Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 31


__ADS_3

Tiga hari berlalu. Hari ini Sian menghadap ke ruangan kepala rumah sakit untuk memberi jawaban atas keputusannya bertugas di Barak militer. Sebelumnya Sian sudah pernah membahas masalah ini dengan suaminya Bara, dan tanggapan yang di berikan Bara kepada Sian adalah membebaskan Istrinya itu untuk mengambil keputusannya sendiri. Apa pun yang di putuskan Sian, Bara akan menerima dan mendukung keputusan istrinya itu sepenuhnya.


“Bagaimana Sian keputusan mu? Paman harap kamu memutuskan untuk menerima tugas ini.”


Keraguan masih melanda diri Sian saat ini, tetapi dia sudah memiliki keputusannya. Namun, dia hanya sedikit ragu dengan keputusan yang dia ambil.


“Sian, paman menunggu jawaban mu sekarang, bisakah kamu memberikan keputusan mu sekarang karena sebentar lagi paman harus pergi menghadiri rapat penting.”


“Kapan aku di tugaskan ke Barak militer?” tanya Sian langsung.


Secara tidak langsung Sian menyetujui jika dia di tugaskan di Barak militer. Sedangkan pamannya tersenyum senang karena jawaban Sian sudah dia dapatkan.


“Paman beri kamu waktu satu minggu untuk mempersiapkan Tim yang akan bertugas bersama mu di sana.”


“Tim?”


“Ya, paman tidak akan mengirim mu sendirian ke sana, tetapi juga ada Tim medis lainnya yang akan membantu mu di sana.”


“Paman, aku tidak punya waktu untuk memilih Tim yang akan di bawah bertugas di sana. Aku serahkan pada paman saja soal Tim yang akan aku bawah nanti.”


“Baiklah paman mengerti, kamu urus saja semua persiapan untuk keberangkatan kalian minggu depan.”


“Baik paman aku mengerti, kalau begitu aku pergi dulu karena sebentar lagi aku ada jadwal operasi.”


“Ah ya, setelah operasi mu selesai paman akan mengirim beberapa dokter dan perawat untuk menghadapmu nanti.”


“Baik paman aku mengerti.” Ucap Sian yang langsung pergi meninggalkan ruangan kepala rumah sakit tersebut.


***


Beberapa jam kemudian.


Sian sudah selesai dari mengoperasi pasiennya. Dia kembali ke ruangannya setelah menyelesaikan urusannya di ruangan ganti. Saat keluar dari lift, Sian kaget melihat ada banyak orang yang berkumpul di depan ruangannya.


Sian melangkah mendekati orang-orang tersebut dan bertanya kepada mereka.


“Apa yang sedang terjadi di sini?”

__ADS_1


“Maaf dokter, kami di minta oleh kepala rumah sakit untuk mengadap dokter sian.” Jawab salah satu Koas pria.


Astaga aku lupa jika paman pernah bilang jika dia akan mengirim beberapa dokter dan perawat menghadapku.


“Apakah semua sudah berkumpul di sini?”


“Semuanya sudah berkumpul dokter.”


“Baiklah kalau begitu kita bicarakan di dalam ruangan Saya saja sekarang.” Ucap Sian mengajak semua Timnya itu masuk ke dalam ruangannya.


Setelah semuanya masuk ke dalam ruangannya, Sian duduk di kursi kebesarannya dengan memasang wajah seriusnya.


“Apakah kalian membawah data diri kalian? Jika ya, saya mau lihat.”


Majulah salah satu perwakilan dari tim tersebut untuk memberikan data yang di minta oleh Sian.


“Ini datanya dokter,”


Kemudian perwakilan tersebut melangkah mundur beberapa langkah dari meja kerja Sian.


Satu persatu Sian melihat data dari Timnya itu. Ada 3 dokter, 1 dokter anestesi wanita bernama Ayudia berusia 25 tahun dan 2 dokter Koas yang terdiri dari 1 wanita bernama Elina berusia 24 tahun dan 1 pria bernama Dilan berusia 24 tahun


Jadi total Tim yang akan Sian Bawah semuanya berjumlah 8 orang tidak termasuk dirinya, dan yang paling tua di Tim ini adalah Sian sendirian. Oleh karena itu dia adalah pemimpin dari Tim ini.


Selesai membaca data diri dari Timnya itu, Sian menatap ke arah Tim tersebut. Satu persatu Sian menatap mereka secara bergantian.


“Apakah kalian sudah tahu kenapa kalian di minta menghadap saya sekarang?” tanya Sian dengan serius. Pembawaan Sian saat ini berbeda dari biasanya.


“Sudah dokter, kami sudah di beritahukan sebelum menghadap dokter.” Jawab Ayudia yang merupakan ketua tim tersebut.


“Benarkah? Kalau begitu saya tidak perlu repot-repot lagi untuk menjelaskan semuanya kepada kalian semua.” Ucap Sian.


Beberapa menit Sian hanya Diam saja, dia sedang berpikir sejenak sebelum berbicara kembali. Tuk! Tuk! Tuk! Sian mengetukan ujung jarinya di atas meja. Semua yang ada di sana hanya diam saja menunggu Sian berbicara kembali.


“Sebelum berangkat minggu depan, saya akan memberi kalian semua tugas untuk mepersiapan seperti peralatan medis, obat-obatan, pokoknya semua peralatan insentif yang perlu di bawah saat bertugas di barak nantinya. Apakah kalian mengerti maksud saya?” tanya Sian dengan suara tegasnya.


“Mengerti dokter,” ucap tim tersebut dengan serentak. Respons semangat yang di berikan mereka kepada Sian sangat memberi kekuatan bagi Sian untuk memimpin tim ini.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, kalian semua boleh pergi, dan mulailah mempersiapkan semua persiapan dan keperluan kalian semua sebelum kita berangkat nanti.” Ucap Sian dengan tegas.


“Baik dokter.” Jawab tim serentak.


“Baiklah kalian boleh pergi sekarang.” Pinta Sian kepada timnya itu.


Sesuai perkataan Sian, mereka pergi keluar dari ruangan Sian saat ini. Setelah ruangannya kosong, akhirnya Sian bisa bernafas lega. Satu persatu urusan sebelum ke berangkatkannya ke barak terselesaikan. Perlengkapan yang akan di bawah nantinya sudah Sian tugaskan kepada timnya, kini Sian hanya perlu mengurus persiapannya sendiri dan mengurus semua yang perlu dia urus sebelum bertugas di barak nantinya.


Waktunya untuk pulang sekarang. Apakah mas sudah jemput aku belum ya?


Sian mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya Bara. Telepon tersambung.


“Halo sayang,” ucap Bara di dalam telepon.


“Mas, sudah ada di mana?”


“Mas lagi di jalan untuk menjemputmu, sebentar lagi mas Sampai, kamu tunggu saja mas di lobi.” Ucap Bara di dalam telepon.


“Baiklah mas, aku siap-siap dulu sebelum mas sampai di rumah sakit, aku tutup dulu teleponnya. Bye mas.” Ucap Sian sembari mengakhiri teleponnya.


Setelah selesai bersiap-siap, Sian turun ke lantai dasar. Dia duduk di lobi dengan tenang sembari menunggu Bara menjemputnya. Beberapa saat kemudian Bara datang menghampiri Sian di lobi.


“Maaf sayang membuat mu menunggu lama,” ucap Bara ketika datang.


“Tidak apa-apa mas, di mana Raihan? Apakah dia tidak ikut dengan mu?” Sian mencari sosok si kecil Raihan.


“Raihan tidak ikut, mulai hari ini dia menginap di rumah mama karena mulai besok dia masuk TK.” Jelas Bara.


“Oh...begitu, pantesan saja dia tidak ada.”


“Sayang, tidak ada lagi yang ingin kamu lakukan di sini?” tanya Bara pada Sian.


“Tidak ada mas, kita pulang saja sekarang.” Ajak Sian sembari merangkul lengan Bara.


“Baiklah kita pulang sekarang.”


Tidak perlu menunggu lama lagi, Bara mengajak Sian masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah mereka saat itu juga.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2