
Setalah selesai bertugas seharian, kini Sian dan anggota timnya kembali Ke kamp. Sian pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Dr. Sian sepertinya tadi ada telepon yang masuk ke ponsel dokter.” Ucap Ayudia saat Sian baru saja kembali dari kamar mandi.
“Baiklah, terima kasih Dr. Ayudia.” Ucap Sian sembari melangkah kakinya menuju ke tempat tidurnya.
Perlahan Sian mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia menyalahkan layar ponselnya untuk memeriksa siapa yang meneleponnya itu. Terlihat jelas jika yang menelepon Sian adalah Bara suaminya.
Ting! Pesan masuk di waktu yang sama.
No tidak di kenal:
Sayang apakah kau sudah mengingat ku sekarang?
Karena penasaran, Sian memutuskan untuk membalas pesan tersebut.
Sian:
Katakan kau siapa? Saya tidak tahu sama sekali siapa kamu sebenarnya.
No tidak di kenal:
Apakah kau ingin saya membantu mu untuk mengingat siapa saya sebenarnya?
Sian:
Jika memang kau memiliki sesuatu yang bisa di tunjukan pada saya, kenapa tidak.
No tidak di kenal:
Tunggu sebentar, saya akan mengirimkannya padamu sayang.
Beberapa saat Sian menunggu. Ting! Pesan masuk dari nomor yang sama. Saat Sian membuka pesan tersebut, ternyata sebuah foto tidak terduga yang di kirimkan oleh orang misterius tersebut. Sebuah foto di mana Sian sedang berpelukan dengan seseorang pria yang wajahnya tidak terlihat. Namun, dari foto tersebut Sian bisa melihat jika pria tersebut memiliki tubuh yang sama persis milik Bara suaminya, tetapi Sian sangat yakin jika pria yang ada di dalam foto tersebut bukanlah Bara suaminya. Sian bisa melihat jika punggung pria yang ada di dalam foto tersebut tidak selebar punggung milik Bara suaminya.
No tidak di kenal:
Bagaimana, apakah kau mengingatnya?
__ADS_1
Siapa pria ini? Kenapa bisa dia memiliki foto diriku yang sedang berpelukan dengan seorang pria? Dan anehnya kenapa aku tersenyum di dalam foto ini?
Sian:
Siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau memiliki foto ini? Kapan foto ini di ambil? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?
No tidak di kenal:
Sayang, kau benar-benar telah melupakanku, tapi tidak apa-apa aku akan membantumu untuk mengingat semua kenangan tentang kita.
Apa maksud orang ini? Kenangan apa yang dia maksudkan?
Seketika bulu kuduk Sian berdiri. Dia merasa takut saat membaca pesan terakhir yang di kirimkan oleh orang misterius ini.
Ting! Sian mendapatkan pesan kembali. Dengan tangan bergetar, Sian berusaha untuk memberanikan dirinya untuk melihat pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya itu.
Bara❤:
Sayang kamu ke mana saja? Kenapa telepon mas tidak kamu angkat?
Sian menghembuskan nafas leganya saat membaca pesan tersebut dari suaminya Bara. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sian langsung menghubungi Bara Suaminya itu.
“Halo sayang.” Ujar Bara ketika telepon tersambung.
“Halo mas,” ujar Sian sembari menelan salivanya. Kedua tangannya masih bergetar karena pesan yang dia terima barusan.
“Sayang lagi apa sekarang?” tanya Bara dalam telepon.
“Ngak lagi apa-apa mas, aku baru saja selesai mandi dan sekarang mau siap-siap tidur.” Jawab Sian yang mulai tenang.
“Baiklah kalau begitu mas tutup saja teleponnya, sayang istirahat saja sekarang.” Ucap Bara.
“Terus kenapa Mas meneleponku barusan? Tidak ada yang ingin mas katakan padaku sekarang?” tanya Sian yang terdengar jelas jika dirinya tidak ingin mengakhir teleponnya sekarang.
“Tidak ada, mas hanya ingin memberitahu jika mas sudah sampai di rumah. Dan kebetulan Raihan ingin berbicara dengan mu tadi.”
“Raihan? Mana mas, aku ingin berbicara dengan Raihan sekarang.” Ucap Sian yang antusias.
__ADS_1
“Sekarang Raihan sudah tidur sayang, lain kali saja kalian berbicaranya. Mas tutup dulu teleponnya sekarang, nanti mas akan hubungi lagi oke.” Kata Bara dalam telepon.
“Baiklah kalau begitu, sampaikan pesanku kepada Raihan jika aku sangat merindukannya.” Ucap sian yang terdengar sedikit kecewa.
“Baiklah mas akan sampaikan, mas tutup dulu teleponnya sekarang. Good Night, semoga mimpi indah. Muah...” Bara mengakhiri teleponnya yang tak lupa dengan sebuah ciuman dari jarak jauh.
“Bye mas...” ucap Sian yang kemudian telepon terputuskan.
Setelah sambungan teleponnya terputus. Ting! Sian kembali mendapat sebuah pesan dari nomor yang sama.
No tidak di kenal:
Sayang aku akan selalu menunggu, sampai kau benar-benar mengingatku. Ingatlah jika hubungan kita tidak pernah bisa di pisahkan oleh siapa pun.
Sian langsung menghapus semua pesan dari nomor yang tidak di kenal tersebut. Sian juga langsung memblokir nomor tersebut dari ponselnya. Kemudian Sian mematikan ponselnya dan meletakannya di atas nakas. Setelah itu dia berbaring di tempat tidurnya untuk menutup kedua matanya. Sian berharap setelah tertidur, dia bisa melupakan semua yang terjadi barusan.
Namun, saat menutup kedua matanya ternyata Sian tidak bisa melupakan kata-kata dari pesan yang dia terima barusan.
Sian kembali membuka matanya dan langsung mengambil ponselnya di atas nakas. Dia menyalakan layar ponselnya kembali untuk melihat foto yang baru saja dia terima dari orang misterius itu.
Sian mengamati foto tersebut dengan lekat. Dari cara dia memeluk pria yang ada di dalam foto tersebut terlihat seperti dia menyukainya, dan tidak ada unsur paksaan sama sekali. Wajahnya yang tersenyum lepas membuat Sian bertanya-tanya. Kenapa dia tersenyum di dalam foto itu?
Berulang kali Sian mencari kejanggalan di dalam foto tersebut, tetapi tetap saja dia tidak bisa menemukannya. Dari sisi mana pun, semuanya terlihat alami dan sangat natural sekali. Saat melihatnya pun Sian bisa merasakan jika dirinya yang ada di dalam foto tersebut sangat bahagia sekali saat berpelukan dengan pria tersebut.
Kenapa aku tidak bisa mengingat kapan foto ini di ambil? Apa yang sebenarnya yang telah terjadi pada diriku? Kenapa perasaanku tiba-tiba gelisah seperti ini?
Sian menatap dadanya yang terasa sangat aneh sekali. Sian merasa hati seperti tersayat-sayat saat melihat foto tersebut. Entah mengapa foto itu membuat perasaan Sian menjadi gelisah dan terasa sangat menyakitkan.
Apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya sangat sakit sekali?
Sian mengelus-elus dadanya pelan. Perasaan aneh ini membuat Sian menjadi sangat emosional sekali. Entah mengapa tiba-tiba saja hati Sian merespons foto tersebut. Walaupun Sian tidak menginginkannya. Namun, hatinya tidak bisa berbohong jika saat ini dia mengingat perasaan yang aneh yang tiba-tiba saja menghampirinya itu.
Tidak ingin berlarut-larut. Sian memutuskan untuk menghapus foto tersebut, detik itu juga. Namun, tiba-tiba saja hatinya menghentikan pergerakan tangannya untuk menghapus foto tersebut. Hingga akhirnya, Sian tidak jadi menghapus foto tersebut dan membiarkannya tetap berada di dalam ponselnya itu. Kemudian Sian pun mematikan layar ponselnya dan kembali memejamkan matanya untuk tidur.
.
Bersambung...
__ADS_1
.