Ikatan Pernikahan

Ikatan Pernikahan
Ikatan Pernikahan 28


__ADS_3

Di kediaman Bara dan Sian.


Sesampai di rumah Sian langsung pergi ke dapur untuk minum segelas air putih.


“Sayang kamu sudah pulang, kenapa tidak memanggilku?” ucap Bara. Dia langsung memeluk istrinya itu dari belakang.


“Aku baru saja sampai mas, kenapa mas belum tidur? Ini sudah sangat malam sekali.”


Sian meletakan gelasnya di atas meja. Kemudian dia berbalik menghadap Bara.


“Mas tidak bisa tidur,”


“Kenapa?” tanya Sian sembari menyentuh ujung rambut poni Bara yang berantakan.


“Aku tidak bisa tidur jika tidak ada kamu di sampingku.” Bara menyandarkan dagunya di atas pundak Sian, tepat di samping leher jenjang Sian.


“Bagaimana dengan Raihan sekarang, apakah dia sudah tidur?”


“Hem...jangan kamu khawatirkan dia, saat ini dia sedang tidur di kamarku sekarang.” Ucap Bara yang semakin mendekatkan wajahnya di leher Sian. Tidak hanya itu saja, Bara juga menyesap leher jenjang Sian dari atas hingga ke rahang.


“Apa sih mas, berhenti sekarang juga nanti di lihat oleh Raihan.” Ucap sian yang menahan nafasnya.


Bara terus menyentuh leher Sian dengan bibirnya, dan semakin merapatkan pinggangnya dengan pinggang kecil istrinya itu.


“Ah...mas hentikan.” Pinta Sian sembari menahan desahannya.


“Tenang saja, Raihan tidak akan melihat kita sekarang.”


Bara terus melanjutkan aktivitasnya dan kini bibir itu berali ke bibir tebal milik Sian.


“Raihan melihatnya,” suara Raihan memecahkan suasana tegang di dapur.


Seketika Bara menghentikan apa yang sedang dia lakukan saat ini. Secara bersamaan Bara dan sian menatap ke arah meja makan yang mana di sana ada Raihan yang sedang duduk di kursi memperhatikan mereka berdua.


“Raihan sedang apa kamu di situ?” tanya Bara sedikit kaget.


“Raihan sedang menunggu papa dan mama.” Jawab Raihan dengan bawaan mengantuk.


“Kenapa Raihan keluar dari kamar?” tanya Sian.


“Saat Raihan terbangun papa tidak ada di kamar, makanya Raihan keluar untuk pergi mencari papa.” Ucap Raihan yang terlihat kedua matanya sangat berat.


“Mas lepaskan aku sekarang, mas ajak Raihan kembali ke kamar sana. Aku mau mandi.” Ucap Sian yang langsung pergi menuju kamarnya.


Bara mendesah pelan saat menatap Sian pergi meninggalkan dengan Raihan. Dengan malas Bara menatap ke arah Raihan.


“Raihan ayo kita kembali ke kamar sekarang.” Ucap Bara sembari mengendong Raihan yang telah tertidur di kursi makan.


Bara mengendong Raihan kembali ke kamarnya dan meletakan Raihan di tempat tidur secara perlahan. Kemudian Bara juga menyelimuti tubuh kecil Raihan dengan selimut.

__ADS_1


“Good Night Raihan,” ucap Bara pelan. Kemudian dia hendak beranjak pergi meninggal Raihan sendirian, tetapi Raihan menghentikan Bara dengan memegang tangan besar milik Bara.


“Papa mau pergi ke mana?” ucap Raihan membuka matanya.


“Papa tidak pergi ke mana-mana, papa hanya ingin ke kamar mandi.”


“Papa jangan pergi, temani Raihan tidur.” Ucap Raihan dengan bawaan mengantung.


“Baiklah, papa akan temani Raihan tidur.”


Terpaksa Bara ikut berbaring di samping Raihan dan ikut memejamkan matanya hingga tertidur.


Di sisi lain Sian masih berada di dalam kamar mandinya. Hampir 30 menit Sian berada di dalam kamar mandi pada akhirnya dia selesai juga. Setelah selesai mengeringkan rambut Sian keluar dari kamar mandi.


Di waktu yang sama, ada pesan yang masuk di ponsel Sian. Perlahan Sian duduk di tepian ranjangnya dan kemudian dia mengambil ponselnya di atas nakas.


No tidak di kenal:


Hai sayang, lama tidak bertemu. Apakah kau masih mengingatku?


Membaca pesan tersebut membuat Sian merinding tiba-tiba. Entah mengapa tiba-tiba tubuhnya merespons pesan tersebut dengan perasaan takut.


Siapa yang mengirim pesan ini kepadaku?


Sian mematikan layar ponselnya kemudian membawanya pergi keluar dari kamarnya menuju kamar Bara. Perlahan Sian membuka pintu kamar Bara agar tidak membangunkan dua orang yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur. Setelah menutup pintu tersebut Sian berjalan mendekati tempat tidur di mana Bara dan Raihan tertidur.


No tidak di kenal:


Sayang kenapa tidak membalas pesan dariku? Apakah kamu sudah melupakanku?


Sian tidak tahu kenapa tiba-tiba dia mendapat pesan seperti ini dari nomor yang tidak di kenal. Kode nomor tersebut berasal dari luar negeri.


Siapa orang ini? Kenapa seakan dia mengenaliku?


Beberapa detik Sian berpikir, tetapi setelah itu dia memutuskan untuk mengabaikan pesan tersebut. Kemudian dia ikut berbaring di samping Bara tertidur. Perlahan tangan Sian memeluk pinggang Bara dan menutup matanya.


Ting!


Sian kembali mendapat pesan dari nomor yang sama. Namun, Sian tidak memperdulikan-Nya walaupun dia mendengar suara pesan tersebut masuk ke ponselnya.


Beberapa saat Sian memeluk suaminya dari belakang, Bara membuka matanya dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap Sian. Cup! Bara mengecup kening Sian.


“Kenapa lama sekali datangnya?” ucap Bara mengeratkan pelukannya pada Sian.


“Tadi aku mengeringkan rambutku dulu, makanya agak lama.”


Bara tidak menjawab, dia hanya mendengarkan suara Sian. Namun, tangannya terus meraba pinggang istrinya itu.


“Sayang, kamu sedikit gemukkan sekarang ya.” Ucap Bara tiba-tiba.

__ADS_1


Awalnya Sian memejamkan matanya, kini dia membuka matanya saat mendengar ucapan dari suaminya itu.


“Mas tahu dari mana aku sedikit gemukkan? Sedangkan aku saja tidak merasa jika berat badanku bertambah.”


“Benaran mas tidak berbohong, mas bisa merasakan dari ukuran pinggang mu yang sedikit lebar dari sebelumnya.”


Sian menatap Bara tajam. Dia tidak terima jika pinggangnya di bilang lebar oleh Bara.


“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Bara.


“Mas ngeselin!”


“Udah mas minta maaf, mas tarik lagi perkataan mas barusan.” Bara mencoba membuat Sian tidak marah kepadanya.


“Jika sudah di ucapkan, tidak bisa di tarik lagi perkataan mas tersebut.”


“Kenapa tidak bisa?”


“Karena aku sudah mendengarnya, dan aku terlanjur kesal sama mas!” rajuk Sian.


Sain mulai beranjak berdiri dari tidurnya. Dia berencana untuk pindah kamar. Namun, Bara menarik istrinya itu kembali ke dalam pelukannya.


“Sayang mau pergi ke mana?”


“Aku mau pindah kamar saja, habisnya mas ngeselin banget.” Jawab Sian dengan bibir mayungnya.


“Maafkan mas ya, sebenarnya mas suka jika Kamu sedikit berisi.”


“Kenapa mas suka?”


“Karena enak dipeluk, Muah!” ucap Bara mengecup bibir Istrinya itu.


“Apaan sih mas, nanti Raihan terbangun. Kan tidak enak di lihat olehnya.” Ucap Sian sembari memukul dada Bara pelan.


“Oke baiklah, kita tidur saja sekarang. Hari sudah sangat malam sekali, besok kamu harus bekerja.”


“Em...” angguk Sian.


Kemudian Sian dan Bara menutup matanya, dan tidur dengan posisi saling memeluk. Sementara itu, Raihan tidur dengan nyenyak di belakang Bara.


Di sisi lain, ada orang yang menunggu pesannya di balas oleh Sian. Isi pesan yang belum di baca oleh Sian.


No tidak di kenal:


Kau membuatku kesal sayang, aku tidak suka jika kau mengabaikan pesan dariku. Kau sendiri tahu, apa akibat jika kau mengabaikan aku seperti ini.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2