Club malam ini juga tempat party yang banyak di sukai banyak orang luar.
.