Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 36


__ADS_3

Tokyo, Jepang.


Di dalam sebuah ruangan yang redup dari cahaya, terlihat wajah tegas terkesan kaku yang tidak pernah Bara perlihatkan kepada siapa pun sebelumnya. Saat ini Bara sedang bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat, tetapi sebelum itu dia menyempatkan untuk melihat ponselnya sebelum pergi. Ada satu pesan yang menarik perhatian Bara saat ini, yaitu pesan dari istrinya Sian. Jari tangan Bara bergerak cepat untuk membuka pesan tersebut sebelum pergi.


Sian:


Mas jangan lupa makan, jaga kesehatan dan jaga diri mas baik-baik di sana. Satu lagi, aku sangat merindukan mas Bara. Love Sian.


Entah mengapa hati Bara berdebar-debar membaca pesan dari istrinya itu. Tanpa berpikir panjang Bara langsung menekan tombol menghubungi setelah selesai membaca pesan tersebut.


Telepon tersambung...


Beberapa detik kemudian, Sian mengangkat telepon darinya.


“Halo mas, ada apa malam-malam begini mas menghubungi ku?” terdengar suara lembut Sian yang terbangun dari tidurnya.


“Maaf mas telah mengganggu tidurmu sayang, mas hanya ingin mendengar suara mu sebentar saja.” Ucap Bara dengan serius.


“Em, kenapa tiba-tiba mas ingin mendengarkan suara ku? Apa terjadi sesuatu kepada mas Bara?” tanya Sian yang tidak mengantuk lagi. Dia beranjak duduk dari tidurnya.


“Tidak ada, mas hanya merindukan mu saja sayang, apa tidak boleh merindukan suara istri mas sendiri?” gombal Bara.


“Apa sih mas, jangan bikin aku malu dengan ucapan gombal mas barusan.” Terdengar suara Sian yang sedang malu. Sekilas Sian menggigit bibir bawahnya dan tangannya melintir-lintir ujung rambutnya.


Bara tidak bisa menahan senyumannya lagi saat membayangkan istrinya itu sedang merasa malu. Seandainya dia ada di samping Sian saat ini, dia pasti bisa melihat wajah merah merona milik istrinya itu. Mendengar suaranya saja membuat jantung Bara berdebar-debar tak karuan seperti ini, bagaimana jika Sian berada di sisinya? Mungkin Bara sudah menjerat Sian dengan pelukannya yang sangat erat tanpa melepaskannya lagi.


“Sayang boleh aku meminta sesuatu padamu saat ini?” terdengar suara Bara yang semakin serius.


“Katakan apa itu?” tanya Sian penasaran.


“Mas ingin dengar kamu mengatakan cinta pada Mas sekarang,” ucap Bara tiba-tiba di dalam telepon.


Sunyi, tidak ada suara yang bisa di dengar oleh Bara saat ini. Seakan Sian menghilang begitu saja, tetapi telepon masih tersambung. Sepertinya Sian sedikit syok mendengar permintaan suaminya itu padanya.

__ADS_1


“Halo sayang, apakah kamu masih di sana?” tanya Bara sembari memastikan jika telepon mereka masih terhubung.


Tetap sama, tidak ada suara, hanya suara gemeresik angin yang terdengar di telinga Bara saat ini.


“Halo, sayang, apakah kamu mendengarkan suara ku?” tanya Bara kembali. Bara terlihat bingung kenapa tiba-tiba dia tidak bisa mendengarkan apa pun di dalam teleponnya, sedangkan teleponnya masih tersambung.


Mungkin dia sudah tertidur, lebih baik aku matikan saja teleponnya sekarang. Dan sebentar lagi waktunya tiba untuk berangkat.


Akhirnya Bara menyerah dan ingin mengakhiri teleponnya. Ketika Bara hendak menjauhkan ponsel dari telinganya, tiba-tiba Sian bersuara.


“Mas, aku mencintaimu.” Ucap Sian dengan cepat.


Bara kaget, kemudian dia langsung tersenyum setelah mendengarkan suara istrinya itu. Karena mendengar suara Sian, Bara tidak jadi mematikan teleponnya dan ponselnya tetap dia tempelkan di telinganya.


“Bisa katakan lagi apa yang barusan kamu ucapkan? Karena mas tidak mendengarkannya dengan jelas tadi.” Pinta Bara dengan kedua sudut Bibir yang terangkat.


Hening sesaat, hanya terdengar suara tarikan nafas panjang Sian. Kemudian Sian mengucapkan kembali kata-katanya dengan lantang.


Bara tersenyum kembali saat mendengar ucapan cinta dari sang istri. Saking bahagianya Bara lupa jika saat ini dia harus pergi. Tepat di waktu yang sama datanglah seorang pria bertubuh kekar menghampiri Bara.


“Semua sudah siap, hanya menunggu berangkat dan menunggu komando darimu.” Ucap pria tersebut pada Bara.


“Baiklah, saya mengerti.” Jawab Bara dengan tenang. Setelah memberitahukan pada Bara, kemudian pria tersebut pergi meninggalkan Bara sendirian.


Sian yang mendengar pembicaraan tersebut menjadi penasaran.


“Mas, mau pergi ke mana?” tanya Sian dalam telepon.


“Ada pekerjaan yang harus mas lakukan sekarang. Kita akhiri pembicaraannya sampai di sini saja, mas harus pergi sekarang.”


“Baiklah, mas jaga diri baik-baik ya.” Ucap Sian yang ingin mengakhiri teleponnya terlebih dahulu.


“Sayang tunggu sebentar, jangan tutup dulu teleponnya, masih ada yang ingin mas katakan padamu.” Ucap Bara.

__ADS_1


“Mas ingin mengatakan apa?”


“Mas hanya ingin mengatakan, jika mas juga sangat mencintai mu, mas ingin Sian tahu jika mas sangat-sangat mencintai Sian lebih dari apa pun. Dan satu lagi, mas juga ingin mengatakan jika mas tidak akan pernah melupakan semua kenangan indah saat bersama denganmu, mas sangat sayang padamu Sian. Jangan pernah lupakan itu.” Ucap Bara mengutarakan semua isi hatinya. Dan setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan pada istrinya itu, kemudian Bara langsung menutup teleponnya begitu saja.


Di sisi lain, Sian mendengarkan suara telepon terputus. Tut! Tut! Tut!


Sedangkan Bara, menutup matanya sesaat setelah mengakhiri teleponnya begitu saja tanpa memberitahu Sian saat ingin menutup teleponnya.


Saat ini Bara mengumpulkan semua tenaganya, dan membuang semua yang dia pikirkan saat ini. Dia tidak ingin saat bekerja dia tidak fokus karena memikirkan semua yang ada di kepalanya itu. Jika saat sedang bekerja Bara selalu bersikap profesional dan tegas dalam melakukan semua pekerjaannya.


Setelah sudah merasa siap, kemudian Bara beranjak berdiri dari kursinya.


Sudah saatnya melaksanakan rencana.


Bara keluar dari ruangannya dan menuju ke tempat di mana orang-orangnya berada.


Sementara itu, di sisi lain Sian masih termenung setelah Bara menutup teleponnya tiba-tiba. Perasaannya tidak enak saat mengetahui Bara akan pergi entah ke mana.


Aku harap dia baik-baik saja, dan tidak terjadi apa pun padanya.


Ngomong-ngomong selama menikah aku tidak pernah bertanya, apa yang selalu membuat mas Bara sangat sibuk sekali. Aku hanya tahu kalau mas Bara sangat sibuk sekali dengan bisnisnya di jepang.


Malam ini Sian menyadari jika selama ini dia tidak pernah memperhatikan apa yang di kerjakan oleh suaminya itu. Dan hal yang sepele pun, seperti makanan yang di sukai dan kebiasaan buruk suaminya itu, Sian pun tidak mengetahuinya.


Sedangkan dirinya hanya sibuk bekerja sama seperti suaminya itu. Bisa di bilang waktu yang mereka miliki untuk bersama sangat sedikit sekali. Hanya waktu yang akan berbicara tentang kehidupan rumah tangga mereka berdua. Kini hanya hubungan jarak jauh yang hanya bisa mereka lakukan, saling merindukan satu sama lain, dan merasa kesepian.


Di sisi lain Bara berada di dalam perjalanan yang entah ke mana tujuannya. Namun, yang pasti saat ini, apa yang dia lakukan masih bersifat rahasia dan tidak ada yang boleh mengetahuinya kecuali orang-orang khusus.


.


Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2