
Tiga bulan kemudian.
Bara terlihat gelisah, kedua kakinya tak henti-hentinya terus bergetar. Tony yang sejak dari tadi berada di sampingnya merasa terganggu karena pergerakan kaki yang di lakukan pria itu.
“Bisa diam tidak?”
Tony sangat kesal sekali dengan Bara tidak bisa diam. Tony tidak bisa membuat laporannya dengan tenang, dan yang paling membuat Tony kesal adalah laporan yang sedang dia kerjakan saat ini seharusnya di kerjakan oleh Bara, tetapi malah dia yang di suruh oleh Bara untuk mengerjakannya.
Seolah tidak peduli dengan Tony, Bara semakin gelisah dengan melakukan gerakan bolak balik di tempat yang sama. Tony menghembuskan nafas lelah melihat Bara seperti orang bodoh bolak balik di tempat.
“Kapten, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?”
Sekilas Bara menatap Tony, tatapi beberapa detik kemudian ia mengabaikannya dan kembali melanjutkan apa yang sejak tadi dia lakukan. Sementara itu Tony kembali menghembuskan nafas lelah dengan panjang dan kuat dia sengaja melakukannya agar Bara mendengarnya. Namun, Bara tidak bergeming sedikit pun dia semakin tidak peduli dan matanya bolak balik melihat jam di tangannya.
“Ah...”
Terdengar suara Bara yang bergema. Seketika Tony menoleh ke arah Bara yang berjalan menghampirinya dengan wajah seriusnya menatap Tony.
“Ada apa?”
“Sudah waktunya pulang, saya pulang duluan ya...jangan lupa selesaikan laporannya, besok kita harus memberikannya kepada jendral.”
Tanpa peduli dengan Tony, Bara langsung beranjak pergi meninggalkan Tony sendirian tanpa mendengarkan lagi apa yang di katakan oleh bawahannya itu. Bara langsung tembak lurus berjalan ke arah mobilnya.
“Sial! Siapa yang akan membatuku untuk menyelesaikan laporan sebanyak ini.”
Tony mengeluh karena harus menyelesaikan laporan sendirian. Sementara itu Bara sudah jauh pergi meninggalkan semua pekerjaannya itu tanpa menoleh ke belakang.
***
Di sisi lain Raihan membuka pintu kamar kedua orang tuanya dengan pelan. Terlihat Sian sedang tertidur pulas di balik selimut putih dengan posisi memeluk guling di atas tempat tidurnya. Raihan yang baru saja pulang dari bimbel, langsung menghampiri Sian di kamarnya, semenjak kembalinya Sian tiga bulan lalu Raihan selalu mencari dan memeriksa Sian di kamarnya. Anak itu sedikit mengalami gangguan kecemasan semenjak menghilangnya Sian setahun yang lalu, dan sekarang anak itu memiliki kebiasaan, setiap kali dia pergi keluar dan pada saat dia kembali dia selalu mencari keberadaan Sian. Raihan takut saat dia pergi keluar, Sian tiba-tiba menghilang lagi seperti sebelumnya.
Setelah melihat Sian yang tertidur di tempat tidur, Raihan langsung tersenyum lembar karena mamanya masih ada dan tidak menghilang. Raihan pun langsung berlari melompat ke atas tempat tidur Sian dengan berteriak sekencang dia mau.
“Mama....Raihan sudah pulang.”
Raihan langsung memeluk dan mencium pipi Sian sekilas. Raihan bergelinding dia atas tubuh Sian yang sedang tertidur.
“Mama...”
“Mama....ayo bangun.”
Mau tidak mau Sian harus bangun dari tidur nyenyak itu, perlahan dia membuka matanya dan langsung di sambut dengan wajah kecil Raihan yang tersenyum memperlihatkan gigi rapatnya.
__ADS_1
“Selamat sore mama...”
“Sore sayang.”
Sian menggeliat-kan tubuhnya, dan kemudian dia beranjak duduk dari tidurnya. Melihat gigi rata milik Raihan membuat Sian mengecup kepala kecil anaknya itu, dan Sian juga memeluk erat tubuh kecil Raihan.
“Sayang kamu bau keringat, mandi gi biar wangi.”
“Siap laksanakan.”
Raihan langsung turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Sian menuju kamarnya sendiri yang terletak tepat di samping kamar Sian dan Bara.
Tepat setelah Raihan pergi Bara pun datang, pria itu langsung masuk ke kamar tanpa terlihat. Sian yang baru saja turun dari tempat tidur hendak menuju kamar mandi tidak mengetahuinya sama sekali. Sian masuk ke dalam kamar tanpa mengunci pintunya, dan perlahan Sian hendak melepaskan baju kaos putih panjang selutut yang dia pakai di tubuhnya itu. Namun, saat melepaskan bajunya, Sian merasa ada jari jemari menyentuh pinggang dan perut ratanya.
“Aaahh...”
Sian sangat terkejut melihat ada kedua tangan meraba di bagian perutnya. Dia berloncat menjauh, tetapi dia tidak berhasil menjauh dia malah semakin terjerat. Di telinganya terasa hangat seperti ada sebuah bibir yang menempel di telinganya. Sian pun langsung berbalik dan ternyata pemilik tangan mesum yang melingkar di perutnya itu adalah milik suaminya Bara.
“Mas Bara!”
Sian terlihat sangat kesal sekali pada Bara.
“Mas lepas, aku mau mandi sekarang.”
Bara menolak, pria ini menempelkan bibirnya ke leher Sian sembari tangannya meraba ke bagian perut rata Sian.
“Mas, aku mohon beri aku waktu istirahat, aku capek mas melakukannya setiap hari seperti ini.”
Sian mengeluh, setiap hari suaminya Bara meminta jatah. Yang lebih membuat Sian merasa aneh, nafsu dan gairah yang di miliki Bara semakin buas dan liar saja setiap harinya. Sian yang merasa tidak sanggup memenuhinya hanya bisa mengeluh dan merengek belas kasihan dari suaminya itu. Namun, walaupun pada akhirnya tidak di dengarkan sama sekali oleh Bara.
“Sayang apakah kamu merasakannya?”
Sian menghelakan nafas panjangnya, dia tidak terkejut sama sekali saat merasakan benda keras menyentuh bagian area sensitif miliknya.
“Mas....aku capek, jangan sekarang ya.”
Sian berusaha menolaknya, tetapi Bara tidak bisa melepaskan Sian begitu saja. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini, nafsu dan gairahnya semakin menjadi-jadi saat berada di dekat istrinya Sian.
“Sayang maaf, mas tidak bisa menahannya lagi, aku harus melakukannya sekarang juga.”
Bara langsung menjerat tubuh Sian dalam pelukannya, dan kemudian dia melahap bibir Sian dengan liar. Sedangkan Sian memejamkan matanya dengan pasrah, dia tidak bisa mengelak lagi jika Bara sudah seperti ini. Setelah mendapat respons dari Sian, Bara tersenyum, dia mulai melanjutkan aktivitasnya ke tahap selanjutnya yaitu aktivitas yang lebih intim.
***
__ADS_1
Kiri kanan mata Raihan menatap Sian dan Bara bergantian. Raihan merasa sangat penasaran sekali apa yang telah terjadi kepada wajah mama Sian-Nya, tertekuk dan kelelahan.
“Mama apakah kamu sakit?”
Sian hanya menatap Raihan dengan lelah dan kemudian Sian juga menatap Bara dengan tatapan tidak senang, begitu juga dengan Raihan menatap sinis ke arah Bara. Anak ini tahu betul penyebab mamanya seperti ini adalah papanya Bara, makanya dia menatap tidak senang ke arah Bara.
“Kenapa menatap papa seperti itu?”
“Papa keterlaluan,” ketus Raihan.
“Keterlaluan kenapa? Apa salah papa Raihan?”
“Papa pikir saja sendiri.”
Bara tersenyum melihat respons Raihan yang mengemaskan. Dia tahu betul jika Raihan marah karena menyebabkan mamanya Sian menjadi bad mood. Bara juga tahu betul jika Raihan mengerti semua tentang dunia orang dewasa, makanya Raihan menyalahkan Bara karena membuat Sian seperti itu, hanya Bara yang dapat di salahkan. Karena mood Sian tidak bagus, Raihan merasa sedih dan tidak bernafsu makan, pada awalnya Raihan akan mengira makan malam ini akan menjadi momen yang membahagiakan malah suasana makam malam ini menjadi membosankan bagi Raihan.
__ADS_1