Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 91


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bara sudah pergi bertugas dan Reihan juga sudah pergi ke sekolah, hanya tersisa Sian sendirian di rumah. Saat terbangun rumah sudah kosong hanya Sian sendiri di rumah yang besar tersebut.


Sian pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang lapar. Di meja makan sudah tersedia banyak makanan beserta sebuah memo berwarna kuning.


Sayang makan yang banyak ya, mas dan Raihan sudah memasak banyak sekali makanan untuk mu. Jangan lupa di habiskan, love you. (Bara dan Raihan♡)


Sian tersenyum melihat isi memo tersebut, dia tidak mengira jika suami dan anaknya menyiapkan semua makanan yang tertata rapi di atas meja makan secara khusus untuknya. Tanpa ragu-ragu Sian pun langsung duduk untuk menyantap semua makan tersebut, dia mencoba satu sedok nasi goreng buatan Bara dan Raihan, entah mengapa saat hendak menyuap Sian tiba-tiba merasa tidak suka dengan bau nasi goreng tersebut.


“Astaga...kenapa baunya tidak enak sekali.”


Sian langsung menjauhkan nasi goreng tersebut darinya. Seketika nafsu makan Sian menghilang dan Sian hanya mengambil segelas susu lalu pergi meninggalkan meja maka. Dia berjalan kembali ke kamarnya, tapi saat dalam perjalanan menuju kamar tiba-tiba Sian mengingat sesuatu hal. Tanpa berpikir panjang Sian berlari ke kamarnya dan menuju ke dalam kamar mandinya, dia membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah test pack dari sana.


“Untung saja aku masih menyimpan benda ini di laci.”


Sian pun langsung melakukan prosedur tes kehamilan, setelah tiga puluh menit Sian melihat hasilnya dan hasilnya negatif, hanya satu garis merah.


“Mungkin aku lagi ngak sehat badan saja, akhir-akhir ini aku sangat kelelahan gara-gara mas Bara.”


Tak begitu peduli Sian langsung membuang test kehamilan tersebut ke dalam kotak sampah. Kemudian dia keluar dari kamar mandi dan langsung berbaring di atas tempat tidurnya.  


***


Setelah menjemput Raihan dari bimbel, Bara langsung pulang ke rumah. Setiba di rumah, Sian tidak ada di sana. Merasa khawatir Bara langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi istrinya itu.


“Halo...” seru Bara ketika teleponnya tersambung.


“Halo Bara.”


Terdengar Suara mama Vian yang menjawab telepon Bara.


“Mama, kenapa mama yang menjawab telepon saya, di mana Sian ma?”


“Sian sedang tidur, dia lagi tidak enak badan sekarang.”


“Sian sakit apa ma? Kenapa tidak langsung di bawah ke rumah sakit saja?”


“Sian tidak apa-apa, dia cuma masuk angin saja.”


“Baiklah Ma, Tolong rawat dia sebentar. Bara dan Raihan akan segera ke sana untuk menjemputnya pulang.”


“Baiklah, mama tunggu kalian.” Jawab Vian di ujung sana.


Bara menutup teleponnya. Tanpa membuang waktu lagi, Bara langsung mengajak Raihan pergi kediaman mama mertuanya.


*** 

__ADS_1


Kediaman keluarga Queensha.


Bara melangkah dengan cepat setelah keluar dari mobil. Dia bahkan melupakan Raihan yang berada di belakangnya, saking khawatirnya dengan Sian.


“Ma apakah Sian sudah bangun?”


Belum sempat Vian menjawab, tanpa basa basi Bara langsung membuka pintu kamar di mana Sian tertidur. Vian hanya menghelakan nafasnya dan kemudian membawa Raihan pergi menjauh dari kamar tersebut.


Bara menutup pintu kamar dengan pelan tanpa bersuara. Dia berjalan di sisi ranjang dan duduk di tepian ranjang, dia mengelus lembut sisi wajah Sian yang terlihat pucat dan terasa dingin saat di sentuh.


Bara merasa sangat bersalah saat melihat Sian seperti itu, dia tahu betul jika istrinya itu sangat kelelahan karena dirinya.


“Sayang maafkan mas ya, gara-gara mas kamu sakit seperti ini.” Bisik Bara pelan di sisi wajah Sian yang sedang tertidur.


Sian pun terbangun setelah beberapa detik Bara berbisik.


“Em...mas, kapan datang?” Tanya Sian dengan Suara Khas bangun tidur, dan terdengar manis di telinga Bara.


“Mas baru saja datang, mas langsung kemari saat mama bilang kamu sakit.”


“Aku baik-baik saja mas, hanya perlu istirahat saja.”


Sian hendak beranjak duduk dari tidurnya, dan Bara pun membantunya.


“Sayang kamu yakin Baik-baik saja? Atau perlu kita ke rumah sakit saja.”


Sian menolak pergi ke rumah sakit, karena dia merasa baik-baik saja jika beristirahat yang cukup.


“Baiklah, kita pulang saja ke rumah sekarang. Kemarilah biar mas gendong ke mobil.”


“Em...” Angguk Sian.


Sian langsung melebarkan kedua tangannya menunggu Bara merangkulnya dan mengendongnya. Bara mengendong dan membawah Sian keluar dari kamar menuju ruang tamu. Di sana ada Vian dan Raihan sedang duduk berbincang-bincang.


“Ma, Bara bawah Sian pulang sekarang, terima kasih sudah merawatnya.”


“Baiklah kalian hati-hati di jalan, Raihan mau menginap di sini sama nenek ngak?” tanya Vian langsung ke Raihan.


“Maaf nek, Raihan mau ikut papa dan mama pulang saja. Raihan khawatir sama mama, lain kali saja Raihan menginapnya.” Tolak Raihan dengan gaya bicara yang sangat imut.


“Baiklah, lain kali Raihan harus menginap ya. Ayo biar nenek antar kalian ke mobil.”


Vian langsung mengendong Raihan dan mengantarnya ke dalam mobil. Setelah berada di dalam mobil Bara langsung menghidupkan dan mengendarai mobilnya pergi meninggalkan kediaman mertuanya itu.


***

__ADS_1


Di dalam perjalanan pulang, Sian mengeluh sangat lapar. Dari pagi sampai sekarang dia hanya makan sedikit karena mual saat mencium bau makanannya.


“Mas, aku sangat lapar sekali. Kita cari makan sebentar sebelum pulang ke rumah.”


“Baiklah, sayang mau makan apa?”


“Emm...aku mau makan mie ayam mas.”


“Mie ayam di mana?”


“Terserah mas, mie ayam di mana pun boleh. Yang penting makan mie ayam.”


“Baiklah kalau begitu, kita cari mie ayam di sekitar sini saja.”


Bara menyetir dengan pelan untuk mencari penjual mie ayam di pinggir jalan.


“Raihan sayang bantu papa lihat-in penjual mie ayam ya.”


“Siap bos.”


Raihan yang duduk di belakang ikut membatu Bara memperhatikan penjual mie ayam di pinggir jalanan dari kaca mobil. Sedangkan Sian menyandarkan punggungnya sembari menutup matanya di kursi depan samping Bara.


Setelah lima belas menit, akhirnya Bara dan Raihan menemukan penjual mie ayam.


“Mama bangun, kita sudah menemukan penjual mie ayamnya.”


Sian terbangun dan melihat Bara sudah tidak ada di sampingnya.


“Di mana papa mu Raihan?”


“Papa sudah ada di sana, lagi mengantri membeli mie ayam untuk kita.”


Sian melihat ke luar, di sana dia melihat antrean panjang yang sedang mengantri untuk membeli mie ayam. Untuk makannya saja mereka harus makan di dalam mobil, karena tidak kebagian tempat duduk.


Hampir tiga puluh menit Bara mengantri, akhirnya dia selesai mengantri. Bara membeli 3 mangkuk mie ayam untuk keluarga kecilnya.


“Sayang makanlah mie ayamnya.”


Bara langsung memberikan mie ayam kepada Sian dan Raihan. Mereka pun melahap mie ayam secara bersamaan.


“Eem...mie ayamnya sangat enak, tidak sia-sia papa mengantri.”


Raihan menggoyang-goyangkan bahunya karena menyukai rasa mie ayam tersebut. Namun, berbeda dengan Sian yang menahan mual karena bau mie ayam tersebut.


 

__ADS_1


 


__ADS_2