Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 92


__ADS_3

Sian langsung keluar dari mobil dan muntah-muntah. Bara ikut keluar membantu menepuk-nepuk punggung istrinya itu.


“Mas boleh minta air minum.”


Dengan cepat Bara masuk ke dalam mobil untuk mengambil Air mineral yang sudah dia beli sebelumnya.


“Sayang ini air minumnya.”


Tanpa bersuara Sian mengambil sebotol air mineral itu di tangan Bara. Dia meminum setengah dari botolnya, setelahnya Sian sedikit merasa lebih baikkan.


“Sudah merasa lebih baik?” Bara terlihat khawatir melihat wajah pucat istrinya.


“Mas tolong jauhkan mie ayam itu dari mobil. Entah mengapa baunya membuatku merasa tidak enak, bawaannya ingin muntah saat menciumnya.”


“Baiklah.”


Bara mengambil dan membuang semua mie ayam tersebut ke dalam kotak sampah. Setelahnya Bara membantu Sian masuk ke dalam mobil, kemudian dia pergi sebentar untuk membayar mie ayam yang mereka beli barusan.


“Maaf sebelumnya, istri tuan kenapa?” tanya seorang wanita paru baya yang merupakan istri dari bapak penjual mie ayam tersebut.


“Saya juga tidak tahu Bu, saat dia mencium bau makanannya dia merasa mual dan muntah-muntah.”


Tiba-tiba saja ibu itu tersenyum saat mendengar penjelasan dari Bara. Bara merasa aneh melihat ibu itu tersenyum, ada apa dengan ibu itu? Bara tidak tahu arti dari senyuman tersebut.


“Selamat untuk tuanya_”


Tiba-tiba ibu itu memberi selamat kepada Bara. Seketika Bara semakin kebingungan, ada apa dengan ibu ini.


“Maaf Bu, selamat buat apa ya?” Bara kebingungan dengan sikap ibu tersebut.


“Selamat untuk Tuan karena sebentar lagi akan menjadi ayah lagi.”


“Menjadi ayah lagi, maksudnya?” Bara semakin kebingungan dengan kata-kata ibu tersebut.


“Maksud saya selamat tuan karena istri tuan sedang hamil.”


Deg! Jantung Bara berdetak saat mendengar perkataan ibu tersebut.


“Hamil?” Bara sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di katakan ibu tersebut.

__ADS_1


“Iya hamil.”


“Ibu tahu dari mana kalau istri saya hamil?”


“Dari pengalaman saya, jika sudah mengalami gejala yang sama seperti istri tuan, seratus persen saya yakin itu adalah gejala pertama yang di alami oleh ibu-ibu hamil. Jika tuan tidak percaya, tuan ajak saja istri tuan periksa ke rumah sakit biar pasti hamil atau ngak.”


Bara menganggukkan kepalanya, dia sangat setuju sekali dengan saran yang di berikan oleh ibu tersebut.


“Baiklah Bu, terima kasih atas sarannya. Saya pamit pergi dulu.”


Bara kembali ke mobil setelah membayar mie ayamnya. Dia mulai mengendarai mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


***


Rumah Sakit.


“Mas kenapa kita malah pergi ke rumah sakit sih?” seru Sian. “Bukannya aku tadi sudah bilang tidak perlu pergi ke rumah sakit segala, cukup dengan beristirahat di rumah akan sembuh.”


Tanpa menjawab Bara keluar dari mobilnya, dan berjalan ke sisi pintu mobil di mana Sian duduk. Pertama dia membukakan pintu untuk Raihan.


“Raihan dengarkan papa, Raihan bantu papa membawa mama masuk ke dalam sana. Papa ingin Raihan bekerja sama untuk membuat mama mau di periksa oleh dokter, Raihan tidak inginkan lihat mama sakit seperti tadi.” Bisik Bara pelan di telinga kecil Raihan.


“Baiklah, Raihan akan membantu papa membawa mama untuk di periksa oleh dokter.”


Setelah membujuk Raihan, kemudian Bara membukakan pintu untuk Sian.


“Sayang ayo kita masuk sekarang.”


“Tidak mau.” Tolak Sian.


Bara melirik Raihan ketika Sian menolak masuk. Mata Bara dan Raihan saling bertatapan, seakan mereka berbicara. Setelah beberapa detik berbicara lewat mata tiba-tiba Raihan berteriak.


“Aaahh...mama sakit sekali.”


Mendengar Raihan berteriak kesakitan dengan cepatnya Sian keluar dari mobil dan menghampiri Raihan.


“Sayang kamu kenapa?”


“Sakit sekali...Aaarrrgghh....” Teriak Raihan tanpa menjelaskan di mana letak sakit yang dia alami. Wajahnya dan tubuhnya tiba-tiba penuh dengan keringat.

__ADS_1


Bara yang melihat Raihan sedang kesakitan mengira jika itu akting semata untuk mengelabui Sian.


Sedangkan Sian langsung memeriksa keadaan Raihan, dia langsung menarik paksa baju anaknya itu dan mengamati bagian perutnya. Mata Sian tertuju pada bagian perut kanan bawah dan kemudian dia menekannya.


“Aarrgh...” teriak Raihan kesakitan.


Dalam waktu singkat Sian mengetahui apa yang terjadi pada Raihan, untuk memastikannya Sian mengecek suhu tubuh Raihan dan ternyata panasnya sangat tinggi.


“Sayang sejak kapan kamu mengalami demam?”


Raihan yang merasa sangat kesakitan menjawab seadanya. “Kema-rin.”


Sian beranjak berdiri dan membuka pintu mobil di mana Raihan duduk. Mata Sian sangat jeli melihat serpihan muntah kering di pintu kaca samping.


“Mas, apa Raihan mengalami muntah-mutah kemarin?” tanya Sian pada Bara.


Bara yang tidak tahu apa-apa dia langsung menjawab seadanya. “Iya, kemarin saat mengantar Raihan pergi bimbel dia sempat mengalami muntah-muntah.”


Setelah mendengar penjelasan Bara, Sian kembali memeriksa keadaan Raihan yang terbaring di aspal. Sian kembali menekan Bagian perut kanan bawah Raihan.


“Aarrgh...” Teriak Raihan kesakitan saat Sian menekan perutnya.


“Mas cepat bantu aku bawah Raihan ke IGD sekarang.”


Melihat Raihan yang sangat kesakitan, Bara langsung mengendong Raihan tanpa bertanya lagi. Yang Bara tahu saat ini, Raihan tidak sedang berakting kesakitan, anak itu benar-benar kesakitan.


Bara berlari sekuat tenaganya, sedangkan Sian tertinggal jauh di belakang.


“Suster....tolong anak saya.” Teriak Bara setiba di IGD.


Namun, tidak ada tenaga medis maupun dokter yang datang menolong Bara, karena posisi saat ini sangat sibuk dan ramai sekali. Ada kejadian kecelakaan lalu lintas sehingga Instalasi gawat darurat penuh dengan korban kecelakaan.


Sian yang baru saja tiba di IGD langsung menyadari, jika kondisi di IGD sedang kekurangan tenaga medis. Tanpa banyak berbicara, Sian langsung mengambil dan menarik hospital bed yang kosong.


“Mas, letakan Raihan di sini.” Ucap Sian dengan keras sehingga semua mata tertuju padanya.


Semua tenaga medis dan dokter di IGD terkejut melihat kehadiran Sian di departemen mereka. Sepengetahuan mereka Dokter Sian tidak pernah praktek lagi setelah menghilang setahun yang lalu, dan saat kembali Sian menjadi seorang pasien di rumah sakit ini. Dia mengalami gangguan kecemasan sehingga mengharuskan dirinya cuti dari pekerjaannya, atau lebih tepatnya Sian mengalami gangguan kecemasan saat melakukan operasi. Sian mengalami trauma yang mendalam setelah kejadian tragedi penjara bawah tanah tersebut.


Rasa bersalah terus menghantuinya. Dia terus teringat kepada orang-orang yang meninggal di meja operasinya, walaupun kematian orang-orang tersebut bukanlah kesalahannya.

__ADS_1


Hari ini, baru pertama kalinya Sian kembali ke rumah sakit. Semua karyawan di rumah sakit tersebut tidak percaya dengan kehadirannya di rumah sakit ini. Mereka mengira jika dokter Sian tidak akan pernah kembali lagi setelah sekian lama. Kejadian apa yang di alami Sian selama berada di penjara bawah tanah tersebut sudah tersebar di segalah penjuru rumah sakit, bahkan Sian sangat terkenal dan banyak di cari oleh banyak orang untuk meminta melakukan operasi tersulit untuk mereka. Semua kejadian dan terobosan yang Sian buat selama menjadi dokter di penjarah bawah tanah sangat terkenal dan banyak dokter senior yang meminta penjelasan bagaimana cara Sian menyelamatkan pasien yang menderita sakit yang sangat parah dan memiliki angka kematian yang tinggi bisa Sian selamatkan.


Dari semua cerita dan gosip yang tersebar tersebut semuanya adalah kebenaran. Kini hanya Sian yang tidak bisa melupakan semuanya sehingga mengalami gangguan kecemasan saat berada di dalam ruangan operasi dan saat berada di rumah sakit.


__ADS_2