
Barak militer.
Tim medis yang bertugas sudah tiba di barak militer. Mereka mendarat tepat di lapangan luas tempat semua prajurit berlatih. Semua mata prajurit di sana langsung tertuju pada mereka yang baru saja keluar dari helikopter. Tim medis yang di pimpin oleh Sian tersebut berhasil membuat semua prajurit di sana memperhatikan mereka.
Kenapa tidak, karena selama ini tenaga medis yang bertugas di barak militer selalu seorang pria. Baik itu dokter maupun perawatnya semuanya pria, kali ini sedikit berbeda dan menarik perhatian semua para prajurit di sana.
“Selamat datang di Barat militer,” ucap seorang perwira.
Perwira ini atau lebih tepatnya letnan ini, di tugaskan untuk menyambut kedatangan Sian dan timnya di barak militer.
“Maafkan saya, di antara kalian semua siapa pemimpin tim ini?” tanya letnan tersebut.
Tanpa menjawab, Sian langsung melangkah maju dan memperkenalkan dirinya pada letnan tersebut.
“Perkenalkan, saya Dokter Sian pemimpin dari tim medis ini.” Ucap Sian sembari mengulurkan tangannya kepada letnan tersebut.
Namun, letnan tersebut tidak menyambut uluran tangan Sian, letnan ini malah memberi hormat kepada Sian.
“Senang bertemu dengan mu, saya letnan Clovis.” Ucapnya lalu mengulurkan tangannya kepada Sian untuk bersalaman setelah memberi hormat kepada Sian.
Ada apa dengannya? Tadi aku mengulurkan tanganku kepadanya dan dia tidak menyambutnya. Sekarang dia yang malah mengulurkan tangannya kepadaku. Kenapa ribet sekali menjadi seorang tentara, kebanyakan ritualnya.
“Senang juga bertemu dengan mu, letnan Clovis.” Ucap Sian sembari menyambut uluran tangan letnan Clovis, kemudian melepaskannya.
“Mari biar saya antar kalian semua ke tempat kamp kalian akan tinggal.” Letnan Clovis langsung membawa Sian dan timnya menuju tempat tinggal mereka sekaligus tempat mereka bertugas sebagai tenaga medis.
Sesampainya, Sian langsung memilih tempat tidurnya yang paling ujung. Dia meletakan barang-barang dan menyusun semua barang miliknya dengan rapi di lemari yang tersedia di samping tempat tidur yang dia pilih.
Kemudian Sian dan timnya juga membersihkan kamp kerja mereka. Lalu menyusun semua peralatan medis dan obat-obatan yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Karena hari ini adalah hari pertama mereka berada di barak militer, jadi tugas Sian dan tim medisnya hanya melakukan pembersihan dan menyusun segala peralatan agar besok mereka bisa bertugas dengan baik. Setelah semua pekerjaan mereka selesai, Sian dan Timnya pergi beristirahat di kamp mereka masing-masing.
Sian kembali ke kamp untuk beristirahat. Dia mencoba untuk melepaskan lelahnya dengan tiduran di tempat tidur yang dia tempati sekarang. Sedangkan tim yang lain pergi membersihkan diri mereka. Berbeda dengan apa yang di lakukan Sian saat ini.
__ADS_1
***
Jepang, bandara Tokyo.
Bara keluar dari pesawat dengan ponsel di telinganya. Wajahnya sangat serius dan kaku sekali siapa pun yang melihatnya.
“Bagaimana, apakah kau sudah mendapatkan jejaknya?”
Bara terus melangkah sembari berbicara di teleponnya.
“Baiklah saya mengerti, saya akan segera ke sana sekarang juga.”
Bara mengakhiri sambungan teleponnya dengan orang tersebut, dan kemudian dia berali menghubungi orang yang berbeda setelah sambungan telepon terputus. Telepon tersambung.
“Halo, siapkan semuanya dalam waktu 10 menit, kita harus bergerak cepat, jika tidak kita semua akan menunggu lebih lama lagi jika melewatkan kesempatan ini, kali ini kita harus bisa memasuki pasar gelap jika ingin bisnis kita berhasil.”
Wajah dan suara Bara berubah sangat tegas sekali saat berbicara dengan seseorang di dalam telepon ini. Seakan dia memberi komando kepada bawahannya.
Tanpa berbicara lama-lama, Bara langsung menutup teleponnya dan berjalan dengan cepat. Sepertinya ada sesuatu penting dan rahasia yang harus dia lakukan sekarang. Dari gerak geriknya saja memperlihatkan jika apa yang akan di lakukan Bara sangat berhati-hati sekali.
Setelah keluar dari bandara, Bara langsung masuk ke dalam mobil yang sudah sejak dari tadi menggunnya. “Jalan sekarang,” titah Bara pada orang yang menyetir mobilnya itu.
Drrrt...drrrt...
Tertulis nama Sian dengan emoji love yang muncul pada layar ponsel Bara. Sejenak Bara menutup matanya, dan ketika dia membuka matanya kembali dalam sekejap ekspresi wajah dan nada suaranya berubah lembut dan ceria.
“Halo sayang,” ucapnya setelah telepon tersambung.
“Mas di mana sekarang?” tanya Sian di dalam telepon.
“Sekarang mas lagi di jalan untuk melakukan perjalanan bisnis.”
__ADS_1
“Kapan mas akan kembali?”
“Mas juga belum tahu pasti kapan mas akan kembali, tergantung perkerjaan yang mas kerjakan kapan selesainya. Memangnya kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti ini?”
Terdengar Suara Sian berdengung, sepertinya dia sedang memikirkan jawabannya.
“Tidak ada mas, aku cuma bertanya saja.” Suara Sian terdengar sedikit lesu di telinga Bara.
“Sayang kenapa suara mu terdengar sangat lesu sekali? Katakan pada mas ada apa?” Suara Bara terdengar khawatir kepada istrinya itu.
“Em...” Sian berdengung sebentar. “Aku rindu mas Bara,” sambung Sian yang membuat Bara tersenyum di dalam mobilnya.
“Baru sehari kamu bertugas di barak, masa sudah merindukan mas.” Ucap Bara sembari tersenyum lebar.
“Aku ngak tahu juga mas, kenapa tiba-tiba aku sangat merindukan mas? Baru satu hari aku berada di barak, tetapi aku merasa seperti sudah satu bulan aku berada di sini saat tidak ada mas di sisiku.” Ucap Sian dengan jujur.
Kedua sudut bibir Bara semakin melebar mendengarkan ucapan Sian di dalam telepon sekarang. Entah mengapa Bara merasa sedang berada di tempat yang sangat terindah saat mendengar pengakuan dari istrinya itu.
“Mas juga sangat merindukan mu,” ucap Bara dengan memelankan suaranya agar orang yang sedang menyetir di depannya tidak mendengar ucapannya itu.
“Maaf tuan, kita sudah sampai di tempat tujuan.” Ucap orang yang menyetir tersebut dengan kuat. Sepertinya dia sengaja melakukannya agar Sian yang berada di tempat lain mendengarkannya.
“Maaf sayang mas tutup dulu teleponnya, nanti mas telepon kamu kembali jika pekerjaan mas sudah selesai. Bye sayang, Muah...” Bara mengakhiri teleponnya dengan sebuah kecupan dari jarak jauh, dan setelah itu Bara langsung memukul ringan bahu orang yang berada di depannya itu. Orang yang duduk di depan Bara saat ini masih di rahasiakan statusnya.
Di sisi lain Sian terlihat mendesah pelan karena teleponnya terputus begitu saja. Padahal dia masih ingin mendengarkan suara suaminya itu lebih lama lagi. Mendengar suara Bara memberikan kekuatan pada diri Sian saat ini. Rasa rindu membuat Sian merasa kesepian sekali walaupun dia tidak sendirian berada di barak militer saat ini. Namun, dia tetap merasa kesepian dan merindukan suasana rumah saat bersama Bara dan raihan.
.
.
👍👍👍❤❤❤ jgn lupa ya.
__ADS_1